# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2912

Belum lama ini saya membeli sebuah DVD yang isinya konser gitar. Nah, Kalau nyebut gitar saja apa yang terbayang ? Akustik atau elektrik ? Tapi kalau saya nyebut konser, mungkin lebih besar konotasinya ke gitar klasik, yang tentu saja akustik. Semoga keduanya tidak jadi dikotomi, meski memang ada kecenderungan besar di Indonesia demikian. Jadi mereka yang menempati wilayah abu-abu itu siapa coba ? He, he …. Misalnya apa ada pemain gitar akustik nilon yang berniat menggunakan efek ? Ya bukan sekedar reverb atau chorus, tentunya.
Suatu hari ada empat orang gitaris yang sama-sama punya nama Martin. Dengan satu cara atau lainnya, mereka ketemu atau dipertemukan. Maka jadilah kelompok The Four Martins ini. Singkat cerita ya begitu. Ke empat gitaris itu adalah : Juan Martin, Martin Simpson, Martin Carthy, dan Martin Taylor.
Apa yang unik dari kelompok ini ? Jumlahnya empat orang, mengingatkan pada kelompok LAGQ (Los Angeles Guitar Quartet), tapi menurut saya kok gaya The Four Martins ini sangat heterogen.
Juan Martin, …. dari Juan-nya saja sudah kebayang dia pemain Flamenco. Terpilih jadi salah satu dari tiga pemain flamenco top dunia menurut majalah Guitar Player, dan nggak perlu lebih panjang lebar saya tuliskan sudah bisa terbayangkan reputasinya. Martin Simpson, orang yang mendirikan Festival Gitar Dunia Kirkmichael di Skotlandia. Gaya permainannya, konon inovatif, …. lebih terkenal di Jepang karena dia bikin beberapa musik untuk TV. Martin Carthy, terkenal di Inggris karena dia banyak memainkan musik tradisional Inggris. Di telinga saya dia bergaya Folk sekali. Lalu Martin Taylor, hanya ini yang saya kenal karena saya punya album solonya “Kiss and Tell”. Gayanya Jazz. Gitarnya pun paling lain sendiri. Pengkait senarnya mirip di biola itu (ini apa namanya ya ?).
Gimana musiknya ? Saya langsung nonton sebelum baca biografinya. Ya kalo dari expertise individu ya sudah nggak diragukan lagi. Juan Martin si pemain Flamenco tidak menonjolkan kecepatan bermain gila-gilaan (seperti album trio Night in San Francisconya Al di Meola, Paco de Lucia, dan McLaughlin), justru lambat dan melodik. Di DVD ini dia main solo Rumba Nostalgica, La Feria, Evocacion – De Damascus a Cordoba. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak itu adalah nomor-nomor Flamenco.
Martin Simpson ? Dia menawan sekali ketika solo di Jasper Songbird / Spoonful. Satu yang saya catat, dia main pake steel string dan …. aduh saya lupa untuk main slide itu. Yang biasanya dimasukkan ke jari kelingking itu. Dia strum, tapi justru dibalik alat untuk slide itu, bukan di depan soundhole. Dengan reverb yang cukup besar, bunyinya kayak synthesizer. Soal Martin Carthy, wah gitaris yang gaek ini Folkist sekali. Dia bukan hanya main gitar, tapi juga nyanyi. Salah satu judul yang dibawakannya adalah Heather Down The Moor. Kata Moor di situ bikin saya membayangkan suku bangsa Moor (??). Lagunya monoton sekali, jangan-jangan malah hanya ada satu chord dengan variasi ini itu. Sedangkan Martin Taylor, wah dia jazzer. Dia membawakan solo karyanya sendiri Kwame / Kiko. Bunyinya rumit dan konseptual sekali; dari bunyi sederhana, ditambah ornamen lain, sementara bunyi awal masih tetap kedengaran. Terus begitu sampai burst into the main melody.
Begitu gambaran permainan solo mereka. Tapi kenapa disebut Four ? Apakah mereka hanya main solo ? Tidak. Mereka bermain ansambel juga. Tapi justru di sinilah point kritik saya, pribadi. Entah mereka belum lama terbentuk atau gimana. Yang jelas sebagai empat orang dengan gaya permainan yang berbeda mereka belum berevolusi jauh utk menghasilkan musik yang mencirikan integrasi mereka berempat. Sebuah fusi, gitulah. Yang ada, menurut saya adalah, empat orang gitaris beda gaya yang bisa main bareng dengan kompak. Ada beberapa nomor yang dibawakan berempat yang nuansanya Flamenco, maka semuanya pun ber-flamenco. Ketika mereka bermain lagu yang ada idiom rock n’roll-nya, yaitu misalnya (Barrack Street Stroll), saya nggak jelas apa kontribusi si Juan Martin yang pemain Flamenco itu. Demikian juga Martin Carthy, yang kalau tidak solo dan nyanyi, di nomor-nomor lain kelihatannya hanya strum-strum aja. Mungkin bisa diharapkan suatu ketika mereka berempat lebih melebur lagi.
R
ekaman konser gitar, apalagi DVD, cukup jarang di Indonesia. Selain DVD ini yang saya temui hanya konser G3, Steve Vai, Joe Satriani, atau pemain elektrik lain. Begitu saya lihat, saya langsung beli tanpa mikir. DVD ini import dari Singapur.
(review ini sebelumnya saya kirim ke milis Indonesian Guitarist Network)

Bagikan pada media sosial :