# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4221

Hari kedua diawali dengan duga-duga saya bahwa ada cukup banyak peserta yang tidurnya bermasalah. Tidur saya pun bermasalah, sehingga bahkan ketika di saat datang pagi itu pun saya masih merasakan kantuk. Sangat panas semalam, sehingga bangun pagi hari rasanya sekujur tubuh basah dengan keringat. Acara resminya dimulai pukul 09.00, tapi ketika waktunya tiba, banyak yang belum hadir. Barangkali untuk hari ini saya tidak bisa menuliskannya lebih baik dari kemarin karena rasa kantuk itu menghalangi ingatan saya pada cukup banyak detil.

Pak Risman Adnan

Jadwal diubah. Pak Risman Adnan tampil pertama. Materinya, “WordPress with Azure in Business Model for Developers/Startups.” Intinya, WordPress dapat di-instal di cloud melalui layanan cloud dari Microsoft yang disebut Windows Azure. Instalasinya katanya sangat mudah. Hanya beberapa kali klik, dan engine WordPress-nya bisa terinstal (?).  Lalu soal bagaimana nanti website yang akan tampil bisa teroptimalisasi ketika dibuka pada mobile devices, dapat diusahakan melalui apa yang disebut Azure Mobile Services. Ada penjelasan juga tentang apa itu Windows Azure Virtual Machine, Windows Azure Traffic Manager, dan Windows Azure WP App Studio, tapi yang menarik adalah yang terakhir itu. Katanya yang non-geek bisa membuat app untuk blog (dalam konteks OS Windows Phone) dengan tanpa coding sama sekali. Ini menarik dan saya anggap sebagai sebuah intro yang nantinya akan harus saya eksplorasi sendiri. Presentasinya menggugah dan inspiratif karena beliau ini tidak hanya bicara to the point tentang topiknya [sebagai seorang profesional, itu penting], tapi juga dengan ilustrasi verbal yang bagi saya menunjukkan kaliber dan dedikasi beliau ini dalam bidangnya. Salut untuk Pak Risman.

Danu Widhyatmoko

Nah, berikutnya ini yang membuat saya thrilled. Namanya Danu Widhyatmoko dari Universitas Binus. Kalau kemarin dari Binus yang tampil adalah para teknisi web, maka Mas Danu ini adalah kepala DMD atau Digital Media Development di perguruan tinggi yang mengklaim sebagai World-Class University itu. Dia tidak menjelaskan konsep, layanan, atau fungsi sesuatu, tapi cerita tentang bagaimana DMD terbentuk. Implisit di dalamnya adalah bagaimana Binus punya komitmen tinggi terhadap layanan berbasis Internet untuk para mahasiswanya. Mas Danu ini orang yang membentuk DMD sejak awal dengan keyakinan bahwa pengelola website di sebuah perguruan tinggi harus merupakan sebuah unit tersendiri. Tidak bisa diintegrasikan dengan unit marketing communication atau IT. Dari situ saja saya sudah membayangkan visi yang ada di baliknya seperti apa, dan tekad yang dimiliki untuk mewujudkan visi itu.

Menariknya, sebagian besar semua website Binus dikembangkan dengan platform WordPress. Total jumlah website “binus-related” yang dikelola ada 163 buah. Cukup gila. Saya kira memang website-nya Binus adalah sebuah showcase terbaik di Indonesia tentang bagaimana WordPress dapat dimaksimalkan. Apa yang ada sekarang bukan tanpa perjuangan. Mulai dari 0 hingga seperti yang sekarang diperjuangkan oleh presenter ini, dengan beberapa ilustrasi verbal tentang bagaimana dia harus meyakinkan pihak manajemen untuk membentuk DMD dan penentuan WordPress sebagai platform yang akan dipilih. Salah satunya disebutkan bahwa dia meyakinkan banyak orang di universitasnya dengan mengatakan, kira-kira, “Kalau Bapak / Ibu sudah bisa mengetik dengan Microsoft Word, biasa mengirim email, dan menggunakan attachment pada email itu, maka Bapak / Ibu sekalian akan bisa menggunakan WordPress”. Maka WordPress-lah yang dipilih, dan dengan komitmen yang berdampak pada adanya investasi yang sangat besar untuk pengembangannya, baik dari segi finansial maupun sumber daya manusia, jadilah seperti yang ada sekarang.

Saking menariknya, untuk sekejap saya bisa mengalahkan kantuk saya. Saya kira ada pembelajaran penting yang harus diserap oleh semua pengelola website / bagian IT semua perguruan tinggi. Khususnya untuk saya, saya terpikir untuk melihat sejauh mana pokok-pokok yang ada pada presentasinya dapat diadaptasi pada konteks tempat kerja saya dengan segala keterbatasannya. Saya luangkan waktu untuk bicara langsung dengannya dan minta kopi presentasinya, tapi katanya akan harus dihapus dulu di sana-sini. Hmm, barangkali ada beberapa tampilannya yang mungkin memang rahasia atau tidak bisa di-share. Dari obrolan dengan Mas Danu, ada kata-kata cukup bermakna buat saya, “Untung Bapak tidak sempat coba platform lain.” Alhamdulillah, memang saya menggunakan WordPress.

