# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2796

Saya datang terlalu dini ke acara ini. Seharusnya dimulai pukul 13.00, tapi 11.30 saya sudah di Gowongan Inn. Baru ada beberapa orang dan registrasi peserta pun belum dibuka. Ternyata tempatnya di lantai basement hotel ini, yang langsung membuat saya menduga pasti sinyal untuk koneksi Internet akan susah, dan saya sudah membuktikan sendiri ternyata itu benar. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ada hotspot hotel yang dapat digunakan. Di awal saya datang, kualitasnya bagus. Di awal acara mulai, itu jadi melambat. Siangnya lebih buruk lagi. Bahkan SSID-nya saja sudah menghilang :(

wc01

Tidak ada pakem resmi untuk mengatur jalannya acara apapun, tapi agak aneh juga ketika saya temukan bahwa acara langsung jalan begitu saja. Baru ketika menjelang malam, Valent Mustamin, sebagai ketua penyelenggara memberikan kata-kata pembuka. Seharian ini acara nampaknya tidak diatur urutannya dari segi konten, kepentingan, relevansi, atau apapun juga. Bercampur begitu saja, mulai dari yang amat sangat teknis (bagi saya) hingga yang orang-orang bilang sebagai materi untuk non-geek.

Istrinya Kengyu Nakamura (lupa namanya)

Acara dimulai dari pasangan Istri – Suami yang keduanya bekerja di perusahaan yang sama, Prime Strategy: sebuah perusahaan konsultan WordPress yang berbasis di Jepang, yang telah diakui kiprahnya oleh WordPress.Org. Saya tidak mendokumentasikan namanya, tapi yang dibawakan Sang Istri adalah perkenalan tentang apa itu Prime Strategy. Selain sebagai konsultan, perusahaan ini juga telah menerbitkan dua buku tentang WordPress yang katanya paling laku di amazon.co.jp. Nama suaminya adalah Kengyu Nakamura, penulis dua buku itu. Kengyu Nakamura mempresentasikan strategi meningkatkan kemampuan blog / website berbasis WordPress untuk dapat menangani jumlah pengakses dalam satuan detik. Dia melakukannya dengan bahasa Indonesia dan membaca catatan yang dibuatnya sendiri. Ceritanya mulai dari server scaling-up, implementasi APC (akselerator PHP), meng-cache MySQL Query, translate cache (akselerator buatan Prime Strategy), page compress, menggunakan multiple server, hingga menggunakan cloud service (Windows Azure). Akhirnya dia bilang bahwa peningkatan kinerja WordPress harus dilakukan dengan kombinasi efektif semua kemungkinan yang ada. Pemilihan topiknya jelas menunjukkan dari sisi mana mereka berdua berada.

Kengyu Nakamura

Berikutnya adalah dari 7langit.com oleh Oon Arfiandwi. Nama depannya sekilas adalah nama panggilan orang Sunda, tapi dari cara bicaranya jelas dia adalah orang Jawa. Dia bicara dengan fasih tentang bagaimana membuat apps dengan HTML5 untuk situs yang berbasis WordPress. Mendengar kata apps, asosiasi saya langsung ke arah mobile phone, dan ternyata memang benar tujuan presentasinya tentang itu. Konsep dasarnya tentu untuk menampilkan website secara optimal dalam konteks mobile device di mana harus ada perlakukan khusus mengingat konteksnya berbeda. Dua cara untuk itu adalah feed via RSS (XML) dan / atau feed via API menggunakan plugin JSON-API. Yang menarik adalah dia juga menjelaskan bagaimana apps yang telah dibuat dapat di translate ke delapan platform lain yang berbeda.

