# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2023

Hubungan antara manusia dengan manusia lain atau dengan lingkungannya pada dasarnya tidak berstruktur, tidak bergradasi. Manusia lah yang membuat struktur atau gradasi itu. Barangkali pada level pemikiran tertentu ini akan menimbulkan kesan bahwa banyak relasi-relasi itu sebenarnya artifisial belaka. Namun di antara peneguhan-peneguhan yang sifatnya adikodrati (atau a-manusiawi), kita mesti mahfum bahwa banyak dari struktur (atau sistem) dan gradasi itu sebenarnya merupakan penegasan dari kemanusiaan kita sejalan dengan usia kemanusiaan itu sendiri, yang telah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan. Pertanyaannya adalah, apakah mungkin masih ditemukan adanya sesuatu yang baru di dalam Kemanusiaan yang telah melembaga itu ?
Itu adalah pertanyaan yang bisa kita ajukan dari ‘luar’. Bila pertanyaan itu kita ajukan dari ‘dalam’, maka bunyinya adalah apakah di antara konsep, institusi, dan kiprah kemanusiaan ini ada jalan keluar bagi rasa sumpek dan jenuh dengan batasan-batasan kemungkinan yang ada ? Saya pikir pertanyaan ini bukanlah hal baru. Pasti sepanjang sejarah umat manusia telah banyak tercatat notion yang sama, tapi dengan pengungkapan dan aktualisasi yang berbeda-beda. Tapi nampaknya kecenderungan ekspresi ke arah sana lebih besar pada era informasi ini, di mana keterbukaan telah menjadi alasan bagus untuk merekonstruksi apapun yang selama ini dianggap sudah mapan.
Sebelum itu semua berjalan terlalu jauh, atau dijadikan pembenaran bagi niatan-niatan yang tidak bertanggungjawab, harus dibatasi dulu, bahwa apapun yang namanya rekonstruksi, pemikiran ulang, atau praktek-praktek apapun yang tidak dapat diakomodasi begitu saja oleh peradaban sosial sekarang ini haruslah punya kriteria bahwa itu harus memajukan Kemanusiaan kita. Ini lebih gampang dituliskan (diomongkan) daripada dipraktekkan. Soalnya, segala sesuatu yang sudah mapan dan melembaga itu pasti punya mekanisme untuk mempertahankan, memproteksi dirinya agar tidak ada kekuatan-kekuatan yang akan mendelegitimasi apa yang sudah berjalan. Sementara itu, manusia-manusia yang hidup dalam kemapanan dan lembaga itu telah menyesuaikan dirinya dengan mekanisme proteksi itu, sehingga bukan hanya lembaga itu per se yang akan memberikan resistansi, tapi juga secara aktif manusia yang menghidupi lembaga itu akan memberikan perlawanan. Singkat kata, bila kita merasa sumpek dengan struktur atau gradasi peradaban yang melingkupi kita, kita harus siap untuk hidup, sekurangnya, dalam dua dunia.
Dua dunia ? Ya! Dunia yang real, yaitu dunia di mana ada orang-orang lain yang hidup bersama kita, yang tenggelam dalam struktur dan gradasi itu, dan dunia yang kita hayati secara subyektif, di mana aspirasi-aspirasi kita yang reformatif itu tidak bisa begitu saja menemukan jalan bagi perwujudannya. Hanya tinggal masalah waktu saja hingga akhirnya orang-orang yang gelisah untuk menjadi seperti itu. Memang tidak semua orang bisa terpuaskan dengan lingkungan di mana dia hidup, tapi bagi orang yang seperti ini, mereka harus siap untuk akhirnya menjadi berbeda dengan lingkungan. Saat seseorang menyadari itu, maka survival-nya menjadi kritis. Kecuali ia punya kemampuan bunglon yang sangat baik, di mana ketika berhadapan dengan orang-orang pada umumnya ia memakai topeng, dan ketika ia sendiri atau dalam lingkungan yang apresiatif ia bisa menjadi dirinya sendiri. Saya bilang kritis, karena akan ada saatnya orang itu menjadi lelah dan sebal dengan topeng yang dikenakannya. Mungkin sekali dua tiga, ia akan membuka topengnya, atau topengnya akan terbuka sendiri, dan pada saat itu orang mulai mempertanyakan kembali jatidirinya.
