P E R S P E K T I F – T

Tentang Yang Terlihat, Terdengar, & Terpikirkan

Apakah 1 Juta Facebookers Itu Ada Artinya?

Silent Majority.jjpg Dalam sejarah umat manusia, baru kali ini silent majority bisa mengaksentuasikan dirinya, dan ini adalah sebuah kontradiksi yang sangat menarik. Biasanya, silent majority hanyalah sebuah asumsi, atau sebuah klaim yang validitasnya sumir belaka. Tapi kali ini, kita bisa membayangkan sekurangnya ada satu juta klik, dan dibalik itu; seorang optimis naif bisa membayangkan segerombolan massa; seorang oportunis mungkin berpikir tenang potensi massa yang ada untuk sebuah rekayasa; dan seorang pesimis boleh jadi berujar bahwa 1 juta itu hanyalah angka.
Pertama, ini menarik karena silent majority sebenarnya adalah bagian dari fenomena anonimitas massa yang merupakan hasil selisih dari jumlah populasi dengan mereka yang menyatakan pendapatnya dengan jelas. Dalam kaitan ini, Wikipedia mendefinisikan silent majority sebagai :

The silent majority is an unspecified large majority of people in a country or group who do not express their opinions publicly.”

Lalu apa yang bisa kita katakan bila di zaman ini kita bisa menyaksikan bahwa sejumlah besar orang itu memang memilih sesuatu, tapi kita tidak tahu persis apa pendapat mereka tentang yang mereka pilih ? Di sini saya melihat, bila sebelumnya silent majority dan vocal minority seolah-olah sifatnya merupakan distingsi hitam putih dari sebuah fenomena, dengan hadirnya Facebook, kita telah menyaksikan bahwa ternyata itu bisa tidak sederhana lagi. Sebuah medium telah hadir dan memiliki potensi untuk menjembatani keduanya. Memang, bila boundary-nya adalah negara, maka silent majority akan selalu menjadi massa menempati proporsi yang paling besar, tapi kini kita bisa tergoda untuk mengatakan bahwa massa itu somehow punya jalan untuk mengaksentuasikan dirinya. Meski hanya berupa klik, dan meski tidak jelas sebenarnya; apa yang ada dibalik keputusan klik itu. Seolah-olah, berkat Facebook, distingsi keduanya: diffused.demofb
Maka menjadi lebih menarik bagi saya ketika ternyata ada sejumlah orang melakukan demo, dan spanduk yang mereka bawa bergambar logo Facebook. Kompas mengutip sebuah pendapat yang menurut saya tepat sekali: “Semacam eksperimen, seberapa efektif jejaring sosial. Apakah dari dunia maya bisa bertransformasi ke dunia nyata?” Lalu apa hasilnya ? Ternyata dari angka satu juta itu, sebuah laporan menyebutkan bahwa, yang turun ke jalan hanya ratusan. Tentu saja kita tidak mungkin membayangkan satu juta persis akan tumplek ke jalan, tapi maksud saya, ini jadi afirmasi tak terelakkan bahwa di balik klik itu ternyata tetap saja ada sifat silent majority.
Lantas apakah kita akan serta merta mengatakan bahwa dibebaskannya Bibit dan Chandra itu karena dukungan para Facebookers ? Kalau kita jawab tidak, maka apa signifikansi angka itu ? Sekedar memberikan tekanan psikologis ? Yang jelas kita tidak bisa memastikan bahwa perubahan atau dinamika sosial dalam konteks ini bisa diasalkan pada galang pendapat pada ranah virtual itu. Saya tidak mengatakan apa yang virtual tidak mungkin menjadi pemicu dari yang sosial, justru saya ingin menggarisbawahi bahwa ini semua adalah sebuah eksperimen. Saya berpikir, signifikansi interaksi melalui internet akan dibuktikan dengan semakin banyaknya testimoni bahwa “yang virtual” ternyata bisa bertransformasi ke “yang sosial”.

