PERSPEKTIF – T

Mencatat yang Terlihat, Terdengar, dan Terpikirkan

Menjadi Nakhoda Pada Ombak Kegalauan

# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 34

journey_inward_outwardDalam Ilmu Komunikasi dikenal istilah Komunikasi Intrapersonal (bukan Interpersonal). Saya pikir, ini adalah bidang yang kurang mendapat porsi untuk dieksplorasi dengan tetap mempertahankan apa yang khas, formal di situ. Apalagi ini berbatasan secara ketat dengan ilmu lain, yaitu Psikologi. Untuk itu bisa dikatakan Komunikasi Interpersonal adalah sebuah bidang kajian yang lokusnya ada pada grey area antara Ilmu Komunikasi dan Psikologi. Tapi bayangkan, siapa yang tidak butuh pengetahuan tentang ini ? Komunikasi apapun bentuknya, selalu didahului oleh Komunikasi Intrapersonal.

icPengertian Komunikasi Intrapersonal sendiri adalah komunikasi yang kita lakukan dengan diri sendiri. Tidak selalu berarti kita berbicara ke diri kita sendiri, tapi lebih berarti aktifitas yang pada dasarnya melibatkan ciri dialog antara kita dan diri kita sendiri, yang untuk sebagian besar barangkali lebih dilakukan di dalam hati saja. Bisa dibayangkan bentuk-bentuknya seperti berpikir, mengingat-ingat (retensi), merenung (refleksi), dan sebagainya. Baru-baru ini saya terinspirasi untuk menulis tentang apa yang mungkin cukup kritis bagi ‘keselamatan hidup’ dalam kaitan ini semua. Persisnya adalah tentang bagaimana kita terlepas dari situasi depresif yang mungkin seperti tidak terelakkan teralami. Fokusnya adalah pada rasionalitas kita mengatur orientasi kesadaran. Apakah ini masuk ke kajian Komunikasi Intrapersonal ? Hmmm, …

Saya tidak berusaha untuk menulis sesuatu yang rumit, filosofis di sini. Justru ini sangat praktis, meski tidak berarti sangat mudah juga untuk melakukannya. Tapi saya ingin mulai dulu dengan yang lain. Kemarin pada sebuah acara ilmiah di sebuah kampus, saya mendengar frase ‘daya psikologis’. Tidak dikedepankan definisinya, tapi dengan mudah saya bisa membayangkan maknanya. Apalagi ketika ada yang menyatakan bahwa itu artinya barangkali sama dengan ketahanan hidup. Tanpa membaca atau bertanya apapun tentang itu, pemahaman saya begini: ‘daya psikologis’ adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bisa mengelola kehidupan psikisnya sehingga ia mampu untuk lebih banyak menjatuhkan pilihan (dan melakukannya pilihan itu secara nyata) pada alternatif perilaku dan sikap yang konstruktif bagi perkembangan hidup yang positif. Orang yang memiliki daya psikologis rendah cenderung tidak survive, sementara jelas orang yang daya psikologis tinggi lebih memiliki daya tahan terhadap pengaruh-pengaruh buruk. Saya tidak akan bicara tentang apakah secara faktual si X atau si Y punya daya psikologis tinggi atau rendah. Tidak peduli tinggi atau rendah, saya ingin menulis tentang yang melampaui dikotomi itu, yang kalau bisa dilakukan dengan baik, saya kira akan menjadi salah satu mindware bagi keselamatan hidup. (bukan berarti saya juga selalu bisa melakukannya dengan baik).

dimensionDimulai dengan sebuah pertanyaan, apakah dalam sehari kita lebih banyak melakukan komunikasi intrapersonal atau interpersonal ? (kalau intra dengan diri sendiri, kalau inter tentu dengan orang lain – orang-orang di luar diri kita). Jawabannya jelas. Tidak mungkin setiap saat kita berbicara dengan orang lain sehingga kita bisa mengatakan bentuk itulah yang mendominasi komunikasi kita sehari-hari. Bila kita hitung, secara masuk akal tentu ada lebih banyak porsi waktu di mana kita lebih banyak seolah melakukan ‘dialog’ (atau monolog ?) dengan diri kita sendiri di dalam hati. Kalau begitu maka memang harus dikatakan Komunikasi Intrapersonal adalah precursor bagi bentuk komunikasi apapun lainnya. Bagaimana kita bisa mengolah gagasan apapun di dalam dan merumuskannya ke dalam pesan komunikasi untuk disampaikan ke luar diri kita adalah salah satu syarat bagi kesuksesan komunikasi apapun. Kalau kita biasanya melakukan itu secara insting saja, bagaimana kalau sekarang kita mulai menyadari bahwa itulah yang prosesnya terjadi dalam diri kita ? Khususnya adalah, bagaimana kalau betul-betul kita sadari sesadar-sadarnya bahwa pada suatu saat kita sedang lebih cenderung pada (atau berorientasi) ke dalam diri kita dan pada saat lain tidak seperti itu, yaitu ke luar diri kita.

