P E R S P E K T I F – T

Tentang Yang Terlihat, Terdengar, & Terpikirkan

Ilmu Komunikasi: Saatnya CMC di Indonesia? (2)

learning Sudah beberapa saat sejak saya terbitkan tulisan blog dengan judul itu. Karena langsung di feed ke akun saya di Facebook, maka tanggapan banyak datang dari lingkaran pertemanan di Facebook. Apalagi saya men-tag beberapa orang. Tanggapan-tanggapan pada tulisan saya itu sungguh sangat menarik buat saya, karena menggambarkan bagaimana persepsi sebagian orang tentang CMC, sembari saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati: “Jangan-jangan memang beginilah persepsi sebagian besar kalangan pemerhati / aktivis Ilmu Komunikasi di Indonesia”. Saya tidak berasumsi persepsi saya paling representatif, tapi ada beberapa hal pada tanggapan-tanggapan itu yang saya tidak sepakati. Untuk itulah saya merasa harus memberikan ulasan balik yang memadai, sekaligus menambahkan apa yang belum saya uraikan di tulisan pertama.

Kalau saya ringkaskan per poin, ada tiga dari tanggapan-tanggapan itu yang perlu untuk segera saya bahas, yaitu :

  1. Domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial, sehingga bahasan teknis yang berkaitan dengan komputer seharusnya dikaji oleh Fakultas yang orientasinya teknik; Informatika (atau mungkin juga Elektronika).
  2. CMC membahas bagaimana pesan dipilih dan disusun, bagaimana feedback tersampaikan melalui komputer. Belum ada kepastian apakah CMC itu merupakan sebuah bentuk komunikasi.
  3. Teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah memadai dan dapat diterapkan pada CMC: Teori Agenda Setting, Uses and Gratification, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media.

Yang pertama, dengan semakin digunakannya komputer dalam kehidupan, hadirnya koneksi Internet dengan tarif yang murah, fasilitas-fasilitas interaksi yang semakin beragam di Internet, dan begitu banyaknya orang yang kian hari memiliki akses pada jaringan ini, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa domain Ilmu Komunikasi ada pada tataran sosial? Atau, lebih tepatnya, apakah untuk melakukan komunikasi manusia harus menggunakan sisi sosialnya? Apa sebenarnya pengertian sosial di sini? Sesuatu disebut sosial manakala itu menunjukkan sifat adanya keterlibatan dari dua orang lebih dengan mengacu pada hubungan-hubungan yang lebih luas pada kehidupan kemasyarakatan. Barangkali lebih detil bisa dirujuk sebuah uraian pada file ini. Tanpa didefinisikan pun barangkali kita sudah bisa merasakan nuansa kata itu, tapi masalahnya tidak akan sederhana manakala itu pada konteks komunikasi di Internet.

social-networking Saya berpendapat, ada kegiatan komunikasi melalui Internet yang masih bisa dikatakan sebagai berada pada tataran sosial dari para pelakunya. Ini menunjuk pada konteks bila kita melakukannya pada orang yang telah kita kenal, orang yang sehari-hari menjadi kolega, teman yang sering bertemu, atau pernah kenal. Saya mengatakan ini karena dalam konteks itu komunikasi melalui Internet adalah ekstensi dan/atau komplemen dari komunikasi yang dilakukan secara konvensional (tatap muka). Akan tetapi bukankah melalui Internet kita bisa melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal? Barangkali bagi mereka yang (maaf) baru menggunakan Internet pernyataan saya itu akan terdengar sebagai sekedar sebuah kemungkinan saja, yang toh mungkin akan jarang terjadi karena bukankah kita hanya melakukan kontak dengan orang yang kita kenal? Salah besar. Malah mungkin kita harus mendefinisikan ulang pengertian “kenal” itu sendiri. Pada mailing list atau chat room, misalnya, kita bisa melakukan komunikasi dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal, belum pernah kita jumpai, bahkan kita pun tidak tahu mereka ada di mana, pekerjaannya apa, kalau perlu bahkan kita pun bisa tidak tahu mereka itu laki-laki atau perempuan karena mereka menggunakan ID yang uniseks atau avatar yang tidak merujuk ke gender tertentu.

