P E R S P E K T I F – T

Tentang Yang Terlihat, Terdengar, & Terpikirkan

Panduan Membeli Modem Wireless (USB)

sony Selalu harus ada korban dulu sebelum yang seperti ini ditulis, dan korban itu adalah: Saya. Saya bilang korban, karena saya sudah mengalami beberapa kali kecewa dan rugi soal ini. Oleh karena itu pengalaman ini saya tulis dengan harapan semoga tidak ada orang lain yang mungkin akan mengalami hal buruk yang pernah saya alami. Saya tidak mengasumsikan sudah mencoba semua, tapi saya pikir apa yang saya alami barangkali sudah cukup untuk dibagikan ke publik di Internet.

Tren untuk memiliki modem wireless meningkat pesat sejalan dengan merebaknya tawaran layanan Internet dari provider selular. Sebenarnya bukan hanya karena adanya tawaran, tapi secara nyata kebutuhan untuk akses Internet memang semakin dirasakan banyak orang. Kalau komputer / laptop / nettop sudah dimiliki, maka jelas, hal berikutnya yang harus dipikirkan adalah modem untuk koneksi Internet. Era model dial-up menggunakan telpon rumah barangkali sudah berakhir, karena tidak saja ribet dengan kabel, lambat, tidak portabel, dan mahal. Dengan tawaran koneksi Internet dari beberapa provider selular (dan ada juga yang non-selular), meningkatnya kualitas koneksi yang ditawarkan, serta ketersediaan modem wireless yang semakin turun harganya, maka membeli modem wireless adalah sebuah sebuah pilihan yang masuk akal. Tapi sayangnya, bagi beberapa orang, barangkali membeli modem ini bukan urusan yang mudah.

bts Sebelum saya mungkin akan mengesankan rumit dan sulit, saya akan tuliskan yang praktis dan mudahnya saja dulu. Kalau merasa awam, bawa saja laptop ke tempat beli modem. Anda bilang mau beli, lalu minta di setup-kan, dan lihat sendiri bagaimana cara menggunakannya. Beres. Barangkali ada masalah soal memilih layanan apa yang sebaiknya digunakan. Gampang saja, pilih saja layanan yang di tempat anda nanti akan menggunakannya, memiliki sinyal kuat. Bisa dengan menanyakan di mana lokasi BTS terdekat dari layanan yang digunakan dengan rumah anda. Kalau sudah jalan bagus, ya sudah. Jangan dioprek yang tidak-tidak, apalagi “membetulkan” sesuatu yang tidak rusak.

Tapi kalau anda mau teliti membeli dan barangkali mau sedikit antisipatif dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, maka ini beberapa hal yang bisa saya sarankan :

1. CDMA atau GSM

Secara umum, bagi saya dua ini dulu yang harus dipilih. Keputusan untuk memilih salah satunya akan menentukan jenis modem yang akan dibeli, meskipun saya pernah melihat ada satu modem yang bisa menangani dua-duanya sekaligus. Koneksi via CDMA itu rentan terhadap cuaca dan penetrasinya terhadap penghalang sinyal (tembok, misalnya) lebih buruk. Maksud saya, tentu saja koneksi via CDMA baru bagus kalau cuaca terang dan lokasi penggunaannya relatif berada di tempat yang terbuka. Hujan akan membuat koneksi via CDMA akan menurun drastis, misalnya dari EVDO turun jadi CDMA 1 atau sinyalnya hilang sama sekali, atau bila menggunakannya di dalam rumah yang terhalang banyak tembok, koneksi akan buruk.

Tentang modem GSM, siap-siaplah untuk menggunakan layanan yang biayanya lebih mahal, meski kualitas koneksi belum tentu lebih bagus juga dari CDMA. Tapi penetrasi sinyalnya menurut pengalaman saya, lebih baik dari CDMA, dan tidak begitu peka pada cuaca. Untuk yang akan menggunakan Internet secara mobile dengan laptop, saya kira modem GSM lebih layak untuk dipilih, ya karena alasan kekuatan penetrasi sinyalnya itu.