bsm Lalu seperti hal-hal lainnya, yang populer lalu menjadi trend. Soalnya sudah mulai bermunculan galang pendapat yang lain tentang masalah yang lain pula. Mungkin karena melihat ini semua, ada orang yang membuat sebuah parodi. Boleh jadi dia 100% berniat guyon dan jujur, tapi bisa jadi pula dibalik itu dia sinis berat. Orang ini membuat galang pendapat agar ada “Gerakan Semilyar Facebookers Dukung Bu Siti Markonah Jualan Pecel Lagi.” Di halaman itu tertulis : “Sejak warungnya digusur oleh pemda, yang diperkuat puluhan satuan pamong praja, Bu Siti Markonah yang lemah dan tak mampu melawan akhirnya terpaksa berhenti berjualan pecel. Padahal pecelnya yang enak dan murah sangat berarti bagi bapak-bapak tukang becak, ojek sepeda, pendorong gerobak sampah, dan penghuni pinggir rel yang membutuhkan tenaga untuk mencari seribu rupiah demi seribu rupiah, yang ironisnya, akan mereka gunakan untuk makan lagi keesokan harinya ………….” Siapa itu Bu Siti Markonah ? Siapa yang akan meng-klik-kan mouse-nya ?

Tentang Browser: Akumulasi Data Pada Skala Global?

globalinventory Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan: “Apakah sekarang ini kita menghadapi suatu masa di mana kecenderungan perilaku kita dengan komputer dan Internet masuk ke dalam sebuah inventori besar, amat besar, dan itu berada di suatu pihak yang akan memanfaatkannya untuk kepentingannya sepihak, atau mungkin menjualnya ke pihak lain untuk, misalnya, kepentingan periklanan” ? Sudah beberapa minggu saya memikirkan ini. Ada beberapa kondisi yang saya pikir bisa menjadi latar belakang yang mengarah pada munculnya pertanyaan itu, antara lain :

  1. Kualitas Koneksi Internet semakin meningkat dan murah. Tren dewasa ini yang ditandai dengan maraknya koneksi wireless yang unlimited akan terus mengalami evolusi, baik melalui persaingan tarif antar operator maupun melalui masuknya perangkat dengan teknologi baru. Hal yang sama juga terjadi pada koneksi yang wired. Semakin banyak pilihan bagi publik untuk kemurahan, kemudahan, dan kecepatan koneksi.
  2. Semakin banyak orang yang memiliki kebutuhan untuk online. Kata-kata Negroponte semakin menjadi kenyataan: “Computing is not about computers anymore. Its’s about living”. Kalau hari ini kita menyaksikan Facebook telah menjadi pemicu bagi adopsi massal Internet, ke depannya, bisa jadi ada inovasi-inovasi baru yang membuat penetrasi Internet semakin jauh dalam kehidupan banyak orang.
  3. Adanya tekanan yang semakin besar dari BSA (Business Software Alliance) kepada berbagai pihak untuk menggunakan software yang legal / licensed. Masuknya Indonesia pada pakta perdagangan bebas akan menimbulkan tekanan yang lebih kuat dalam hal ini, yang pada gilirannya memaksa pemerintah untuk lebih meng-enforce berbagai aksi yang berkaitan, mulai dari razia penjualan software bajakan, razia penggunaan software yang tidak sah pada kantor-kantor pemerintah, instansi pendidikan, bisnis, dan pihak-pihak swasta.
  4. Harga komputer portabel yang semakin murah dan kompetitif. Kita lihat sendiri ada banyak neologi yang merefleksikan perkembangan di sini. Mulai dari Laptop, Palmtop, Nettop, Portable Media Device, dsb. Portabilitas sedemikian menarik sehingga first internet adopter boleh jadi akan cenderung memilih perangkat ini daripada komputer desktop.
  5. Semakin banyaknya situs internet yang memberikan layanan-layanan online, yang semula fungsinya hanya bisa didapatkan user melalui software yang diinstal pada harddisk. Layanan cloud computing ini membuat user hanya memerlukan komputer, koneksi Internet, dan browser untuk mengakses layanan-layanan tersebut. Untuk keperluan Office misalnya, orang mungkin akan menggunakan layanan Google Docs, bukan Microsoft Office; untuk mengedit gambar orang akan menggunakan myimager, pixlr, atau snipshot; untuk mengedit video bisa digunakan jaycut atau moviemasher; untuk musik bisa pakai splicemusic; dan masih banyak lagi yang sekarang sudah ada dan akan muncul nanti.