nonsocial Lalu komunikasi seperti apa yang kita lakukan pada mereka? Macam-macam. Saya, misalnya, malah menemukan bahwa saya sudah merasakan komunikasi seperti itu sebagai sebuah kebutuhan. Pada mailing list, misalnya, ada semacam etos untuk saling berbagi, diskusi, memberi informasi, saling membahas sebuah masalah yang dialami anggota, tidak peduli satu sama lain kenal secara langsung atau tidak. Ini benar-benar terjadi. Komunikasi toh terjadi juga, meski social cues yang ada sangat sedikit, atau mungkin tidak ada sama sekali. Selain itu, kita hanya berhadapan dengan kontingensi saja, berkenaan dengan apakah komunikasi itu hanya berhenti sampai di situ, berlanjut terus, atau entah kapan akan terjadi lagi dengan orang yang sama. Demikian pula, komunikasi yang terjadi bisa murni interpersonal tanpa referensi ke konteks-konteks sosial yang ada pada masing-masing. Kalau sudah begini, apakah kita masih  mengatakan bahwa komunikasi manusia dengan sesama manusia lainnya hanya bisa dilangsungkan dalam konteks sosial? Bukankah ternyata tanpa konteks itu pun esensi dari komunikasi telah dapat dilangsungkan? Atau kita mau mengatakan komunikasi dengan orang-orang seperti itu sifatnya less social? Atau kita harus definisikan ulang pengertian ‘sosial’ dalam konteks interaksi di Internet? Sebagian besar dari orang-orang yang pernah saya ajak komunikasi dengan cara seperti itu, tidak pernah saya ketahui siapa sebenarnya dan di mana, hingga kini. Meski ada beberapa yang setelah belasan tahun akhirnya bertemu muka juga.

computer_repair Masih berkaitan dengan yang pertama, adalah soal bahwa CMC itu membahas hal-hal yang sifatnya teknis komputer. Ini sebenarnya yang saya tengarai menjadi persepsi banyak orang. Saya ingin menekankan bahwa CMC sama sekali tidak membahas hal-hal itu. CMC tidak berbicara tentang mengapa koneksi di jaringan jadi putus, bagaimana mengembalikan data di harddisk yang hilang, atau mengapa permukaan monitor bisa mengalirkan listrik bila kita sentuh. Salah satu komentar dari tulisan saya bahkan mengatakan bahwa entri tulisan blog saya yang ada di kategori Komputer / Internet sebaiknya dipindahkan ke situs tertentu. Mungkin supaya bisa lebih mudah teridentifikasi. Tapi, sebenarnya tulisan-tulisan yang ada di kategori itu kalau tidak 100% teknis komputer, adalah hal-hal yang saya mau tegaskan sebagai tidak berkaitan dengan CMC sama sekali. Karena CMC berkaitan dengan komputer dan Internet, itu tidak lantas menjadikan semua tulisan tentang komputer dan Internet bisa langsung dikategorikan ke dalam bahasan CMC.

Lalu kalau begitu apa yang dibahas di CMC ? Saya kira ini sudah mengarah ke definisi. Saya merasa belum bisa mempertanggungjawabkannya secara ilmiah, tapi sejauh yang saya pahami, CMC adalah kajian tentang dinamika aspek psikososial dari penggunaan komputer dalam rangka Komunikasi. Kajian bisa diarahkan pada semua Komponen Komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan, efek), plus modus komunikasi dan konteks. Oleh karena itu maka pada tulisan sebelum ini saya mengatakan bahwa CMC adalah sebuah grey area antara Ilmu Komunikasi, Psikologi, Informatika, dan tentu saja Sosiologi. Barangkali tidak mudah membayangkan seperti apa contoh bahasannya. Untuk mudahnya, lihat saja sebuah situs yang representatif membahas ini. Apalagi kalau bukan JCMC (Journal of Computer Mediated Communication).

