# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4512

Ini adalah catatan yang tertinggal selama bulan puasa kemarin. Sekurangnya ada dua keberuntungan besar yang saya peroleh secara tidak sengaja selama bulan itu. Satu akan saya ceritakan di sini, satu lagi pada entri lainnya. Yang pertama ini adalah tentang seseorang yang meski belum kenal secara pribadi, tapi mengirimkan uang ke saya dalam jumlah yang cukup besar. Saya menuliskan ini di sini sekaligus sebagai dokumentasi dan dedikasi pernyataan terima kasih.
money Semua berawal dari koneksi VPN yang diberikan oleh Dikti ke tempat saya bekerja. Koneksi itu membuat sebuah jaringan tertutup antar perguruan tinggi, yang diberi nama Inherent. Dikti memberikan kepercayaan pada PT. Lintasarta untuk keperluan instalasi antena, modem, dan pengesetan pada komputer / router. Sebelumnya memang ada surat yang menyatakan bahwa untuk ini semua tidak akan dipungut biaya. Cukup hanya dengan menyediakan sebuah router saja. Kebetulan sekali belum lama dari datangnya surat itu, saya diajari oleh seorang teman untuk membuat sendiri router dari PC yang spek-nya tidak terlalu tinggi menggunakan sebuah distro Linux bernama Smoothwall. Router bikinan sendiri ini sudah saya tes dan bisa dioperasikan dengan baik.
Akan tetapi menjelang selesainya instalasi antena oleh PT. Lintasarta, saya dapat informasi bahwa router yang digunakan harus mendukung sebuah fitur yang namanya OSPF (Open Shortest Path First). Selidik punya selidik, ternyata Smoothwall tidak mendukung fitur itu. Maka kelimpunganlah Saya. Saya telpon ke beberapa perguruan tinggi lain yang sudah konek ke Inherent dan tanya mereka pake router apa. Empat dari lima yang saya kontak semua menjawab bahwa mereka menggunakan router Cisco. Saya lalu tanya berapa harga router Cisco mereka itu. Wah, rata-rata harganya 20 juta ke atas. Amat sangat tidak mungkin Saya mengajukan keperluan dana ke pimpinan untuk membeli barang semahal itu.
Akhirnya saya mengeluh ke sebuah milis, yang kebetulan saya sendiri adalah adminnya. Saya bilang, kalau begini caranya berarti bantuan dari Dikti akan tidak dapat digunakan sama sekali. Sekalian saya menambahkan, barangkali ada yang punya router yang tidak dipakai dan bisa dipinjamkan. Tak lama setelah Saya mengirimkan email itu, ada sebuah email japri yang mengatakan bahwa tidak akan ada orang yang akan meminjamkan router seperti itu. Lalu juga bertanya berapa biaya yang dibutuhkan untuk sebuah router. Saya agak terhenyak dengan pertanyaan itu. Dalam hati Saya bilang, apa urusannya dia tanya soal biaya yang dibutuhkan untuk membeli router; emangnya dia mau kasih uang ? Email-email japri berikutnya dari orang ini terus membahas masalah router ini, sekalian juga memberikan beberapa link tentang OSPF.
CISCO1841 Saya search terus, juga tanya ke beberapa orang. Ada yang menyarankan router buatan Mikrotik. Router ini tidak begitu mahal, dan ketika Saya tanya ke pengelola situs pembuatnya (di Jogya) ternyata router ini juga support OSPF, meskipun kok dalam deskripsinya tidak dinyatakan dengan cukup eksplisit. Saya tanya ke orang Lintasarta tentang Mikrotik, ternyata mereka belum pernah menggunakan, dan tidak tahu. Mereka biasa menggunakan barang dari merek Cisco. Hal ini Saya sampaikan pada orang asing yang japri tadi, dia bilang sudah saja pake Cisco, daripada tidak pasti nantinya jalan atau tidak. Saya heran kok dia bilang begitu. Sekali lagi Saya membatin, emangnya dia mau kasih uang ? Saya lalu search di beberapa toko online. Saya dapati bahwa ada beberapa router Cisco di Bhinneka. Saya pilih yang paling murah, lalu saya telpon Cisco Indonesia dengan satu pertanyaan: Apakah router itu (yang saya pilih adalah tipe 1841) support OSPF atau tidak. Ternyata jawabannya ‘ya’. Saya cross check ini ke orang Lintasarta, dan mereka juga memberi afirmasi. Tapi sekali lagi, apakah orang ini mau memberi saya uang untuk membeli router ? Kalau dari beberapa perguruan tinggi yang saya saya kontak sebelumnya menggunakan yang harganya di atas 20 jutaan, tipe yang saya pilih ini adalah yang termurah. Harganya 10 juta lebih sedikit. Apakah dia mau mengirimi saya uang untuk ini ?