2. Penentuan Provider

Memilih provider yang akan digunakan sama sekali tidak mudah. Apa yang saya tulis ini barangkali akan tidak berlaku bagi orang lain. Yang akan saya tulis ini berdasarkan pengalaman saya saja. Kalau dilihat dari tarifnya, sekali lagi, koneksi Internet via CDMA secara umum lebih murah dibanding GSM. Yang paling murah sekarang ini adalah dari Flexi, tapi sejak masa promonya berakhir, banyak orang mengeluh pada kualitasnya. Lalu Smart. Sama juga. Di awal ketika masih banyak orang belum menggunakannya, kecepatannya sangat bagus, belakangan menurun, tapi pengalaman menunjukkan ternyata ini bisa bervariasi tergantung lokasi. Ada lokasi yang hanya mendapat CDMA 1,ada yang EVDO, ada yang EVDO 2. Yang terbaru adalah Aha dari Esia. Yang terakhir ini saya belum coba. Harga modem dan tarifnya lebih murah dari Smart. Sekarang ini masih dalam masa awal dan promosi, kecepatan masih bagus. Entah nanti.

provider Kalau GSM, pengalaman saya juga bervariasi. Kita mungkin mendapat citra bahwa Telkomsel itu bagus, pada kenyataannya Telkomsel Flash yang pra bayar kini mati tidak jelas. Setelah membeli kartu perdananya, saya hanya bisa menikmati seminggu, dan sesudahnya tidak bisa digunakan lagi. Tapi ketika dulu jalan, koneksinya amat sangat bagus. Sinyalnya kuat di mana-mana, barangkali nyaris sama dengan sinyal selular Telkomsel yang nyaris selalu penuh itu. Lalu XL. Sinyal cukup kuat, tapi kecepatan download tidak sekuat Flash, padahal BTS XL hanya beberapa ratus meter dari rumah saya, BTS Telkomsel lebih jauh. Kemudian IM2, yang berturut-turut mengeluarkan paket-paket populer seperti Broom, Broom Extra, Broombastic, … dan terakhir Paket Merdeka. Buat saya, IM2 punya koneksi yang stabil, tapi mahal. Paket terbaru, Paket Merdeka, memang murah kartu perdananya, tapi kuotanya kecil (150 Mega saja). Semakin besar kuota, semakin besar juga bayaran bulanannya. Memang dikatakan unlimited, tapi kalau sudah lewat kuotanya, kecepatan akan drop, dan drop-nya itu bisa sangat signifikan. Terakhir yang saya coba adalah 3. Barangkali di antara jajaran layanan Internet via GSM, ini yang paling murah, tapi ya koneksinya juga tidak begitu bagus. Sinyal 3 lemah sekali. Ketika saya tulis ini malah koneksi ada, tapi tidak bisa browsing sama sekali.

Saya sengaja tidak mencantumkan harga di sini, karena itu fluktuatif. Lebih baik langsung saja lihat ke situs resmi mereka.

Penentuan provider yang akan digunakan barangkali bisa pertama-tama menggunakan patokan: apakah sinyal provider di tempat anda menggunakan Internet itu bagus ? Bisa tanya-tanya ke orang lain, bisa anda beli dulu sim card selular yang pada umumnya murah itu, … coba pada hp. Lihat apakah sinyalnya kuat atau tidak.

3. Locked atau Unlocked

Kalau anda menemukan modem yang dijual murah bersama dengan kartu perdana Internet, anda harus langsung curiga. Itu modem locked atau unlocked ? Maksudnya apakah modem itu sudah dikunci untuk hanya bisa digunakan dengan provider tertentu atau tidak ? Kalau suatu ketika anda memutuskan untuk ganti provider, maka kartu baru tidak akan bisa digunakan pada modem yang locked. Pada umumnya harga modem yang locked memang lebih murah, tapi tentu saja tidak fleksibel. Kalau anda memutuskan akan menjadi pengguna setia sebuah layanan Internet, silahkan saja beli modem yang begini.

