# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4648

Koneksi Internet makin hari makin mudah di dapat, bahkan juga cenderung jadi lebih murah. Hotspot gratis di mana-mana, layanan yang menerapkan kuota besar atau unlimited juga banyak pilihannya. Tapi ketika yang kita butuhkan adalah yang bisa dibawa ke mana-mana dan mudah, kita perlu portable wifi. Betul bahwa hampir semua smartphone sekarang punya fitur tethering dan bisa difungsikan sebagai portable wifi, namun kalau kita mengandalkan itu barangkali kuota Internet untuk penggunaan aplikasi-aplikasi di smartphone yang membutuhkan Internet akan berkurang, baterai smartphone akan cepat terkuras sementara kita mungkin juga membutuhkannya untuk menelpon, atau mungkin juga kualitas sinyal untuk Internet di smartphone kurang bagus sehingga kita membutuhkan provider alternatif. Ada beberapa pertimbangan lain lagi, tapi intinya adalah, bagi yang sering menggunakan Internet, ada alasan untuk memiliki portable wifi. Tulisan ini mengulas portable wifi yang dikeluarkan Smartfren, yaitu Andromax M2Y.

Smartfren mengeluarkan empat macam portable wifi, yang mereka istilahkan dengan router. Saya kira yang lebih tepat adalah wireless router, meskipun dalam tulisan ini saya menggunakan istilah portable wifi (ada juga yang menyebut perangkat ini sebagai “mifi”). Di situsnya, Smartfren memajang empat macam perangkat itu :

clip_image002

Ketika saya akan membeli, tentu saja saya kesampingkan Connex M1 karena itu belum 4G. Lalu apa yang membuat saya memilih M2Y daripada M2S atau M2P ? Kalau dicermati spesifikasinya, M2Y adalah yang memiliki kapasitas baterai terbesar dengan waktu siaga terlama (2000 mAH, 10 jam waktu kerja, dan 350 jam waktu siaga). Tentu saja saya tidak bisa cek pada kenyataannya apakah spek itu sesuai dengan kenyataan atau tidak, tapi dengan harga yang sama dan dengan melihat uraian yang ada, secara rasional saya harus memilih yang itu.

Saya tidak membeli portable wifi ini di gerai Smartfren karena setelah saya lihat-lihat di beberapa toko online, ada perbedaan harga sekitar 50 ribuan lebih murah di sana. Saya pesan, dan ketika barangnya datang dan coba aktifkan, saya hampir menyalahkan diri sendiri ketika mengisi form untuk aktifasi. Ada data yang tidak ada di kardus maupun manualnya ada, yaitu ‘kode outlet’. Saya coba search soal itu. Ada beberapa situs yang menyediakan ‘kode outlet’ untuk beberapa provider termasuk Smartfren. Saya coba semuanya, dan semuanya tidak bisa. Saya lalu kontak CS Smartfren via Twitter. Jawaban mereka adalah “ …. berdasarkan peraturan dr Pemerintah per tgl 15 Desember 2015, utk registrasi nomor perdana baru itu wajib dilakukan di Galeri Smartfren atau outlet resmi Smartfren.” Ya sudah, tidak ada pilihan lain kecuali pergi ke sana untuk mengaktifkannya. Prosesnya hanya perlu beberapa menit dengan menunjukkan KTP.

Hasil obrolan dengan CS di sana menghasilkan info :

1. Sama seperti kartu Smartfren sebelumnya, untuk kartu 4G ini pembelian kartu di kota lain tidak akan menimbulkan perbedaan dalam hal charging pulsa atau apapun. Saya pikir nampaknya juga tidak akan bermasalah kalau dibawa roaming ke kota lain, tapi saya belum coba.

2. Untuk kartu perdana 4G, akan ada bonus 2Gb selama 12 bulan (atau 12 kali pengisian) bila diisi ulang minimal 100 ribu.

3. Kalau suatu saat baterainya rusak, kita bisa beli lagi di gerai Smartfren, tapi dengan cara memesan terlebih dahulu.

Kelengkapan di kardusnya sendiri hanya standar saja :

1. Unit portable wifi-nya, buatan Haier

2. Baterai Li-Ion dengan kapasitas 2000 mAh

3. SIM Card yang sudah diambil dan dipasangkan pada unit portable wifi

4. Kepala charger dan kabelnya dengan konektor micro USB

5. Kartu greeting dua bahasa

6. Kartu garansi

7. Panduan registrasi (yang tidak ada gunanya karena masalah ‘kode outlet’ tadi)

8. Nomor kartu dan activation code yang tertempel pada kardus bagian dalam, juga nama SSID dan password Wifi default yang nanti bisa diubah.

Sekarang yang penting adalah bagaimana pengalaman menggunakan portable wifi ini ? Cara menggunakannya (tentu saja setelah di setting), tinggal pencet tombolnya sampai lampu menyala. Sesudah itu tinggal kita diamkan. Ada lampu indikator sinyal supaya kita tahu kualitas sinyal di tempat kita menggunakannya. Untuk mematikan, tinggal pencet tombol on/off nya agak lama sampai semua lampunya mati.

Soal setting tidak akan saya uraikan. Percuma saja. Kalau kita memang harus ke gerai Smartfren karena soal ‘kode outlet’ itu, ya kita biarkan CS saja yang melakukan setting. Yang jelas setelah terhubung secara wifi, kita bisa masuk ke setting-nya dengan dengan mengetikkan alamat IP standard di browser http://192.168.1.1/ kita akan terbawa ke sini setelah sebelumnya mengetikkan username dan password :

clip_image004

Satu hal, saya tidak melihat opsi bagaimana kalau kita lupa password-nya. Barangkali satu-satunya cara adalah dengan datang lagi ke gerai Smartfren.

