# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3184

Dalam Ilmu Komunikasi dikenal konsep kredibilitas. Sejauh mana khalayak dapat menerima dan percaya pada Pesan komunikasi yang disampaikan seseorang menunjukkan tingkat kredibilitas orang itu. Kredibilitas seseorang dibentuk oleh dua faktor, yaitu expertness (kecakapan / keahlian) dan trustworthiness (tingkat kepercayaan). Idealnya, kedua faktor itu harus ada pada diri seseorang. Kenyataannya, tidak jarang hanya salah satu saja yang lebih menonjol. Ada orang yang sangat mumpuni / pakar dalam bidangnya atau tahu betul apa yang dikatakannya, tapi ia mungkin punya reputasi buruk, tidak pandai bergaul, atau tidak percaya diri. Sebaliknya, ada orang yang kecakapan teknisnya sangat rendah atau hanya rata-rata saja, tapi karena ia supel, mampu membuat suasana akrab, atau penampilannya menarik, maka persepsi orang lain kepadanya menjadi tidak lagi terfokus pada aspek profesional dirinya. Pada orang-orang tertentu, kredibilitas dirinya adalah gabungan dari rata-rata faktor pembentuknya itu, tapi pada sebagian orang lain lagi, terdapat kesenjangan di antara keduanya.
GettingOld1bwPikiran Saya jadi melayang pada common sense seperti ini karena dipaksa merenung oleh kenyataan yang Saya alami. Mungkin kesenjangan yang Saya maksud tadi disadari oleh orang-orang yang memang memilikinya, tapi yang menyebalkan adalah bahwa ternyata ada orang-orang yang sama sekali tidak gelisah, meskipun ia tahu bahwa kesenjangan itu mempertaruhkan harga diri dan profesinya. Lebih parah lagi, ia tetap bisa tenang meski keadaan itu sebenarnya telah membuat ia tidak mampu memberikan jasa yang selayaknya diterima oleh klien / stakeholder atau orang lain yang berkepentingan dengan layanannya. Demi stabilitas psikologis, orang memang bisa membutakan diri pada kenyataan (atau rekonstruksi kenyataan) yang ada. Tapi kalau urusannya sudah menyangkut kinerja organisasi, sementara kita sendiri adalah bagian dari organisasi itu, kok Saya membayangkan melempari orang itu dengan tomat atau telur busuk. Soalnya Saya menyimpulkan,”Gara-gara elu, gue juga dinilai orang lain sama jeleknya!”.
Dunia memang tidak sempurna, dan tidak selalu segalanya berjalan linier. Manusia adalah eksistensi yang selalu terbuka pada kemungkinan. Awalnya memang mungkin kesenjangan itu begitu mencolok, tapi dengan berjalannya waktu seseorang bisa menjadi “agak-agak” atau lebih tahu bidangnya dibanding orang lain. Dulu ketika masa-masa baru lulus kuliah S1, Saya nyengir membayangkan seorang teman, yang hanya berbekal pengalaman menggunakan kamera SLR, melamar menjadi kameramen sebuah TV Swasta. Eh, tapi akhirnya dia keterima, dan sekarang ia benar-benar menjadi seorang kameramen di sana. Lainnya lagi, ada yang hanya dengan kemampuan menggunakan Corel Draw yang pas-pasan, ia menyatakan diri sebagai seorang graphic designer dan melamar ke sebuah biro iklan di Jakarta. Saya nyengir juga waktu itu, tapi kabarnya terakhir ia memang benar-benar menjadi seorang designer di sebuah biro iklan yang cukup besar. Tentang orang-orang yang begini Saya mau bilang bahwa mereka itu telah “berhutang” persepsi kredibilitas pada masyarakat, tapi mereka akhirnya membayarnya dengan lunas. Yang Saya masalahkan tentu saja adalah, ada orang yang sebenarnya punya “hutang” itu, tapi tidak peduli akan “melunasinya” atau tidak.Yang ada malah ikut menjatuhkan reputasi orang lain yang berada satu perahu organisasi dengannya.
Keadaan menjadi lebih buruk lagi ketika orang semacam ini tidak saja membutakan dirinya, tapi ia menjadi semakin tua, semakin mapan, dan semakin sulit berubah. Celakanya, di Indonesia ini ternyata menjadi-tua adalah sebuah faktor lain lagi yang menentukan kredibilitas. Tidak perlu lah kita jadi terlalu ahli dalam suatu bidang, tidak perlu pula kita punya kemampuan sosial yang baik. Cukup hanya dengan menjadi-tua maka kalau kita bisa pintar-pintar menempatkan diri dan berkelit secara cerdik (disertai banyak doa agar selalu dilindungi Tuhan, tentu), maka segalanya akan baik-baik saja. Menjadi-tua juga secara otomatis akan bisa membuat orang lain memberikan penghargaan pada waktu yang telah ditempuh, meski tidak ada seorang pun yang bisa memastikan, apakah selama waktu itu seseorang telah berkembang dan berubah menjadi lebih baik, atau justru malah hanya stagnan, anakronik, atau bahkan … (apakah Saya harus bilang “membusuk”?). Bukankah kita sama tahu bahwa ada saatnya ketika deteriorasi itu berbanding lurus dengan usia ?GettingOld1
Buktinya, ada orang-orang yang bisa selamat dan berumur panjang, meski kenyataannya selama hidupnya mereka hanya mediokrit saja. Tidak sedikit pula jumlahnya orang yang sebenarnya tidak terlalu pintar, tapi karena berkesan setia dan tidak pernah membuat keonaran sosio-psikologis, maka seiring dengan berjalannya waktu ia akan bisa menduduki jabatan strategis tertentu. Saya kira, itu sebenarnya bukan hanya sebagai penghargaan akan dedikasinya, tapi tentu juga mengingat kenyataan bahwa ia sudah “senior” (alias sudah tua).
Bisa jadi, diam-diam di dalam hati semua orang sudah ada iman semacam ini. Saya saja yang sebenarnya cukup bodoh untuk harus merenung dan menulis seperti ini dulu baru menyadarinya. Nampaknya, tidak perlu lah kita mengeluh atau mungkin ingin berteriak ke langit bahwa kok ada orang-orang yang hidupnya terlalu lama di dunia ini. Stay put. Just do it. Let the time goes by, maka otomatis molekul-molekul kredibilitas itu akan mengada dengan sendirinya dalam diri kita. Tinggal apakah kita mau melihat diri sendiri sebagai orang yang punya “hutang” itu atau tidak. Itu saja.

Bagikan pada media sosial :