# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4526

Belum sempat saya menuliskan lanjutan untuk entri terakhir, saya sudah harus menuliskan ini. Ini semua gara-gara majalah CHIP. Saya baca edisi terakhir bulan Oktober (atau November?), dan kaget ketika saya buka halaman 111. Ternyata tanggal 7,8,9 November ini akan ada sebuah konperensi internasional tentang CALL alias Computer-Assisted Language Learning. Saya kaget sekali. Bukan apa-apa, ini adalah sesuatu yang selama ini sudah ada dipikiran saya untuk diwujudkan di tempat saya bekerja. Bagaimana mungkin saya tidak tahu sebelumnya tentang ini? Saya sudah cek beberapa mailing list kebahasaan yang saya ikut, ternyata tidak ada satupun yang menyebutkan tentang akan diadakannya event ini. Sialan. Untuk saya baca majalah CHIP.
Saya langsung minta pimpinan Saya untuk memberikan rekomendasi supaya ada yang ikut acara ini. Dan syukurlah saya yang ditunjuk. Acaranya diselenggarakan di Hotel Ciputra Jakarta, dan karena ini adalah event internasional, maka pesertanya dari seluruh dunia. Saya baca menu acaranya, dan judul-judul workshopnya amat sangat menarik. Semua bisa diakses di websitenya Higher Learning.
Ketika saya menulis ini, saya sudah di hari kedua acara. Hari pertama, yaitu tanggal 7 November kemarin, mereka menyebutnya sebagai workshop, tapi ternyata isinya adalah seperti seminar. Anehnya, hari ini, 8 November, mereka menyebutnya konperensi, tapi pada kenyataannya isinya adalah beberapa sesi workshop yang dijalankan secara paralel. Heran, apakah mereka tahu bedanya seminar, workshop, dan konperensi? Whatever, tapi dugaan saya sebelumnya tentang acara ini benar, yaitu semua ini adalah semacam sugar-coated promotion. Promotion ? Ya promosi apa lagi kalau bukan promosi produk-produk yang dijual PT. Higher Learning itu, yang antara lain menjual paket kursus dan peralatan laboratorium multimedia untuk kepentingan pembelajaran bahasa asing.
Ya memang tidak masalah sama sekali kalau pun ini semua adalah sugar-coated. Yang penting niatnya bagus dan bisa disinergikan dengan upaya untuk mencerdaskan bangsa. Dan memang sejauh ini mereka melakukannya dengan cukup elegan. Tapi yang menjadi masalah adalah, ketika saya baca abstrak materi workshop, ternyata beberapa di antaranya ada yang merupakan penjelasan tentang CALL yang berbasis software atau perangkat tertentu yang sifatnya tidak gratis, alias kita harus beli dulu baru bisa menjalankannya. Kalau yang begini, ini sih sudah direct promotion. Maka dari itu saya tidak memilih sesi workshop yang seperti ini.
George ChinnerySejauh ini saya sudah ikut tiga workshop. Satu dibawakan oleh George Chinnery, “The Case for E-language learning and Teaching”. Pembawaannya cukup menarik, intriguing, dan dia tidak setuju dengan penggunaan akronim CALL. Instead, dia lebih suka menggunakan istilah E-Language. Isinya secara keseluruhan adalah tentang fitur-fitur yang ada di Internet sekarang ini yang bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran bahasa asing. Banyak di antaranya yang sudah tidak aneh buat saya; blog, youtube, wiki, … semua sudah biasa saja. Ada beberapa diantaranya yang baru juga, yang saya sekarang saja tidak bisa mengingatnya. Tapi untung saya merekam semua presentasinya secara audio. Nampaknya ada baiknya nanti akan saya upload di suatu tempat.
Yang kedua, Saya mungkin salah memilih sesi. Soalnya isinya hampir sama dengan yang sebelumnya. Hanya memperkenalkan layanan-layanan yang ada di Internet yang bisa diposisikan sebagai media pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Presenternya adalah Mark Pegrum. markBicaranya spontan, tapi terdengar seperti sangat terstruktur. Penampilannya rada gayish, pake anting segala. Judul presentasinya adalah “Web 2.0: Connecting the Local and the Global”. Kalau isinya hanya pengenalan fitur Internet, maka apa bedanya ini semua dengan sekedar the introduction of the current features of Internet? Memang waktunya sedikit, tapi masalahnya adalah, tidak ada elaborasi tentang bagaimana secara riil semua itu bisa diwujudkan dan dengan tujuan pembelajaran spesifik apa yang ingin dicapai, serta bagaimana melakukannya. Hanya memperkenalkan fitur Internet saya kira terlalu mudah, atau mungkin ada semacam underestimation bahwa orang Indonesia mungkin belum tahu apa itu blogging, podcasting, youtube, dan sebagainya ?
Karena alasan itulah maka untuk sesi ketiga saya memilih sesi workshop yang dibawakan orang Indonesia. Seorang guru SMA dari Tangerang, Yuna Kadarisman. Ini saya pikir lebih baik daripada yang lain, yang hanya diam-diam memperkenalkan produk, mempresentasikan kasus di sebuah negara spesifik, atau lagi-lagi sekedar memperkenalkan fitur Internet. Cukup kreatif juga dia. Anak-anak boarding school-nya disuruh bikin filem dengan Windows Movie Maker, dan di dalamnya mereka diminta memainkan peranan dan plot yang semuanya dibawakan dalam bahasa Inggris. Lalu kelompok yang satu dan lainnya di minta untuk menonton dan memberikan evaluasi. Saya tanya, apakah mereka melakukannya dengan spontan? dia bilang ada yang spontan, tapi ada juga yang bedasarkan skrip yang telah dibuat sebelumnya. Saya bertanya dalam hati, di mana poin edukatifnya kalau semuanya sudah dipersiapkan dulu? Bukankah yang namanya public speaking itu mensyaratkan orang untuk bisa berbahasa dengan spontan? Tapi nampaknya yang disasar oleh si Yuna yunaini adalah aspek psikologis. Dia lebih ingin anak-anak didiknya berani bicara. Bukan yang lain: sesuatu yang memang tipikal pada semua konteks pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua, seperti bahasa Inggris. Judul presentasinya adalah “Windows Movie Maker and students’ public speaking assesment”.
Masih ada beberapa sesi workshop lagi yang harus saya ikuti, yang semunya akan saya tuliskan ringkasannya di sini. Yang jelas gara-gara acara ini saya jadi sangat terprovokasi untuk memfasilitasi proses pembelajaran bahasa asing di tempat saya dengan sesuatu yang berhubungan dengan komputer. Apa yang mesti dikatakan ketika kita punya fasilitas dan kesempatan, tapi apa yang seharusnya dilakukan belum dilakukan ?
Memang sangat disayangkan event sebagus ini kurang promosi. Terpikir, kalau saya tidak beli majalah CHIP, mana mungkin saya tahu acara ini ? Dan ternyata Saya adalah satu dari dua saja peserta yang mewakili perguruan tinggi. Sebagian besar peserta adalah guru bahasa Inggris di sekolah menengah. Saya akan tulis lagi tentang ini.

Bagikan pada media sosial :