heads Yang kedua, kalau dikatakan bahwa CMC adalah tentang bagaimana pesan dipilih dan disusun dan bagaimana feedback disampaikan melalui komputer, saya kira itu terlalu menyederhanakan masalah. Saya kira CMC bukanlah sekedar penelaahan konten pesan dalam rangka, misalnya, Strategi Komunikasi. Untuk mudahnya, saya mau mengatakan, it’s a whole new world. Moga-moga saya tidak berlebihan, tapi mungkin analogis seperti kalau di bumi kita bicara gravitasi dengan segala teori Fisikanya, maka begitu kita berpindah ke planet lain, dengan gravitasi yang lain, tentu saja semua teori itu akan harus diganti. Pada CMC, kita berbicara tentang Komunikasi Manusia melalui sebuah medium komputer yang terhubungkan ke jaringan (intranet, internet, atau apapun). Tentu karena pelakunya adalah manusia, masih ada beberapa common sense pada konteks sosial yang normal, yang bisa diterapkan pada bentuk komunikasi ini. Akan tetapi karena kekhasannya, tidak bisa semuanya lantas relevan untuk dianalogikan. CMC bukan sekedar penelahaan konten dalam rangka pengorganisasian pesan, analisis efektifitas, atau analisis efeknya. Yang dibahas di dalam CMC bisa menyangkut semua aspek dari Komponen Komunikasi, konteks, modus, hingga prosesnya.

socialmedia Lalu berkenaan dengan kepastian apakah CMC merupakan sebuah bentuk komunikasi, saya malah mau mengatakan bahwa di dalam CMC ada bentuk-bentuk lain lagi yang lebih kecil / spesifik. Untuk itu saya memilih mengatakan bahwa CMC adalah sebuah Bentuk Komunikasi, sedangkan varian di dalamnya, saya sebut modus (dari kata bahasa Inggris, modes). Misalnya saja untuk email, kita bisa menunjuk ada varian point-to-point (dengan sub-varian lagi CC dan BCC), mailing list, distribution list, dan newsgroup. Untuk yang menggunakan browser kita bisa menunjuk adanya online forum, social networking, social bookmarking, social tagging, blogging, file sharing, dan sebagainya. Untuk yang menggunakan platform software tertentu kita bisa menunjuk penggunaan Yahoo Messenger, MSN Messenger, Blackberry Messenger, ….. semua ini berasumsi adanya pemetaan dengan upaya untuk membuat klasifikasi, dan ini jelas amat sangat tidak mudah. Apapun itu, saya mau mengatakan bahwa CMC adalah sebuah Bentuk Komunikasi. Dalam hal ini, akan sangat disayangkan bila mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi tidak memberi introduksi tentang ini, atau melewatkannya begitu saja pada bahasan “Ruang Lingkup Ilmu Komunikasi”, meski sekali lagi, sulit untuk membuat klasifikasi variasi bentuk komunikasi di dalam CMC.

Yang ketiga, dan yang menurut saya agak kontroversial (he, he, he ….) adalah bahwa teori-teori yang kini telah ada pada Ilmu Komunikasi telah “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC. Adanya hubungan sebab akibat yang repetitif pada sebuah fenomena dan telah dapat dibuktikan secara ilmiah kausalitasnya secara universal adalah sifat dari teori, tapi apakah klaim universalitas teori lantas mesti menafikan konteks? Lokus di mana CMC terjadi adalah sebuah konteks komunikasi yang berbeda dengan komunikasi yang konvensional, di mana teori-teori yang disebutkan itu (Agenda Setting, Uses and Gratification, Difusi Inovasi, Kredibilitas Media) dikembangkan. Saya kira kata “memadai” dan “dapat diterapkan” pada CMC jadi terdengar terlalu terburu-buru. Saya juga tidak mau terburu-buru mengatakan bahwa semua teori itu irelevan dengan CMC, tapi barangkali harus ada penyesuaian, modifikasi, atau bahkan penyusunan teori dari nol sama sekali. Sebagai contoh, memang betul Uses & Gratification adalah teori yang sekilas akan langsung bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena CMC, tapi Robert LaRose & Matthew S. Eastin dalam “Journal of Broadcasting & Electronic Media” (Sept, 2004) menyebutkan apa yang dinamakannya media attendance, sebagai sebuah faktor yang harus diperhatikan. Dengan mengutip beberapa penulis lainnya, mereka mengatakan :