4. Kecepatan Maksimal Modem

speed Ini jadi faktor yang menentukan harga. Pada saat saya menuliskan ini, saya hampir bisa bilang bahwa kalau harga modem di atas 500 ribu barangkali modem itu kecepatan maksimalnya adalah 7,2 Mbps. Kalau di bawah 500, itu 3,6 Mbps. Ini sangat relatif, karena kemarin saya malah melihat modem versi black market yang bisa 21 Mbps dan harganya hanya 400 ribuan. Soal harga saya tidak akan bahas, tapi poinnya di sini adalah modem punya kecepatan maksimal untuk koneksi Internet yang bisa ditangani. Tapi jangan langsung berharap bahwa kalau kita punya modem 7,2 Mbps maka kita akan langsung mendapatkan koneksi secapat itu. Bagi saya, 7,2 Mbps itu maksudnya adalah kapasitas bandwidth maksimal yang bisa ditangani modem (apa bahasa mudahnya untuk ini ?), sedangkan berapa kecepatan Internet-nya secara aktual itu soal lain.

Yang jadi masalah adalah, kecepatan aktual koneksi Internet wireless di Indonesia tidak (belum) ada yang sama dengan kapasitas maksimal modem yang digunakan. Katakanlah kita punya modem yang kapasitas maksimalnya 21 Mbps. Apakah akan ada layanan Internet wireless yang sudah memberikan kecepatan setinggi itu? Jangankan 21 Mbps, kalau ada provider yang kecepatan download Internetnya bisa full 3,6 Mbps saja sudah merupakan surga bagi semua pengguna Internet di Indonesia.

Soal yang 21 Mbps, masih jadi barang baru di pasaran sekarang ini. Yang ramai adalah antara 3,6 dan 7,2. Hati-hati, ada modem yang sebenarnya 3,6 tapi diiklankan sebagai 7,2. Contohnya adalah Vodafone K3565. Tanya dulu sebelum beli, browse dulu sebelum menentukan pilihan. Tapi ya kembali lagi, kalau pun kita punya modem 3,6 Mbps, apakah nanti koneksi Internet yang kita dapatkan akal bisa full segitu ? Suatu saat nanti di Indonesia mungkin akan seperti itu, tapi sekarang bisa dipastikan tidak.

5. Driver / Software: Internal atau Eksternal

Setiap modem harus terhubung ke komputer menggunakan software / driver tertentu. Variasinya sekarang ini ada dua: ada modem yang driver / software-nya diberikan dalam bentuk CD (contoh: Venus VT-18), lalu ada yang sudah built-in di dalam modemnya (contoh: ZTE AC 2726). Yang terakhir itu berarti, ketika kita colokkan modem untuk pertama kalinya ke komputer, si modem akan menawarkan untuk menginstal driver / software yang dibutuhkan. Tapi ternyata ada variasi ketiga, yaitu yang driver dan software-nya built-in di dalam modem, tapi ada juga alternatifnya di dalam CD. Yang ini saya alami di modem Sierra Wireless Compass 885.

Mana yang lebih bagus ? Barangkali bukan soal bagusnya, tapi kepraktisannya. Jelas lebih praktis yang sudah built-in. Kalau kita akan menggunakannya di komputer lain, kita tidak perlu membawa serta CD segala macam.

6. Slot MicroSD

Beberapa modem menawarkan ini. Jadi, pada modem terdapat tempat di mana kita bisa meletakkan microSD. Dengan demikian, modem bisa jadi sekaligus seperti flash disk. Bagi saya, ini memang ada untungnya, tapi kegunaannya relatif. Saya sendiri jarang menggunakannya. Apakah ini benar-benar diperlukan ? Kalau ada dua modem yang sama kualitas koneksinya, tapi yang satu tidak punya slot microSD dan karenanya jadi lebih murah, maka saya pilih yang ini. Sekali lagi ini relatif, tergantung kebutuhan individual juga.

