# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1444

Setelah makan siang di hari kedua ini, masih ada tiga sesi workshop. Well, sama seperti kekecewaan saya sebelumnya pada kedalaman materi workshop, nampaknya sebagian besar workshop yang lain juga begitu. Saya juga masih menggunakan prinsip pemilihan workshop yang sama, yaitu yang penting bukan sugar-coated workshop yang sebenarnya adalah promosi penggunaan produk teknologi tertentu atau workshop yang konteks penerapannya terlalu spesifik. Yang pertama, saya memilih seorang presenter yang ketika coffee break saya ajak ngomong-ngomong. Namanya saya lupa, tapi dia orang Singapur. Temanya adalah soal wacana metakognitif pada implementasi CALL dari sudut pandang anak didik.
Apa yang disampaikannya sebenarnya sederhana, tapi ia menyampaikannya dengan aksen Singapur dan kecepatan bicara yang cukup tinggi, dan dengan elaborasi teknis pedagogi yang lumayan menguras konsentrasi saya. Belum lagi setelah makan siang itu, rasa kantuk menyerang. Intinya adalah bahwa proses pembelajaran bahasa yang menggunakan CALL harus juga menyertakan aspek metakognitif dari implementasinya. Maksudnya, pengajar jangan hanya memberikan perintah untuk melakukan ini itu, tapi tidak dengan penjelasan semua itu untuk apa dan tujuanya apa. Dari penelitian yang ia lakukan untuk membuktikan tesisnya, ia menyimpulkan bahwa anak didik yang mendapatkan deskripsi metakognitif cenderung untuk bisa belajar dengan lebih baik dan berkembang secara mandiri.
Yang berikutnya, saya ikut workshop-nya Yuna Kadarisman lagi. Kali ini dia bawakan yang berjudul : “No Punishment, but get it or you are left behind”. Kali ini dia cerita tentang dirinya sebagai dosendi kelas yang terdiri dari orang-orang tua yang profesinya sudah menjadi guru di sekolah yang levelnya lebih rendah. Murid-muridnya bukan saja belum kenal Internet, tapi bahkan untuk mereka, “Computer is not my thing”, katanya. Tapi dengan satu dan lain cara, akhirnya dia bisa memaksa murid-muridnya itu untuk punya email, mengirim tugas lewat email, dan berinteraksi dengan mereka lewat email.
Yang berikutnya lagi membuat saya kecewa. Amat sangat kecewa. Karena saya berniat mengikuti sebuah sesi yang dari judulnya saja sudah terdengar agak unik, “Viability of Cellphone Based Learning in Pakistan”. Ok, konteksnya sangat spesifik, yaitu di Pakistan, tapi bukankah cukup aneh kedengarannya kalau kita bayangkan bahwa dengan telpon selular kita akan belajar bahasa Inggris ? Tapi sayangnya, pembicaranya tidak datang. Entah semua orang sudah pada tahu atau mereka nggak ngeh dengan keunikan judulnya, yang jelas ketika saya masuk ke kelasnya, hanya ada tiga atau empat orang saja yang menunggu. Sampai akhirnya saya sendiri keluar dari kelas itu karena si pembicara tidak kunjung datang.
Saya keluar, dan masuk ke sesi yang saya pikir mungkin lumayan menarik, tapi lagi-lagi saya salah masuk. Saya masuk ke sebuah kelas yang membicarakan soal blogging. Si pembicara adalah si cantik Penelope Coutas, tapi siapa sih di hari ini yang belum tahu blogging? Apakah dia menganggap audience belum tahu sama sekali tentang blogging, atau karena sudah terlanjur ya jalan saja? Hmm, mudah-mudahan saja memang audience banyak yang belum tahu blogging. Tapi anywa, lumayan. Apa yang disampaikannya cukup membuat saya terprovokasi. Rasanya saya sudah melakukan apa yang dia lakukan, tapi barangkali belum dengan mindset dan semangat seperti yang dia punya.
Menurut jadwal acara, sesudah tiga sesi itu adalah gala dinner, tapi tempatnya bukan di hotel itu. Informasi dari panitia tidak seragam. Ada yang bilang semua peserta boleh ikut dan tidak usah membayar lagi, tapi ketika saya sampai ke lobby dan ikut menunggu bis jemputan ke tempat dinner, saya dapat informasi lain bahwa yang bisa ikut dinner adalah para presenter dan mereka pun akan harus membayar lagi. Duh, tahu begini sudah dari tadi pulang.
Semua acara hari ini saya buatkan rekamannya dalam bentuk audio. Nampaknya kalau saya publikasikan somewhere, dikasih tag, pasti akan ada orang menemukannya dan akan laku untuk di-download. Saya lakukan itu semua, kecuali untuk si Penelope, karena saya datang telat ke workshopnya.

Bagikan pada media sosial :