# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 36835

aa Ada saatnya ketika atmosfir Internet Indonesia cukup ramai membicarakan fenomena Anne Ahira. Sebagian ada yang mendukung atau bersuara positif pada dia maupun usahanya, tapi ada sejumlah pihak (yang cukup banyak) yang kalau tidak skeptis, sikap mereka adalah menolak sama sekali, bahkan mengatakan bahwa Anne Ahira adalah bagian dari masalah Internet. Saya sendiri, dengan melihat uraian-uraian dari para penolak itu, langsung bersikap menolak juga. Tapi kemudian saya berpikir, apakah fair untuk langsung mengambil sikap demikian manakala saya sendiri belum mendengar langsung dari orangnya. Ada jeda waktu yang cukup lama antara pikiran saya itu, hingga akhirnya saya bisa mendengarkan langsung Anne Ahira berbicara tentang bisnisnya di Internet. Persisnya adalah kemarin, Jum’at 09 Agustus 2010, di kampus / kantor tempat saya bekerja.

Di awal penjelasannya, dia bercerita tentang proses hingga dia sampai seperti sekarang ini. Dulu sebagai mahasiswa, ia sudah bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris dan berjualan buku dengan segala suka dukanya. Meskipun mungkin menarik untuk didengarkan, tapi saya sudah tidak sabar untuk mendengarkan langsung ke inti masalahnya: apa sebenarnya yang dia lakukan di Internet sehingga bisa berpenghasilan milyaran ? Judul acara ini menggunakan frase “Internet Marketing” dan dia memang terkenal memposisikan dirinya dalam kaitannya dengan itu. Saya langsung berpikir, apakah dia menjual sesuatu ? Mempromosikan sesuatu ? Atau dia membuat sebuah usaha MLM seperti yang pernah (dan masih) banyak dituduhkan kepadanya ?

internet_marketing_plan OK, Internet Marketing (Pemasaran Internet). Kalau boleh saya simpulkan dari penjelasannya, maka Internet Marketing itu adalah usaha untuk memasarkan barang / jasa dengan memanfaatkan semaksimal mungkin kontak dan akses ke begitu banyak orang yang menggunakan Internet, dengan sebuah harapan tersembunyi bahwa kalau semua kontak dan akses itu tertarik dan membeli sebuah barang / jasa yang ditawarkan, ya syukur, tapi kalau tidak, barangkali ada satu atau beberapa, tapi kalau tidak ada sama sekali ya kurang beruntung saja. Barang / jasa yang ditawarkan itu bisa barang milik kita sendiri, bisa pula sekedar membantu memasarkan barang yang secara langsung sebenarnya di jual oleh pihak lain. Bila membantu memasarkan, maka yang diperoleh adalah komisi dari si penjual asal.

Kontak dan akses itu ternyata diperoleh dengan usaha yang sangat sistematis, meski bagi saya sifatnya oportunistik (dengan segala konotasinya). Setiap waktu dia berusaha menambah dan membina kontaknya itu dengan teknik personalisasi, sedemikian rupa sehingga seolah ia berbicara langsung dengan semua kontaknya itu. Sebagai contoh, dia akan mengirim email yang di awalnya akan menyapa si penerima dengan namanya langsung, dengan konten-konten apapun yang intinya adalah mengesankan bahwa Anne Ahira secara pribadi punya perhatian dan peduli pada si penerima email. Sudah terbayang di sini, dia punya database, lalu dia punya perangkat lunak yang memungkinkan ia mengirimkan email massal dengan konten yang dipersonalisasi. Dari uraiannya, Anne Ahira hanya mengirimkan ini ke mereka yang katanya secara sukarela mau dikontak oleh dia.

aa3 Barangkali Anne Ahira mengembangkan cara bermacam-macam untuk mengakumulasikan kontak itu. Tapi dia berbicara jelas tentang hal ini sekurangnya menyangkut satu hal, yaitu apa yang disebutnya sebagai momentum. Sebagai contoh, kemarin ada peristiwa Piala Dunia Sepakbola. Bisa diperkirakan semua orang diseluruh dunia pikirannya tertuju pada peristiwa itu. Piala Dunia Sepakbola adalah sebuah momentum, dan bisa diperkirakan pula para pengguna Internet akan menggunakan search engine untuk mencari apapun yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Maka untuk memanfaatkan momentum itu, yang harus dilakukan adalah membeli sebuah domain yang ada kaitannya atau diperkirakan akan dicari banyak orang. Misalnya, si paul gurita peramal hasil pertandingan itu. Domain yang dibeli bisa paultheoctopus.com, paulthepredictor, paultheworldcup, dan sebagainya. Sesudah beli, tentu saja harus dibuat situsnya yang isinya berkaitan dengan itu (yang jelas isinya adalah mencomot apa saja yang bisa ditemukan di berbagai tempat di Internet – mana mungkin akan membuat liputan langsung yang orisinil tentang si Paul ?). Setelah situsnya jadi, lalu situs itu dioptimalisasikan agar ramah pada search engine (SEO – search engine optimization) alias dibuat sedemikian rupa sehingga kalau ada orang mencari dengan kata-kata kunci tertentu, maka domain itu tadi akan duduk pada peringkat pertama (atau mungkin 10 besar) di hasil pencarian Google (atau search engine populer lainnya).