Soal kecepatan, sama seperti dengan yang lain, lokasi ternyata membuat perbedaan. Yang jelas, semuanya mengalahkan kecepatan yang bisa didapat dari koneksi 4G pada semua smartphone saya secara tethering. Di tempat saya menulis ini (di Bandung), hasilnya seperti ini :

clip_image006

Di tempat lain yang lebih terbuka, saya pernah bisa dapat lebih dari itu. Saya yakin di Jakarta pasti perolehan kecepatannya lebih tinggi lagi.

Beberapa catatan pribadi saya terkait penggunaan portable wifi ini :

1. Kalau kita sudah biasa dengan koneksi Internet cepat, unlimited, dan sistem pembayarannya flat rate di komputer desktop (Seperti Indihome, misalnya), kuota yang tersedia tidak terasa akan cepat habis. Penggunaan di komputer desktop nampaknya harus cermat dan tidak jor-joran.

2. Yang lebih khusus adalah apabila kita menggunakan Windows 10. Saya kira pulsa akan lebih cepat habis kalau menggunakan sistem operasi MS ini. Detik pernah menurunkan tulisan ini. Saya coba dengan menjalankan aplikasi yang jelas secara langsung tidak ada hubungannya dengan Internet di Windows 10, yaitu Microsoft Word versi 2016, tapi ternyata itu membuatnya mengakses beberapa nomor IP :

clip_image008

Dalam keadaan idle pun, kalau kita perhatikan, Windows 10 diam-diam akan mengontak beberapa nomor IP yang persisnya entah untuk keperluan apa saja. Jelas, ini akan menyedot kuota Internet. Memang kita sudah setuju dengan EULA (End-User License Agreement) ketika kita akan menginstal Windows 10, yang artinya kita mengizinkan Windows untuk melakukan itu. Jadi, hati-hati gunakan Internet berkuota dengan Windows 10. Membuat komputer dalam keadaan idle dan tersambung ke Internet pun ternyata masih akan membuat Windows menghabiskan kuota.

3. Baterai cepat habis. Di spesifikasi perangkat ini dikatakan bahwa jumlah maksimal koneksi adalah 32. Jangankan untuk 32 koneksi, untuk satu koneksi saja baterainya cepat habis. Hanya dalam waktu 1,5 jam untuk penggunaan browsing normal, baterai sudah tinggal satu strip. Menurut saya ini wajar, termasuk juga meningkatnya suhu si portable wifi. Hangat saja memang. Ada satu cara mengatasi ini, yaitu dengan melakukan koneksi ke portable wifi dan pada saat yang sama dihubungkan ke charger. Baterai memang tidak akan habis, tapi barangkali kita akan terlena; mulai dari lupa mematikan sehingga baterai overcharged sampai kurang periksa bahwa portable wifi mungkin panas.

4. Satu kemungkinan lagi soal baterai, bagaimana kalau portable wifi kita gunakan dalam keadaan di tancapkan ke charger tapi baterainya dicabut ? Saya sudah coba ini. Portable wifi-nya tampak berjalan normal, tapi ketika saya cek, sama sekali tidak ada sinyal yang dipancarkan.

5. Fitur yang mungkin menarik untuk beberapa orang adalah File Sharing. Persisnya adalah dengan memasukkan sebuah SD Card ke dalam perangkat ini. Kita bisa isi SD Card itu dengan file apa saja lalu kita akan bisa share menggunakan Wifi ke semua orang yang bisa mengaksesnya, tapi bukan akses ke setting. Jadi, di sini ada dua username & password. Satu untuk mengatur portable wifi (bagi admin) dan satu untuk akses SD Card. Ada satu lagi sebenarnya yaitu SSID dan password Wifi-nya. Pengguna yang diberi akses ke SD Card pertama harus tahu password Wifi. Setelah bisa konek, dia lalu bisa mengetikkan 192.168.1.1 pada browser. Pada interface yang muncul, bisa diklik kotak SD Card dan akan diminta password khusus untuk akses ke sana. Lumayan praktis, tapi kekurangannya adalah kita tidak bisa atur agar user hanya read saja. Ternyata semua user bisa write juga, dan ini berarti mereka bisa upload dan delete.

6. Bila masuk ke halaman home dan di atas tertulis System Update Available berarti ada pembaharuan firmware yang tersedia dan bisa diunduh. Langsung klik tulisan itu dan firmware akan terunduh otomatis, tapi pastikan baterai portable wifi-nya penuh. Jangan sampai selama proses update perangkatnya mati.

clip_image010

Yang saya alami, setelah selesai akan ada tulisan “system restarting” dan itu berlangsung lama sekali. Saya putuskan ini pasti hang atau semacamnya. Saya matikan browser dan coba masuk lagi ke home (192.168.1.1). Ternyata firmware-nya sudah ter-update dengan sukses. Saya coba buka-buka semua halaman di home, ternyata tidak ada perubahan secara visual. Termasuk pada fitur file sharing pun tidak ada perbaikan dalam hal setting untuk pengaturan user agar bisa read saja. Semoga nanti ada pada update berikutnya.

Kesimpulannya, barang ini bagus dan praktis. Demikian pengalaman saya menggunaan portable wifi ini. Semoga bisa memberi gambaran bagi yang akan membeli / menggunakannya.

Bagikan pada media sosial :