# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3890

Belum lama ini saya menjadi korban anonimitas di Internet. Pada salah satu tempat kerja saya, beberapa orang sudah memiliki akun Facebook dan digunakan secara normal. Saya lalu berinisiatif membuat grup yang terdiri dari orang-orang itu. Tak lama berselang, ada salah seorang kolega yang kebetulan menduduki posisi pimpinan muncul dalam grup itu. Kami semua agak kaget karena tidak menyangka beliau ini akhirnya menggunakan Facebook. Belakangan ada yang mengejutkan. Ternyata ada sanggahan bahwa akun Facebook itu miliknya. Sudah pasti, ada orang iseng yang membuatkan. Waktu cukup lama berselang, hingga akhirnya saya diputuskan tidak digunakan lagi di tempat itu tanpa alasan yang jelas. Belakangan dari seseorang muncul informasi bahwa salah satu yang mungkin membuat saya mendapatkan perlakuan itu adalah karena, ketika itu, orang-orang berpikir saya lah si pembuat akun palsu Facebook itu. Keterlaluan!

Saya malas memperkarakannya, malas pula mengecek apa alasan sebenarnya di balik penghentian saya. Saya sudah legowo. Akan tetapi saya membayangkan begini. Kalau MISALNYA, saya adalah seorang korban yang memiliki informasi lengkap tentang apa yang terjadi, apakah dalam kasus tersebut saya bisa menggunakan UU ITE sementara pelaku sebenarnya (pembuat akun palsu itu) ternyata anonim ? Jelas tidak! Dan itu baru satu kemungkinan kasus. Kita bisa membayangkan berbagai kemungkinan keburukan, kejahatan, atau perilaku-iseng-merugikan lainnya yang bisa ditimbulkan kalau orang sudah membuat dirinya anonim di Internet. Itulah sebabnya saya menempatkan “Digalakkannya Kejelasan Identitas Pengguna Internet” sebagai poin pertama dalam rangka perwujudan penggunaan Internet yang “sehat”. Akan tetapi apakah itu bisa menjadi semacam himbauan normatif kepada semua pengguna Internet ? Saya kira sulit.

Kalau sekedar himbauan saja, saya kira ya bisa, tapi kiranya tidak mungkin siapapun mengusahakannya dengan cara apapun agar itu benar-benar bisa jadi kenyataan. Internet adalah sebuah media komunikasi yang memfasilitasi kebebasan manusia penggunanya lebih dari medium jenis lainnya. Bahkan, saya cenderung berpikir medium (tele)komunikasi apapun yang sifatnya asynchronous (asinkron) selalu memiliki karakteristik itu. Ambil contoh telpon selular, misalnya. Memang betul setiap pengaktifan SIM Card di Indonesia menuntut pengguna untuk memasukkan identitas. Tapi pengalaman menunjukkan, kita bisa melakukannya secara ngaco. Kita bisa memasukkan nomor identitas apapun, dengan angka berapapun, dengan nama apapun, dan sebagainya. Lalu apa yang mungkin terjadi kalau komunikasi asinkron dilakukan dengan itu ? (Tentu saja melalui SMS). Orang yang tidak punya itikad baik bisa saja mulai mengirim SMS ke mana saja dengan isi apa saja. Kalau orang ini ternyata memasukkan identitas palsu pada saat mengaktifkan SIM Card-nya, maka dia adalah anonim. Kalau kemudian dia meneror, mengancam, atau mengirimkan informasi provokatif lainnya melalui SMS, apakah korban bisa menuntut si pengirim SMS melalui jalur hukum ? Ah, tentu saja tidak! Baru bisa, kalau sistem registrasi SIM Card itu dibuat lebih “serius” lagi.

UU ITE memang tidak mengatur penggunaan SMS, tapi dalam kaitannya dengan Internet, masalah anonimitas adalah sebuah “lubang” besar bagi efektifitas pelaksaaannya. Dalam kaitan itu, dengan deskripsi tadi, bagaimana sebaiknya kita / saya menyikapi :

  1. keberadaan UU ITE (yang menuntut kejelasan identitas);
  2. bahwa untuk menjadi anonim itu adalah hak individu (dan menjadi bagian dari penegakan demokrasi (?);
  3. penempatan konsep anonimitas di Internet yang proporsional dalam kaitannya dengan pengunaan Internet yang “sehat” ?