Ada beberapa alasan bagus mengapa saya mengajak seperti itu. Pertama, tadi sudah saya ungkapkan, dalam satu hari dari kehidupan sadar kita, kita lebih banyak ‘berdialog’ dengan diri sendiri. Kedua, hidup sering tidak berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Bila ada masalah, diri kita jelas adalah yang pertama yang akan membahasnya, dan itu tentu mensyaratkan kita berorientasi ke dalam. Ketiga adalah soal orang-orang yang barangkali akan mengelak kalau dikatakan lebih sering membatin untuk apapun juga. Dalam kaitan ini seorang psikolog Belanda, Eysenck, membuat pembedaan kepribadian yang sudah kita sama-sama tahu itu: introvert dan ekstrovert. Saya ingin katakan, adalah bodoh jika orang yang mengaku ekstrovert tapi yang pertama-tama dia andalkan ketika menghadapi masalah adalah orang lain, bukan dirinya sendiri. Intinya, berorientasi ke dalam adalah sebuah ‘perilaku’ yang daya gravitasinya cukup besar dalam kehidupan kita.

Saya tidak tahu pasti (tapi kemungkinan besar ada) apakah Eysenck menguraikan tentang hal-hal yang akan membuat orang jadi lebih introvert atau lebih ekstrovert di luar dari apa yang diturunkan secara genetik. Lainnya, entah apakah pada Psikobiologi dikatakan, misalnya, pada orang yang sehat dan normal pun anomali bisa terjadi pada kelenjar hormon, bagian penghasil enzim tertentu, atau otak dengan komposisi kimia tertentu, yang akhirnya ikut bertanggungjawab pada tingkat sosiabilitas yang kita miliki (sosiabilitas = sejauh mana seseorang lebih memilih untuk sendiri atau bersama-sama dengan orang lain). Yang jelas, dari semua itu, inilah titik nadirnya: kesadaran kita yang aktual bisa menempatkan diri sebagai nakhoda, apakah harus lebih ke dalam atau lebih ke luar.

Mereka yang suka membaca jangan buru-buru menghubungkan kata ‘kesadaran’ di sini dengan yang lain. Seperti dengan Freud dalam konotasi kesadaran kita sudah terkooptasi dengan impuls-impuls seksual yang terrepresi. Atau dalam kaitannya dengan kebebasan dan Strukturalisme. Terlalu jauh. Yang saya maksud mungkin menyederhanakan, tapi menunjuk pada  apa yang pada saat kini dan di sini kita ketahui dengan sebaik-baiknya tentang diri sendiri, baik di dalam maupun di luarnya. Saya kembalikan poin saya di atas dengan sebuah penekanan, mari kita gunakan akal sehat kita, bahkan di saat status kesadaran kita paling buruk atau depresif, untuk lebih mengarahkannya ke luar.