Talkshow tentang The Future of Publishing Platform

Sesi berikutnya dibawakan secara talk show. Moderatornya Joshua Kevin. Sementara yang berbicara adalah Wiku Baskoro dari majalah online tentang teknologi, Trenologi; Nurudin Jauhari dari majalah online juga tentang teknologi (tapi dengan style yang lain), yaitu Ngonoo; dan Valent Mustamin dari Wordcamp. Topiknya cukup bagus, yaitu “The Future of Publishing Platform”. Sayangnya, si moderator justru tidak mengarahkannya cukup baik untuk membawa para pembicara secara efektif mengeksplorasi topiknya. Alih-alih, para pembicara jadi terlalu banyak bicara soal yang mereka kelola. Wiku Baskoro ya cerita tentang Trenologi-nya, bagaimana dia hampir 20 jam sehari menangani majalah online itu dengan WordPress, bahwa justru bos-nya yang orang teknik web sementara dia sendiri adalah “orang-konten”, dan bla-bla yang lain. Nurudin Jauhari cerita saja tentang Ngonoo-nya. Penampilannya sangat down to earth dan membuat audiens tertawa-tawa, terutama ketika dia tidak bisa melafalkan theme dengan benar. Saya sehari sebelumnya nge-tweet tentang orang satu ini : “#wcjog Pengen ketemu sm @jauhari di @wordcampid eh dua kali salah orang… :)” Memang itu yang benar-benar terjadi. Akhirnya saya bisa tahu yang mana orangnya setelah sesi ini, bahkan sempat bicara langsung. Di hari-hari pertama saya belajar WordPress saya dibuat kaget karena ketika memilih theme, ada nama Indonesia pada jajaran theme gratis. Dia mungkin orang Indonesia pertama atau bahkan mungkin satu-satunya orang Indonesia yang mendunia dengan kreasi theme WordPress-nya. Dulu sekali saya pernah kontak dia via email, makanya saya penasaran ingin ketemu.

Ridho Putradi

Untuk sesi-sesi berikutnya harus saya katakan, saya tidak bisa mengikutinya dengan baik karena kantuk yang luar biasa. Lagi-lagi ada perubahan jadwal. Ben Thompson yang seharusnya tampil lagi, tidak jadi. Saya pikir dia memang seharusnya tampil lagi dengan materi yang lebih berbobot, karena di hari kemarin dia bicara tentang hal yang common sense saja. Tapi ya sudahlah, meski aneh karena orangnya masih ada saya lihat di sekitar acara ini. Maka sesi berikutnya langsung ke Ridho Putradi S’Gara dari InBound Indonesia dengan topik “The Evolution of Search Marketing”. Yang dibicarakan sekitar SEO, SEA, tentang omongan bahwa SEO is dead, sampai akhirnya SEO is not dead, dan soal-soal optimalisasi popularitas web lainnya. Terus terang saja saya tertidur. Sebenarnya bukan hanya karena kantuk saja, tapi karena saya tidak belum tertarik dengan topiknya. Saya tahu, suatu saat saya harus meyakinkan diri saya bahwa itu penting, mungkin bahkan sangat penting. Tapi sekarang ini saya berpikir bahwa itu baru diperlukan ketika website yang kita tangani lebih membutuhkan orang datang, bukan dengan asumsi sebaliknya, yaitu website seharusnya didatangi orang karena kebutuhan informasi mereka. Di sini saya dengar sekilas bahwa sang presenter pernah menangani Blibli, Bhinneka, Pricearea, dan Telkomsel. Baru tahu, ternyata mereka sampai menggunakan jasa profesional untuk itu.

Seharusnya berikutnya adalah Geek on Train, sebuah judul yang bagi saya agak menyesatkan (bahkan juga dengan beberapa ungkapan lain dalam bahasa Inggris pada acara ini). Konsepnya panitia adalah, para geeks yang datang ke Jogja diminta untuk mengerjakan proyek kecil (yang terkait WordPress) selama perjalanan di kereta api. Lalu pada sesi ini mereka mempresentasikannya. Jangankan para geeks, orang biasa saja yang mengetik normal di dalam kereta api sudah sangat tidak nyaman. Apalagi ini harus bekerja dengan laptop dan melakukan coding. Apakah dibalik gagasan ini ada semacam pandangan yang agak “menggampangkan” coding ? Tidak ada satu peserta pun yang melakukannya, maka sesi ini ditiadakan.

