# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3443

ds Hampir satu minggu setelah saya ikut Workshop Inherent di Jakarta, saya putuskan untuk datang ke acara musyawarah nasional MUGI di Karang Tumaritis, Lembang (24-25 Oktober 2009). MUGI adalah singkatan dari Microsoft User Group Indonesia, sebuah brand community yang sekarang dari waktu ke waktu sedang getol melakukan roadshow tentang mulai dari product knowledge, tech update, tech skill penggunaan software, sampai ke pembentukan MUGI di tingkat regional. Motivasi saya datang ke acara ini sebenarnya hanya satu: apakah Microsoft memiliki solusi kepemilikan (atau “kepenggunaan” ?) software yang murah untuk mahasiswa ?
Sebenarnya saya sendiri sudah tahu sedikit banyak tentang adanya tawaran Microsoft untuk memajukan pendidikan dengan cara memberikan software gratis. Tapi apa yang saya ketahui tentang itu belum tegas benar. Setelah mengikuti acara ini, apalagi bertemu dan bicara langsung dengan orang Microsoft Indonesia yang ditugasi bagian academic, Pak Julius Fenata, saya baru mendapat pencerahan yang bisa memotivasi saya melakukan sesuatu. Ya, apalagi kalau bukan memfasilitasi mahasiswa agar software yang mereka gunakan tidak dikatakan sebagai bajakan.
Intinya adalah, Microsoft punya dua program untuk mahasiswa. Yang pertama adalah MSDN-AA (Microsoft Developer Network Academic Alliance), yang kedua adalah Dreamspark. Yang pertama, MSDN-AA, untuk bisa mendapatkan software dari Microsoft secara murah, sekolah harus mengadakan agreement dulu dengan Microsoft, melalui pembayaran sejumlah uang, tapi yang jumlahnya sangat jauh lebih murah daripada kalau harus membeli atau dengan cara lain. Dari agreement itu, lalu sekolah bisa mendistribusikan software-software yang sudah ditetapkan ke mahasiswanya. Di beberapa situs yang saya baca tidak ada penyebutan bahwa program ini adalah khusus untuk sekolah teknik atau yang berorientasi teknik (teknik apapun juga ?), tapi demikianlah penegasan Pak Julius. MSDN-AA tentu saja akan lebih mengena pada perguruan tinggi yang core study-nya adalah komputer.
Bagi saya kalau Microsoft memberikan solusi hanya untuk mahasiswa teknik, itu namanya tidak adil. Masih ada banyak mahasiswa yang studinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan komputer, dan mereka sudah barang tentu menggunakan komputer dan software Microsoft (sekurangnya Windows dan Office). Untuk inilah, kata Pak Julius, program Dreamspark ditujukan. Tapi lagi, saya sampai sekarang belum menemukan informasi bahwa memang betul Dreamspark itu ditujukan untuk mahasiswa non-teknik. Alih-alih, saya malah menemukan bahwa software yang tercakup dalam Dreamspark itu adalah dari jenis yang sama sekali tidak akan bisa digunakan oleh mahasiswa non-teknik. Apakah misalnya kita bisa membayangkan seorang mahasiswa perhotelan atau mahasiswi keperawatan akan menggunakan Robotic Development Studio? Atau SQL Server 2008 for Developer?  Ya bisa saja ada kemungkinan, tapi tentu secara umum tidak mungkin mereka akan punya kebutuhan untuk menggunakannya. Wikipedia sendiri mendefinisikan Dreamspark sebagai :
DreamSpark is a program set up by Microsoft to provide students with software design and development tools at no charge.
Dikatakan dengan tegas di situ bahwa software-nya adalah yang bersifat design and development tools, tapi saya masih ingat Pak Julius mengatakan bahwa untuk mahasiswa non-teknik bisa menggunakan Dreamspark. Bagaimana ini?
ws2003 Ternyata solusinya sudah terbayang oleh saya, tapi ya karena belum saya konfrontasikan maka saya sendiri belum yakin benar. Salah satu software di Dreamspark adalah Windows Server 2003 (atau 2008). Bukankah kita bisa memasang software ini dan kita memperlakukannya sekedar sebagai workstation? Artinya, fitur server-nya tidak digunakan. Saya coba search, ternyata malah ada usaha untuk mempreteli sistem operasi ini sehingga hanya bekerja sebagai workstation saja. Kalau sudah begini, bukankah solusi untuk operating system sudah ada? Maksud saya, mahasiswa-mahasiswa non-teknik bisa kita sarankan untuk menggunakan Windows Server 2003, dengan memperlakukannya sebagai workstation saja. Soal mau ada modifikasi atau mempreteli komponen OS ini sehingga menjadi lebih streamlined atau fitur servernya benar-benar dihilangkan, itu urusan nanti. Yang jelas, untuk keperluan OS, mahasiswa non-teknik sudah ada solusinya.
openoffice Sekarang, bagaimana dengan keperluan untuk office software? Bukankah sebenarnya yang diperlukan oleh mahasiswa paling mendasar adalah OS dan office software? Kalau mau pakai Microsoft Office nampaknya tidak mungkin. Dreamspark tidak menyediakan software ini. Sebagai gantinya, apalagi kalau bukan Open Office yang gratis itu? Dengan demikian skenario penggunaan software secara legal untuk mahasiswa non-teknik adalah Open Office yang berjalan di atas OS Windows Server 2003 (atau 2008).
Saya sendiri merasa harus mencobakan keduanya secara langsung, baru saya akan umumkan ke mahasiswa. Sekurangnya saya bisa melakukan itu dalam lingkungan virtual dan sekaligus menginstal beberapa program populer lain untuk melihat seberapa normal program-program tersebut bisa berfungsi. Sementara itu sekarang saya dalam proses untuk inisiasi Dreamspark. Caranya ternyata gampang sekali. Tinggal mengumpulkan nama mahasiswa, NPM mereka, alamat email, dan dikirimkan ke Pak Julius.
Bagi sementara kalangan, barangkali solusi software untuk mahasiswa non-teknik adalah dengan Linux. Itu betul sekali, dan saya 100% setuju. Tapi masalahnya adalah untuk pindah ke Linux itu sangat sulit. Bukan saja soal mindset, tapi banyak mahasiswa sudah terlanjur familiar dengan user interface-nya Windows yang mereka gunakan (dan sebagian besar, bukan rahasia lagi, adalah yang bajakan). Windows Server 2003 masih ber-user-interface Windows yang familiar itu, sehingga ini bisa memecahkan masalah pilihan OS. OK, jelas akan ada masalah dalam hal penggunaan Open Office karena itu berpenampilan ‘agak beda’ dengan Office-nya Microsoft. Akan tetapi sekurangnya sebagian masalah sudah terselesaikan (dalam hal OS-nya). Soal familiarisasi Open Office, itu adalah sebuah PR yang harus kita kerjakan nanti, tapi yang jelas secara keseluruhan sudah ada konsep untuk solusi penggunaan software legal, khsusunya untuk mahasiswa non-teknik.
Saya akan menulis lagi tentang ini, terutama pengalaman saya menginstal Windows Server 2003, Open Office, dan beberapa program populer lain yang banyak digunakan mahasiswa.

Bagikan pada media sosial :