# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4102

TvD Sebelumnya saya pernah menulis sesuatu tentang reality show; sebuah jenis tayangan TV yang sekarang sedang trend di hampir semua stasiun TV dan benar-benar berhasil memainkan efek agenda setting di pikiran saya (mungkin juga di pikiran banyak orang). Agenda Setting adalah sebuah perspektif teoretis tentang efek media massa di mana pengesetan agenda atau bagaimana media massa menentukan prioritas / apa yang dianggap penting, akan menentukan bagaimana persepsi publik tentang prioritas atau apa yang dianggap penting itu. Tapi nampaknya saya melihat ada dimensi lain dari acara ini, yaitu antara agenda setting dan uses & gratification (sebuah perspektif teoretis lain yang mengatakan bahwa melalui media massa publik dapat memperoleh manfaat dan pemenuhan kebutuhan informasional) muncul bersamaan menjadi sebuah efek.
Saya sendiri berpikir kedua konsep teoretis itu pada awalnya tidak dikonsepkan sebagai dua hal yang dikotomis atau terpisah. Artinya, bukan berarti kalau yang satu tidak maka yang lainnya yang muncul. Memang secara historis, yang dijadikan orientasi pada pengelolaan media massa adalah agenda setting dulu, baru kemudian uses & gratification. Yang menarik di sini buat saya adalah, di satu sisi media massa (dalam hal ini televisi) secara sadar atau tidak mungkin telah menimbulkan efek agenda setting itu, tapi pada saat yang bersamaan sebenarnya si televisi bisa “ditunggangi” oleh figur yang sedang diangkat / dibahas cerita hidupnya di acara reality show itu. Dengan demikian secara praktis, yang saya sebut figur itu benar-benar using the media to gratify his / her own needs.
RealityTV-main_Full Barangkali apa yang saya pikirkan ini tidak bisa berlaku di semua jenis reality show yang ada sekarang. Tapi bayangkan kasusnya begini: seorang perempuan dihamili oleh seorang lelaki, dan lelaki itu tidak bertanggung jawab, bahkan tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk bertanggungjawab. Di sini keadilan apa yang bisa diusahakan si perempuan? Katakanlah ia jadi berpikir “justice is blind, but it can see in the dark” – seperti dalam serial Dark Justice. Misalnya, dia menyewa seseorang atau beberapa orang, katakanlah untuk membunuh si laki-laki itu, atau mungkin untuk merampoknya atau apa, … tapi pilihan ini sangat dreamy: nyaris tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Nah, di sinilah pilihan untuk masuk ke reality shows itu.
Intinya begini: OK, si laki-laki itu brengsek dan tidak bertanggungjawab. Memang sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk membuatnya bertanggungjawab, tapi sekurangnya ada jalan untuk mempermalukan dia, merusak kredibilitasnya, dan membuat sebanyak mungkin orang tahu bahwa dia itu karakternya seperti itu. Caranya ? Ya masuk ke reality show. Ini bisa dengan rekayasa atau tanpa rekayasa. Maksudnya dengan rekayasa adalah, ya misalnya si perempuan daftar masuk ke sebuah reality show lalu bilang bahwa dia mencari bapaknya si jabang bayi yang menghilang. Ia lalu minta agar acara itu membantu mencarikannya. Di sini ada asumsi bahwa kalau ketemu nanti mungkin akan bisa bicara baik-baik dan si laki-laki bisa balik jadi bertanggungjawab. Padahal, sebenarnya si perempuan sudah tahu bahwa si doi sama sekali sudah lepas tangan. Nanti, kalau sudah ketemu akan ada konflik ini itu, … ya jalani saja. Yang penting si brengsek itu sudah tersorot kamera dan tersiarkan secara nasional (atau mungkin direkam seseorang dan ditaruh di Youtube). Dengan jalan itu, masalah si perempuan tidak terpecahkan, tapi sekurangnya dia sudah bisa menunggangi acara TV itu untuk kepentingan pribadinya, yaitu membuat credibility counter. Kalau tanpa rekayasa begini, apakah ada acara reality show yang mau menerima seseorang yang sejak dari awal niatnya adalah seperti itu? (mungkin saja ada ? dengan membayar ?).
teevee Jadi, dengan begitu di satu sisi media diuntungkan karena punya acara, bisa menunjukkan sebuah point tertentu kepada publik pemirsa, bisa dapat iklan, bisa menekankan ini itu, atau apalah … tapi di sisi lain si perempuan juga mendapatkan manfaat langsung dari keterlibatannya (dengan niatan seperti tadi). Saya tidak mempemasalahkan apakah si media (dalam hal ini acara reality show itu) merasa dikerjain oleh si perempuan, tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa acara reality shows (sejauh itu benar-benar real dan tanpa rekayasa skenario) bisa menjadi peluang baru bagi sebuah kontrol sosial. Hasil akhirnya adalah, publik pemirsa jadi tahu kualitas, reputasi, dan kredibilitas seseorang. Bukan hanya ‘orang’, tapi mungkin juga bisa sesuatu yang lain.
Yang saya bayangkan adalah bahwa acara ini bisa punya ekstensi-nya di Internet. Maksudnya begini: untuk bisa memperluas efek kontrol sosial itu, bagaimana kalau ada relawan yang punya koneksi Internet dan komputernya terpasangi card TV yang sekurangnya bisa capture gambar. Beberapa adegan / tampilan dalam acara reality show yang menunjukkan wajah si pecundang, penjahat, preman, atau orang brengsek lainnya di-capture, lalu ditampilkan di web. Ada keterangan di web itu agar kita semua hati-hati kalau bertemu atau berurusan dengan mereka. Bukan hanya wajah orang, mungkin juga tempat berbahaya, misalnya. Di bagian lain di web itu harus ada fasilitas komentar yang akan menambahkan detil. Misalnya konfirmasi dari orang lain, penegasan dari seseorang bahwa orang itu begini atau begitu, atau penjelasan lebih detil bahwa suatu gambar yang menunjukkan tempat berbahaya itu sebenarnya persisnya di mana, dan sebagainya.
Bukankah dengan begitu kita akan bisa mendapatkan early warning? Saya tidak tahu apakah sudah ada orang yang melakukan ini di Internet. Yang jelas ini hanya gagasan saya, dan perlu relawan untuk melakukannya. (Bukankah tidak perlu khawatir ketahuan karena bisa melakukannya secara anonim?)

Bagikan pada media sosial :