# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1378

uefiw10Ada masanya ketika saya sebagai pengelola komputer / internet di kantor menerima cukup banyak laptop dan desktop dan harus segera membuatnya bisa beroperasi atau dipakai oleh orang-orang yang mendapat jatah barang-barang itu. Karena dikejar waktu, maka saya jadi kurang teliti juga. Target Saya, yang penting semuanya jalan dulu. Itu sudah berhasil saya lakukan. Bukannya tanpa masalah sih. Masalahnya adalah, laptop / desktop baru cenderung meminta dipasang sistem operasi 64 bit (Windows) maka dari itu DVD bawaan mereka hanya menyertakan driver 64 bit saja. Mendapatkan driver yang 32 bit itu sempat jadi masalah, tapi untung bisa teratasi juga (belakangan soal driver ini saya sangat terbantu dengan software Slimdriver).

Setelah beberapa waktu, saya membaca ini itu tentang Windows 10 dan perkembangan perangkat-perangkat baru, ternyata ada yang namanya UEFI (Unified Extensible Firmware Interface). Saya agak cuek soal itu, hanya sekedar tahu bahwa itu ada saja. Sampai akhirnya seorang teman posting status di Facebook yang bikin saya ingat itu lagi dan kali ini ingin mencobanya.

Jadi, UEFI itu dimaksudkan untuk menggantikan BIOS. Dari sejak awal laptop / desktop ada, komputer selalu dilengkapi dengan BIOS (Basic Input Output System). Dari situ kita bisa mengatur beberapa hal yang cukup vital terkait komputer. Dulu sempat BIOS itu cukup detil, tapi entah kenapa, terutama pada laptop, BIOS isinya semakin singkat aja. Barangkali kalau komputer yang ditujukan bagi general consumer harus gitu kali ya ? Tapi yang jadi masalah adalah, ternyata BIOS itu punya keterbatasan. Apalagi dalam menangani kompatibilitasnya dengan hardware baru yang spesifikasinya makin tinggi. Oleh karena itu dibuatlah UEFI. Sekarang ini yang saya lihat pada laptop memberikan pilihan apakah bootingnya akan menggunakan UEFI atau BIOS. BIOS pada beberapa laptop dikatakan sebagai Legacy Mode.

Apa keuntungannya UEFI di samping kompatibilitasnya pada hardware baru ? Keuntungannya, dari yang saya baca adalah ini :

  1. Waktu booting yang lebih cepat
  2. Bisa mendukung lebih dari empat primary partition
  3. Lebih aman pada beberapa jenis malware karena menggunakan secure boot

Yang pertama adalah yang paling membuat saya tertarik. Maka saya sengaja menginstal ulang dua laptop kantor. Yang pertama adalah Lenovo K2450. Yang kedua Acer E-111.

bios-vs-uefi-comparison-unhappyghost-ethical-hacker-security-expert-india

Perbandingan sekuens booting antara BIOS dan UEFI
Sumber gambar : link

Ternyata agar Windows (dalam hal ini Windows support UEFI sejak Windows 8, dan saya pakai Windows 10) bisa menggunakan UEFI, dia harus diinstal dengan cara “lain”. Pada setiap laptop akan berbeda persisnya, tapi intinya sama. Langkah-langkahnya :

  1. Masuk ke BIOS, lalu buat agar komputer nanti di boot dengan menggunakan secure mode. Biasanya ini ada di halaman security.
  2. Ada yang sesudah itu halaman Start berubah sendiri jadi UEFI, tapi ada yang tidak. Untuk yang tidak otomatis berubah, kita masuk ke halaman Start (atau Start-Up), dan ubah agar booting-nya nanti hanya menggunakan UEFI.
  3. Buat installer Windows yang support UEFI. Ternyata, installer yang biasa itu belum support UEFI. Yang saya alami, ketika sudah sampai langkah nomor 2 lalu saya masukkan flashdisk yang diisi installer Windows 10 biasa, si flashdisk-nya tidak terdetek. Aneh.
    Saya browsing soal ini, ternyata installer harus dibuat dengan cara khusus. Software untuk membuat ini namanya Rufus. Bisa di Google dan pasti ketemu. Nanti pada menu MBR Partition Scheme for BIOS or UEFI, kita pilih “MBR Partition Scheme for UEFI”.
  4. Setelah installer-nya jadi, ya baru kita instal dengan cara biasa. Tidak ada urusan membuat first boot drive-nya ke mana. Kasus di Saya, si flashdisk langsung nyala dan menginstal dengan normal.
  5. Pastikan semua proses instalasi Windows beres, termasuk update-nya. Kalau sudah begitu, teorinya, booting time akan lebih cepat. Di saya, ternyata itu betul :)

Begitulah tentang UEFI. Booting time yang menjadi cepat itu penting. Apalagi laptop-laptop di kantor saya banyak yang prosesornya tidak terlalu tinggi, yang normalnya booting bisa cukup lama. Ini saya baru cobakan pada dua laptop. Nampaknya kalau ada waktu, semua laptop di kantor saya harus saya instal ulang.

Bagikan pada media sosial :