zen2Saya ingat perkenalan saya pertama kali dengan apa yang disebut Zen, pada buku “Aku yang Mengelak” (lalu diterbitkan lagi (?) dengan judul ‘Filsafat yang Mengelak’). Yang membuat saya terkesan adalah adanya ungkapan kira-kira begini, “ketika kita tidur, kita barangkali sering lupa bahwa bantal ada benar-benar di bawah kepala kita, … ketika kita berjalan, seolah-olah kita menyeret-nyeret tubuh kita sendiri”. Pemahaman saya dalam konteks ini begini: ketika kita (terutama) sedang dirundung masalah, maka gravitasi ke dalam menjadi sangat besar. Kita mungkin nyaris tanpa kuasa untuk selalu terarah ke dalam diri kita: menganalisis masalahnya, mengingat yang dulu, mengantisipasi yang akan terjadi, menimbang-nimbang kemungkinan ini itu, dan sebagainya. Ketika itu terjadi, nampaknya indra kita yang sebenarnya berfungsi normal pun tidak akan bekerja dengan semestinya. Entah apakah yang sebenarnya terjadi adalah penurunan fungsi ? Mata memang bisa melihat segala yang ada di sekitar, tapi tidak benar-benar memperhatikannya. Telinga memang masih bisa mendengar, tapi bahkan kita tidak sadar jam dinding itu berbunyi tik, tik, tik.  Perabaan juga masih normal, tapi tidak bisa merasakan bagian tubuh tertentu yang sebenarnya terasa kurang nyaman. Pada Zen ini malah dibawa sampai jauh (saya harus baca lagi tentang ini !!). Katanya tubuh kita ini sebenarnya punya daya penyembuhan sendiri, sejauh ada tingkat “kebersatuan” tertentu dengan tubuh kita. (Sempat terpikir di sini, apakah misalnya ini semua menjadi gara-gara jeleknya kontrol dan produksi insulin karena kekurangpekaan pada tubuh sendiri yang membuat deteksi kita pada rasa lapar menjadi tidak akurat ?).

OK, untuk meringkaskannya, ini adalah sebuah daftar yang mungkin dilakukan dalam rangka “lebih mengarahkan orientasi kesadaran kita ke luar” : (semuanya harus ditafsirkan sendiri secara kongkrit)

  1. berada pada situasi yang memungkinkan kita mendapatkan pengalih perhatian secara visual,
  2. memperhatikan barang-barang di depan kita dan secara nyata melakukan penghubungan antara barang yang satu dan yang lain,
  3. diam sejenak dan benar-benar mendengarkan suara-suara yang biasanya mungkin diabaikan begitu saja,
  4. mendengarkan musik yang benar-benar disukai melalui earphone,
  5. menonton filem dan membuat situasinya kita tidak dapat mengelak dari efek audio visual yang ada (setting yang sempurna tentu saja di bioskop !),
  6. melakukan kegiatan fisik yang melelahkan,
  7. tidak berada sendirian total – meski tidak sendirian itu sering merupakan ‘kemewahan’ bagi sementara orang,
  8. memperhatikan bagian-bagian tubuh sendiri dan mengamati kemungkinan adanya gangguan atau yang tidak normal (pada wanita nampaknya ini lebih naluriah untuk (selalu) dilakukan daripada pada laki-laki (?)),
  9. menjadi ‘wasit’ bagi diri sendiri ketika sadar tahu-tahu kita teralihkan ke dalam lagi – begitu itu terjadi harus ada komitmen kuat untuk segera beralih melakukan alternatif 1 hingga 8.

Daftar ini hanya contoh (dan mungkin terkesan banal sekali), barangkali bisa dibuat lebih banyak lagi. Intinya, melalui pengaktifan kembali (atau lebih tepatnya, meningkatkan kepekaan) fungsi indra secara normal kita mencoba untuk lebih mengarahkan orientasi kesadaran kita ke luar.  Ini kelihatannya sederhana. Pada kenyataannya, tidak jarang ada kekuatan-kekuatan yang lebih membuat kita lebih memilih berkubang pada genangan kegalauan.

Dan genangan itu bisa membesar menjadi laut. Laut yang berombak. Situasi jadi terbalik: seolah kita bukan lagi jadi penguasa bagi perasaan dan pikiran kita sendiri. Ada yang bilang “kalau kita tidak dapat mengendalikan emosi, maka emosi lah yang akan mengendalikan kita”. Itu benar sekali, dan juga berlaku untuk istilah apapun lainnya yang ada di dalam : pikiran, perasaan, persepsi, ingatan, mimpi, obsesi, ….

Untuk satu dan lain hal, ini adalah catatan tentang diri saya sendiri. Juga untuk kesekian kalinya bukti bahwa rasionalitas dan pengetahuan tentang yang abstrak berpotensi menyelamatkan diri. Ini bukan tentang kepemilikan benda, bukan pula tentang ketrampilan mengolah atau menipulasi benda, apalagi apapun yang mungkin bisa menjadi penanda peringkat sosial kita  (saya kadang ketus pada yang positivistik, naif), tapi pada saatnya bisa benar-benar membuat perbedaan penting.

Kalau hidup adalah laut yang ombak kegalauannya bergolak, sebelum tutup dan tenggelam, kita tak sudi jadi nakhoda yang melarikan diri, sementara kapal karam.