Oon Arfiandwi dari 7langit.com

Tanpa ada banyak basa-basi pada perpindahan sesi. Langsung yang berikutnya adalah dua orang dari Binus. Mereka bertanggungjawab pada web development kampus, yang karena sangat banyaknya departemen pada lembaga itu yang ingin ada tempatnya di website dengan permintaan yang macam-macam, akhirnya mendorong mereka untuk melakukan improvisasi, hacking plugin, atau membuat sendiri segala sesuatunya sesuai dengan kebutuhan lokal. Ada satu hal yang jadi seperti ungkapan yang selama ini mungkin dibatin oleh para teknisi web, yaitu sebaiknya soal konten adalah urusan orang non-IT. Hal itu buat saya malah jadi kebalikannya karena saya menangani segala-galanya. Saya selama ini ingin ada orang IT yang menangani hal yang teknis, sementara saya ingin hanya berurusan dengan konten saja! Satu hal tentang mereka adalah, sempat terlontar bahwa perguruan tinggi juga harus mempublikasikan hasil riset dan jurnalnya di website, dan mereka selama ini sudah melakukannya dengan WordPress. Yang saya tahu, untuk hasil riset dan tulisan jurnal, telah disepakati oleh komunitas pengelola jurnal kampus di Indonesia agar itu dipublikasikan melalui CMS khusus, yaitu OJS (Open Journal System). Entah sebenarnya di Binus bagaimana, tapi saya terkesan dengan tampilan-tampilan halaman website Binus. Ada penanya yang bilang bahwa website Binus adalah nomor satu buat dia. Tanpa ragu saya pun akan mengatakan yang sama. Nama kedua presenter ini adalah Fikri Rasyid dan Deni Tri.

Deni Tri dan Fikri Rasyid dari Binus

Yang berikutnya adalah dari orang Jogja, Lobodalih Sembiring. Yang dibawakannya sangat non-teknis “Spreading Responsible Travel Through Blogging”. Dari judulnya saya bisa menduga, ini tidak akan langsung berkenaan dengan WordPress. Ternyata memang lebih jauh lagi dari itu :) Yang saya tangkap adalah, bagaimana mereka yang telah melakukan klaim sebagai travel blogger atau orang pada umumnya yang melakukaan perjalanan dan mem-blog-kan cerita perjalanannya memiliki sikap yang bertanggungjawab. “Tanggungjawab” bisa menjadi sebuah istilah yang konotasinya sangat luas, tapi yang saya pahami kemudian, dia menghubungkannya dengan persoalan lingkungan. Di sesi ini saya ajukan pertanyaan. Menurut saya dia menjelaskan pengertian tanggungjawab dalam pengertian sikap yang seharusnya dimiliki seorang blogger di luar blog-nya sendiri. Saya bertanya bagaimana dengan konsekuensi tanggungjawab itu dalam konteks internal blog-nya. Apakah kita sebagai blogger kalau ingin disebut bertanggungjawab harus menulis dengan cara tertentu ? Apakah ini bakal punya konsekuensi pada teknik menulis ? Jawabannya kurang tereksplorasi, tapi dia bilang bahwa dari rumusan klasik 5W + 1H itu kita harus memberikan penekanan pada unsur Why. Begitu saja. Hmmmm, ….

Lobodalih Sembiring

Todi Adiyatmo Wijoyo adalah pengisi sesi berikutnya. Dia dosen dan web developer yang dipercaya membuat website pernikahannya salah seorang anaknya Sultan Jogja, yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Materinya benar-benar full-blown geeeky stuffs: “Developing MVC Style Application over WordPress with Lotus Framework”. Mendengar kata Lotus di situ saya langsung teringat aplikasi spreadsheet yang dulu populer sebelum sekarang ada Excel. Gimana ceritanya aplikasi yang sudah kuno itu bisa ada relevansinya lagi dengan WordPress? Eh, belakangan terungkap itu adalah nama yang dia berikan untuk (entah saya menangkapnya benar atau tidak) strategi pengembangan website berbasis WordPress. Seorang penanya akhirnya membuat saya lebih mengerti apa yang dilakukan Mas Todi ini. Dia membuat sebuah engine yang berjalan di atas WordPress yang fungsi-fungsinya akan membuat proses custom development WordPress menjadi lebih efisien. Total semua yang dibicarakannya sangat teknis, tapi entah mengapa dia berhasil membuat audiens tertawa, hingga menjadi viral sampai sepanjang presentasinya. Salah satunya adalah ada kata yang sering diulang dan memicu gelak, yaitu “elegan” :) Sementara perhatian saya adalah, kenapa Mas Todi ini selama presentasi, kakinya bergerak-gerak terus ?

