# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1122

To the point saja, sekarang ini banyak penipu bertebaran melalui email, bahkan juga melalui situs-situs di Internet. Ada yang begitu jelas, ada yang samar-samar, ada yang bahkan kelihatannya sungguh-sungguh. Dulu, email spam datang selalu dengan bahasa Inggris, yang dari subject-nya saja, bagi yang sudah berpengalaman, akan tahu bahwa itu adalah spam, tanpa perlu membuka isi emailnya. Tapi kini spam, bahkan scam, ada yang datang dalam bahasa Indonesia.

credAda sisi lain terkait hal itu dalam hal penggunaan Internet yang barangkali agak kurang disadari banyak orang, yaitu masalah kredibilitas (credibility). Kredibilitas adalah sejauh mana kita dapat dipercaya oleh orang lain, sedemikian rupa sehingga orang lain itu tidak akan ragu bahwa kita berniat baik, memberikan informasi yang benar, atau bertujuan yang tidak merugikan. Apakah kita akan percaya begitu saja pada semua email dari orang yang tidak kita kenal itu ? Bukan hanya pada mereka saja masalahnya, kita patut bertanya pula: “Sejauhmana diri kita dipercaya oleh orang lain di Internet ?” Apakah kita bisa mengatakan bahwa kita bisa begitu saja mendapatkan kredibilitas pada komunikasi kita melalui Internet ?

Yang saya perhatikan, semua tipuan itu menggunakan layanan email gratis, yang domainnya kita semua sudah tahu: yahoo.com (atau co.id), gmail.com, hotmail.com, dan sebagainya. Ada pula dari domain selain dari yang sudah kita kenal itu, tapi karena pengirimnya tidak kita kenal dan kontennya tendensius, maka kita jadi berhati-hati. Di sini sebenarnya ada sebuah poin penting yang sederhana. Karena semua orang bisa membuat email sendiri pada layanan-layanan email gratis itu, maka sebuah komunikasi yang menjadi bagian dari sebuah pekerjaan penting tentu akan memiliki risiko tersendiri bila dilakukan melalui email gratisan. Sayangnya, saya lihat sendiri, ada banyak perusahaan, bahkan instansi pemerintah, yang dalam komunikasinya menggunakan email masih menggunakan email gratis seperti itu. (Tentu belum lepas dari ingatan kita, berita tentang seorang anggota parlemen yang menyatakan email untuk pekerjaannya berdomain yahoo.com :)

free-email-servicesMenggunakan email gratis sebenarnya bisa tidak bermasalah, tapi berrisiko. Common sense kita dalam manajemen tentu saja akan mengatakan untuk pekerjaan yang penting / kritis atau yang menyangkut kemaslahatan orang banyak, tentu harus kita lakukan dengan menekan risiko kegagalan seminim mungkin. Ambil contoh, misalnya, dua orang dari dua perusahaan berbeda yang sudah saling kenal di darat melakukan korespondensi melalui email untuk keperluan pekerjaan menggunakan layanan email gratis. Semua memang bisa baik-baik saja. Tapi apa yang mau dikatakan bila email dari salah satunya diretas orang (sesuatu yang kini tidak jarang terjadi) dan si empunya tidak bisa mengambilalih kendali emailnya sendiri ? Atau bagaimana bila kita ingin menjalin sebuah kontak bisnis baru dengan orang yang belum pernah kita temui sebelumnya. Kadang yang kita miliki hanyalah sebuah email dan pikiran baik bahwa orang lain di luar sana tidak akan menipu kita. Juga sebaliknya, yaitu optimisme bahwa orang yang akan kita kontak tentu tidak akan berpikir bahwa kita adalah seorang penipu. Apakah sikap semacam ini dapat kita katakan memadai dan bertanggungjawab ? Bagaimana mungkin kita tidak hirau dengan kredibilitas orang lain dan diri kita sendiri ? Apalagi manakala yang kita lakukan adalah dalam rangka pekerjaan yang penting.

Salah satu jalan keluar dari situasi itu adalah dengan tidak lagi menggunakan email gratis. Bukan berarti kita disarankan menggunakan email yang berbayar, tapi email dengan domain yang kita miliki sendiri. Kalau kita sudah memilikinya, tentu domain itu juga dapat sekaligus menjadi alamat situs kita. Untuk kita yang di Indonesia, sebaiknya untuk keperluan itu kita gunakan domain ID. Seperti alamat situs ini, yaitu tomita.web.id, maka karena saya memiliki domain itu, akan dimungkinkan bagi saya untuk membuat emal dengan username apapun dengan domain @tomita.web.id. Tapi tentang domain itu sendiri, kita tidak dapat melakukannya secara manasuka, karena penggunaan dan pemilikan domain diatur oleh sebuah badan yang menjadi regulatornya. Di Indonesia, badan itu adalah Pandi (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Ketentuan tentang jenis domain, biaya, dan syarat-syarat untuk memperolehnya dapat dilihat di sini.

blogtomBila kita perhatikan syarat-syarat untuk memperoleh domain tersebut, untuk semua domain harus disertai dengan identitas formal. Di sinilah poin penting dari dimilikinya domain ID, yaitu bahwa si pemiliknya terdaftar atau si empunya domain itu jelas eksistensinya. Oleh karena itu saya berkeyakinan, akan kecil kemungkinannya orang melakukan pemalsuan kredibilitas, dengan melakukan penipuan, mengirim spam / scam dengan domain ID. Kalau itu terjadi, tentu kita bisa melaporkannya ke Pandi atau pihak yang berwenang, dan pelacakannya akan jauh lebih mudah. Ini artinya, menggunakan domain ID adalah sebuah upaya untuk menegaskan pada siapapun, bahwa kehadiran seseorang di Internet (internet presence) itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab. Tentu saja ini bukan sebuah garansi bagi adanya kesuksesan Komunikasi yang akan terjadi. Intinya adalah, si empunya domain bukanlah individu / pihak yang tidak jelas. Ini berbeda dengan domain dot.com, misalnya, yang untuk memilikinya hanya diperlukan sebuah email yang valid dan pembayaran untuk membelinya.