7. Jack Antene

antene Selain slot microSD, fitur lain yang kadang ada di modem wireless adalah keberadaan tempat colokan untuk antena eksternal. Saya sendiri baru sekali melihat ada orang menggunakan antena eksternal untuk modem wireless, tapi suatu ketika barangkali antena ini bakal banyak dijual, seperti di sini. Ya kalau modem yang kita beli punya fasilitas ini, tentu kedepannya kita bisa punya peluang untuk menggunakannya dengan antena eksternal untuk kualitas sinyal yang lebih baik.

8. Dukungan OS

xpvista7 Apakah sekarang ini kita bisa gunakan asumsi bahwa modem yang ada di pasaran bisa kompatibel dengan semua operating system (OS) ? Ya saya tidak akan bicara OS di bawah XP, tapi di seputar XP, Vista, dan 7. Vista dan 7 barangkali relatif bisa disejajarkan. Jadi keduanya langsung berhadapan dengan XP.

Bagi saya, selalu ada risiko ketidakompatibelan. Kalaupun mungkin jalan, barangkali driver / firmware yang digunakan belum matang / masih mengandung bugs. Contohnya, dua modem Sierra Wireless Compass 885 yang saya miliki, sudah di-update firmware dan driver-nya, yang konon membuat jadi bisa di Windows 7. Pada kenyataannya, modem itu sering tidak terdetek di Windows 7, tapi jalan sempurna di Windows XP.

Poin saya di sini adalah, perhatikan dukungan modem pada sistem operasi yang anda gunakan. Sebagian besar asumsi OS nya adalah XP. Kalau anda gunakan Vista atau 7, hati-hati.

9. Panas Modem

Ini barangkali luput dari perhatian banyak orang, dan memang mungkin wajar, karena tidak semua penjual modem mau mendemokan barangnya langsung. Ini relatif tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan modem dengan komputer desktop, meski mungkin usia modem bisa saja berkurang karena terus menerus kena panas. Tapi kalau anda pengguna laptop, dan ternyata modemnya mudah panas, maka itu buruk bagi baterai laptop anda. Kalau cepat panas, ya artinya modem itu sangat intensif menyedot energi listrik. Bisa dipastikan penggunaannya akan membuat baterai laptop cepat habis.

Kalau mungkin, ketika kita membeli modem, kita lihat demonya beberapa saat dari si penjual. Lalu kita pegang modemnya, apakah panas ? Hangat saja atau panas sekali ? Sialnya, tidak selalu kita bisa punya kesempatan seperti ini.

10. Kelengkapan Paket Penjualan

Arus barang black market (bm) tidak pernah surut dalam dunia komputer. Itu karena barang-barang bm murah akibat tidak kena pajak. Banyak modem yang diimpor atau distok oleh toko dalam bentuk batangan, lalu dibungkus sendiri oleh tokonya. Biasanya barang yang begini murah, meski belum tentu murahan. Kalau anda membeli modem yang seperti ini, pastikan kelengkapannya. Terutama ya soal driver / software. Jangan langsung percaya bahwa driver / software-nya sudah built-in. Coba dulu, baru beli.

Terakhir saya lihat Compass 885 itu dibungkus asal-asalan, tidak ada cd-nya pula. Demikian pula dengan beberapa dari Haier dan Huawei.

11. Garansi

Terkait paket penjualan itu, adalah garansi. Berdasarkan pengalaman pada barang-barang komputer lain, saya bisa menyimpulkan bahwa bila suatu barang punya masa garansi lama, maka barang itu adalah barang yang bagus, barang yang benar-benar siap dipertanggungjawabkan oleh si penjualnya. Tapi kalau singkat, … 1 bulan misalnya, kita harus hati-hati dengan barang itu. Tapi mau pilih mana ? Barang murah dengan garansi singkat, atau lebih mahal tapi garansi lama ? Ini problematik kalau kita punya duit pas-pasan. Ya beli saja yang murah, segera coba / gunakan, manfaatkan tenggang waktu support yang diberikan toko, kalau perlu online 24 jam terus-menerus, kalau memang bagus … hati-hati menggunakannya, dan awas … jangan mencoba “memperbaiki” sesuatu yang tidak rusak!