Bila disatukan, maka skenarionya adalah, ketika semakin banyak orang ditekan agar tidak menggunakan software yang tidak sah untuk menangani pekerjaan sehari-hari dan pada saat yang sama koneksi Internet telah mencapai kecepatan yang cukup tinggi, lalu bersamaan pula dengan telah tersedianya begitu banyak layanan cloud computing, maka orang akan lebih menggunakan layanan ini ketimbang menginstal software sendiri. Sementara itu kita tahu bahwa ‘medium’ antarmuka cloud computing itu sendiri adalah browser. Bila ini terjadi, apakah “perang browser” jadi mendapatkan pemaknaan baru? Atau sekedar ‘pemahaman baru’ karena sebenarnya para pengembang browser sudah dari dulu punya visi ini ?
Maksud saya, bila mungkin “perang browser” sebelumnya diwarnai oleh ingroup sentiment para pembuatnya, rebutan ceruk pengguna, atau apapun yang orientasinya straight business, maka kini ‘perang’ itu berarti adalah ajang rebutan entry untuk sebuah inventori pengguna dalam skala global seperti yang saya sebutkan di awal tadi. Bagaimana itu bisa dimungkinkan ?
Sekarang memang cloud computing belum mewabah, sehingga barangkali signifikansi browser belum bisa ditarik ke wacana ini, tapi bukahkah dari sekarang pun kita sudah mengetahui bahwa melalui browser yang kita gunakan, orang lain bisa sekurangnya mengetahui :

  1. Jenis browser dan versinya
  2. Sistem Operasi yang digunakan
  3. Riwayat browsing, melalui cookies
  4. URL yang sedang diakses
  5. Lokasi geografis melalui IP tracing