Selama beberapa tahun, untuk memperoleh domain yang diperuntukkan bagi publik, kita harus langsung melakukan kontak dan pengurusannya ke Pandi. Namun demikian, kini Pandi telah menyerahkan semua proses itu kepada pihak-pihak lain. Saya sudah menulis tentang itu di sini. Jadi, yang kita lakukan bila ingin memperoleh domain ID adalah dengan mengkontak salah satu Mitra Pandi / registrar yang telah ditunjuk.

Bila latar belakang itu sudah jelas, yang berikutnya berkaitan dengan yang bersifat teknis. Apakah ini sulit ? Sama sekali tidak. Saya tidak bermaksud menguraikan detil teknisnya pada tulisan ini, tapi segera setelah kita memesan sebuah domain dan mendapatkan domain itu, yang harus kita lakukan adalah menghubungi perusahaan hosting dan mendaftarkan domain tadi. Secara sederhana, meng-host-kan domain berarti menghubungkan domain tersebut pada sebuah komputer (server) yang beroperasi terus-menerus dan terhubungkan ke Internet selama 24 jam. Bila dengan domain itu kita akan membuat situs Internet, maka konten dari situs itu akan disimpan pada komputer server tersebut. Demikian pula halnya dengan email yang akan kita buat dengan domain tadi. Komputer server itu dapat berperan sebagai tempat singgah dari email-email yang keluar atau masuk menggunakan domain kita. Untuk mengetahui apa saja perusahaan hosting yang ada, dapat dimulai dengan search menggunakan Google dengan kata kunci, misalnya, Perusahaan Hosting Indonesia. Ada cukup banyak pilihan.

Bila anda adalah bagian dari sebuah perusahaan atau organisasi, tentu dengan  dimilikinya domain akan sekaligus diniatkan untuk membuat situs, namun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa domain hanya dimiliki untuk keperluan email saja. Dengan mengatakan ini saya ingin menunjuk orang-orang yang secara individu barangkali belum berniat membuat situs pribadi / blog. Jadi, sebenarnya di sini saya mau menyarankan, bahkan untuk kepentingan individual atau pribadi pun, memiliki domain tersendiri itu penting, … apalagi kalau anda menjalankan sebuah usaha atau bagian dari sebuah organisasi.

internet presenceBarangkali ada pendapat tentang penting tidaknya memiliki domain ini dengan sebuah gagasan, bahwa kredibilitas internet presence kita dapat dikompensasi dengan menyebutkan referensi-referensi lain di Internet. Misalnya, ketika menulis email (dengan layanan gratis) pada footer-nya kita sebutkan alamat Facebook kita, akun Twitter yang kita miliki, atau sekalian akun Yahoo Messenger. Bukankah dengan referensi silang seperti itu sudah bisa cukup untuk menunjukkan kredibilitas kita ? Memang, dan itu barangkali dapat menjadi sebuah alternatif bagi mereka yang belum berniat mendayagunakan domain-milik-sendiri. Akan tapi nilai penting memiliki domain-milik-sendiri itu bukan hanya dari kesan eksklusif yang timbul, tapi juga bahwa kita akan lebih dimungkinkan memiliki kendali pada akun kita sendiri. Soal email kita dibajak orang lain bisa saja masih terjadi (meskipun kecil kemungkinannya). Namun bila domainnya milik kita sendiri, kita akan lebih mudah melakukan recovery. Kita dapat membuat username dengan bebas, mengatur peruntukan username tertentu, menentukan kuota, dan sebagainya. Lebih bagus lagi, bila untuk keperluan email ini digunakan email client (seperti Microsoft Outlook, Outlook Express, Mozilla Thunderbird, dan lain-lain), bukan antarmuka yang berbasis web.

Anyway, apalah artinya beberapa puluh ribu rupiah per tahun untuk anda pribadi, atau beberapa ratus ribu per tahun untuk perusahaan / organisasi, bila keuntungan yang diperoleh adalah kredibilitas komunikasi dengan para counterpart / klien / konsumen kita ? … sebuah keuntungan yang nyata terasa terutama manakala sebuah kontak baru pertama kali dilakukan dengan orang / pihak yang belum kita kenal, atau mengenali kita.

Gratis memang menyenangkan, tapi seringkali ada harga lain yang harus kita bayar, dan tidak jarang harga itu kalau diangkakan mungkin jadi sebuah besaran yang sama sekali tidak murah. Memiliki domain ID akan menjadi sebuah kemewahan bagi mereka yang barangkali memperlakukan penggunaan Internetnya sehari-hari sebagai komunikasi yang kasual saja. Akan tetapi seiring dengan semakin bergantungnya komunikasi kita pada Internet untuk hal-hal yang yang penting / kritis, maka mengusahakan domain-milik-sendiri adalah sebuah langkah yang harus diusahakan.

Memang saya akui ada hal-hal teknis yang detilnya tidak akan langsung mudah bagi mereka yang belum pernah melakukannya. Tapi bukankah untuk apapun selalu ada saat di mana kita harus melakukan untuk pertamakalinya ? Semoga tulisan ini dapat menjadi introduksi bagi pentingnya menggunakan domain ID.

(Bila ada hal-hal agak teknis yang ingin anda diskusikan, silahkan lakukan itu dengan menuliskannya pada bagian komentar tulisan ini).

Bagikan pada media sosial :