The addition of the Internet to the electronic media environment has renewed interest in the question of media attendance: the factors that explain and predict individual exposure to the media. Much of the research has been carried out by followers of the uses and gratifications tradition, who anticipated the medium as an exemplar of active media selection that could further validate the core tenets of that paradigm (Morris & Ogan, 1996; Newhagen & Rafaeli, 1996; Ruggerio, 2000).

Artinya, teori yang ada tidak bisa digunakan begitu saja pada konteks baru. Demikian pula hanya dengan teori Agenda Setting, yang dijelaskan di sini.

Tinggal pertanyaannya, apakah semua teori Ilmu Komunikasi yang sudah ada bisa menjelaskan semua fenomena Komunikasi pada CMC? Saya kita tidak. Saya kira akan ada saatnya ditemui kebutuhan untuk membuat teori baru.

unsn Berkaitan dengan itu, saya sebenarnya sudah melakukan eksperimen kecil, dan apa yang menjadi dugaan rahasia saya ternyata terbukti. Sebenarnya, ini berdasarkan sebuah temuan penelitian yang akhirnya menyimpulkan bahwa bila sebuah komunitas terdiri dari orang-orang yang satu sama lain telah saling mengenal atau dapat mengidentifikasi secara sosial diajak bekerjasama secara melalui Internet, maka tingkat kolaborasi yang terjadi akan cenderung lemah. Ini berbeda jika anggota komunitas itu tidak saling mengenal dan tidak dapat mengidentifikasi satu sama lain secara sosial. Nah, eksperimen saya adalah sebuah blog di http://idcmc.wordpress.com. Silahkan baca isinya dan reka sendiri eksperimen apa yang saya maksud. Kebetulan sekali yang saya undang ikut serta adalah orang-orang yang saling kenal dan bisa mengidentifikasi satu sama lain secara sosial (mereka yang sudah memberikan tanggapan pada tulisan saya sebelumnya di Facebook). Ternyata benar! Tingkat kolaborasinya rendah, … malah sebenarnya tidak ada sama sekali. Ha, ha, ha ….

Itu bukan (belum) sebuah teori. Tapi apakah kita bisa membayangkan itu bisa dideduksikan dari teori-teori Ilmu Komunikasi yang ada sekarang?

Koneksi Internet dengan Modem CDMA (SMART – EVDO)

smart-telecom Dengan satu dan lain cara, akhirnya saya berhasil mendapatkan modem EVDO dari salah satu provider CDMA yang kini namanya semakin banyak dibicarakan, yaitu SMART. Provider ini sendiri sebenarnya menyediakan beberapa alternatif untuk koneksi internet, tapi yang dalam bentuk modem hanya ada satu, yaitu dari produk ZTE, dengan tipe AC 2726. Frekuensi yang didukungnya hanya satu, yaitu 1900 Mhz sehingga praktis karena yang menggunakan jalur frekuensi ini (sekarang) hanya SMART, maka modem ini tidak bisa digunakan untuk provider lainnya, meski (katanya modem ini tidak dikunci hanya untuk SMART).

