# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2953

Apalah artinya sebuah nama. Kita semua pernah dengar ungkapan itu. Barangkali juga sama, ‘apalah artinya sebuah istilah’. Akan tetapi saya kira masalahnya tidak sesederhana itu bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang bahasa dan / atau keilmuan. Terminologi berfungsi sebagai sarana kebahasaan untuk menunjuk benda / konsep, yang kongkrit maupun yang abstrak dan memiliki implikasi untuk membuat perbedaan (distingsi) dengan yang lainnya. Sayangnya, bahasa itu sendiri adalah realitas yang fluid, dinamis, berubah terus, dan pengguna bahasa bisa memperlakukannya tanpa referensi normatif pada sistem kebahasaannya. Untuk itu, sebagai sebuah fenomena, ‘penggunaan bebas’ dari bahasa adalah penekanan pada fungsi komunikasinya, tapi dalam kaitannya dengan sebuah sistem kebahasaan, apalagi identitas budaya, barangkali itu bisa mengarah pada sebuah distorsi.

smIni adalah tentang frase yang akhir-akhir ini menjadi perhatian saya: Social Media. Pengertiannya menunjuk ke segala macam produk berupa aplikasi web yang memungkinkan penggunanya melakukan interaksi via Internet. Hasil dari interaksi itu membuahkan hasil yang disebut UGC atau User-Generated Content. Orang langsung menghubungkan itu dengan apa yang disebut Web 2.0, seperti yang didefinisikan oleh Wikipedia. Dari situ kita bisa meraba, ketika zamannya Web 1.0 sudah disadari bahwa content adalah hal yang paling penting dari sebuah sajian di Internet. Maka pengkaitannya dengan konsep user-generated content seperti sekilas mau mencoba memecahkan apa yang pada era sebelumnya menjadi masalah. Untuk itu, yang dipikirkan adalah bagaimana merekonstruksi sebuah platform yang memungkinkan interaksi seperti itu terjadi. Itulah yang ada di benak orang-orang yang ingin bikin trend  baru di jagat Internet ini.

Yang saya masalahkan adalah penggunaan kata social itu. Bagi saya, segala sesuatu yang disebut sosial adalah di mana terdapat sebuah medan interaksi di mana antara dua manusia (atau lebih) tanpa perantaraan medium apapun berada dalam potensi untuk berhubungan satu sama lain, yang dalam akumulasinya bisa membentuk satuan-satuan sosial hingga ke bentuknya yang paling besar yaitu masyarakat. Yang paling penting dari pengertian yang sosiologis ini adalah tidak adanya medium itu. Manusia berhubungan satu sama lain tanpa perantara, alias secara tatap muka: sebuah kemampuan manusia yang sifatnya primordial sekali.

Dengan perkembangan Internet, maka orang mengetahui bahwa interaksi ternyata dapat dilakukan juga melalui medium ini, namun dengan pengertian yang sedikit berbeda karena interaksi tersebut dilakukan melalui perantaraan komputer (atau alat apapun yang bisa mengakses Internet) sebagai mediumnya. Oleh karena itu saya memahami kata virtual sebagai sebuah analogi dari kata social dalam konteks ini. Maksudnya, bila interaksi terjadi dalam konteks tatap muka maka istilahnya adalah sosial, namun bila itu terjadi pada ranah Internet, istilahnya adalah virtual. Ini sesuai dengan yang didefinisikan Wikipedia untuk kata virtual.

Dengan cara saya memahami sosial dan virtual itu, maka segera terjadi disonansi manakala saya menyimak pengertian Social Media. Terutama bila yang diunjuk adalah semua yang ada di Internet. Pertanyaannya: mengapa itu disebut social sedangkan interaksinya terjadi melalui Internet ?

Reaksi gampangnya adalah dengan mengatakan bahwa itu sebuah frase yang dibuat tanpa melihat koherensinya dengan sejarah dan konotasi kata social sebelumnya. Tapi apakah mungkin juga mau dikatakan bahwa kata “social” pada frase itu adalah konotatif / kiasan ? Boleh jadi mungkin, saking hebohnya bentuk-bentuk social media itu maka efeknya seolah-olah seperti Interaksi Sosial ? Atau kita mau memahaminya dengan mencerna bahwa perkembangan teknologi ini ternyata secara nyata telah memperluas pengertian kata sosial sebelumnya ? Atau lagi, apakah dinamika perkembangan yang terjadi pada social media itu benar-benar telah mengantarkan para penggunanya untuk akhirnya bisa berinteraksi secara langsung dalam konteks tatap muka atau menginisiasi dampak yang terjadi di dunia nyata ?

Bagaimana seharusnya kita memahami ini ? Sekali lagi ini hanya istilah, tapi discourse tentang ini bisa punya implikasi ke pemahaman-pemahaman lainnya. Tapi bagi saya sementara ini begini: “apakah ke depannya Sosiologi mau dicanangkan masuk ke sebuah konteks di mana yang kita hadapi adalah sebuah layar komputer ?”

Bagikan pada media sosial :