# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2994

globalinventory Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan: “Apakah sekarang ini kita menghadapi suatu masa di mana kecenderungan perilaku kita dengan komputer dan Internet masuk ke dalam sebuah inventori besar, amat besar, dan itu berada di suatu pihak yang akan memanfaatkannya untuk kepentingannya sepihak, atau mungkin menjualnya ke pihak lain untuk, misalnya, kepentingan periklanan” ? Sudah beberapa minggu saya memikirkan ini. Ada beberapa kondisi yang saya pikir bisa menjadi latar belakang yang mengarah pada munculnya pertanyaan itu, antara lain :

  1. Kualitas Koneksi Internet semakin meningkat dan murah. Tren dewasa ini yang ditandai dengan maraknya koneksi wireless yang unlimited akan terus mengalami evolusi, baik melalui persaingan tarif antar operator maupun melalui masuknya perangkat dengan teknologi baru. Hal yang sama juga terjadi pada koneksi yang wired. Semakin banyak pilihan bagi publik untuk kemurahan, kemudahan, dan kecepatan koneksi.
  2. Semakin banyak orang yang memiliki kebutuhan untuk online. Kata-kata Negroponte semakin menjadi kenyataan: “Computing is not about computers anymore. Its’s about living”. Kalau hari ini kita menyaksikan Facebook telah menjadi pemicu bagi adopsi massal Internet, ke depannya, bisa jadi ada inovasi-inovasi baru yang membuat penetrasi Internet semakin jauh dalam kehidupan banyak orang.
  3. Adanya tekanan yang semakin besar dari BSA (Business Software Alliance) kepada berbagai pihak untuk menggunakan software yang legal / licensed. Masuknya Indonesia pada pakta perdagangan bebas akan menimbulkan tekanan yang lebih kuat dalam hal ini, yang pada gilirannya memaksa pemerintah untuk lebih meng-enforce berbagai aksi yang berkaitan, mulai dari razia penjualan software bajakan, razia penggunaan software yang tidak sah pada kantor-kantor pemerintah, instansi pendidikan, bisnis, dan pihak-pihak swasta.
  4. Harga komputer portabel yang semakin murah dan kompetitif. Kita lihat sendiri ada banyak neologi yang merefleksikan perkembangan di sini. Mulai dari Laptop, Palmtop, Nettop, Portable Media Device, dsb. Portabilitas sedemikian menarik sehingga first internet adopter boleh jadi akan cenderung memilih perangkat ini daripada komputer desktop.
  5. Semakin banyaknya situs internet yang memberikan layanan-layanan online, yang semula fungsinya hanya bisa didapatkan user melalui software yang diinstal pada harddisk. Layanan cloud computing ini membuat user hanya memerlukan komputer, koneksi Internet, dan browser untuk mengakses layanan-layanan tersebut. Untuk keperluan Office misalnya, orang mungkin akan menggunakan layanan Google Docs, bukan Microsoft Office; untuk mengedit gambar orang akan menggunakan myimager, pixlr, atau snipshot; untuk mengedit video bisa digunakan jaycut atau moviemasher; untuk musik bisa pakai splicemusic; dan masih banyak lagi yang sekarang sudah ada dan akan muncul nanti.

Bila disatukan, maka skenarionya adalah, ketika semakin banyak orang ditekan agar tidak menggunakan software yang tidak sah untuk menangani pekerjaan sehari-hari dan pada saat yang sama koneksi Internet telah mencapai kecepatan yang cukup tinggi, lalu bersamaan pula dengan telah tersedianya begitu banyak layanan cloud computing, maka orang akan lebih menggunakan layanan ini ketimbang menginstal software sendiri. Sementara itu kita tahu bahwa ‘medium’ antarmuka cloud computing itu sendiri adalah browser. Bila ini terjadi, apakah “perang browser” jadi mendapatkan pemaknaan baru? Atau sekedar ‘pemahaman baru’ karena sebenarnya para pengembang browser sudah dari dulu punya visi ini ?
Maksud saya, bila mungkin “perang browser” sebelumnya diwarnai oleh ingroup sentiment para pembuatnya, rebutan ceruk pengguna, atau apapun yang orientasinya straight business, maka kini ‘perang’ itu berarti adalah ajang rebutan entry untuk sebuah inventori pengguna dalam skala global seperti yang saya sebutkan di awal tadi. Bagaimana itu bisa dimungkinkan ?
Sekarang memang cloud computing belum mewabah, sehingga barangkali signifikansi browser belum bisa ditarik ke wacana ini, tapi bukahkah dari sekarang pun kita sudah mengetahui bahwa melalui browser yang kita gunakan, orang lain bisa sekurangnya mengetahui :