Ternyata betul dia mau mengirimi Saya uang. Saya tidak percaya ini, tapi dia meminta nomor rekening supaya bisa transfer. Di sini langsung terbayang cerita orang-orang tentang penipuan yang salah satu awalnya adalah dengan memberikan nomor rekening, lalu entah gimana caranya uang yang ada di rekening itu bisa dikuras oleh si penjahat. Dia meminta nomor BCA, tapi saya tidak punya itu. Sempat terpikir untuk sengaja bikin rekening baru di BCA yang isinya sedikit saja, tapi waktu itu Saya agak malas melakukannya. Saya coba tawarkan dulu rekening Saya di Mandiri, yang memang isinya tidak terlalu banyak. Saya pikir, kalau orang ini jahat toh uang yang dia ambil tidak akan seberapa. Dia ternyata ok saja dengan rekening Mandiri.
Selesai saya mengirimkan nomor rekening itu, saya masih diliputi keraguan bahkan kekhawatiran. Ragu apakah orang ini sungguh-sungguh, khawatir juga kalau benar dia bisa menguras uang saya (meskipun hanya sedikit tapi berarti buat saya). Keraguan itu pupus sudah ketika di tengah-tengah mengajar saya iseng mengecek SMS. Ternyata SMS itu adalah notifikasi dari Bank Mandiri yang bilang bahwa ada transfer sebesar 10 jutaan lebih. GIla ! Hari gini kok ada orang yang bisa-bisanya mengirim uang sebanyak itu ke saya ? Apalagi saya sama sekali tidak mengenal secara langsung orang ini. Siangnya saya cek ke ATM, dan memang benar saldo saya menggelembung sebanyak 10 jutaan lebih!
Setelah mengucapkan terima kasih, saya langsung proses pembelian ke Bhinneka. Prosesnya berjalan sangat cepat dan keesokan sorenya router Cisco 1841 sudah ada di ruangan kerja saya. Siapa orang ini sebenarnya ? Mengapa dia bisa begitu saja memberi uang kepada orang yang tidak dikenal ?
email Selama proses semua itu tadi, sebenarnya saya tidak diam saja untuk mencari tahu siapa orang ini. Pertama, alamat email yang digunakan ternyata tidak terdaftar di milis. Kedua, tentu saja kita bisa tahu sedikit dari nomor IP email-nya. Saya trace itu, dan yang saya dapatkan adalah kota asal pengiriman dan ISP yang digunakan. Bisa saja lalu saya coba untuk cari beberapa IP email member aktif milis lalu dibandingkan, tapi itu akan memakan waktu. Saya tidak lakukan itu sampai akhirnya “naluri forensik” saya mendapatkan inspirasi. Tetap saja saya tidak tahu persis siapa sebenarnya orang ini, tapi saya jadi lebih tahu si pemberi hibah itu (ini tidak akan saya teruskan lagi di sini).
Melalui tulisan ini, saya ingin untuk kesekian kalinya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga untuk bantuannya itu. Uang itu memang dikirimkan ke saya, tapi sebenarnya penggunaannya adalah untuk tempat saya bekerja. Saya sudah lapor ke pimpinan saya soal ini. Oleh karena itu pimpinan saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Hingga tulisan ini dibuat, VPN Inherent itu belum saya coba. Ketika di-instal oleh orang Lintasarta, ada hambatan, katanya belum ada data stream yang diarahkan dari Indosat ke Lintasarta. Pas ketika ada pemberitahuan bahwa dari Indosat sudah up, waktunya sudah mendekati libur lebaran, dan kemarin ada kesibukan rutin yang tidak bisa ditinggalkan. Nanti kalau kegiatan kantor sudah berjalan normal, koneksi ini akan saya coba. Sekalian ingin tahu apa itu VPN Inherent. Pada saatnya nanti saya akan tuliskan ceritanya di sini.
Semoga ‘Sinar Kesucian’ bulan Ramadhan memberikan berkah yang tiada habisnya bagi orang yang telah berbuat amal kebaikan kepada sesama. Amin.

Bagikan pada media sosial :