# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2516

Saking sibuknya saya sampai lupa kalau punya blog. Akibatnya ya lupa juga bahwa saya masih punya hutang menuliskan review tentang HP ini. HP ini sekarang sudah tidak ada pada saya, tapi untung sebelumnya saya sudah menuliskan beberapa poin.
Yang segera teringat oleh saya adalah soal keberadaan modem di HP ini. Akhirnya saya tahu bahwa memang wajar HP ini memiliki modem karena ada fasilitas BREW di sini. Apa itu BREW ? Tadinya saya acuh saja pada ini. BREW adalah singkatan dari Binary Runtime Environment for Wireless; sebuah akronim yang nampaknya diusahakan catchy, tapi entah apa hubungannya dengan makna denotatif kata itu pada bahasa Inggris. Yang jelas ini adalah semacam interface layanan yang disediakan oleh provider jaringan telpon. Sebuah deskripsi yang bagus tentang ini dalam bahasa Indonesia saya temukan di sebuah halaman majalah CHIP. Menu BREW pada HP ini bentuknya agak lain dari menu lainnya. Bila kita masuk ke dalamnya, jenis font-nya beda. Ada tiga menu di dalamnya ‘MobileShop’, ‘Setting’, dan ‘Help’. Saya sendiri belum mencobanya lebih jauh. HP ini saya pasangi kartu Fren yang dua nomer itu. Ketika saya iseng masuk ke ‘catalog’  ada tulisan ‘connecting’, tapi setelahnya hanya muncul ‘No Items were found’. Ini artinya Fren belum support BREW?
Apakah modem di HP ini bisa digunakan untuk kepentingan dial-up ? Terus terang ini pertanyaan menarik, yang juga disampaikan pada sebuah komentar di tulisan sebelum ini. Nampaknya secara prinsip bisa, tapi mohon maaf saya tidak akan sempat mencobanya. Kalau bisa ya berarti statusnya ini adalah sebuah modem CDMA. Kalau tidak, ya ini berarti hanya ditujukan secara eksklusif untuk kepentingan akses BREW itu.
Berikutnya, seperti sudah saya singgung sebelumnya, pada HP ini tidak ada cara untuk mengurangi intensitas terangnya layar. Saya duga ini akan membuat baterai cepat boros. Tapi ketika itu saya mendapati bahwa setelah 5 hari pun baterai masih baru menunjukkan pengurangan setengahnya. Memang ketika itu hanya 2 hari pertama saja saya ngoprek, sesudahnya lebih banyak saya diamkan saja. Ini artinya, meskipun layarnya (menurut saya) terlalu terang, tapi ini tidak terlalu berpengaruh pada kekuatan baterai. Tapi meskipun begitu, pengurangan intensitas terang layar sebenarnya masih terasa perlu karena bagi saya display-nya terlalu terang, apalagi kombinasi warna font tidak menyediakan yang berwarna hitam.
Kenapa saya menginginkan warna hitam ? Karena warna itulah yang nampaknya akan membuat nyaman dalam setting terang warna fluorescent yang tidak bisa dikurangi intensitasnya itu. Tapi sayangnya ternyata setting warna font hanya tersedia untuk angka-angka dial. Itu pun hanya ada dua pilihan: hitam & warna-warni. Sementara itu warna font menu sama sekali tidak bisa diubah, atau terasa sedikit berubah (atau hanya tipuan mata?) ketika kita mengubah wallpaper-nya.
Yang juga membuat agak frustasi adalah peletakan tombol untuk kembali ke menu sebelumnya. Benar-benar sama sekali tidak ada petunjuk. Setelah coba-coba, ternyata itu di-assign ke tombol C yang kecil itu.
Selebihnya, kualitas getarnya cukup bagus, bunyi ringer-nya pada umumnya bernuansa treble / cempreng yang menurut saya bagus karena bisa lebih menarik perhatian kita kalau ada panggilan masuk. Dilihat dari kemampuannya pada fungsi-fungsi dasar (menelpon dan SMS), nampaknya HP ini cukup OK. Bila dana anda sekitar 500 ribuan saja dan ingin HP bermerek bagus, saya kira HP ini bisa jadi pilihan (daripada ZTE atau Nexian itu). Jangan hiraukan keluhan saya pada menu HP ini, karena memang saya sudah sangat terbiasa dengan menu dan ergonominya Nokia.

Bagikan pada media sosial :