Sampai sekarang, saya tidak mendengar atau barangkali malah sama sekali tidak ada musisi profesional yang memproduksi segala sesuatunya tanpa AI, yang supportive dengan Musik AI. Saya bisa sangat mengerti itu. Ada investasi waktu, usaha, mengasah kepekaan, dan dana, yang sangat tidak sedikit untuk bisa sampai ke posisi mereka sekarang. Lalu dengan sekejap semua itu seperti jadi terasa relatif saja dengan cara produksi musik dengan AI. Saya sendiri tidak bisa memperkirakan apakah suatu hari akan ada resolusi tentang ini, dan akan seperti apa, atau mungkin keadaannya tidak akan berubah sama sekali.
Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya merasa bahwa kita tidak perlu menunggu resolusi apa pun. Karena sejarah menunjukkan bahwa setiap kali muncul teknologi baru, selalu ada gesekan, dan gesekan itu tidak pernah benar-benar hilang. Sejarah mencatat banyak hal di seputar musik. Synthesizer muncul, pemain piano akustik merasa tersaingi (bahkan semua pemain alat musik lain). Drum machine muncul dan berhadapan dengan drummer. DAW (Digital Audio Workstation) muncul, studio analog merasa terancam. Auto-tune muncul, penyanyi merasa direndahkan. Teknologi sampling muncul, kalangan puritan akustik bereaksi. Streaming jadi populer, penjualan album fisik merosot drastis. Daftar ini masih bisa terus diperpanjang, dan itu juga yang terjadi dalam bidang seni dan kehidupan manusia lainnya.
Apakah teknologi yang baru harus menjadi ancaman bagi yang sebelumnya ? Bahwa itu mengancam nampaknya memang tidak berlebihan. Beberapa hari lalu lewat timeline Facebook saya menemukan Mark Tremonti (gitaris grup Creed) kira-kira bilang (saya tidak bisa menemukan posting itu lagi) “Hari-hari ini adalah yang terakhir bagi kita semua untuk bisa mendengarkan musik yang riil. Sesudah ini semuanya akan dianggap sebagai hasil produksi AI”. Dia ingin menggambarkan sedemikian massive nya ekspansi pengaruh AI, sehingga yang bukan-AI pun nanti akan dipersepsi sebagai hasil dari AI. Kekhawatiran itu bisa dipahami. Laporan yang bocor dari presentasi investor platform musik Suno bilang bahwa dalam sehari dihasilkan 7 juta lagu. Meski dari 7 juta itu mungkin yang terpakai tidak semuanya. Belum lagi dari platform yang lain.
Apa yang terjadi kemudian pada hadirnya teknologi baru pada yang sudah ada ? Sekarang ini Synthesizer tetap dipakai dan piano akustik pun tidak hilang penggunaannya. Drum machine tetap dijual dan digunakan, sementara drummer konvensional masih sangat dibutuhkan. Teknologi Auto-Tune digunakan, tapi penyanyi dengan kualitas aslinya masih sangat dihargai. Sampling ya terus digunakan, tapi yang akustik asli ya masih dipakai. Streaming semakin meningkat penggunaannya, tapi vinyl, cd, dan kaset (?) masih punya pasar untuk kalangan tertentu. Sepertinya tidak ada yang benar-benar hilang. Tidak ada yang benar-benar menang. Yang ada adalah koeksistensi.
Lalu pertanyannya adalah, apakah kita bisa melihat musik AI dengan cara yang sama ? Apakah suatu hari kita akan melihat musik AI dan segala sesuatu yang terkait dengan itu akan koeksis dengan musik yang non-AI ? Apakah keduanya akan hidup berdampingan ? Atau dengan segala kekuatan yang terkait dengan masalah etika, hukum, dan bisnis maka musik AI akan terpojokkan ? Adanya yang disebut landmark pact antara Suno dan perusahaan rekaman besar Warner Music Group (WMG) setelah menyelesaikan gugatan hak cipta, menjadi sinyal bahwa label rekaman ternama itu mulai merangkul AI, bukan lagi melawannya. Kejadian itu bukan sinya kecil, tapi menjadi indikator bahwa nampaknya di masa depan AI akan lebih merambah. Apalagi mereka mencanangkan sesuatu (saya sendiri belum mengerti) yang disebut next-generation licensed AI music.
Yang saya lihat, mau tidak mau ya harus koeksis. Bagaimana wujudnya, kalau saya harus uraikan pasti akan terdengar mimpi yang indah. Jadi ini adalah gombalan saya aja. Bahwa musik AI itu bukan pesaing, tapi sebagai medium baru. Kalau dulu literasi musik berarti bisa memainkan instrumen, membaca notasi, atau menguasai teknik produksi, sekarang ada literasi baru: kemampuan berdialog dengan model, membuat prompt yang tepat, melakukan iterasi, dan membangun ide melalui percakapan kreatif. Literasi baru ini tidak menggantikan literasi lama. Musisi konvensional tetap punya sesuatu yang tidak bisa digantikan: kepekaan, pengalaman, intuisi, dan kedalaman artistik yang dibangun dari perjalanan panjang. Justru AI membutuhkan itu sebagai konteks. Tanpa tradisi musik yang sudah ada, AI tidak punya bahan untuk belajar. Tanpa standar estetika yang dibentuk oleh musisi konvensional, AI tidak punya arah.
Karena itu masa depan musik bukan soal memilih kubu; yang AI atau yang non-AI. Bukan soal siapa yang lebih unggul. Bukan soal siapa yang “asli” dan siapa yang “instan”. Masa depan musik adalah tentang dua jalur yang berjalan berdampingan. AI membuka pintu bagi lebih banyak orang untuk berkarya, sementara musisi konvensional menjaga kualitas, kedalaman, dan nilai-nilai musikal yang sudah ada. Pada akhirnya, musik selalu menemukan jalannya sendiri. Kita, sebagai pendengar maupun pembuat, hanya perlu terus belajar membaca dan menulis dalam bahasa-bahasa baru yang muncul.
Mungkin gombalan saya itu mimpi yang indah, tapi mungkin bagi beberapa bisa jadi mimpi buruk. Koeksistensi memang tidak segampang orang menuliskannya. Atau mungkin malah ada yang berharap itu tidak akan pernah terjadi.
PS: tulisan ini saya import dari halaman web album kedua saya di s.id/kagitaran di bagian Wacana