Bagikan pada media sosial :

Menyebut Diri Tanpa Kata Ganti

# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 65

Pronouns PictureSekali-kali melakukan ini sebagai variasi isi blog. Ini adalah sesuatu yang pernah saya tuliskan sebagai serial twit pada akun Twitter saya (@ttpra). Kebetulan saya mengontak mahasiswa saya yang sedang berada di Amerika untuk mengkonfirmasi hal ini pada penutur asli (native speaker) bahasa Inggris. Karena membuka arsip lama Twitter tidak selalu mudah, maka saya putuskan untuk mem-blog-kan serial twit saya itu di sini. Selain itu, ini penting karena saya pikir di lain waktu saya masih akan perlu untuk merujuk dan membahasnya.

Topiknya adalah tentang adanya kecenderungan pada sementara mahasiswa (atau ABG) yang menyebut diri mereka dengan namanya, alih-alih menggunakan kata ganti (saya atau aku, atau yang lain). Sekilas memang remeh, tapi ini adalah bagian dari fenomena perkembangan diri yang terkait dengan proses pemerolehan bahasa (language acquisition), yang dalam pembelajaran bahasa asing perlu dicermati agar (kemungkinan) kesalahan analogi situasi tidak berimbas pada konteks ini.

Serial twit ini saya kirimkan pada tanggal 04 Oktober 2011 :

00) Hr minggu lalu di RCTI ada film Tarzan.Jd inspirasi utk serial twit ini. Di film, Tarzan menyebut dirinya dgn namanya,tdk dgn kata ganti.

01) Apakah bagus menyebut diri sendiri tanpa kata ganti, alih2 menggunakan nama sendiri ? Saya memilih untuk menjawab ‘tidak’.

02) Sbg contoh,seorg ABG bernama Risa berkata,”Pak,Risa minta dijelasin masalah itu sekali lagi”. Nama dirinya digunakan alih2 Aku atau Saya.

03) Cara ungkap sst barangkali dimaksudkan sbg gaya,atau ekspresi gaul yg trendi, barangkali memang tdk punya implikasi psikologis apapun.

04) Tp Sy bilang itu tdk bagus krn bisa jadi itu adalah clue ttg perkembangan diri … bagi “orang-orang yg berpikir” .. :)

05) Sy ingat ttg ini dulu diberikan oleh Alm. MAW Brouwer di Kompas dgn menyitir Jacques Lacan ttg Fase Cermin.Jd perkenalan sy jg dgn Lacan.

06) IMHO,intinya menyebut diri dgn nama sendiri (tdk dgn kt ganti subyek) adlh refleksi dr tdk tuntasnya fase perkembangan ttt ketika balita.

07) Scr singkat Lacan membagi fase perkembangan balita a) real b) imajiner c) simbolik. Peralihan dr imajiner ke simbolik adlh fase cermin.

08) Fase real: ktk bayi msh mempersepsi diri & yg ada di luarnya sbg kesatuan. Bayi TDK mengenal dirinya sbg subjek yg beda dgn yg lain.

09) Fase imajiner: perkembangan indra & pengalaman membuat bayi “sadar” bahwa dirinya lain dgn yang lain, dengan orang lain, ….

10) Pd fase imajiner terjd fase cemin ktk bayi lihat dirinya dlm cemin & melihat ke arah lain. Saat itu trjd individuasi,penegasan kedirian.

11) Fase simbolik: diferensiasi diri dgn yg lain melahirkan bahasa, mulai dgn lahirnya “aku” yg beda dgn org lain yg tdk bs dikendalikan.

12) Semua fase tdk berjalan scr linier tp scr tumpang tindih,tdk berbatas jelas.Lalu dimana relasinya dgn penyebutan diri tanpa kt ganti td?

13) IMHO:diferensiasi diri dgn lingkungan bs tdk tuntas shg sisakan persepsi subtil: org lain+dunialuar msh dlm kesatuan & bs dikendalikan.

14) Ktk sebut namanya untuk menunjuk dirinya dikiranya itu representasi 100% dr keberadaan. Pdhl diri-yg-nyata = abstraksi, bahkan alienasi.

15) Menyebut dr tanpa kt ganti bs jd kebiasaan & dianggap normal.Skl lg bs jd bukan indikasi apapun, tp scr linguistik tdk elok. @ivanlanin

16) Tarzan digambarkan menyebut dirinya dgn namanya krn mungkin ingin mengesankan bhw perkembangannya ktk kecil tidak sempurna … :)

17) Anak2 hrs mulai diarahkan utk tidak menyebut dirinya dgn namanya. Sekian serial twit ini.