12. Support dari Produsen

Last but not least adalah support dari produsen modem. Secara riil maksud saya di sini adalah dukungan via website / internet dari pabrik pembuat modem. Kalau barangnya bagus, dari pabrik ternama, biasanya support itu ada dalam bentuk update driver / software. Kalau ini ada dan berkelanjutan, maka masalah ketidakompatibelan pada OS yang berbeda bisa kemungkinan diatasi. Cacat pada driver barangkali akan ada perbaikannya. Kebanyakan modem buatan Cina tidak punya support begini. Website-nya ada, tapi update driver / software-nya jarang, atau tidak ada sama sekali. Pengalaman saya dengan ini, pada Sierra Wireless Compass 885 misalnya, update yang didapat dari situs pabriknya bisa membuat modem itu jadi punya fitur GPS.

Duabelas hal itu sekurangnya bisa membantu ketika memilih dan memutuskan. Semuanya dari pengalaman pribadi saya di Bandung. Kenapa saya mesti tambahkan “di Bandung” ? Karena di kota lain, bisa jadi kondisinya berbeda, terutama dalam kaitannya dengan kualitas sinyal dan koneksi Internetnya. Semoga bermanfaat.

Pengalaman dengan Modem Sierra Wireless Compass 885

1279774_885uSebelumnya saya pernah menulis tentang modem ini ketika pertama kali menggunakannya dengan kartu IM2, tapi karena saya mendapatkan kartu versi yang time-based dan mahal, maka saya memutuskan untuk berhenti menggunakannya. Untuk beberapa saat modem ini saya simpan. Sementara saya menggunakan Flexi lalu disusul Smart. Ketika Smart mulai melambat, saya terpikir untuk balik lagi ke modem GSM ini. Kali ini saya menggunakan Telkomsel Flash. Barangkali untuk sementara soal Telkomsel Flash tidak perlu diuraikan di sini. Saya akan memfokuskan diri pada modemnya saja.

Ketika menggunakan IM2, saya tidak punya masalah dengan koneksi modem ke komputer maupun koneksi ke Internet. Ketika itu saya masih menggunakan Windows XP. Tapi ketika saya ganti kartunya dengan Flash dan OS-nya adalah Windows 7, masalah muncul, dan penyelesaiannya memakan waktu yang cukup lama. Berbagai kemungkinan saya coba sampai akhirnya saya kenal betul dengan karakter barang satu ini. Saya merasa harus menuliskan ini karena yang saya alami ternyata tidak sama persis dengan beberapa orang yang sudah menulis tentang modem ini di Internet. Antara lain di :

Masalah nyata yang saya hadapi adalah :

  1. Di Windows XP modem terinstal dengan mudah, koneksi pun lancar. Ketika itu saya menginstal AT&T Communication Manager (ada di dalam modem) dan Sierra Wireless Watcher (ada pada CD bawaan). Tapi ketika saya ganti OS ke Windows 7, modem bahkan tidak terdetek sama sekali.
  2. Saya kehilangan CD bawaan, sehingga saya tidak bisa memasang Sierra Wireless Watcher. Saya cari dan temukan di Internet, tapi versinya berbeda dengan yang pernah saya pasang.

