Singkat saja, saya sendiri tidak punya masalah dengan itu. Saya sudah menyatakan bahwa lagu-lagu yang saya buat diproduksi dengan bantuan AI; vokal dan musik pengiringnya. Lalu kenapa mesti mempertanyakan ini lagi ? Ya di antara adanya sementara orang yang mungkin tidak simpati dengan musik AI, ada yang berpikir sangat analog, seperti yang saya temukan di Thread. Beliau ini bilang :
“Realita pahit. Kamu upload lagu ke DSP. Lagu meledak. Lalu ada yang bilang: “Kami undang kamu tampil live”. Pertanyaannya sederhana. Kamu bisa nyanyi seperti versi Suno ?”
Realita ? Realita siapa ? Bukankah itu imajinasi ? Ada beberapa pertanyaan :
1. Apakah lagu yang meledak (populer) akan membuat orang mengundang kreatornya untuk tampil live ?
2. Apakah sebuah musik selalu harus diasumsikan bisa ditampilkan secara live ?
3. Kalau lagu yang dibuat di Suno meledak, apakah akan ada orang yang mengundang kreatornya untuk tampil live ?
4. Apakah menjadi sebuah tuntutan eksistensial bahwa pembuat musik harus bisa menampilkan musiknya secara live ?
5. Apakah kalau publik mengetahui bahwa sebuah musik / lagu dibuat dengan AI tetap akan menuntut pembuatnya untuk bisa menampilkannya secara live ?
Sekurangnya lima pertanyaan itu. Menurut saya semuanya itu dalam konteks sekarang bermuara ke apakah seorang kreator musik AI mesti mempermaklumkan ke dunia bahwa musiknya itu dibuat oleh AI. Apakah dengan semakin menyebarnya tren tentang AI, termasuk musik AI, publik tidak bisa dibuat mengerti bahwa kreatornya tidak memainkan semua alat musiknya sendiri, termasuk menyanyikan lagunya ? Kalau sudah tahu itu, kenapa mesti ada tuntutan untuk bisa menampilkannya secara live ? Oleh karena itu buat saya deklarasi bahwa hasil karya musik menggunakan AI itu penting.
Tapi tidak semua seperti Saya. Ada yang menyembunyikan itu untuk keuntungan tertentu. Bahkan supaya semua tidak tertuju langsung ke kreatornya, maka dibuatlah persona, supaya nanti kalo ada apa-apa “Kan yang buat dan tampil adalah si persona itu”. Contoh kongkrit yang mendunia adalah seperti yang ditampilkan Rick Beato di vlog-nya tentang grup musik yang bernama The Velvet Sundown. Semuanya AI, dari musik hingga wajah-wajah pemain musiknya. Entah, sampai sekarang apakah kreator aslinya menampakkan diri ? Dan yang penting, apakah ada tuntutan dari pihak tertentu agar bisa tampil secara live ?
Sangat sulit untuk membuat segregasi / garis pemisah dalam lautan tawaran musik / lagu bagi para pendengar, terkait musik yang konvensional yang bisa dibawakan secara live dan musik yang dibuat oleh AI. Hasil akhirnya sama-sama ‘sesuatu’ yang terdengar oleh telinga kita. Kalau selama ini yang konvensional itu sudah hidup dan memiliki dunianya sendiri, lantas apakah musik AI menjadi tidak sah ? Karena kenyataan bahwa musik yang diproduksi oleh AI, kalau itu mau dikatakan bagus dan bermutu, tetap perlu kerja manusia di baliknya, dan kerja manusia yang punya kapabilitas tertentu. Di sini juga ada batas semu, karena antara musik yang bagus-bermutu dan yang tidak itu relatif. Jadi, bagaimana menyikapi ini ?
Singkat saja dari Saya, kalau musik itu diproduksi dengan bantuan AI :
1. Kreatornya sebaiknya mengakui dan mendeklarasi (kalau perlu) bahwa produksi musiknya dibantu AI.
2. Pendengar adalah hakim yang memutuskan apakah sebuah karya itu bagus-bermutu atau tidak (entah itu karya musik
dari proses yang konvensional atau dengan bantuan AI).
3. Pendengar bersikap proporsional manakala tahu bahwa sebuah musik itu diproduksi menggunakan AI.
4. Kreator AI menempatkan diri sebaik-baiknya dengan mengakui bahwa dia berbeda dengan para musisi yang menguasai alat musik atau penyanyi dengan kemampuan vokalnya.
Itu pandangan saya yang subyektif. Apakah ini bisa jadi dasar bagi konsensus sikap bersama ? Saya tahu gak akan pernah ada yang namanya konsensus itu. Semua berjalan saja seperti apa adanya, termasuk yang mengambil keuntungan dari tidak- mendeklarasikan-bahwa-musik-dan-yang-membawakan-musik-itu adalah buatan AI.
Buat saya, musik AI adalah sah. Itu tetap saja musik. Hanya perlu disikapi (dan diapresiasi) secara proporsional. Sebagai sebuah produk seni, itu bisa bermutu dan bisa pula sampah.
PS: tulisan ini saya import dari halaman Wacana dari situs web untuk Album Saya “Kagitaran?” di s.id/kagitaran