Pada tataran pemikiran, saya kira muskil mengusahakan sebuah sikap yang koheren dengan memasukkan ketiganya tanpa mengecualikan satu sama lain (apalagi, kalau berharap akan bisa menghasilkan sebuah rumusan yang bisa jadi himbauan nasional). Kita bisa mulai dari merenungkan apa yang disebut “sehat” dalam frase “Internet Sehat” itu. Katakanlah si Badu adalah seorang pengguna Internet yang jujur, rasional, altruis, dan warga negara yang taat hukum; apakah kita bisa membayangkan ketika Badu ini memiliki segala bukti yang solid bahwa seorang pejabat pegawai negeri di sebuah kantor pemerintah itu telah melakukan korupsi besar, memanipulasi pajak, dan memiliki istri lebih dari satu ? Mungkin ia akan membuat dirinya anonim, lalu mengirim email dengan menyertakan segala bukti yang ia miliki ke KPK. Apakah di sini Badu telah menggunakan Internet secara sehat ? Atau sebutlah si Karto, yang di sebuah mailing list terlibat dalam diskusi panas dengan si Yoyo. Anggota milis lain sudah menilai kalau Karto memang ngotot, meskipun rasional. Yoyo kebetulan memiliki sebuah blog, tapi ternyata isinya adalah 100% hasil copy paste dari tempat-tempat lain di Internet. Untuk meningkatkan tekanan psikologis, Karto lalu mengedepankan soal otentisitas blog-nya Yoyo, bahkan menyebarluaskan ke forum-forum lain bahwa isi blog si Yoyo adalah hasil copy paste. Bagaimana kita menilai siapa yang sehat dan tidak sehat dalam konteks itu ? Anyway, poin saya di sini adalah, “Internet Sehat” itu tidak lalu berarti seperti “puritanisme” penggunaannya. Akan ada saatnya tidak mudah untuk menentukan suatu perilaku itu baik / buruk, sehat / tidak sehat, …

Karena kesulitan itulah, maka saya lebih memilih untuk mengajukan sebuah preferensi pribadi tentang sikap saya sendiri. Bagi saya, undang-undang apapun dalam kaitannya dengan penggunaan Internet sejauh dimaksudkan untuk melindungi kerugian yang nyata dan memajukan demokrasi yang dewasa, saya kira perlu. Meskipun mungkin undang-undang seperti itu agar menjadi efektif memerlukan kejelasan identitas pengguna Internet, namun pada saat yang sama anonimitas adalah sebuah pilihan sikap yang patut diapresiasi dalam konteks tertentu. Dalam konteks lain, saya adalah seorang pengguna yang ingin menjadikan Internet sebagai media fasilitasi interaksi baik secara virtual maupun sosial. Oleh karena itu saya menunjukkan / mengedepankan identitas saya pada berbagai aktifitas komunikasi melalui Internet (pada email, blog, Facebook, dan lain-lain), sejauh pengungkapan identitas itu tidak mengancam sense of personal security. Atas dasar sense of personal security itu juga pada kasus / konteks tertentu saya bisa memilih untuk menjadi anonim. Jadi, di satu sisi saya jelas, di sisi lain saya anonim. Schizophrenic ? So be it !

Masalahnya adalah, kalau tidak begitu sebenarnya kita itu ingin menyamakan dunia yang virtual dengan yang sosial. Karena sejatinya kita adalah makhluk sosial, maka representasi kita di Internet ditunjukkan dengan identitas itu tadi, tapi karena saya juga ingin memberi tempat pada keunikan, keberbedaan, atau kelebihan Internet yang tidak ada pada dunia sosial, maka saya tunjukkan dengan kemungkinan untuk menjadi anonim pada kasus / konteks tertentu. Saya mungkin saja membuat email lain yang sama sekali tidak mencerminkan diri saya, membuat akun jejaring sosial dengan nama lain, dan sebagainya. Untuk semua anonimitas itu, yang diperlukan bukan “sebuah tanggungjawab yang besar”, karena tanggung jawab (responsibility) ada pada wilayah di mana orang-orang yang terkait teridentifikasi dengan jelas. Alih-alih, yang diperlukan adalah: niat baik (goodwill), sesuatu yang lebih pribadi.

Dengan pengertian itu, barangkali kita bisa memahami bahwa tulisan yang ada di halaman yang diajukan oleh Donny B.U. itu bukan sebuah simplifikasi kenyataan (seolah anonimitas itu pasti akan pasti digunakan untuk kebaikan), tapi memang orang itu diasumsikan menyampaikan / melakukan sesuatu secara anonim karena didasari sebuah itikad baik, bukan untuk suatu kejelekan, namun isinya mungkin dikhawatirkan akan mengancam sense of personal security orang yang menyampaikannya.

Poin penting dari halaman tentang anonimity itu :

“These long-standing rights to anonymity and the protections it affords are critically important for the Internet. As the Supreme Court has recognized, the Internet offers a new and powerful democratic forum in which anyone can become a “pamphleteer” or “a town crier with a voice that resonates farther than it could from any soapbox.”

Sayangnya memang, tidak ada yang bisa memastikan bahwa anonimitas itu selalu digunakan dengan itikad baik. Bila itu dilakukan dengan itikad baik, apapun variasi bentuk dari perilaku anonim di dunia virtual, semoga itu adalah sebuah bentuk dari penggunaan Internet yang “sehat”.

Dan Insya Allah, saya selalu memiliki itikad baik.

Bagikan pada media sosial :