Pada paket penjualannya, kita akan mendapatkan :

1. Modem ZTE tipe AC2726

2. Sebuah kabel USB Extension

3. Kartu SIM Card SMART

4. Manual

5. Kartu Garansi ZTE

6. Daftar Tempat Servis ZTE

ModemAC2726 Menurut stiker yang ada di bungkusnya, harga paket modem ini adalah 888 ribu, maka dengan pajak 10% berarti harga jual normalnya adalah sekitar 975 ribuan. Tapi untungnya, saya bisa mendapatkannya hanya dengan 950 ribu saja, dengan jaminan bahwa isinya tetap sama, meski plastiknya sudah agak kusut dan kusam. Setelah didaftarkan dan diaktifkan, langsung bisa digunakan. Ternyata semua software yang dibutuhkan sudah ada di dalam modemnya, sehingga bila kita tancapkan di sebuah komputer, dia akan melakukan instal secara otomatis. Prosesnya cukup cepat, dan langsung bisa digunakan.

smartpaket Ketika itu saya mencobanya untuk pertama kali di toko dengan sebuah netbook. Sinyalnya penuh, dan ada tanda EVDO di sampingnya. Browsing sama sekali tidak ada masalah, membuka beberapa tab juga tidak ada masalah sama sekali. Tentu saja saya tidak mungkin mencoba semuanya, … tapi secara umum nampaknya memuaskan. Menurut penjaga counter, saya bisa menggunakannya secara gratis secara 100 hari, alias 3 bulan, dan ini adalah unlimited, … jadi tidak ada batasan dalam sehari saya mau download berapapun, … tapi kemudian ia bilang bahwa kalau sudah mencapai batas tertentu (saya lupa) maka kecepatannya akan menurun. Setelah itu, tentu saja saya harus membayar sesuai dengan jenis paket yang akan digunakan.

Bicara soal SMART, semua orang pasti jadi ingat iklan di televisi yang menunjukkan seorang polisi yang tiba-tiba muncul di kamar seseorang yang mengingatkan kalau internetnya sangat cepat, … atau adegan ketika seseorang sedang membuka YouTube, dan tayangan gambarnya berhenti / patah-patah, tapi ketika diganti SMART, maka tayangan berupa live show sebuah band itu jadi lancar. Apakah pada kenyataannya demikian? Sayangnya, saya terpaksa bergabung dengan rombongan orang-orang yang kecewa.

Yang gampang saja. Saya masuk ke YouTube, dan memilih sembarang video, lalu playback. Apakah tayangannya lancar? Ternyata sama sekali tidak. Buffering-nya juga sangat lama. Malah, mau masuk ke halaman YouTube saja sudah lama sekali. Berdasarkan pengalaman saya sebelum ini untuk koneksi CDMA dengan provider Flexy menggunakan modem VT-12, saya mendapatkan bahwa ternyata kecepatan bergantung pada posisi di mana kita sedang berada. Ini juga sama dengan berarti kecepatan bergantung pada posisi relatif kita dengan BTS yang terdekat dengan kita, dan (mungkin juga) bergantung pada kualitas layanan internet yang ada di BTS itu sendiri. Saya baru mencoba di dua tempat di Bandung; di sekitar Setiabudi dan Cihampelas. Dua-duanya sama-sama lambat.

Hal lain adalah, katanya kalau sinyal EVDO sedang tidak ada, kita masih bisa menggunakan CDMA 1X, hanya jelas kecepatannya tidak akan sama dengan EVDO. Dari pengalaman saya, saya malah baru bisa melakukan browsing, hanya kalau EVDO-nya aktif dengan beberapa bar sinyal. Kalau sinyal EVDO ada, tapi bar sinyalnya tidak keluar, maka browsing sama sekali tidak bisa. Ini apalagi kalau yang keluar hanya CDMA 1X: lebih parah lagi! Berkenaan dengan EVDO ini, pertama kali saya mencoba di kantor adalah ketika cuaca di Bandung sangat buruk; ada hujan, angin, dan petir. Ketika itu saya melihat bahwa sinyal EVDO sama sekali tidak ada. Ketika semua reda, baru EVDO bisa muncul. Nampaknya EVDO cukup rentan dipengaruhi cuaca ?

