# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 6282

bw Tadinya saya pikir frase “perang browser” adalah semacam hiperbolisme jurnalis komputer Indonesia yang sudah mulai ikut-ikutan bahasa bombasnya reporter sepakbola. Tapi ternyata saya salah. Ternyata frase itu memang ada. Ada pula sejarahnya. Memang “perang” itu ada, meski tentu saja pengertiannya adalah kiasan.
Dari yang saya baca di Wikipedia, ternyata yang memulai semua ini adalah Microsoft, yang ketika itu bersaing dengan Netscape. Sebuah momen simbolis yang menurut saya menjadi tonggak awal ini semua adalah ketika bulan Oktober 1997, pada peluncuran Internet Explorer 4.0, para pegawai Microsoft membuat logo huruf ‘e’ raksasa setinggi tiga meteran. Ketika pesta peluncuran itu usai, logo Internet Explorer itu ditaruh di halaman muka kantor Netscape dengan kata-kata: "From the IE team … We Love You". Ketika keesokan paginya para pegawai Netscape melihat itu, si logo langsung dihancurkan, dan diganti dengan logo raksasa Mozilla, disertai tulisan: "Netscape 72, Microsoft 18", yang menunjukkan tingkat perbandingan distribusi browser saat itu yang memang sedang dimenangi Netscape.
Ini bergulir terus sampai akhirnya memang Netscape kalah, karena ketika itu Internet Explorer adalah software yang sudah embedded pada sistem operasi Windows. Ini pula yang akhirnya menjadi pemicu lembaga Antitrust di Amerika untuk mengedepankan poin monopoli usaha pada Microsoft. Karena ini saya jadi paham sekarang, kenapa penyertaan Internet Explorer pada Windows selalu diungkit-ungkit, sampai akhirnya memaksa Microsoft untuk mengeluarkan edisi Windows tanpa browser. Kenapa software kalkulator, defrag, notepad, sound recorder, dan yang lainnya tidak diperlakukan sama dengan browser?
Hasil dari chat diskusi dengan seorang teman membuat saya berkesimpulan; bila dalam suatu produk ada komponen yang sebenarnya bisa disubtitusi oleh komponen lain dari perusahaan lain, maka seharusnya si produsen memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memutuskan komponen mana yang akan dipilih. Apalagi kalau ternyata perusahaan lain itu juga sama-sama berorientasi bisnis. Dengan argumentasi ini jelas Microsoft mendapat tekanan untuk mengeluarkan IE. Pada Windows 7 yang ditujukan untuk masyarakat Eropa, misalnya, namanya adalah “Windows 7 N”, yang artinya tanpa Internet Explorer dan Media Player. Saya tidak mendengar ini pada versi-versi Windows sebelumnya. Dengan keluarnya versi N, apakah berarti Microsoft kalah dari gugatan yang diajukan Joel L. Klein sebagai penuntut utama itu ? 
Dengan bisa lepasnya IE dari Windows, saya pikir perang browser seolah mendapat motivasi baru. Karena kini sekurangnya pada platform Windows dalam kondisi default, user diberi kebebasan memilih (meski tidak di semua wilayah di dunia). Tapi apakah akan bisa sebebas itu? Saya bertanya ini karena bisa saja Microsoft akan mengembangkan browser-nya sedemikian lekat terkait dengan Windows. Bisa saja nanti akan ada desktop experience yang tidak akan diperoleh user manakala browser yang digunakan pada Windows bukan IE. Atau apakah ini sebenarnya sudah dilakukan ? Salah satu settlement kasus ini adalah agar Microsoft men-share Application Programming Interface (API) kepada developer lain. Sejak itu (tahun 2001) rasanya saya tidak menyaksikan adanya versi Windows yang dihilangkan browser atau media player-nya, tapi kenapa sekarang bisa ada versi N itu ? Apakah ini berarti Microsoft telah terindikasi melakukan langkah lebih jauh sehingga sampai-sampai settlement-nya sekarang adalah mengeluarkan kedua software itu dari Windows ? Terus terang saya kurang periksa soal ini.
Tapi di sini saya menduga, Google belajar dari keadaan ini. Makanya Google mengembangkan sebuah sistem operasi yang namanya sama dengan browser yang mereka buat; Google Chrome (sekurangnya dari informasi terakhir yang saya dapatkan dari majalah CHIP). Kesamaan nama ini amat sangat menarik: apakah sistem operasi itu dikembangkan di seputar kapabilitas browser yang ada di dalamnya? Atau apakah penamaan ini sebuah strategi supaya sejak awal tidak akan terkena tuntutan lembaga Antitrust dengan tuduhan monopoli? Karena bisa saja ada argumentasi dari Google bahwa sistem operasinya “tidak mungkin” menggunakan browser lain. Entahlah, kita harus menunggu sampai bisa mencicipi langsung sistem operasi open source itu.
Di luar ini semua, saya mempertanyakan apa sebenarnya yang menjadi motivasi “perang” itu ? Apakah kenangan masa lalu karena pegawai MS mengolok-olok Netscape? Atau semacam kebanggaan kelompok akan produk yang mereka hasilkan? atau karena Microsoft itu terlalu besar, sehingga dominasinya ingin di-counter dengan semangat anti-hegemoni? Masalahnya adalah, berbeda dengan dulu, kini semua browser ditawarkan secara gratis pada publik. Untuk apa ada persaingan antar developer sebuah software, manakala software itu nantinya bisa diunduh secara gratis oleh seluruh umat manusia? Ada kepentingan apa untuk menjadi browser yang paling banyak digunakan oleh pengguna Internet?
Ini yang belum dijelaskan di mana pun. Sekurangnya saya tidak menemukan hasil search tentang ini. Untuk itu tulisan ini saya lanjutkan pada bagian lain: “Tentang Browser: Akumulasi Data Pada Skala Global?” – sebuah jawaban hipotetik pada pertanyaan saya sendiri.

Bagikan pada media sosial :