Saya tahu ini tidak akan langsung mudah dimengerti, tapi ini cukup bagi saya untuk sebuah diskusi di Facebook. Atau barangkali anda dapat memberi komentar pada tulisan ini untuk diskusi di sini.

Bagikan pada media sosial :

Pentingnya Berkas Berekstensi PDF

# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 162

PDFBaru-baru ini di kampus saya harus membuka beberapa dari ratusan CD yang isinya berkas tugas akhir mahasiswa. Kebetulan ada kebijakan agar semua mahasiswa yang telah selesai membuat skripsi diwajibkan menyerahkan satu CD yang isinya berkas digital dari skripsi mereka. Agak tertegun juga ketika saya melihat hampir semuanya memasukkan berkas dengan ekstensi DOC / DOCX pada CD. Bukankah jenis ekstensi itu masih bisa diedit ?

Lalu kalau kita search pada Google dengan menggunakan perintah ext:doc dan kita tambahkan beberapa kata kunci, maka kita akan dapatkan berkas-berkas dengan ekstensi itu bertebaran di Internet. Bagi saya, agak kurang cerdas kalau kita mengunggah sebuah berkas yang masih dapat diedit ke Internet dan membiarkan siapa saja mengunduhnya. Pasalnya jelas. Orang dapat mengubah halaman depannya, mengganti namanya, lalu berkas itu diakui sebagai hasil karyanya, entah itu dilakukan pada medium online atau pada konteks non-online. Ya tentu saja ada perkecualiannya, yaitu bila dokumen itu memang diniatkan untuk dibagikan isinya atau dokumen itu merupakan sebuah formulir yang harus diisi, misalnya. Oleh karena itu, mengunggah atau berbagi sebuah berkas harus dilakukan dengan kehati-hatian. Salah satunya adalah dengan mengkonversi dokumen tersebut dalam bentuk untuk-dibaca-saja (read-only). Pilihan populer untuk itu adalah berkas dengan ekstensi PDF (Portable Document Format)

Tidak perlu dijelaskan lagi apa itu PDF. Lebih jauh tentang jenis berkas ini dapat dibaca di Wikipedia. Yang mungkin akan menjadi masalah adalah pada kemungkinan penggunaannya dan pengelolaannya. Yang akan kita hadapi tidak sekedar mengkonversi berkas-berkas ke bentuk ekstensi itu. Dari pengalaman, saya mendapati adanya perangkat-perangkat lunak (dan aplikasi web) yang fungsinya ada di seputar PDF, tapi bukan urusan konversi saja, dan penting sekali diketahui. Untuk lebih lengkapnya, akan saya sebutkan dan jelaskan dari yang paling umum berikut ini :

1. PDF Converter

Sejak Microsoft Office 2007 membuat berkas PDF jadi urusan mudah, karena yang kita lakukan cukup save as, tapi masih cukup banyak yang menggunakan Microsoft Office 2003. Untuk itu dibutuhkan konverter tersendiri. Ada banyak freeware untuk ini. Misalnya yang bisa diunduh di Filehippo adalah PrimoPDF, CutePDF Writer, dan PDF Creator. Kalau tidak mau repot dengan instalasi, bisa digunakan konverter online, seperti di freepdfconvert.com atau docupub.com/pdfconvert. Yang online itu mungkin kelihatannya praktis, tapi kita tidak tahu, berkas kita barangkali ikut dikopi oleh si empunya situs.

2. PDF Reader

Bahkan Windows sendiri sampai versi terakhirnya (Windows 7) tidak menyediakan PDF Reader secara default, meski kita sudah menginstal Office sekalipun. Artinya, kita harus memasangnya sendiri. Kalau ingin lengkap dan bisa menangani konten PDF apapun, ya tentu saja Adobe Reader, yang pada versinya yang terakhir diklaim bisa membuka dan memutar filem yang di-embedd pada berkas PDF (saya belum coba itu). Tapi Adobe Reader ukurannya cukup besar (lebih dari 50 mega). Saya lebih suka yang simpel saja, seperti Foxit Reader. Kalau mau agak gaya, bisa gunakan Corel PDF Fusion (ini program berbayar), yang menyajikan fitur “Flick View”, di mana kita bisa menampilkan halaman-halaman berkas PDF seperti sebuah filem (flick). Kalau mau sangat sederhana, bisa gunakan Sumatra PDF Portable (hanya 2 megaan saja).

