# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1094

ddwrt-alt-logo-large3Adagium don’t fix the unbroken saya langgar untuk kesekian kalinya. Kali ini adalah untuk memuaskan kepenasaranan saya sejak lama soal DD WRT. Jadi singkat kata, pemancar wifi, baik berupa AP (access point) atau WRT (wireless router) dari pabriknya sudah membawa “software” yang menjadi interface perangkat itu. Saya tulis “software” karena sebenarnya itu adalah firmware. Bawaan dari pabrik itu sebenarnya sudah ok ok saja dan tentu bisa menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Ternyata firmware itu bisa kita ganti dengan yang lain, yang akan tetap bisa menjalankan fungsi yang sama, tapi dengan parameter-parameter yang lebih detil, kadang bahkan mengubah fungsi dari hardware yang ada sebelumnya.

Seharusnya mungkin saya lakukan flashing (mengganti firmware) pada perangkat yang nganggur atau sudah jadul dan tidak digunakan lagi. Memang di kantor saya sekarang ini ada beberapa AP / WRT yang seperti itu. Sayangnya ketika saya cek, tidak ada firmware untuk semuanya, bahkan beberapa dinyatakan tidak di support (misalnya D-Link DI-624, Vodafone HG-553, TP-Link TL-WA701ND, TL-WA601G, dan beberapa lagi yang lain). Semua AP / WRT yang aktif digunakan tentu tidak akan saya sentuh. Untuk eksperimen, saya harus gunakan y44_3_20130817000820ang sedang tidak dipakai.

Akhirnya saya putuskan beli baru, yaitu TP-Link TL-WR841ND. Wireless Router dengan 2 antena. Saya cari firmware-nya, ternyata yang stable tidak ada. Adanya yang beta. Ada dua file untuk itu yang harus di-flashing berurutan. Kenapa saya putuskan membeli tipe itu ? Sebenarnya tidak ada pertimbangan khusus juga. Saya bahkan tidak search di database-nya DD WRT soal apakah perangkat ini punya firmware-nya yang stable. Saya beli itu untuk backup dari yang sedang terpakai. Daripada nganggur, ya saya coba flashing dengan DD WRT.

Dari sejak awal baca-baca, saya sudah camkan ke diri sendiri bahwa kalau saya tidak menemukan firmware yang tepat maka perangkat bisa bricked, alias jadi rusak. Memang ada cara untuk mengembalikannya lagi, tapi saya malas menempuh risiko itu. Intinya yang ingin saya katakan adalah, kecuali kalau memang anda berniat eksperimen dan bisa menerima risiko bricked, maka lebih baik kita cari atau menunggu adanya firmware yang betul-betul cocok dengan perangkat yang kita miliki. Sayangnya kalau kita mau begitu kita harus punya keberuntungan juga. Masalahnya, banyak sekali tipe AP / WRT yang meskipun numbering nya sama, tapi versi hardware-nya berbeda. Versi hardware yang berbeda ternyata menuntut adanya firmware yang spesifik. Intinya, kalau kita mau coba DD WRT dengan aman, kita harus menemukan firmware yang betul-betul khusus diperuntukkan hardware yang kita miliki. Atau barangkali bisa kita balik. Kalau kita ingin mencoba DD WRT, maka ketika beli AP / WRT harus disesuaikan dengan apakah sudah ada firmware-nya atau belum. Eh, ternyata ini juga susah. Ternyata di pasaran adanya cenderung seragam. Kalau sekarang stok sedang banyak Versi 10 misalnya, ya di semua toko juga adanya itu saja. Itu yang saya alami di BEC / Bandung.

Soal firmware yang stable atau beta ternyata membuat perbedaan juga. Barangkali orang lain tidak mengalami, tapi saya alami ini. Yang beta ternyata memang baru sekedar jalan, tapi masih mengandung ketidaksempurnaan. Kasus di saya dengan TL-WR841ND adalah, DHCP-nya tidak jalan. Jadi dia tidak memberikan IP ke client sesuai dengan range yang saya definisikan di dalamnya, tapi malah menggunakan IP dari koneksi Internet yang masuk via port WAN. Saya pikir ini karena di wireless mode saya pakai mode AP, saya coba mode yang lain-lainnya, ya sama saja. Malah ada yang tidak memungkinkan perangkatnya broadcast SSID. Ini artinya, stock firmware alias yang bawaan pabrik malah lebih OK. Maka saya jasi berniat untuk mengembalikan lagi ke aslinya.

Meskipun begitu, saya jadi sempat melihat-lihat seperti apa dalamnya DD WRT. Memang lebih detil pengaturannya, bahkan sepertinya ada pilihan-pilihan yang bisa sedikit meng-overclock si AP / WRT. Saya terkesan di bagian wireless-nya, ada pilihan soal TX gain, antenna gain, dan macam-macam lagi yang membuka ruang bagi eksperimen. Ada omongan misalnya bahwa antenna itu bukan penguat sinyal, maka lebih baik nilainya di situ 0. Tapi saya pikir, kalau memang harus 0, kenapa juga ada opsi memasukkan angka selain 0 ? Itu lah antara lain yang saya maksud dengan ruang bagi eksperimen. Soal eksperimen barangkali untuk mereka yang banyak waktu saja. Saya di sini hanya melihat peluang, dan sekali lagi … memuaskan kepenasaranan :)

Nah berikutnya adalah soal mengembalikan ke stock firmware, yang setelah saya baca-baca, ternyata untuk versi hardware yang berbeda juga menuntut perlakuan yang berbeda-beda. Waduh. Jadi saya harus cari cara mengembalikan itu khusus untuk TL-WR841ND versi 10. Untung saja ada, dan itu pun ada beberapa versi. Ampun deh. Ada yang menyarankan me-rename stock firmware-nya dengan nama tertentu (ada dua nama yang saya temukan dan saya coba salah satunya untung langsung berhasil). Ada yang menyarankan menggunakan firmware yang bagian boot-loader-nya sudah dihilangkan. Saya tidak tahu apakah semua alternatif yang disebutkan di beberapa halaman web yang berbeda itu bisa OK semuanya untuk mengembalikan ke stock firmware. Yang jelas, saya beruntung bisa melakukannya dengan sukses.

Yang saya lakukan adalah me-rename stock firmware dari TP-Link, lalu mengubah IP komputer saya jadi 192.168.0.66, lalu dengan bantuan software tftpd folder di mana lokasi firmware yang sudah di rename itu dirujuk via tftpd. Itu semua dalam keadaan si WRT tidak menyala. Saya nyalakan WRT nya sambil memencet tombol reset, dan setelah 3 detik dalam keadaan nyala, saya lepaskan memencet tombol reset tadi. Semua prosedur ini saya peroleh dari Youtube. Bisa dicari dengan kata kunci yang tepat.

Meskipun akhirnya saya balikkan lagi ke semula, tapi saya tertarik dengan DD WRT. Yang saya akan lakukan adalah 1) menunggu adanya firmware yang stable 2) mungkin membeli AP / WRT yang memang sudah ada firmware DD WRT-nya yang stable. Untuk sementara ini, saya gunakan bawaan pabrik saja.

Demikian cerita singkat ini, barangkali bisa memberi gambaran bagi yang mau mencoba memulai.

Bagikan pada media sosial :