Hal lain tentang paket modem (yang saya beli) ini adalah :

  1. Ada stiker yang mengatakan bahwa masa berlaku paket ini adalah hingga 31 Desember 2010. Padahal saya membelinya bulan Februari 2010. Kata penjualnya itu hanya sekedar stiker saja, dan dia sudah membuktikan bahwa memang internetnya (masih) bisa digunakan. Tapi apakah ini yang membuat saya tidak dapat menikmati high speed ?
  2. Pada modem juga ada slot miniSD, tapi dengan rekomendasi agar tidak dipasang card yang lebih dari 4G, karena katanya akan membuat koneksi jadi lambat.
  3. Saya coba instal di laptop saya yang punya 3 sistem operasi: Windows 7 Enterprise, Windows Vista Ultimate, dan Windows XP SP3. Anehnya, modem ini hanya bisa jalan pada sistem operasi default. Saya buat agar default-nya adalah Windows 7. Modem tidak bisa jalan di Vista dan XP, meski software terinstal dengan sempurna. Aneh. Oh iya, saya pasang juga di Windows 7 64 bit, ternyata bisa (bukan multi operating system, tunggal saja).
  4. Pada manual disebutkan akan muncul tanda tertentu kalau koneksinya roaming. Anehnya tanda itu di saya ada. Padahal saya di Bandung, dan nomer SMART yang saya gunakan adalah area Bandung (lengkapnya BANDUNG JAVA-2). Bukankah roaming itu maksudnya kalau kita menggunakan layanan ini di luar kota?
  5. Entah saya belum menemukannya, atau memang pada kenyataannya tidak ada, … di buku manual disebutkan bahwa pada software modem ini ada fitur manual update dan auto update, tapi saya sudah cari-cari, keduanya tidak ada. Jadi, sebenarnya apakah ada software support untuk produk ini?
  6. Bila kita klik Help pada software-nya dan kita pilih online service, maka browser akan mencoba membuka halaman http://www.ztemt.com/ennewzte/default.action – tapi ternyata halaman itu kosong belaka, malah menunjukkan kalau halaman itu sebenarnya tidak ada!

Demikian pengamatan saya atas paket modem SMART ini. Barangkali memang ada trik-trik yang harus dilakukan agar koneksinya bisa optimal. Anyway, saya berpendapat ini adalah layanan internet yang cukup murah, selain dari Flexy yang telah saya review sebelumnya.

Data Hilang? Getdataback!

Ini adalah testimoni tentang sebuah perangkat lunak data recovery. Baru kali ini saya menemukan sendiri bahwa perangkat lunak yang free / gratis ternyata memang tidak memberikan semua fungsi / kinerja yang kita harapkan. Ini karena saya sudah mencoba beberapa perangkat lunak yang gratis itu, tapi sama sekali tidak menolong saya menemukan data yang hilang. Kebetulan saya menemukan sebuah CD yang judulnya Hiren’s Boot & Recovery CD Ver 9.3, yang sebenarnya adalah sebuah kompilasi dari beberapa perangkat lunak berbeda yang dibuatkan semacam menunya. Saya gunakan salah satunya di situ yang bernama Getdataback. Perangkat lunak ini berbayar, dan ternyata cukup [...] Continue Reading…

Ilmu Komunikasi: Saatnya CMC di Indonesia?