tracing Itu semua adalah yang potensial bisa diketahui “orang lain” bila ia melakukan tracing pada kita. Pertanyaanya adalah, apa saja yang bisa dilakukan si pembuat browser, atau bahkan, si pembuat sistem operasi yang digunakan? Tentu saja lebih banyak dari itu! Sekurangnya saya mendapat gambaran tentang ini melalui apa yang dilakukan Microsoft dengan Windows Genuine Advantage (WGA). Melalui scanning yang dilakukan secara acak dengan periode dua minggu sekali, Microsoft bisa mengetahui mana saja komputer yang menggunakan Windows bajakan. Kalau memang dinyatakan bajakan, maka tanpa sepengetahuan kita melalui Internet Microsoft akan mengaktifkan sesuatu pada komputer kita sehingga komputer akan mengeluarkan warning: “You might be the victim of software counterfeiting”, lalu tinggal menunggu waktu sampai akhirnya komputer tersebut (sistem operasinya) akan tidak bisa digunakan sama sekali. Ini artinya, si pembuat sistem operasi bisa “menanam” program tertentu yang ketika kita sedang online, program itu mengirimkan data tertentu tentang kita ke pembuatnya, tanpa kita sadari.
Di sini kita tanyakan dulu, apakah kita bisa selalu percaya pada klaim yang menyatakan bahwa data tentang user (atau data apapun lainnya) tidak akan disampaikan ke pembuat software, pengelola situs yang kita kunjungi, atau pemilik layanan online yang sedang kita gunakan?
Bila kita bayangkan semua data itu dalam skala global diakumulasikan, dibuat klasifikasi, dihitung statistiknya, ditafsirkan per klasifikasi, maka bukankah ini informasi yang luar biasa maknanya untuk kepentingan bisnis? Di sinilah tempatnya saya ingin menyampaikan duga-duga saya, apakah cara berpikir ini sudah melatarbelakangi “perang browser” sejak awalnya, atau ini merupakan sebuah wacana baru yang merevitalisasi semangat “perang browser”? Karena, persaingan di sini berarti menjadi browser yang paling banyak digunakan secara massal, dan sekaligus berarti menjadi pintu bagi masuknya data para user untuk sebuah global inventory itu.
OK, barangkali apa yang akan terjadi tidak akan selinier seperti yang saya jelaskan di sini, tapi sekurangnya apakah kondisi 1 hingga 5 yang saya uraikan di atas pernah kita temui kecenderungannya untuk menurun?
android Lalu dari wacana ini, bagaimana kita mesti menafsirkan akan munculnya sistem operasi Google Chrome? Ya, saya belum tahu bakal seperti apa, tapi mengapa namanya sama dengan browser yang sekarang ini sudah beredar? Apakah itu sebuah sistem operasi dengan dasar pengembangan dari browser? Atau sebuah sistem operasi yang memberikan optimalisasi pada unjuk kerja browser di dalamnya? Dalam kaitan ini, saya sempat terkejut karena ternyata ada orang yang berpikiran hampir sama. Ia adalah Andreas Constantinou, yang tulisanya ada di sini. Tapi ia menulis tentang Google Android, sebuah sistem operasi open source untuk perangkat bergerak, bukan untuk komputer konvensional yang saya maksudkan di sini (komputer desktop, laptop, nettop). Ia menulis tahun 2007, saat di mana mungkin sistem operasi Google Chrome sudah mulai dikembangkan, tapi beritanya belum dilansir pada saat itu. Persisnya yang bikin saya terkejut adalah ia menggunakan kata yang sama saya gunakan: inventory, meski ia menyampaikannya dengan hiperbola: Google is not an internet search firm. It’s a broker of advertising inventory. Saya yakin ia tahu seharusnya tidak menuliskannya persis seperti itu untuk menunjuk kenyataan yang mungkin ada.
Nah sekarang bagaimana kita mensikapi ini? Harga yang harus dibayar untuk kemudahan komunikasi?
Security memang sebuah isu penting, tapi siapa yang akan menjamin kita bisa secure dari si pembuat security? atau dari layanan yang mengklaim bahwa kita bisa menggunakannya securely ?

Tentang Browser: Perseteruan antar Developer?

Tadinya saya pikir frase “perang browser” adalah semacam hiperbolisme jurnalis komputer Indonesia yang sudah mulai ikut-ikutan bahasa bombasnya reporter sepakbola. Tapi ternyata saya salah. Ternyata frase itu memang ada. Ada pula sejarahnya. Memang “perang” itu ada, meski tentu saja pengertiannya adalah kiasan. Dari yang saya baca di Wikipedia, ternyata yang memulai semua ini adalah Microsoft, yang ketika itu bersaing dengan Netscape. Sebuah momen simbolis yang menurut saya menjadi tonggak awal ini semua adalah ketika bulan Oktober 1997, pada peluncuran Internet Explorer 4.0, para pegawai Microsoft membuat logo huruf ‘e’ raksasa setinggi tiga meteran. Ketika [...] Continue Reading…

