# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2317

Kalau saja saya tidak punya pengalaman menimbang-nimbang apakah ok untuk jadi Caleg, saya yakin saya tidak akan pernah punya perhatian pada masalah ini. Tapi yang saya temukan ini benar-benar membuat saya tersenyum: yang saya sendiri tidak tahu, senyum saya itu senyum kagum atau senyum sinis. Masalahnya adalah, pada salah satu poster-poster yang isinya foto diri caleg yang kini bertebaran di hampir semua sudut Kota Bandung, ternyata adalah kenalan saya. Saya tahu dia, dan dia adalah seorang preman.
Memang kenapa kalau dia adalah preman ? Memangnya tidak boleh seorang preman menjadi Caleg ? Bukan tidak boleh, tapi apakah pantas seseorang yang punya reputasi sebagai gampang naik darah, pemabuk, dan sering berkelahi lalu duduk menjadi anggota DPRD ? dan dia dinyatakan sebagai pembawa aspirasi rakyat ? Yang bener aja!
Saya lumayan tahu dia. Di foto itu ia mengenakan jas dan dasi. Lucu sekali, karena sebelumnya saya tahu dia sering mengenakan t-shirt dan jeans, kemana-mana mengenakan sandal, rambut tidak tertata rapi, ….. dan detil lainnya lebih baik tidak usah saya sebutkan. OK, beberapa minggu atau bulan terakhir ini dia agak susah ditemui. Semua nomor telponnya sudah tidak jalan. Kabar mengatakan, dia sekarang sedang menyepi, mendekatkan diri pada Tuhan. Entah bagaimana yang sebenarnya.
Yang saya pikirkan begini. Kalau ternyata orang seperti dia bisa jadi caleg, bukankah kita bisa curiga dengan caleg-caleg yang lain ? Maksud saya, jangan-jangan preman yang jadi caleg bukan hanya dia ? Atau ada juga caleg-caleg yang sebenarnya mungkin lebih buruk dari preman ?
Inti masalahnya menurut saya adalah, ternyata untuk menjadi caleg, seseorang tidak harus mengalami proses seleksi sosial. Yang terjadi mungkin hanya sekedar seleksi internal partai atau DPC, dan di kalangan orang-orang dalam itu barangkali yang lebih penting adalah persoalan administrasi daripada representativitas. Lalu, dan ini yang terpenting,  tidak ada kriteria yang jelas yang dapat dijadikan sebagai acuan kelayakan seorang caleg; dan kriteria itu, … bukankah sebaiknya berlaku nasional dan diberlakukan untuk semua partai ? Selain itu, nampaknya budaya malu memang belum ada dalam konteks ini. Barangkali ada persepsi bahwa kalau jadi caleg, lalu nanti misalnya bener-bener terpilih jadi ‘leg’, maka itu akan membawa berkah rezeki yang lumayan. Maka menjadi wakil rakyat adalah sama dengan sebuah pekerjaan!
By the way, saya mungkin tidak boleh keterusan (diam-diam) sinis. Bukankah dia masih caleg alias CALON legislatif ? Nampaknya benar-benar ada saatnya dia akan harus menghadapi seleksi sosial, meski seleksi sosial ini rawan sekali, yaitu seleksi sosial yang belum tentu jujur dan obyektif.
Tapi, … siapa tahu, nanti dia bisa benar-benar jadi ‘leg’? Juga siapa tahu sekarang dia sudah tobat dan bakal menjadi penyalur aspirasi yang hebat?
(Foto sengaja saya kaburkan).

Bagikan pada media sosial :