Valent Mustamin

Acara berubah lagi. Valent Mustamin memberikan clue bahwa sesi-sesi yang akan tampil besok akan dipadatkan saja hari ini. Bahkan hari ini pun tidak akan sampai malam. Dia sendiri berikutnya yang tampil, yang menjelaskan tentang apa itu Wordcamp dan himbauan agar ada lebih banyak orang lagi yang membantu untuk Wordcamp berikutnya. Sepertinya dia sudah capek dengan tiga kali Wordcamp sebelumnya (empat dengan yang sekarang). Nampaknya dia mencari orang yang akan mengganti posisinya, tapi audiens tidak ada yang responsif tentang ini. Ada masukan dari audiens yang menyarankan agar ada kumpul komunitas lagi yang mungkin levelnya di bawah Wordcamp, dan orang ini menyebut-nyebut soal DMV di Jogja yang akan menyediakan tempat untuk itu. Akhirnya terungkap itu akan dijadwalkan November bulan depan.

Hafiz Rahman @hfz

Yang tampil kemarin, tampil lagi hari untuk sesi berikutnya: Hafiz Rahman, si pemilik akun twitter tiga huruf itu. Dia bawakan “Wordpress for Startup”. Sayangnya, tampak dari uraiannya, dia membawakan materi yang nampaknya sebagian besar (kalau tidak semuanya) adalah tulisan orang lain. Dia akui itu akhirnya. Barangkali yang orisinal adalah bahwa ada tiga klasifikasi implementasi WordPress menurutnya. Saya paham maksudnya meskipun wording-nya barangkali bisa lebih bagus lagi. Dia golongkan :

  1. The obvious solutions
  2. Getting deeper
  3. Buat coders level elegan

Yang pertama maksudnya implementasi WordPress yang seadanya saja. Instal, tulis, dan publish. Yang kedua, WordPress digunakan dengan melibatkan lebih banyak tweak dan kustomisasi. Yang ketiga, tentu saja adalah WordPress yang tidak saja digunakan, seperti dua sebelumnya, tapi dimodifikasi dan dieksplorasi kemungkinan-kemungkinannya dengan melibatkan coding.

Dia hanya menampilkan yang sudah ada, tapi saya tetap harus berterima kasih karena di sini saya baru tahu ternyata ada produk lain yang mirip, yang nampaknya juga merupakan produknya Automatic (entah, atau WordPress Foundation): BbPress, P2, BuddyPress, dan katanya kedepannya akan ada O2. Saya harus eksplorasi sendiri apa itu semua, tapi saya paling tertarik dengan BuddyPress, yang katanya adalah social media engine. Maka ketika saya lanjutkan menulis laporan Wordcamp pagi ini saya sempatkan tanya dia via Twitter soal contoh situs BuddyPress. Yang lokal (mention dari seseorang bernama Hendrawan Kuncoro) adalah blog.ub.ac.id, sementara yang di luar adalah my.telegraph.co.uk, katanya. Setelah saya buka sendiri, ternyata BuddyPress adalah social media platform berbasis tulisan blog. Entah benar, entah tidak. Barangkali memang saya harus terjun langsung mencobanya sendiri dulu baru menyimpulkan.

Kantuk saya semakin tak tertahankan. Di sesi selanjutnya praktis saya tertidur-tidur. Tapi sempat saya ketahui yang presentasi adalah sejumlah mahasiswa yang berusaha membuat framework sendiri yang akan memudahkan konstruksi plugin & theme, baik fungsi maupun tampilannya. Mereka memberi nama framework itu dengan sesuatu … saya lupa.

Rizqinova Putra M.

Sebagai sesi terakhir adalah presentasinya Rizqinofa Putra M. dari Mozilla Indonesia. Tidak terlalu jelas sebenarnya apa kaitannya dengan WordPress, kecuali mungkin dari riwayatnya, kesamaan sifat open-source-nya, atau mungkin adanya orang-orang yang terkait satu sama lain. Yang dia tampilkan adalah tentang komunitas Mozilla di Indonesia, ada semacam figur animatik yang dikembangkan khas Indonesia, de el el, de es be. Saya ngantuk sekali di sesi ini.

Sebelum presentasinya Rizqinofa itu ada penegasan bahwa acara untuk hari Minggu besoknya ditiadakan, maka Wordcamp 2013 akan berakhir sore hari itu juga. Agak kecewa saya, tapi tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali harus menerima saja. Saya empati pada Valent Mustamin dan kawan-kawan (jumlahnya total hanya lima orang), yang tentu mengalami cukup banyak kendala. Meskipun begitu ada ungkapan bahwa Wordcamp 2014 akan diselenggarakan di Bali dan dia kembali mengharapkan adanya volunteers yang akan bergabung untuk membantu mewujudkan itu.

