# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2570

Bayangkan ini terjadi di sebuah milis (mailing list) – dan memang benar-benar terjadi :

  1. Seseorang dengan rajinnya selalu mengirimkan informasi yang ada pada situs-situs Internet tertentu ke sebuah milis. Yang dilakukan sebenarnya hanya copy / paste saja. Secara umum bisa dikatakan informasi yang dia kirimkan ada gunanya untuk semua anggota, meski tidak selalu benar-benar relevan dengan konteks riil seorang anggota.  Di tengah-tengah ia melakukan itu, milis tiba-tiba ramai oleh diskusi dengan thread lain. Sebegitu ramainya sehingga balas-membalas email menjadi sangat intensif. Orang yang biasanya mem-forward informasi itu tadi, kemudian mengirim email ke milis, mengeluhkan bahwa gara-gara balas-membalas email yang ramai itu maka kiriman informasinya jadi seolah tenggelam, tidak diperhatikan oleh anggota lain. Ujung-ujungnya orang ini marah, merasa tidak dihargai dengan usahanya mengirimkan informasi itu, lalu mengancam keluar dari milis.
  2. Di saat lain, ia (orang yang sama) mengirimkan informasi yang tidak sesuai dengan peruntukan milis. Saya sebagai administratur milis, merespon kiriman emailnya itu dengan tujuan mengingatkan bahwa isi informasi itu salah alamat kalau dikirimkan ke milis ini. Bukannya merasa bersalah, tapi yang bersangkutan membela diri dengan mengatakan (tidak persis seperti ini, tapi kira-kira) “untuk orang yang tidurnya setiap hari hanya 3 jam ditambah dengan mengurus suami dan ibu yang sakit, apa yang saya lakukan itu sudah lumayan”.
  3. Pada saat yang hampir bersamaan, dia mengirim informasi lain ke milis yang sama, yang isinya (lagi-lagi) secara langsung tidak relevan dengan peruntukan milis. Saya reply email itu yang intinya mengajak anggota milis untuk berdiskusi supaya informasi itu jadi relevan dengan konteks / peruntukan milis. Dia emosional lagi. Menanggapi reply saya itu dengan email yang ditulis huruf-huruf besar. Mengancam keluar dari milis. Sampai akhirnya ia benar-benar keluar dari milis.

milisYang terjadi kemudian di milis, banyak anggota menyayangkan bahwa ia akan keluar dari milis, memohon agar ia tetap mengirimkan informasi-informasi itu seperti biasanya karena semua itu ada gunanya. Ada juga yang menyarankan, kalau tetap ingin menerima informasi dari dia, maka keluar saja dari milis lalu ikut bergabung ke milis lain, di mana dia juga melakukan hal yang sama. Di lain pihak, saya sebagai admin jadi fokus pembicaraan anggota-anggota milis  yang  lain. Ada  yang  menyarankan  agar saya bertemu langsung dengan orang ini, meminta saya untuk diam dulu, mengatakan bahwa saya tidak berperasaan … ada yang japri juga agar saya minta maaf, dan ada satu yang mengatakan bahwa saya sebagai admin sombong, juga hujatan lain.

Sebenarnya apakah orang-orang itu mengerti mailing list ? Aneh sekali, saya sebagai administratur milis itu mendadak malah seperti jadi orang yang bersalah (apalagi karena ada yang bilang bahwa saya harus minta maaf). Yang saya lihat, anggota milis sudah terbiasa menerima forward informasi dari orang itu. Memang, sejak orang ini bergabung, tiap hari milis jadi selalu ada email masuk. Lagi-lagi saya ingin katakan bahwa apa yang dia lakukan sebenarnya hanyalah forward dari apa yang sebenarnya ada di Internet. Anggota milis sebenarnya bisa menemukan sendiri informasi itu, kalau tidak dengan search engine, sudah relatif jelas bahwa kalau informasi itu tidak ada di suatu tempat, maka itu bisa ditemukan di tempat lain. Maka, apakah berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa yang dilakukannya selama ini itu pada kenyataannya telah membuat anggota milis malas mencari informasi sendiri ? Bukan hanya malas, barangkali malah jadi kurang terampil menggunakan search engine!

Sebagai admin, saya lah yang membuat mailing list itu 14 tahun yang lalu. Selama itu saya juga mengikuti seratusan lebih mailing list lain, juga menjadi admin dari puluhan milis lainnya lagi, yang memang tidak selalu ramai, dan cukup banyak yang sekarang menjadi sepi. Saya harus akui bahwa konteks sekarang sudah sangat berubah :

  1. Dulu akses web mahal, maka boleh jadi orang mengandalkan email untuk memperoleh informasi.
  2. Dulu relatif sulit mendapatkan akses Internet murah, sekarang sangat banyak orang memiliki modem wireless sendiri.
  3. Dulu tidak ada Internet gratis, sekarang hotspot ada di banyak tempat.
  4. Dulu orang mengakses web harus dari komputer desktop. Sekarang banyak orang punya laptop, modem wireless, dan laptopnya pun langsung sudah ada wifi adapternya. Bukan hanya dengan laptop, orang sekarang bahkan bisa melakukannya dengan smartphone atau tablet.
  5. Sama halnya, dulu orang menerima, mengirim, dan membaca email harus melalui komputer. Sejak ada Blackberry dengan push emailnya, kini email hampir sama saja dengan SMS.