Dari sekurangnya empat blog / situs di atas, saya mendapat info bahwa agar modem ini bisa dideteksi oleh Windows 7, firmware-nya harus di-update dulu. Nah, urusan update firmware ini benar-benar menuntut kesabaran yang luar biasa. Saya ringkaskan begini :

  1. Untuk bisa update firmware, maka OS yang terpasang harus terlebih dahulu bisa mengenali modem. Oleh karena itu, saya meng-update firmware modem ini di Windows XP.
  2. Di situs nomer 4 di atas dikatakan bahwa the latest firmware adalah C885_J1_0_1_26AP.exe Version 1.0.1.26 (10.01 MB), ternyata ada yang lebih baru lagi, yaitu yang bisa ditemukan di sini : J1_0_1_31bt_J1_0_1_33ap.exe.
  3. Upgrade firmware ternyata tidak bisa meloncat langsung ke versi terakhir, harus ke versi 1.0.1.26 dulu, baru ke J1_0_1_33ap. Terus terang awalnya saya tidak mau percaya ini, tapi saya mengalami kegagalan terus ketika upgrade langsung ke versi terakhir.
  4. Update firmware ternyata makan waktu lama. Tidak 10 menit seperti yang dituliskan pada pop-up windows, atau cepat seperti dikatakan situs nomer 2 di atas. Pengalaman saya sungguh tidak mengenakkan soal ini. Saya sempat tidak percaya update sedang berjalan, sehingga saya mematikan komputer dan memulainya lagi. Bahkan sempat pula mencabutnya. Saya tahu persis bahwa mencabut hardware ketika proses update firmware sedang berjalan akan merusak hardware, … tapi untungnya itu tidak terjadi! Akhirnya saya biarkan proses itu berjalan dengan cara meninggalkannya dan menengoknya lagi keesokan paginya (saya tidak tahu persis berapa jam proses persisnya).
  5. Last but not least, update firmware modem ini tidak memerlukan koneksi Internet, seperti yang dikesankan oleh situs nomer 2 di atas. Kalau kita sudah punya file untuk update-nya (kita unduh terlebih dahulu), selanjutnya proses update tidak memerlukan koneksi Internet.

Setelah update firmware, saya langsung colokkan modem ke Windows 7. Ternyata masih tidak terdeteksi! Saya search lagi, dan akhirnya menemukan informasi di halaman support page-nya Sierra Wireless, yang mengatakan bahwa bila modem tidak terdeteksi di Windows 7, itu karena modem berada dalam software-installation mode, bukan modem-mode. Kalau ini terjadi di Windows XP, kita bisa langsung ke Control Panel, dan mengesetnya menjadi modem-mode di TRU-Install. Tapi karena ini di lingkungan Windows 7, yang seperti itu tidak ada. Untungnya Sierra menyediakan solusi berupa sebuah file kecil untuk memodifikasi registri untuk keperluan ini. Setelah dijalankan, tentu komputer harus restart, dan ketika saya tancapkan lagi modem, ternyata masih tidak terdetek juga. Gila! Tapi bedanya kali ini adalah lampu oranye menyala dulu sebelum lampu biru. Entah apa artinya itu.

Akhirnya tanpa sengaja saya temukan bahwa yang membuat modem bisa dikenali adalah dengan meng-uninstal dulu semua software yang ada kaitannya dengan modem ini. Lalu saya klik secara manual file DrvInst yang ada di folder /Win/TRU-Instal/Drivers/ Yang terjadi adalah lampu modem di yang ada panah bolak balik itu berkedip-kedip. Saya pikir ini berarti sudah terdetek, tapi ternyata belum. Saya restart komputer dalam keadaan modem masih tertancap, dan ketika masuk ke Windows, Windows 7 ternyata sekarang bisa menginstal driver untuk modem ini. Pfuih!

Saya barangkali melakukan langkah-langkah yang sama sekali untung-untungan. Yang terpikir oleh saya : “Jangan-jangan untuk Window 7, firmware tidak perlu di update, atau kalau di update pun tidak perlu sampai ke versi terakhir (sekedar supaya bisa jalan, meskipun para computer freak pasti selalu ingin ke versi terakhir).” OK, setelah terdetek, barangkali karena sebelumnya saya sudah cabut pasang AT&T Communication Manager dan Sierra Wireless Watcher, pada device manager sudah langsung terpasang driver-nya. Tapi pada halaman ini, dikatakan bahwa tidak terdeteksinya modem ini adalah karena software AT&T Communication Managernya harus versi 7.0.208 ke atas, Software AT&T Communication Manager versi 7.0.208 yang bisa diperoleh di sini. Lagi-lagi terpikir oleh saya, dari tadi sudah ini itu segala macam, jangan-jangan masalah sebenarnya hanya pada software AT&T ini ? Apakah pada firmware atau pada software itu, atau pada kedua-duanya ? Tapi siapa yang peduli kalau saya sudah sampai pada tahap ini? Saya tidak mungkin balik lagi untuk memeriksa bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Yang penting modem sudah bisa OK.