Saya masih ingat pada sebuah seminar tentang Ilmu Komunikasi di Bandung, ketika saya bertanya tentang pentingnya kajian Ilmu Komunikasi pada fenomena penggunaan komputer dan Internet. Responnya sungguh tidak memuaskan bahkan ada terkesan penghindaran. Saya maklum karena waktu itu (sekitar awal tahun 2000-an), saya sudah sangat aktif menggunakan email dan Internet, tapi pada saat yang sama sangat banyak orang menganggap sarana komunikasi ini kalau tidak terlalu teknis, masih tidak terjangkau, tidak ramah pengguna, atau malah dibayangkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Komunikasi! Ingatan saya juga masih kuat ketika saya berbicara tentang ini ke seorang pendiri PTS di Bandung [...] Continue Reading…

Komentar: Prita Kembali ke Pengadilan

Ini adalah tulisan yang saya kirim ke Radio Nederland sebagai komentar dari salah satu berita yang dimuat di situsnya. Berita itu persisnya ada di sini. Ketika saya membacanya, kebetulan saya temukan adanya pengumuman tentang lomba menulis komentar berita.
Saya sendiri kebetulan termasuk yang concern pada masalah yang dihadapi oleh Prita Mulyasari. Saya bilang: “akhir dari kasus Prita ini nanti akan menjadi gambaran tentang bagaimana masa depan kebebasan berekspresi di Indonesia via Internet.” Sebagai salah seorang yang aktif menggunakan Internet sejak lama, rasanya saya tidak berlebihan mengatakan itu. Saya pun sudah mengantarkan uang receh yang kebetulan suka dikumpulkan anak [...] Continue Reading…

Review: Mobile Speaker SU-15

Saya harus membuat 10 CPU lama kelas Pentium III jadi fungsional lagi, padahal komponen-komponen dalamnya sudah dipreteli untuk berbagai kepentingan. Karena saya belanja hanya pada satu toko untuk semua kebutuhan itu, dan kuantitasnya cukup banyak, saya merasa saya bisa meminta bonus. Setelah ngalor ngidul dan ngendon cukup lama di toko, akhirnya toko berbaik hati memberi saya bonus sebuah speaker kecil, tapi ini bukan speaker biasa. Para audiophiles pasti akan segera melewatkan ini karena memang kualitas suaranya tidak bagus-bagus amat, tapi speaker ini punya colokan SD/MMC Card dan Flashdisk. Memory card / Flashdisk itu bisa kita isi [...] Continue Reading…

Koneksi Internet dengan Modem GSM + IM2 (1)

Ini seharusnya sudah saya tulis beberapa minggu lalu. Alasan utama saya membeli modem GSM adalah karena koneksi dengan modem CDMA + Fleksi Unlimited sudah tidak dapat diandalkan lagi kualitasnya. Sebelum 31 Oktober, segalanya baik-baik saja, tapi begitu lewat tanggal batas promosi itu, bukan saja sangat lambat, tapi bahkan untuk konek pun susah sekali. Kebetulan saya sedang mengajukan sebuah proposal penelitian yang salah satu kebutuhannya adalah modem GSM. Karena sudah keburu butuh, maka meski dana penelitiannya belum turun, barang ini sudah saya ijon dengan uang sendiri dulu, …
Langkah pertama adalah jelas menentukan modem mana yang akan dibeli. Hanya begini [...] Continue Reading…

Jadi Pembicara di Seminar tentang Windows 7 @ Unikom

Setelah debut saya tampil bersama MUGI menjadi fasilitator untuk anggota pasukan TNI yang akan berangkat ke Lebanon November lalu, saya dapat kesempatan lagi 12 Desember kemarin. Event-nya adalah sebuah seminar tentang Windows 7. Yang tampil sebagai pembicara hari Sabtu itu adakah seorang penulis buku komputer senior, Pak Tutang, saya sendiri, Aris Lesmana (instruktur dari BeLogix), Firstman Marpaung (Project Manager PT. Icomm – Ketua MUGI Bandung), Andik Susilo (Teknisi IT PT. Unilever), dan Dani Taufani & Iqbal(mahasiswa Unikom). Meski tajuknya adalah Windows 7,tapi yang dibawakan tidak hanya itu. Pak Tutang tentang Windows 7 secara umum, saya tentang optimalisasi kinerja [...] Continue Reading…