Kalau kita batasi pemikiran itu pada konteks interpersonal, apakah yang kita alami sekarang ini sudah memuaskan ? Apakah struktur dan gradasi yang mengatur hubungan kita dengan orang lain itu sudah memberikan fasilitasi sepenuhnya terhadap kemanusiaan kita ? Aduh, sayangnya harus saya jawab ‘belum’. Dengan tetap memberikan penghargaan pada segala sesuatu yang sudah mapan pada peradaban ini, saya melihat bahwa orang banyak melakukan improvisasi. Ada yang disebut perkawinan (hubungan suami-istri), persahabatan, partner, kolega, kawan / teman, …. dan ternyata istilah-istilah yang diciptakan manusia belum cukup untuk menggambarkan apa yang mungkin bisa terjadi dalam konteks interpersonal sekarang ini. Bagaimana misalnya dengan, seorang istri yang masih membutuhkan teman dekat, sementara ia masih menyatakan setia dengan suaminya ? Bagaimana dengan persahabatan antara lelaki dan perempuan, tapi level hubungan mereka sampai ke hal-hal yang bersifat seksual ? Atau, bagaimana dengan hubungan dengan sesama yang seharusnya rasional, tapi kompromistis dengan kemungkinan-kemungkinan ke arah hubungan yang romantik ? Bagaimana pula dengan hubungan dengan rekan kerja, tapi yang bersangkutan mensuplai informasi bagi pesaingnya ? Termasuk dengan hubungan yang sifatnya homoseksual, baik diantara laki-laki (gayisme) maupun perempuan (lesbianisme). Last but least, bagaimana dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bisa tidak memiliki ciri apapun dari semua konsep hubungan yang ada ? Atau yang justru memiliki ciri dari semua itu ?
Pasti akan ada yang segera berkata bahwa sebaiknya kita tidak terjebak dengan istilah / konsep. Tapi justru di situlah masalahnya. Siapkah kita hidup dalam dua dunia itu tadi ? Sekurangnya, siapkah kita menyimpan rahasia atau tidak mengungkapkan dengan sejujurnya hakikat hubungan kita dengan seseorang pada lingkungan sosial kita ? Ini juga termasuk pertanyaan, apakah kita punya kontingensi bila suatu ketika topeng kita terbuka, rahasia ‘kecil’ kita terungkap, atau jatidiri kita dipertimbangkan kembali oleh orang lain ? Tapi eh, apakah yang saya tulis ini hanya relevan pada orang-orang yang progresif, kritis, atau sumpek pada tatanan yang ada sekarang ini ? Apakah tidak mungkin ini juga berlaku pada orang-orang di jalan (the people in the street) ?
Ya tanyakan saja pada diri sendiri. Apakah salah satu dari pasangan yang telah mapan dalam institusi karpet merah itu tidak pernah meleng pada orang lain ? Apa sih sebenarnya kesetiaan itu ? Apakah kesetiaan itu harus mengorbankan impuls-impuls yang muncul dalam diri untuk beralih ke orang lain ? Atau bagaimana sebenarnya mensiasati ini agar apa yang telah mapan tidak jadi rusak ? Yang jelas, kalau itu terjadi, berarti lembaga itu memiliki kebobrokan di dalam, alias ada sesuatu yang tidak dipelihara sehingga bisa ada rasionalisasi-rasionalisasi yang diciptakan untuk adanya improvisasi yang menyinggung kemapanan yang ada. Wong yang namanya lembaga. Siapa yang salah ?
Lalu suatu malam saya menerima sms yang nampaknya salah alamat. Ada kata soulmate di dalamnya, yang jelas tidak mungkin diarahkan pada seseorang yang tidak akrab, tapi juga mustahil ditujukan pada seseorang di dalam lingkaran significant other. Apapula soulmate itu ? Bukan sebuah kata yang menunjukkan konsep yang begitu saja akan acceptable dalam tatanan dalam kelembagaan sosial kita. Apalagi bila masing-masing dari orang yang terlibat telah berada secara resmi dalam sebuah ‘lembaga’ yang telah diakui secara sosial. Apa itu soulmate ? Siapa yang berani mendefinisikan ? Apakah kita semua membutuhkan soulmate ?
Catatan: tulisan ini adalah copy & paste dari blog saya yang lain, yang saya pindahkan ke sini.

Bagikan pada media sosial :