# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3972

Buku Si Rabolu Mungkin kira-kira dua atau tiga bulan lalu, saya  mendapat kiriman dari entah siapa, sebuah buku tipis yang judulnya, “Hercolubus atau Planet Merah”. Buku itu sudah saya baca habis, lalu terpikir untuk saya blog-kan, tapi kemudian buku itu raib entah ke mana. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu buku itu ketemu, dan saya baca lagi.
Dilihat dari cara menuliskan nama saya, nampaknya si pengirim tahu saya dari Internet. Saya sampai sekarang tidak bisa menebak siapa yang mengirimkannya. Tapi yang penting, sebenarnya apa maksudnya mengirim buku itu ? Apalagi setelah saya baca, isinya sama sekali tidak ilmiah, dan saya tidak punya alasan untuk percaya kepadanya. Ya, saya juga punya apresiasi pada yang-tidak-ilmiah, tapi tidak untuk sesuatu seperti yang disajikan oleh V.M. Rabolu, si pengarang buku itu.
OK, mungkin memang benar bahwa ada sebuah planet yang sekarang ini sedang mendekati bumi dengan kecepatan tinggi (seperti di film Armageddon), yang kalau pun benar saya kira itu adalah gejala alam saja. Entah itu akan menabrak bumi ketika saya masih hidup atau ketika nanti saya sudah meninggal, tidak ada yang tahu; dan semua orang saya kira bisa mengatakan itu. Masalahnya adalah, adalah tidak masuk akal kalau dikatakan bahwa mendekatnya planet merah atau Hercolubus itu adalah karena kelakuan bejat manusia di bumi.
Lalu si pengarang mengklaim bahwa dia telah melakukan perjalanan astral ke Planet Mars dan Venus. Dari pengalaman itu lalu dia membandingkan betapa lebih bagusnya kondisi kemanusiaan di kedua planet itu daripada di Planet Bumi. Pertama, siapa yang bisa memverifikasi bahwa ada makhluk di kedua planet itu ? Kedua, Kalau pun ada makhluk serupa manusia (humanoid) di sana, gambaran yang diberikan si pengarang menurut saya sangat utopis, dan justru malah yang begitu itu bukanlah fitrah manusia, menurut saya. Manusia itu diberkati potensi baik dan jahat sekaligus di dalam dirinya, dan sepanjang peradaban keduanya selalu bersaing, dan akal sehat manusia mengatakan dan berharap bahwa yang baik adalah yang menang. Kalau kemanusiaan digambarkan dengan segala kondisi yang menghindarkannya terjatuh pada kejelekan dan kejahatan, menurut saya itu adalah muskil atau itu malah bukan manusia sama sekali. Bullshit.
Saya search, ternyata banyak juga entri soal Hercolubus ini. Saya tidak mempermasalahkan adanya planet yang mendekat dan suatu ketika akan menabrak bumi sampai hancur, tapi bagaimana si Rabolu ini memberi makna kepadanya. Apakah sebenarnya banyak orang yang percaya sama si Rabolu? Kalau kiamat ya kiamat saja.

Bagikan pada media sosial :