Skenario Software Legal untuk Mahasiswa

Hampir satu minggu setelah saya ikut Workshop Inherent di Jakarta, saya putuskan untuk datang ke acara musyawarah nasional MUGI di Karang Tumaritis, Lembang (24-25 Oktober 2009). MUGI adalah singkatan dari Microsoft User Group Indonesia, sebuah brand community yang sekarang dari waktu ke waktu sedang getol melakukan roadshow tentang mulai dari product knowledge, tech update, tech skill penggunaan software, sampai ke pembentukan MUGI di tingkat regional. Motivasi saya datang ke acara ini sebenarnya hanya satu: apakah Microsoft memiliki solusi kepemilikan (atau “kepenggunaan” ?) software yang murah untuk mahasiswa ? Sebenarnya saya sendiri sudah tahu sedikit banyak [...] Continue Reading…

Dari Workshop Jardiknas – Inherent (2)

Saya tulis ini setelah beberapa saat ada di Bandung. Barangkali akan kurang bisa menangkap detil, tapi sebagian besar saya masih ingat. Di hari kedua inilah semua yang inti dikemukakan, meski sebenarnya tidak terlalu banyak. Ada yang tidak terlalu langsung berkaitan tapi ditampilkan. Bukankah ini adalah kumpulannya orang-orang Pusat Komputer di perguruan tinggi yang sebagian besar berminat untuk hal-hal yang teknis ? Lagian, judul pertemuan ini adalah workshop, tapi bagi saya ini lebih sebuah seminar, atau sekurangnya semiloka.
Sesi pertama diskusi panel pagi itu diawali dengan presentasi dari Direktur Akademik Dikti, yang diwakili oleh sekretarisnya. Dari judulnya, saya sudah membayangkan [...] Continue Reading…

Dari Workshop Jardiknas – Inherent (1)

Dari sejak saya cerita tentang ada orang yang mengirim uang jutaan ke rekening saya untuk dibelikan router Cisco hingga sekarang, sebenarnya koneksi ke Inherent belum 100% lancar. Kenyataannya malah, baru kemarin sore orang dari Lintasarta itu datang lagi setelah saya kirimi dia email. Saya pikir dia akan datang sendiri karena tahu koneksi di tempat saya belum beres. Untuk pertama kalinya pada kemarin sore itulah saya lihat sebentar apa dan bagaimana yang disebut koneksi VPN ke Inherent (Indonesia Higher Education Network). Tapi ketika saya coba lagi malamnya dengan setting yang sama, koneksi itu sama sekali tidak jalan. Dan keesokan [...] Continue Reading…

Laptop Normal Termurah: Axioo Neon MNC 815C (2)

Ini adalah update dari review saya sebelum ini untuk Axioo Neon MNC 815C. Beberapa hari sesudah saya menulis review itu, saya mencoba mencari penyelesaian untuk dua masalah utama yang sudah saya identifikasi sebelumnya pada lingkungan Windows 7 di laptop ini. Masalah tersebut adalah soal display yang terpaksa jadi hanya 1024 x 768 sehingga tampilan gambar tidak tampak proporsional; dan soal output suara, yang jadi kresek-kresek kalau kita menggerakkan mouse ketika sedang playback mp3. Dua-duanya akhirnya menemukan solusinya. Untung saja, soalnya saya hampir menulis review Windows 7 (lagi) dengan penekanan pada masalah driver dan kompatibilitas. Saya [...] Continue Reading…

Angket via Email & Tabulasi Otomatis

Terus terang, secara tidak langsung saya berhutang budi pada Pauline Tanuwijaya dari bhinneka.com untuk ini. Minggu lalu saya menerima email berisi angket dari situs itu yang menanyakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kualitas layanannya. Ini karena belum lama ini saya membeli barang di situs itu. Emailnya berisi sebuah link, yang kalau di klik maka akan membawa kita ke sebuah halaman yang isinya beberapa pertanyaan multiple choice, dan pilihan jawabannya ada di bawah pertanyannya. Kita tinggal memilih salah satu jawabannya dengan cara mengklik semacam bullet yang ada di depan hurufnya. Setelah selesai dengan semua jawaban, di bagian bawahnya [...] Continue Reading…