Semua sudah tahu bahwa tingkat kepemilikan perangkat-perangkat yang bisa mengakses Internet semakin meningkat dari waktu ke waktu. Laju peningkatan itu di Indonesia barangkali sangat hebat, tapi nampaknya banyak orang itu jadi tidak kritis. Common sense yang mereka punya tentang Komunikasi menggunakan perangkat-perangkat itu hanya didasarkan pada perkiraan saja. Mereka ini terutama saya duga adalah adopter Internet ketika social media sedang booming, termasuk juga ketika Blackberry sedang booming di Indonesia. Saya bisa mengatakan ini karena sebagai admin saya kerap menemukan :

  1. Email yang dikirim tanpa subject
  2. Mengirim email ke milis tanpa footer yang menunjukkan identitas jelas si pengirim email
  3. Me-reply email dari mode digest dengan tidak mengubah subject
  4. Subject email tetap sama, tapi isinya adalah thread baru
  5. …. dan lain-lain

Mereka tidak tahu bahwa perilaku mengirim email seperti itu ke mailing list adalah salah. Barangkali bukan hanya tidak tahu, mungkin juga tidak mau diberitahu karena tidak jarang itu terulang-ulang lagi. Maka yang saya bayangkan dalam kasus di atas tadi adalah, jumlah para newbies itu begitu banyak, lalu sudah terbiasa menerima suapan informasi setiap hari. Memang informasinya tidak selalu langsung relevan dengan konteks yang dihadapi secara riil tiap hari, tapi barangkali ada pikiran, … “ya untuk menambah pengetahuan”. Yang penting barangkali adalah kiriman email itu isinya tidak menyinggung orang lain, tidak peduli bagaimana email itu dikirimkan. Saya duga orang-orang seperti inilah yang terlalu cepat menilai keadaan dan membuat suasana seolah-olah saya sebagai admin yang salah.

BTW, di Twitter (@ttpra) saya menulis : “Mata orang bisa gelap & tdk bisa melihat kesalahan apapun pada orang lain yg sudah dipersepsi memberikan manfaat bagi dirinya …”

Saya bahas tiga kejadian yang saya uraikan di awal tadi :

  1. Milis itu demokratis. Semua orang boleh mengirim email ke milis. Termasuk berbalas-balasan email di milis. Kalau seseorang membuat thread diskusi lalu thread-nya “tenggelam” karena thread lain, itu sama sekali tidak berarti orang (atau orang-orang) yang ramai mendiskusikan thread lain itu jadi bersalah, atau tidak menghargai thread yang dikirimkan seseorang.
    Dalam kasus ini informasi yang biasa dikirimkan ke milis itu konon adalah hasil dari susah payah. Kalau ternyata informasi yang dikirimkan itu tidak dibicarakan, tidak didiskusikan oleh anggota milis, ya itu berarti informasi itu tidak discussable, atau barangkali malah informasi itu tidak relevan, tidak ada gunanya, atau juga tidak menarik bagi anggota milis. Tidak mungkin seseorang memaksa orang lain untuk diam saja pada milis atau memaksa agar semua membicarakan sebuah thread tertentu.
    Apa yang  harus kita  katakan ketika orang  ini marah, bahkan  mengancam keluar dari  milis ? Ketika itu masalahnya memang reda sendiri, tapi seperti tidak ada pembelajaran bahwa pada mailing list orang tidak boleh seperti itu, maka nampaknya ada sikap yang tidak berubah, yang boleh jadi masih melandasi kasus berikutnya.
  2. Milis adalah forum diskusi melalui email dengan topik tertentu. Kalau email yang dikirimkan tidak sesuai dengan topik milis, maka itu disebut Out of Topic (OOT). Ada milis yang tidak memperkenankan posting OOT, ada juga yang membolehkan pada kondisi tertentu. Akan tetapi pada umumnya admin perlu mengingatkan orang yang posting OOT. Dalam kasus ini, mengapa dia harus defensif ? Jelas sekali dia tidak tahu apa itu hakikat mailing list, tidak peduli betapa besar usaha dan pengorbanan yang sudah dia lakukan untuk mem-forward informasi itu.
  3. Kadang-kadang sebuah posting tidak 100% OOT, maka diskusi pada milis harus dihidupkan untuk membuat informasi pada posting itu kontekstual dengan topik milis. Itulah yang saya lakukan dengan me-reply emailnya dan mengajak diskusi anggota lain. Tapi ketika saya melakukan itu, mengapa dia harus marah-marah ? Lagi-lagi ini sebuah bukti bahwa dia tidak tahu apa itu mailing list.

Di antara marah-marahnya itu dia juga mengatakan bahwa yang dia lakukan ini adalah “pelayanan informasi”. Di saat lainnya saya juga membaca bahwa dia ingin menunjukkan bahwa itu semua dilakukan dengan usaha dan pengorbanan tertentu. Bukankah ada yang aneh di sini ? Seolah-olah seperti ada mandat tertentu yang telah diberikan pada dia untuk berjibaku melakukan semuanya. Di satu sisi hampir semua informasi yang dia kirim itu adalah forward dari apa yang sudah ada di web (dan bisa kita temukan sendiri), di sisi lain tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengharuskan dia melakukan semua itu (meski dengan segala usaha dan pengorbanannya !). Saya kira, dengan berlatarbelakang sikap itu, mailing list selama ini telah dibajak oleh dia untuk aktualisasi kepentingannya sendiri.

Saya harus tulis ini sebagai sebuah testimoni: bahwa transisi Komunikasi dari oral ke bentuk yang digital pada era Internet ini boleh jadi terlalu banyak hanya menyangkut adopsi pada alat / perangkat Komunikasinya. Ada orang-orang yang mau belajar menyesuaikan diri, tapi ada yang tetap keras kepala. Orang harus tahu bahwa pada modus Komunikasi tertentu di Internet, ada konvensi yang harus diperhatikan.

Bagikan pada media sosial :