# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 5687

Karena DR-135 sudah saya jual dan FT-1500m dalam keadaan cacat, maka saya pikir saya harus punya rig lagi. Apalagi ketika itu saya akan tugas ke Bali; tugas yang selalu menempatkan saya sebagai orang yang bertanggungjawab untuk urusan komunikasi menggunakan radio. Dalam pikiran saya, karena dana terbatas, barangkali yang cocok adalah Alinco DR-135mkIII. Maka saya pergi ke Cikapundung dengan niat membeli radio ini.
Setelah keliling-keliling, saya menemukan sebuah kios di Pasar Cikapundung yang memajang dua perangkat ini. Yang ada adalah DR-135mkIII dalam keadaan baru dan Yaesu FT-2800m yang kondisinya baru juga tapi bungkusnya sudah terbuka. Menurut penjualnya ada orang beli lalu dikembalikan lagi.
Saya belum tanya harga, tapi saya minta untuk mengetes kedua perangkat itu untuk QSO dengan salah seorang yang stand bye di frekuensi lokal saya, yaitu 145.040 Mhz. Keduanya saya set pada posisi lowest power (5 Watt), dan memancar secara bergantian dengan menggunakan antena yang sama. Aneh sekali, dengan power yang sama Yaesu bisa mendapatkan report 5-9 alias tidak ada masalah, tapi yang Alinco langsung mendapat komentar: tolong naikkan lagi power-nya. Duh, hanya dengan tes begini saja saya langsung mau menjatuhkan pilihan ke Yaesu. Buat apa ngecek lagi aspek lainnya? Ini sekaligus menunjukkan bahwa meskipun si Alinco sudah sampai mkIII, tapi ternyata kualitasnya masih sama saja. Sekurangnya tidak lebih bagus dari FT-2800m.
Hingga sekarang FT 2800m ini saya gunakan dan tidak ada masalah sama sekali. Mike-nya sesekali saya cabut dan pasangkan ke FT-1500m karena memang sama. Secara umum sama dengan FT-1500m, bedanya hanya dari output power maksimalnya yang bisa sampai 65 Watt dan squelch-nya yang dibuat dalam bentuk tombol. Ini berbeda dengan FT-1500m, di mana squelch-nya berada dalam menu yang untuk mengesetnya harus pencet tombol tertentu beberapa kali. Selain itu, display-nya lebih lebar dari FT-1500m dan warnanya kuning. Selain itu, body FT-1500m hanya dipas dengan ukuran rig-nya, sehingga metal untuk disipasi panas ya hanya seukuran dengan body-nya. Sedangkan pada FT-2800m, body-nya lebih besar dari FT-1500m, dan ada tambahan beberapa centimeter ke belakang, sehingga boleh dikatakan pada FT-2800m terdapat heatsink yang terintegrasi.
Sekilas menunya hampir sama dengan FT-1500m. Saya belum mengamatinya dengan teliti. Kualitas kepekaan dan pancaran rasanya sama persis dengan FT-1500m. Kalau untuk keperluan mobile, saya kira perangkat ini lebih pantas daripada FT-1500m karena FT-1500m  ukurannya terlalu kecil, tidak ada dedicated knob untuk squelch, dan layar birunya itu yang konon akan menimbulkan efek afterglow kalau digunakan malam hari.
Overall, saya puas dengan perangkat ini.

Bagikan pada media sosial :