Akhirnya setelah modem terdetek, dan software AT&T yang versi 7.0.208 saya pasang, modem ini bisa berfungsi dengan sempurna. Lalu yang saya temukan kemudian adalah :

  1. Hardware detection modem ini cukup lama. Setelah semua proses di atas saya jalani, saya masih harus sabar untuk akhirnya bisa melihat bahwa modem dan komputer bisa kerja sama. Ketika modem ditancapkan dan software AT&T dijalankan, tunggu dengan sabar sampai akhirnya keluar pop-up windows, seperti ini :
    detek 
  2. Kalau komputer dalam keadaan hidup (Windows 7) dan modem ditancapkan, modem akan sulit terdetek. Tapi modem selalu bisa terdetek ketika dari sejak komputer mati, modem sudah ditancapkan, lalu komputer dinyalakan.
  3. Untuk bisa terhubung ke Internet, tidak diperlukan software Sierra Wireless Watcher. Cukup dengan AT&T Communication Manager saja. Saya sempat heran, kenapa paket pembeliannya mesti menyertakan sebuah CD kecil yang isinya Sierra Wireless Watcher itu ? Buktinya saya bisa konek ke Internet tanpa si Watcher ? Bahkan hampir semua situs di atas menyarankan mesti memasang si Sierra Wireless Watcher. Kenapa mesti dipasang kalau tanpa itu pun koneksi Internet sudah bisa jalan ?

Semoga pengalaman yang saya tuliskan ini bisa melengkapi tulisan-tulisan yang sudah ada di Internet tentang modem ini. Para pengguna baru barangkali bisa melakukan langkah-langkah yang lebih efisien dan tidak untung-untungan seperti saya.

Saya sempat kesal juga pada tidak friendly-nya modem ini, tapi akhirnya setelah mengalami trial and error dan segala kesulitan di atas, saya dapatkan bahwa modem ini kinerjanya cukup bagus. Dengan Telkomsel Flash cukup memuaskan (meski ini entah modemnya, entah layanan provider-nya), dan digunakan berjam-jam tidak menimbulkan panas yang berarti seperti pada modem-modem lain yang pernah saya gunakan.

Seperti Itukah Pemasaran Internet? Sekali Lagi Tentang Anne Ahira

Ada saatnya ketika atmosfir Internet Indonesia cukup ramai membicarakan fenomena Anne Ahira. Sebagian ada yang mendukung atau bersuara positif pada dia maupun usahanya, tapi ada sejumlah pihak (yang cukup banyak) yang kalau tidak skeptis, sikap mereka adalah menolak sama sekali, bahkan mengatakan bahwa Anne Ahira adalah bagian dari masalah Internet. Saya sendiri, dengan melihat uraian-uraian dari para penolak itu, langsung bersikap menolak juga. Tapi kemudian saya berpikir, apakah fair untuk langsung mengambil sikap demikian manakala saya sendiri belum mendengar langsung dari orangnya. Ada jeda waktu yang cukup lama antara pikiran saya itu, hingga akhirnya saya bisa mendengarkan langsung [...] Continue Reading…