Situs itu diperlengkapi dengan macam-macam trik yang siap menyapa, mendata, atau mungkin mengarahkan / mengalihkan perhatian para pengunjungnya. Ketika seseorang datang ke situs itu, maka di sisi kanannya boleh jadi ada iklan, yang mengarahkan pengunjung untuk mengklik-nya, bisa langsung ke situsnya Anne Ahira, bisa ke situs di mana dia membantu menjualkan barang orang lain, atau apapun. Kalau tidak side advertising semacam itu, alternatifnya adalah pop-up windows. Isinya berupa pertanyaan, maukah anda bergabung, tuliskan alamat email anda, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua ini baru contoh dari satu momentum, dan nampaknya Anne Ahira sudah melakukannya untuk berbagai hal yang menurut dia adalah momentum itu. Termasuk yang dia bayangkan soal kehebohan Ariel dan Luna Maya.

Sampai di sini ada beberapa analisis :

1. Secara naluriah, orang yang menawarkan barang tentu akan mengkomunikasikan barang yang ditawarkan segera pada orangnya. Cara ini praktis dan langsung. Tampak dengan jelas, bahwa Anne Ahira mencoba untuk melakukannya secara tidak langsung dan memberikan ruang kebebasan pada netter untuk mengklik atau tidak mengklik, untuk ikut atau tidak ikut, untuk menerima atau tidak menerima notifikasi / newsletter dari Anne Ahira. Pertanyaannya adalah, kapan dia mulai melakukan kiprahnya persis seperti itu ? Saya berpikir, proses dia hingga akhirnya menemukan semua cara itu memakan waktu yang cukup lama dan banyak di sepanjang proses itu dia menjadi “dewasa” entah berkat temuan-temuannya sendiri atau berkat kritik dari sana sini. Maksud saya, apakah cukup sulit untuk membayangkan dia pun dulu harus melalui masa ketika ia memberikan penawaran langsung ? Apakah itulah saatnya ketika dulu ia dituding sebagai spammer ? Untuk ini dia punya escape yang mungkin sempurna. Katanya, di Internet ini banyak yang menyaru sebagai dia. Bahkan di Facebook ada beberapa akun palsunya. BTW: siapa yang mau bersusah payah untuk men-trace IP dari semua spam yang (dulu?) pernah dilaporkan berasal dari Anne Ahira ?

2. Selain mendapat tudingan spammer, dia juga mendapat tudingan URL Spuffer. Berbagai macam domain sudah dibeli dan mungkin sudah diasosiasikan dengan dia atau bisnisnya. Ketika saya tanyakan semua ini dalam kaitannya dengan etis atau tidaknya karena apa yang dia lakukan itu akan mendistorsi hasil pencarian di search engine, Anne Ahira menjawab bahwa etis atau tidaknya bergantung dari sudut mana kita melihatnya. Bahkan katanya, apa yang dilakukannya itu membantu search engine. Saya bisa mengerti kalau dikatakan membantu search engine kalau memang domain itu dibeli dan secara serius diisi dengan materi yang relevan dengan nama domainnya. Bagaimana kalau tidak ? Dengan asumsi bahwa Anne Ahira berkata jujur, maka ia harus membuat begitu banyak situs yang isinya harus sampai ke level orang tidak merasa tertipu ketika mendatanginya. Untuk ukuran dia yang sudah punya anggota pasukan cukup banyak, sistem, dan mungkin semacam software otomasi dalam hal pembuatan situs, konten, dan SEO, barangkali itu akan masuk akal. Tapi bagi seorang pemula, nampaknya akan mudah untuk menjadi URL Spuffer yang sebenarnya. Apalagi wacananya adalah, semakin banyak situs yang bisa menjaring pengikut akan semakin baik, dan momentum itu cepat berlalu atau menjadi basi, sehingga harus membeli domain lain lagi dan membuat situs lagi.(Dan pertanyaan yang sama bisa diajukan lagi di sini: “kapan Anne Ahira persisnya mulai melakukan ini setelah sebelumnya [mungkin] melakukan spuffing?”)