3. Image to PDF (dan sebaliknya)

Siapa bilang yang bisa di PDF-kan hanya berkas Office ? berkas berupa gambar / image pun bisa. Tapi apakah kita akan membutuhkan ini ? Saya membutuhkannya bila ada bagian dari halaman-halaman sebuah laporan, misalnya, yang mau tidak mau harus berbentuk gambar dan karena alasan tertentu tidak ingin di-insert pada Word. Lainnya lagi, ada sekumpulan berkas / dokumen yang aslinya memang dalam bentuk image / JPG, lalu untuk alasan keringkasan kita ingin menyatukannya dalam sebuah berkas saja (seperti kalau kita mencoba mengunduh buku dari Google Books :). Pilihan saya untuk keperluan ini adalah “JPG to PDF Converter”. Tapi lalu bahkan ada juga perangkat lunak yang melakukan sebaliknya, yaitu mengkonversi berkas PDF ke dalam halaman-halaman terpisah dalam bentuk image. Untuk keperluan ini bisa digunakan “Office Convert PDF to JPG JPEG TIFF Free”.

4. PDF Merge and Split

Maksudnya adalah menggabungkan (merge) beberapa berkas PDF, dan / atau memisahkannya (split). Kapan kita perlu melakukan merge ? Misalnya ada dokumen yang bentuk aslinya memang terpisah-pisah, bahkan di antaranya ada berkas JPG (yang harus kita konversi dulu ke PDF) lalu semuanya ingin kita satukan. Kapan kita mesti melakukan split ? Misalnya ketika kita menemukan bagian menarik pada sebuah ebook yang ukurannya besar. Kita potong saja bagian yang akan kita baca, lalu kita masukkan ke smartphone / tablet dan bisa kita baca-baca sambil diperjalanan dan si smartphone tidak harus kewalahan membuka berkas PDF yang sedemikian gemuk. Pilihan saya untuk keperluan ini sama seperti nama nomor 4 ini, yaitu PDF Merge and Split dari Simpo.

5. PDF Watermarking

Barangkali akan ada yang bilang ini untuk keperluan orang yang paranoid. Karena seperti pada foto saja, kok mesti ada watermark di PDF ? (Watermark artinya memberi tanda, memberi cap, bisa berbentuk tulisan atau logo). Kita sebagai yang empunya dokumen berhak melakukan apapun pada dokumen ciptaan kita. Saya pernah menggunakan ini pada PDF yang isinya (kebetulan) sekumpulan foto yang disatukan, tapi jelas tidak menutup kemungkinan ini digunakan untuk PDF yang aslinya dari berkas Office. Yang pernah saya gunakan (baru sekali) adalah A-PDF Watermark.

6. PDF Metadata Editor

Ini juga untuk orang paranoid :) Metadata kurang lebih artinya data yang tersembunyi pada sebuah berkas PDF, yang misalnya menjelaskan kapan PDF dibuat, perangkat lunak yang digunakan, siapa yang membuat, kata kunci tentang konten di dalam berkas PDF, dan sebagainya. Ini sebenarnya perlu karena identitas dari sebuah berkas perlu lengkap dan detil, tidak hanya dari yang dinyatakan pada konten PDF-nya itu sendiri. Pilihan saya adalah Becy PDF Metaedit. Baru beberapa hari lalu saya menggunakannya.

7. PDF Optimizer

Mengapa berkas PDF perlu dioptimalkan ? Masalah utamanya adalah pada ukuran berkas yang kerap membuat PDF reader menjadi lamban (sluggish)bahkan membuatnya hang. Besarnya sebuah berkas PDF kadang karena resolusi gambar di dalamnya sangat tinggi atau ada halaman-halaman kosong yang sebenarnya bisa dibuang. Akan tetapi, semua itu saya kira lebih pada masalah resolusi gambar di dalamnya, karena kalau hanya teks tentu bisa diusahakan berukuran kecil. Saya belum pernah menggunakan ini, tapi yang layak dicoba adalah A-PDF Scan Optimizer.

