# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 950

Hari ini datang seorang mahasiswi ke ruangan saya, ingin mengkopi sebuah flash disk temannya ke flash disknya sendiri. Dia minta maaf sebelumnya karena katanya isinya sangat penting dan berhubungan dengan tugas yang ia harus kumpulkan hari itu. No big deal, kata saya dalam hati. Ya sudah, saya lakukan permintaan dia. Tapi karena saya sudah punya pengalaman dengan memasang flash disk lebih dari 1 dan salah satu flash disknya jadi rusak, maka saya tidak berani langsung memasangkan dua flash disk itu. Yang saya lakukan adalah, mengkopi dulu isi flash disk source ke hard disk, baru nanti dari harddisk dikopikan ke flash disk target.
Urusan sederhana itu selesai, tapi yang tidak sederhana adalah ketika dia pergi dan tidak meminta saya untuk menghapus file-file yang ada di komputer saya. Iseng, saya lihat-lihat file apa saja yang ada. Memang banyak file-file dokumen tugas, MP3, dan beberapa TXT. Tapi yang membuat saya terkejut adalah ada sebuah folder, namanya hanya “New Folder” saja tapi isinya itu lho! Ada beberapa puluh JPG gambar-gambar porno dan beberapa video klip pendek tentang, … you know what!
Ini jadi mengingatkan saya pada sebuah email yang harus saya moderasi dulu sebelum masuk ke milis yang saya kelola. Pengirimnya masih agak gaptek dengan email, tapi dia sendiri adalah seorang pejabat sebuah institusi pendidikan tinggi yang kalo orang PTS nggak kenal dia, maka boleh jadi orang itu bisa disebut kurang gaul. Isinya saya sudah lupa, … tapi kira-kira bunyinya “jangan lupa untuk bawa gambar yang bagus-bagus itu ya”. Saya nggak ngeh sama sekali tentang isi email itu, tapi saya jadi tertegun ketika saya dapet cerita dari co-admin saya di milis itu. Ternyata yang dimaksud adalah gambar-gambar porno!
Jauh sebelum itu, kalo saya diminta tolong untuk membetulkan sebuah komputer, saya secara intuitif langsung melakukan search gambar, video, dan musik. Kebetulan saya dimintai tolong seorang teman yang sekretarisnya bermasalah dengan koneksi Internet. Sambil membetulkan apa yang salah, saya multitask dengan search itu. Saya terkejut dan ketawa kecil dalam hati, karena saya menemukan ffile-file yang sama maksud itu. Yang bikin saya ketawa kecil adalah, kalo saya perhatikan si sekertaris (jelas perempuan) nampaknya dia nggak ada potongan untuk terlalu craving ke hal-hal begituan. Tapi kenyataannya kok dikomputernya ada itu ? Saya iseng nanya, apakah ada orang lain yang menggunakan komputer Ibu ? Oh tidak, katanya. Dari sejak beli yang pake komputer ini hanya saya. Nah, lo! Ha, ha, ha.
Saya sebenarnya sama sekali nggak punya masalah dengan ini, karena kita semua berasal dari kecenderungan manusiawi itu. Hanya yang membuat terasa aneh adalah bagaimana kecenderungan itu diapresiasi dan disembunyikan dari kehidupan sosial kita. Ini sudah bukan fenomena baru, hal yang dalam sejarah ilmu pengetahuan sudah pernah dibuat heboh oleh Siegmund Freud. Tapi nampaknya fenomena itu tidak akan pernah bisa mati selama manusia ada di muka bumi.
Kalau tadi saya bilang saya ketawa kecil dalam hati, saya ingin suatu ketika saya bisa ketawa besar dan ngakak. Saya berharap suatu ketika dimintai tolong lagi membetulkan komputer orang, dan orang itu adalah seorang yang religius, atau bahkan seorang fundamentalis radikal. Soalnya, saya ingin menegaskan dalam hati sendiri, bahwa ada yang sama saja di setiap manusia, meski peran sosial, tingkat pendidikan, dan usia berbeda.

Bagikan pada media sosial :