3. Apakah personalisasi pesan di Internet berarti si pengirim benar-benar menyapa langsung dan punya perhatian pribadi pada penerima pesan tersebut ? Kita berbicara soal mengkontak ribuan atau mungkin jutaan penerima pesan. Apakah mungkin kita membayangkan seseorang mungkin bisa mengenal secara pribadi begitu banyak orang ? Di sini saya berpikir Anne Ahira bergerak di wilayah abu-abu, di antara hitam dan putih. Kalau dikatakan benar-benar kenal secara pribadi ya jelas tidak (terbukti ada orang datang dan mengaku suka mengontaknya dan Anne Ahira sendiri bingung siapa dia), tapi toh ini Internet dan dari begitu banyak sekali orang tidak mungkin semuanya akan datang memverifikasi langsung perkenalan itu dengan pertemuan tatap muka. Jadi, penyapaan di pesan Internet sebatas personalisasi itu di klaim olehnya sebagai sebuah kepedulian / perhatian pribadi.

4. Soal bergerak di wilayah abu-abu itu juga saya tujukan pada hal lain. Intinya, kalau akan ada yang menuding sebagai merugikan, dia akan dengan mudah berkelit bahwa semua yang telah terjadi adalah karena kebebasan-klik yang telah dilakukan oleh seorang netter. Toh, dia sudah menawarkan barang seperti yang sudah dijelaskan. Kalau merasa rugi, kenapa mengklik, kenapa beli ? Ini sebenarnya berkenaan dengan sebuah contoh aneh yang dia kemukakan sendiri. Anne Ahira bilang, ia pernah menggambar sebuah tokoh kartun. Hasil gambarnya bahkan tidak bagus (katanya kumisnya tidak persis – saya lupa lagi tokoh kartun apa itu). Lalu dia menjual gambarnya itu di ebay dengan memberi embel-embel bahwa gambar itu adalah vintage (saya ingat persis dia mengatakan ini sambil tertawa), dan ternyata ada orang membelinya! Apakah sebenarnya Anne Ahira peduli bahwa sebenarnya gambar itu tidak vintage dan si pembeli barangkali merasa tertipu ?

5. Dalam kaitan ini pula Anne Ahira menceritakan soal penis enlargement sebagai sebuah momentum. Ya Tuhan, kita semua sebagai pengguna Internet pasti pernah mengalami menerima email spam tentang itu. Sementara dia secara tegas mengatakan punya 19 orang pegawai di Amerika, lalu apakah semua spam tentang topik itu mesti kita bayangkan harus mengandung nama dia ? You be the judge!

aa2 Di zaman yang untuk banyak orang adalah masa yang sulit dalam hal ekonomi, apapun peluang untuk mendatangkan uang nampaknya akan dikejar. Ada tiga jalan, jalan yang hitam alias jalan yang benar-benar ilegal dan melanggar hukum, jalan yang putih alias jalan yang benar-benar halal, dan jalan yang abu-abu alias jalan yang tidak akan terlalu mudah bagi siapapun untuk menilainya sebagai hitam atau putih. Barangkali orang akan menilai saya sebagai seorang puritan dalam hal moral, tapi manakala kedekatan (proximity) adalah hal yang menjadi kendala pada komunikasi via Internet yang menyulitkan konfirmasi fisik, klaim, verifikasi faktual, dan kejujuran, apakah kita harus serta merta mengacungkan jempol pada upaya-upaya yang mengeksploitasi itu demi keuntungan finansial ?

Saya tidak tahu seberapa akurat tulisan saya ini. Saya pun tidak tahu seberapa jauh apa yang dikemukakan Anne Ahira di acara itu sudah menggambarkan keseluruhan modus operandi-nya. Demikian pula ilustrasi-ilustrasi yang menimbulkan efek tertentu pada audiens. Saya tidak punya sentimen pribadi pada Anne Ahira secara pribadi. Fokus saya adalah pada apa yang dilakukannya. Saya juga tidak mengatakan bahwa bisnisnya itu adalah 100% hitam, tapi dengan ilustrasi pada presentasinya, saya menduga dia pun tidak 100% putih. Yang jelas, saya punya rekaman audio presentasinya, dan nampaknya dalam waktu dekat saya akan mendengarkannya lagi. Saya belum puas dengan apa yang saya tahu tentang Anne Ahira.

Sekarang saya sedang berpikir apakah sebuah ekonomi Internet yang sehat akan terwujud bila di dalamnya terdiri dari orang-orang yang kiprahnya adalah representasi dari sepak terjang bisnis Anne Ahira ? Saya belum tahu jawabannya!

Bagikan pada media sosial :