Satu Lemari, Buku Ilmu Komunikasi, dalam Sekeping DVD

Untuk mendapatkan buku-buku referensi yang relatif baru (dari tahun penerbitannya), berkenaan dengan bidang studi yang kita tekuni seringkali sulit. Tidak saja kerap tidak terjangkau dari segi harga, namun juga tidak tersedia dengan mudah di toko buku terdekat. Barangkali hal ini lebih berlaku untuk buku-buku berbahasa Inggris daripada yang berbahasa Indonesia. Di sini tidak berarti saya mengasumsikan buku-buku berhasa Inggris lebih unggul, namun dengan menekankan pada buku-buku yang berbahasa Inggris, kita dapat berharap adanya sebuah transfer pengetahuan dan teknologi dari negara-negara lain. Lalu bagaimana jalan keluarnya ? Internet telah menjadi solusi yang luar biasa untuk itu. Maksud saya [...] Continue Reading…

SMART: Setelah Gratis 100 Hari

Bagi mereka yang menggunakan modem SMART ZTE AC-2726 tentu tahu bahwa ketika pertama kali membeli, ada gratis penggunaan Internet selama 100 hari atau tiga bulanan. Setelah tiga bulan, kita akan harus memasukkan pulsa sejumlah tertentu untuk dapat menggunakannya lagi. Awal bulan Mei lalu adalah untuk pertama kalinya saya melewati masa tiga bulan gratis itu. Lalu saya coba masukkan pulsa sejumlah 50 ribu, tapi ternyata apa yang diharapkan tidak terjadi. Saya pernah mendengar bahwa paket berlangganan paling murah dari SMART, yaitu yang kecepatannya sekitar 153,6 Kbps (download), adalah 50 ribuan per bulan. Yang terjadi adalah, saya memasukkan pulsa [...] Continue Reading…

Penetrasi HP Qwerty & Internetisasi Publik (1)

Setiap saya pergi ke BEC (Bandung Electronic Center), saya selalu takjub dengan begitu banyaknya orang yang setiap hari memadati toko-toko hp itu. Pertanyaan saya dalam hati, “OK, mereka akan membeli hp, apakah mereka membelinya hanya untuk menelpon dan SMS saja ? Apakah ada ekspektasi bahwa hp yang mereka akan beli itu juga harus bisa terkoneksi ke Internet ? Apakah itu akan jadi pengalaman mereka yang pertama dengan Internet ? Apakah itu hp pertama mereka ?” Ada begitu banyak pertanyaan! (barangkali saya juga harus pertanyakan kenapa saya harus takjub, sementara orang lain biasa-biasa saja). Dulu ada masanya ketika [...] Continue Reading…

Apakah Reuni Selalu Ada Gunanya ?

- Dari Regresi, Rasionalisasi, ke Konsientisasi – Gara-gara Facebook, sudah ada banyak kegiatan reuni yang terjadi. Ini karena jaringan pertemanan sosial itu memungkinkan kita bisa terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah dekat dalam hidup kita di masa lalu. Dalam arti dan batasan tertentu, Facebook adalah sebuah eksperimen sukses dari teori Six-Degree of Separation. Tentang bagaimana terjadinya dan apa yang harus kita cermati, itu adalah masalah lain, tapi saya ingin memfokuskan diri pada reuni itu sendiri. Karena pernah ada beberapa undangan untuk reuni, suatu ketika saya membatin ingin menulis status Facebook, “Apakah reuni selalu ada [...] Continue Reading…

Ilmu Komunikasi: Saatnya CMC di Indonesia? (2)

Sudah beberapa saat sejak saya terbitkan tulisan blog dengan judul itu. Karena langsung di feed ke akun saya di Facebook, maka tanggapan banyak datang dari lingkaran pertemanan di Facebook. Apalagi saya men-tag beberapa orang. Tanggapan-tanggapan pada tulisan saya itu sungguh sangat menarik buat saya, karena menggambarkan bagaimana persepsi sebagian orang tentang CMC, sembari saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati: “Jangan-jangan memang beginilah persepsi sebagian besar kalangan pemerhati / aktivis Ilmu Komunikasi di Indonesia”. Saya tidak berasumsi persepsi saya paling representatif, tapi ada beberapa hal pada tanggapan-tanggapan itu yang saya tidak sepakati. Untuk itulah saya merasa harus memberikan ulasan [...] Continue Reading…