# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1084

Ini boleh jadi merupakan update dari apa yang pernah saya tulis di sini tentang adanya ajakan pada saya untuk menjadi Caleg (calon legislatif). Beberapa hari yang lalu di Trans TV ada tayangan acara KPK yang dibawakan sendiri oleh Direktur Trans TV, yaitu Pak Ishadi S.K. Yang membuat saya agak mikir adalah ketika tayangan itu menampilkan pendapatnya Pak Pande Radja Silalahi, yang kalau tidak salah adalah dosen Ekonomi Unpar.
Pak Pande bilang, bahwa kebanyakan wakil rakyat itu tidak punya kualifikasi yang memadai. Mereka menganggap menjadi wakil rakyat itu adalah sebuah pekerjaan, jadi aksentuasi kiprah mereka bukan memperjuangkan dan menyalurkan aspirasi rakyat, tapi motif-motif ekonomi pribadi. Karena untuk menjadi wakil rakyat telah mengeluarkan biaya besar, maka ada kecenderungan ketika menjabat, mereka korupsi karena sekurangnya itu akan bisa menutupi pengeluaran mereka sebelumnya.
Yang Saya pikirkan adalah, apakah selama ini sudah ada persyaratan yang mengatasi perbedaan partai berkenaan dengan kelayakan seorang caleg? Kalau belum, bukankah sebaiknya ada? Di tingkat daerah (DPRD) teman yang mengajak saya untuk menjadi caleg kemarin itu bilang bahwa ada kok orang yang sehari-harinya pengusaha sablon saja bisa jadi anggota DPRD. Saya coba konfirmasi tentang info itu dan ternyata orang yang dia maksud itu memang benar ada. Duh, jangan-jangan memang pada kenyataannya banyak yang begini?
Tapi semoga ke depannya Indonesia punya mekanisme uji kelayakan caleg seperti yang saya maksud itu, meski hari-hari ini kita sama lihat di jalan-jalan banyak terpampang foto para caleg dengan namanya yang disertai beberapa gelar (meski gelar juga belum menjamin dia bener apa tidak!).

Bagikan pada media sosial :