8. PDF to Word

Nah, barangkali ini langsung terkesan bertolak belakang dari tujuan mem-pdf-kan berkas-berkas Office. Sebuah berkas yang sudah diusahakan untuk dibuat read-only kok ini malah dibuat kembali jadi editable ? Masalahnya, jujur saja bukankah kita kadang membutuhkannya ? Memang bisa digunakan untuk kepentingan yang sifatnya pembajakan konten, tapi bayangkan kalau begini. Sebuah formulir di Internet disediakan dalam bentuk PDF, lalu mesti disampaikan lagi dalam bentuk PDF. Apakah kita mesti mencetak berkas PDF itu, mengisinya dengan mesin tik manual, men-scan hasilnya, lalu dibuat menjadi PDF ? Betapa repotnya! Dengan menggunakan “Free PDF To Word Doc Converter” misalnya, kita bisa membalikkan sebuah PDF menjadi Word. Tapi dari pengalaman, saya bisa bilang bahwa bila sebuah berkas PDF isinya kompleks, maka hasilnya hanya akan berupa teks saja. Lay out dan detil lainnya tidak ikut terkonversi dengan sempurna, bahkan hilang. Ya sekurangnya ini menjadi semacam peringatan bagi kita semua, bahwa meskipun berkas PDF itu dirancang hanya read-only, tapi ia masih punya potensi untuk dikembalikan ke bentuk yang editable. Oleh karena itu, sekurangnya, PDF Watermarking yang saya uraikan di atas jadi terasa penting juga. Demikian pula dengan PDF Metadata Editor.

9. PDF Password Remover

Nah yang ini apalagi! Ini jelas-jelas malah akan menghilangkan proteksi dari sebuah berkas PDF. Tapi jangan salah, perangkat lunak ini sifatnya hanya menghilangkan password, dan untuk bisa melakukan itu kita harus tahu password-nya apa. Kalau kita tidak tahu password-nya, tetap saja sebuah berkas PDF ber-password tetap tidak akan bisa dibuka. Untung saja sejauh ini saya belum pernah mengalami harus membuka berkas penting yang kebetulan ber-password, tapi saya menyimpannya untuk jaga-jaga. Yang saya maksud adalah “Wondershare PDF Password Remover”. Yang saya alami, ada beberapa orang yang sekedar membuat berkas PDF nya tidak bisa dicetak. Kalau hanya ini proteksinya, si Wondershare itu masih bisa menanganinya dengan baik.

10. PDF Batch Converter

Seharusnya ini saya taruh pada nomor 2, tapi ingatnya baru sekarang. Ya sudah :) Perangkat ini sungguh penting untuk memudahkan pekerjaan kita. Biasanya kalau kita mengkonversi PDF, yang kita lakukan hanya pada satu berkas Office saja. Nah, sekarang bagaimana kalau kita harus mengkonversi banyak berkas sekaligus ? Akan melelahkan sekali kalau harus klik satu-satu. PDF Batch Converter bisa menangani itu. Yang saya tahu bisa menjalankan fungsi ini adalah “Corel PDF Fusion” dan “Batchwork DOC to PDF Converter”.

Kira-kira itulah 10 perangkat lunak yang penting kita ketahui dan gunakan untuk melindungi hasil karya kita. Barangkali masih ada yang lain, tapi sekurangnya saya sudah membuat daftar tentang kemungkinan apa saja yang ada yang dapat kita lakukan dalam kaitannya dengan berkas dengan format PDF. Intinya, mulai sekarang jangan lagi kita langsung mengunggah berkas / dokumen yang masih dalam keadaan editable. Bukan paranoid, tapi untuk keamanan kita sendiri juga nantinya.

Bagikan pada media sosial :

Turning The English On!

# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 74

Been wanting to do this, but I was never so inspired to make it happened as when I went to OnOff-ID event that I wrote previously. Nobody told me anything or urge me to do this, but I was like, blogging is getting common today and everybody can claim that they are bloggers, what would make me different with what I do ? Another one is about reaching a wider potential audience. I mean, this is Internet; why you keep doing it and assuming your reader could not be farther than Indonesia ? One last reason, and for me this is quite important: putting it all in English is going to let me speak and think in English often. Once you think you could do anything in English you can not assume that it’s going to be the same like once you learn how to ride a bike. Your fluency could degrade before you know it!

There could be other reasons, but I do speak and write in English. So why not doing it ? I really should’ve done this.