  1. Jenis browser dan versinya
  2. Sistem Operasi yang digunakan
  3. Riwayat browsing, melalui cookies
  4. URL yang sedang diakses
  5. Lokasi geografis melalui IP tracing

tracing Itu semua adalah yang potensial bisa diketahui “orang lain” bila ia melakukan tracing pada kita. Pertanyaanya adalah, apa saja yang bisa dilakukan si pembuat browser, atau bahkan, si pembuat sistem operasi yang digunakan? Tentu saja lebih banyak dari itu! Sekurangnya saya mendapat gambaran tentang ini melalui apa yang dilakukan Microsoft dengan Windows Genuine Advantage (WGA). Melalui scanning yang dilakukan secara acak dengan periode dua minggu sekali, Microsoft bisa mengetahui mana saja komputer yang menggunakan Windows bajakan. Kalau memang dinyatakan bajakan, maka tanpa sepengetahuan kita melalui Internet Microsoft akan mengaktifkan sesuatu pada komputer kita sehingga komputer akan mengeluarkan warning: “You might be the victim of software counterfeiting”, lalu tinggal menunggu waktu sampai akhirnya komputer tersebut (sistem operasinya) akan tidak bisa digunakan sama sekali. Ini artinya, si pembuat sistem operasi bisa “menanam” program tertentu yang ketika kita sedang online, program itu mengirimkan data tertentu tentang kita ke pembuatnya, tanpa kita sadari.
Di sini kita tanyakan dulu, apakah kita bisa selalu percaya pada klaim yang menyatakan bahwa data tentang user (atau data apapun lainnya) tidak akan disampaikan ke pembuat software, pengelola situs yang kita kunjungi, atau pemilik layanan online yang sedang kita gunakan?
Bila kita bayangkan semua data itu dalam skala global diakumulasikan, dibuat klasifikasi, dihitung statistiknya, ditafsirkan per klasifikasi, maka bukankah ini informasi yang luar biasa maknanya untuk kepentingan bisnis? Di sinilah tempatnya saya ingin menyampaikan duga-duga saya, apakah cara berpikir ini sudah melatarbelakangi “perang browser” sejak awalnya, atau ini merupakan sebuah wacana baru yang merevitalisasi semangat “perang browser”? Karena, persaingan di sini berarti menjadi browser yang paling banyak digunakan secara massal, dan sekaligus berarti menjadi pintu bagi masuknya data para user untuk sebuah global inventory itu.
OK, barangkali apa yang akan terjadi tidak akan selinier seperti yang saya jelaskan di sini, tapi sekurangnya apakah kondisi 1 hingga 5 yang saya uraikan di atas pernah kita temui kecenderungannya untuk menurun?
android Lalu dari wacana ini, bagaimana kita mesti menafsirkan akan munculnya sistem operasi Google Chrome? Ya, saya belum tahu bakal seperti apa, tapi mengapa namanya sama dengan browser yang sekarang ini sudah beredar? Apakah itu sebuah sistem operasi dengan dasar pengembangan dari browser? Atau sebuah sistem operasi yang memberikan optimalisasi pada unjuk kerja browser di dalamnya? Dalam kaitan ini, saya sempat terkejut karena ternyata ada orang yang berpikiran hampir sama. Ia adalah Andreas Constantinou, yang tulisanya ada di sini. Tapi ia menulis tentang Google Android, sebuah sistem operasi open source untuk perangkat bergerak, bukan untuk komputer konvensional yang saya maksudkan di sini (komputer desktop, laptop, nettop). Ia menulis tahun 2007, saat di mana mungkin sistem operasi Google Chrome sudah mulai dikembangkan, tapi beritanya belum dilansir pada saat itu. Persisnya yang bikin saya terkejut adalah ia menggunakan kata yang sama saya gunakan: inventory, meski ia menyampaikannya dengan hiperbola: Google is not an internet search firm. It’s a broker of advertising inventory. Saya yakin ia tahu seharusnya tidak menuliskannya persis seperti itu untuk menunjuk kenyataan yang mungkin ada.
Nah sekarang bagaimana kita mensikapi ini? Harga yang harus dibayar untuk kemudahan komunikasi?
Security memang sebuah isu penting, tapi siapa yang akan menjamin kita bisa secure dari si pembuat security? atau dari layanan yang mengklaim bahwa kita bisa menggunakannya securely ?

Bagikan pada media sosial :