Todi Adiyatmo Wijoyo

Akhirnya menjelang magrib ada waktu break panjang, sebelum welcome dinner. Tanpa disangka saya bertemu kenalan lama: Abang Edwin. Di era sebelum populernya instant messaging dan akses Internet menggunakan modem analog, saya aktif menulis di milis yang dia kelola: musik_indonesia.

Saya dan Abang Edwin

Lainnya adalah, saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Risman Adnan, yang ternyata saya dan dia ada dalam satu grup Facebook dengan beberapa teman, tapi ini baru pertama kalinya saya bertemu beliau.

Risman Adnan dan Saya

Sekitar pukul 19.00, Valent Mustamin akhirnya tampil memberi introduksi acara ini. Dia bilang bahwa sesi-sesi berikutnya akan lebih ringan. Berturut-turut mereka adalah Ben Thompson dari Automatic, Hafiz Rahman dari wplover.com, dan Abang Edwin dari Voice of Jakarta.

wc10

Baru ngeh, ternyata Automatic adalah nama perusahaan yang bertanggungjawab pada WordPress.Com dan pengembangan WordPress sebagai blog engine di WordPress.Org. Isinya adalah cerita pribadinya dari sejak kuliah hingga akhirnya dia sekarang bertanggungjawab sebagai Growth Manager di WordPress. Intinya dia uraikan tentang orientasi /sikap kita sebagai blogger. Passion, process, … dan entah apa lagi. Saya merekam semua secara audio. Saya harus dengarkan lagi semuanya untuk tahu secara persis.

Hafiz Rahman

Hafiz Rahman, presenter berikutnya, tampil sangat bersahaja, dengan terlebih dahulu excuse karena suaranya yang tidak begitu lantang. Memang suaranya sepanjang presentasinya kecil saja. Yang duduk di belakang bisa jadi akan susah “membaca” aksentuasinya. Dia cerita tentang “How To Contribute To WordPress”. Usaha apapun yang membawa pada kemajuan WordPress dan blogging pada umumnya punya tempat di WordPress. Persisnya adalah di make.wordpress.org. Mulai dari design, plugin, theme, komunitas, atau apapun katanya ada tempatnya di sana. Saya belum pernah membuka itu. Yang menarik, dia punya Twitter handle hanya tiga huruf saja, @hfz. Orang Indonesia kedua yang saya tahu punya yang seperti itu.

Abang Edwin

Sesi penutup untuk hari pertama ini adalah dari Abang Edwin. Ceritanya adalah tentang pengalaman pribadi sebagai penggemar komputer / Internet, yang sudah menggunakannya sejak jaman Windows 3.1. Dalam hal itu tampak bahwa dia ‘seangkatan’ dengan saya karena semua hal jadul yang dia tampilkan saya pernah memakainya langsung. Dia berevolusi dari usahanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya “How To Create My Online Existence” sampai akhirnya keberuntungan membawa dia untuk mengelola sendiri sebuah Internet-based radio yang awalnya “memancar” dari New York. Untuk memfasilitasi interaksi dengan para pendengar radio itu dia menggunakan WordPress. Menurutnya, “Wordpress is like a solution to a non-geek to have a publishing platform”.

Buat saya, hari pertama ini saja sudah begitu sangat memperkaya. Terus terang saya bisa menangkap inti dari semua pembicara, tapi untuk yang teknis, tidak semua saya bisa mengapresiasi / menangkap semua detilnya. Saya bukan orang teknis. Saya adalah non-geek. Saya hanya user biasa saja. Maka tidak saya sia-siakan setiap kesempatan mengobrol di sela-sela sesi atau di coffee break. Hanya dengan mengobrol biasa saja, saya mendapat masukan cukup banyak, bahkan terinspirasi sesuatu. Di antara udara yang sangat panas di Jogja ini Saya bersyukur bisa mengikuti semuanya dari awal sampai akhir (ada yang bilang tadi itu 38 derajat Celcius!). Di dalam ruangan yang ber-AC rasanya tidak begitu dingin, sementara kalau di luar ruangan saya pasti mandi keringat. Masih ada dua hari lagi, dan semoga saya tetap bisa menuliskannya di sini.

Bagikan pada media sosial :