Daripada hanya menuliskan rangkuman saja, rasanya kurang elok kalau saya tidak memberikan pikiran-pikiran saya sendiri tentang Wordcamp ini :

  1. Keberlangsungannya harus tetap dijaga demi cukup banyak kepentingan. Oleh karena itu tidak bisa dibiarkan hanya Valent Mustamin sendirian sebagai koordinator Wordcamp. Jelas-jelas harus ada upaya untuk membuat organisasi (yang entah bagaimana kongkritnya), dan saya pikir itu lebih baik dilakukan secara online, pada sebuah forum di mana ada banyak pengguna WordPress Seperti yang terlihat kemarin, ketika secara offline dan terbuka diminta adanya kesediaan partisipasi, tidak ada seorang pun yang menyediakan diri.
  2. Sangat mudah pada acara semacam ini untuk terarahkan orientasinya menjadi teknis, bahkan sangat teknis. Harus ada sebuah wacana yang tertanam bahwa ada kalangan yang modus penggunaan WordPress-nya sederhana. (Jangan-jangan malah sebagian besar pengguna WordPress adalah yang demikian!). Barangkali hanya instal (mungkin itupun dibantu orang lain), pilih theme & plugin, tulis, lalu publish. Oleh karena itu harus ada sesi yang mengakomodasi pengguna yang demikian.
    Saya kira pengguna yang seperti itu tidak bisa dengan mudah digolongkan sebagai sekedar mereka yang urusannya lebih ke konten (orang konten). Saya yakin ada cukup banyak yang proses adopsi WordPress-nya masih dalam evolusi yang awal sekali, masih belajar, bahkan mungkin masih ada yang coba-coba, atau mungkin belum tahu sama sekali. Dengan wacana tadi, dan bila ditegaskan dengan sosialisasi yang cukup, itu bisa membuka domain bahasan yang lebih luas pada setiap Wordcamp. Pada gilirannya bisa menginspirasi lebih banyak kalangan untuk menjadi pembicara potensial, dan akhirnya tentu para peserta Wordcamp yang potensial.
  3. Soal koneksi Internet. Ya saya paham sekali di Indonesia kita selalu bisa punya alasan bagus untuk mengeluhkan kualitasnya. Tapi kalau kualitasnya terbatas, barangkali ada baiknya bila itu tidak dibuka aksesnya untuk semua peserta. Lebih baik koneksi itu diprioritaskan untuk para presenter dulu. Kemarin saya tidak melihat ada satu presenter pun (mungkin ada tapi saya tidak lihat), yang melakukan demo secara live dengan koneksi Internet, karena mereka sadar kualitas koneksi Internet yang kurang bagus.
    Tadinya saya berpikir kenapa tidak minta pihak hotel untuk sementara mengubah password-nya ketika sebuah sesi sedang berlangsung, sehingga yang tahu passwordnya hanya panitia dan si presenter saja. Dengan begitu bandwidth tidak habis digunakan para peserta. Barangkali ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Barangkali kemarin itu tidak mudah untuk meminta itu pada pihak hotel.
    Kita berharap saja, Bali yang katanya sudah menerapkan LTE (pada Konferensi APEC kemarin), bisa memberikan kualitas koneksi yang lebih baik bagi presenter maupun para peserta Wordcamp 2014.
  4. Wordcamp nampaknya sudah menjadi sebuah brand name yang asosiatif dengan kegiatan yang punya karakteristik sendiri. Saya tidak tahu apa persisnya itu semua, tapi kemarin saya mendengar November bulan depan akan diadakan acara WordPress di DMV Jogja itu, tapi tidak menggunakan nama Wordcamp. Maksud saya, nampaknya terbuka untuk mengadakan kegiatan yang meski bukan bertajuk Wordcamp, tapi topiknya masih tetap WordPress. Karena ini semua erat kaitannya dengan urusan literasi online, produktifitas, bahkan demokrasi secara luas, saya pikir terbuka untuk mengadakan acara yang ditujukan bagi special targeted audience. Ambil contoh, misalnya guru, dosen, anak SMA, mahasiswa, pegiat LSM, dan sebagainya. Mungkin ini sudah terbersit di pikiran Valent Mustamin, tapi dia lebih memilih satu, yaitu yang membawa bendera Wordcamp. Sangat bisa dipahami karena selama ini dia sendirian (semoga saya salah di sini! :).

Apapun itu, saya berterima kasih pada panitia untuk penyelenggaraan acara ini. Semua kekurangan bisa dimaafkan dan terbayar dengan insights dan inspirasi yang saya peroleh selama acara berlangsung, kenalan baru, identifikasi pakar, dan bisa jadi kemungkinan networking dan kerja sama di masa datang. Salam apresiasi saya untuk kerja panitia dan semoga kita bisa berjumpa lagi di Bali tahun 2014.

Bagikan pada media sosial :