# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 54047

Semua orang yang sudah terbiasa menggunakan baterai rechargeable mungkin sudah tahu ini. Saya menuliskan ini sekedar menambahkan testimonial saja. Kalau mungkin ada yang belum tahu, semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Ketika tiba saatnya tugas luar kota dengan membawa cukup banyak peralatan elektronik, maka yang pertama terlintas di pikiran saya adalah soal baterai. Tugas luar kota saya terakhir misalnya, membuat saya harus membawa 2 kamera digital, 1 GPS, 7 buah handy transceiver, dan beberapa yang kecil lainnya seperti senter atau shaver. Semua relatif aman dengan baterai biasa yang sekali pakai lalu dibuang. Tapi kalau saya memakai baterai biasa itu, maka bencanalah yang terjadi! Ini bukan hanya soal bencana buat dompet, tapi yang terpenting adalah soal kesiapan perangkat ketika dibutuhkan. Masalahnya adalah, saya pergi dengan kendaraan yang diperlengkapi AC. Pengalaman menunjukkan, bahkan bila semua peralatan itu tidak dipakai selama perjalanan, ketika sampai tujuan, semuanya benar-benar tidak bisa dipakai karena daya baterai-nya habis total!

Solusi untuk ini tentu saja adalah baterai yang bisa diisi ulang alias rechargeable battery. Sejak awal tahun 2000an saya sudah menggunakannya dengan berbagai merek, tapi yang paling sering saya beli adalah dari Sanyo. Setiap ada baterai Sanyo dengan ampere yang sanyo 2700 lebih besar, saya pasti beli. Ini sudah dari mulai yang 1100mAH, hingga yang terakhir, yaitu 2700mAH. Tentang baterai Sanyo ini, saya punya pengalaman buruk dengan yang ampere-nya 2500. Ketika itu saya sedang butuh banyak, lalu saya pun beli banyak. Saya heran, kenapa si 2500 ini ada yang cepat habis, ada yang biasa-biasa saja. Juga saya alami, kalau selesai di recharge, dan tidak segera digunakan, maka dayanya akan hilang entah kenapa. Belakangan saya tahu dari beberapa pengguna lain, ternyata Sanyo 2500mAH adalah produk gagal. Ternyata yang saya alami mendapatkan konfirmasi dari pengguna lain, terutama bila baterai-nya di recharge dan tidak segera digunakan. Lebih parah lagi tentu kalau baterai itu mesti terekspos AC di kendaraan. Saya pernah coba tanyakan ini ke penjual baterai langganan, dia bilang memang betul, bahkan ditambahkan, hal ini berlaku tidak hanya untuk merek Sanyo, tapi untuk merek lainnya yang ampere-nya 2500. Sekarang, katanya lagi, Sanyo 2500 itu sudah diperbaiki dan yang lama sudah ditarik dari peredaran. Wah, saya coba lihat Sanyo 2500mAH yang katanya baru itu, ternyata bentuk dan tulisannya sama persis. Bagaimana kita bisa tahu bahwa itu adalah Sanyo yang baru atau yang lama? Ketika itu saya bertahan menggunakan Sanyo 2100mAH. Lalu ketika keluar yang 2700mAH, saya coba, dan yang kejadian di 2500mAH itu tidak saya alami.

case-eneloop Sebenarnya ketika saya menggunakan 2500mAH, saya sudah melihat ada baterai merek lain, yaitu Eneloop. Saya bahkan tidak tanya harganya karena melihat merek-nya saja kok aneh, lagian ampere-nya hanya 2000 saja. Tapi dua minggu lalu, sebelum tugas luar kota, saya menyempatkan diri untuk mengamati Eneloop itu. Saya sanyo_eneloop_2 kaget, ternyata baterai ini juga keluaran Sanyo! Lalu apa bedanya? Yang pertama saya tahu adalah harganya. Sangat mahal! Untuk empat buah dalam satu paket, harganya adalah Rp 123.600,- Berarti per satu buahnya adalah Rp 30.900,- Si penjual bilang bahwa baterai ini akan hanya berkurang sedikit saja kapasitasnya bila setelah di recharge didiamkan untuk waktu lama. Lalu saya lihat dibalik kemasannya. Di situ tertulis “performa tetap handal meski pada suhu rendah”. Voila! Apa benar ini? Kalau benar, inilah baterai yang saya cari selama ini. Dan kemarin saya sudah membuktikan itu. eneloop

Suhu kendaraan yang saya gunakan lumayan adem di siang hari, dan menjadi amat sangat dingin ketika malam. Selama di perjalanan kendaraan berhenti beberapa kali, dan di setiap pemberhentian itu saya memotret dengan kamera yang menggunakan Eneloop 2000mAH. Ternyata sampai di tujuan, si kamera tetap bisa digunakan. Bahkan sampai satu setengah hari ke depannya. Saya hitung, ketika hari kedua saja, saya sudah memotret sebanyak 408 kali (kamera saya Canon S2 IS). Untuk perbandingan dengan perangkat lain, saya juga gunakan baterai ini untuk sebuah handy transceiver merek Icom IC-V8 dan sebuah Icom IC-2G. Yang V8, baru habis setelah 2 hari digunakan intensif, sedangkan yang 2G, karena hanya dinyalakan kalau dibutuhkan, selama seminggu bahkan sampai hari ini masih jalan!

Orang bilang harga tidak bohong. Ya, itu kalau produsennya jujur dalam hal kualitas. Well, saya mau bilang bahwa baterai Eneloop ini memang sangat OK dan saya menganjurkan agar anda menggunakannya. Oh iya, sempat ada omongan dari penjual bahwa bila baterai ini digunakan pada kamera digital maka akan ada jeda sebelum kamera siap untuk jepretan berikutnya. Saya pikir itu wajar, dan saya juga mengalami hal itu pada Sanyo 2700mAH. Nah, yang belum saya coba adalah me-recharge baterai Eneloop ini sampai penuh lalu membiarkannya di tempat penyimpanan sampai satu tahun, sampai tugas luar kota berikutnya. Apakah betul selama setahun kapasitasnya dari 100% bisa hanya berkurang sampai 85%?

Tambahan: Ketika saya membeli Eneloop 2000mAH itu, saya melihat ada baterai Sanyo 5400mAH. Itu adalah baterai palsu. Yang paling tinggi dari Sanyo sekarang ini adalah 2700mAH.

Bagikan pada media sosial :