However, this blog – tomita.web.id – has been up for quite sometime now. It’s audience is Indonesian, except all those spammers of course :) I will have to keep it the way like it is now. As with the English stuffs, I will put it in another dedicated domain and put the backup somewhere with free blogging service.

New blog content is an indicator of how well you manage your procrastination for popping ideas. I mean, all of this is not going to assume that I am gonna blow it right away. That delaying-mind would still forever be endemic, but I do still have a life offline. I do hope I could write in English as often as I with my bahasa Indonesia.

Bagikan pada media sosial :

Indonesian Onliners Meetup Event Called ON|OFF

# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 501

onoffI put this up while imagining my own regret: why didn’t I come to this event right from its beginning ? It used to be called “Pesta Blogger” and carried out every year since 2007. It was due to my domestic and official reasons that I missed all of the hilarities in the past, and now here in 2011 I manage to come and it’s in the same place as the last time; Epicentrum Walk in Jakarta. However, I realize I must have lost traces for the significance of something that has been in my mind for quite long. The Internet, dynamics of social media use, real effects to social life, growing acceleration of everything concerned … Have they been important variables to people yet ?

onoffstageSome might find it strange that I still ask the question. But think if you are not Jakartans, think if you live in a place far off big cities or the nearest BTS. Also think of the fact that there are decision and policy makers who are not regular Internet users, even don’t have email or facebook account. I am pointing out exactly to that very segment of people with no allusion to this technology in their day-to-day repertoire. Most of the time, anything with social implications from them could be just indifferent, but as we know, it’s a matter of time before that permutation of social probability would place one side with other sides, along with possibilities of different ways of looking at things, of taking certain priorities, of regarding something as important, et cetera. I know this could sound as much as a simplification, but my point is this self-questioning: “Have we been estranging ourselves from them that we just turned into a new technology-minded social class ?”

I don’t think of this as an opposition as a classic Marxian would view it. Rather, it’s the need for common orientation of what netters should behave in the medium, especially when it is thought to be in terms of social transformation. In On|Off 2011, such is nicely put forward by Dr. Anies Baswedan in the opening speech of this event. While referring to the gloomy view of the country depicted by media, he said, “Bloggers have opportunities to challenge the wave of pesimism with the new wave of optimism … this is our media, this is in our control, let’s spread the word of optimism”. Assumed there that what happens in Internet would somehow have consequences to the real world, as later on he pointed out (my translation), “Indeed, we still have to develop education, but we have this new world called online, virtual world .. We should not repeat the mistake of the past as we enter the new era without new spirit and ideology … and that is to construct Indonesia with positiveness in perspective.” That reminded me of the contention introduced in Negroponte’s Being Digital, as to whether the world is supposed to be in Internet as such, or it should be rooted to social world.

If it is to avoid polarity of class, as I have mentioned, and promoting Internet positive use, while at the same time causing persuading effects to those non-internet users that this breakthough of communication really matters, it is clear that the latter has to be the way to go. Regardless of the fact, the there are significant numbers of frenzies in Internet that remain in the virtual domain. This was also undelined by that slightly familiar tv figure, named Panji, when he was out with the so-called standup comedy, but in turn I felt like he was in connection with the same thread with Anies’ as he put out what he called ‘integrity’. We don’t have integrity if what we write in Internet is not what we would actually do in the real world.

The way I think about this event is that it is important to gather people to uphold the commitment, be it optimism / positiveness or integrity. It’s the meetup of onliners within communities and showcases that Internet has made differences. Sure, being in virtual world is still cool, but bringing about real implications to the real world is better. I think I should have seen more of those as someone told me that participants and visitors were much fewer compared with ones in last years. There were some similar events involving just about the same people in previous months this year (I am surprised to find that I don’t know what they are).

I had certain expectations, but upon hearing the degression, I knew I should not wish to be surprised with what I would find. Among the line of stands in the exhibition are exposition of Internet communities, efforts to gain participants using Internet as an enrollment point, retail business through Internet, Internet-based non-governmental services, .. Definitely, my expectations were way too high on this (hoping to find something out of my imagination :) However, what I found quite interesting were what they called ‘breakout class’.  Too bad, the arrangment had made me impossible to attend them all, as they were provided at the same time in parallel classes (not to mention that I had to go back home at 16.00).

In short, if you are Indonesian Internet users and plunging into the crowd within is not just for some personal fun or venting-out intention, it is imperative for you to come :) I would love to come again next year.

Bagikan pada media sosial :