# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 7234

bec Setiap saya pergi ke BEC (Bandung Electronic Center), saya selalu takjub dengan begitu banyaknya orang yang setiap hari memadati toko-toko hp itu. Pertanyaan saya dalam hati, “OK, mereka akan membeli hp, apakah mereka membelinya hanya untuk menelpon dan SMS saja ? Apakah ada ekspektasi bahwa hp yang mereka akan beli itu juga harus bisa terkoneksi ke Internet ? Apakah itu akan jadi pengalaman mereka yang pertama dengan Internet ? Apakah itu hp pertama mereka ?” Ada begitu banyak pertanyaan! (barangkali saya juga harus pertanyakan kenapa saya harus takjub, sementara orang lain biasa-biasa saja).

Dulu ada masanya ketika hp yang memiliki kemampuan koneksi ke Internet (sekurangnya memiliki fitur GPRS) adalah hp yang cukup mahal. Sekarang, nampaknya hampir semua hp baru memiliki fitur itu, bahkan dengan metode koneksi yang lebih banyak lagi, seperti 3G, EDGE, HSDPA, atau Wifi. Harganya pun amat terjangkau. Ketika itu saya punya Siemens ME-45 dengan GPRS class 10 yang kecepatannya pas-pasan (karena kualitas jaringan waktu itu juga belum sebaik sekarang). Harganya adalah 2,5 juta. Sekarang kita bisa melihat di berbagai iklan, ada hp dengan fitur koneksi ke Internet hanya 300 ribu rupiah saja!

lte Selain harga hp, yang jelas menjadi daya tarik para calon pembeli hp adalah begitu banyaknya tawaran koneksi Internet murah dari provider. Ada yang menawarkan, 2000 rupiah saja per minggu untuk bisa menggunakan Facebook sepuasnya, atau dengan 10 ribu rupiah saja per minggu akan dapat kuota sekian mega untuk mengakses Internet via hp, ada pula yang unlimited, tapi dengan biaya yang meski lebih mahal, namun tetap terhitung murah kalau pemakaiannya intensif. Yang terakhir, Telkomsel, 3, dan Axis malah melakukan semacam agreement dengan Facebook untuk menggratiskan biaya koneksi ke situs jejaring sosial populer itu melalui url khusus yang hanya menyajikan teks saja, yaitu 0.facebook.com. Belum lagi sekarang sudah terdengar LTE (Long Term Evolution) alias 4G, yang menurut prakiraan beberapa pihak akan turut meningkatkan kualitas koneksi kelas di bawah 4G dan sekaligus menurunkan tarifnya.

Dengan semua perkembangan yang tidak pernah mengarah ke penurunan itu, secara umum apakah kita bisa membayangkan bahwa bila orang akan membeli hp baru ia hanya akan menggunakannya untuk menelpon dan sms saja ? Saya kira malah bisa terjadi ini semua bukan merupakan hype yang berfokus pada kepemilikan perangkat dan akses saja, tapi bayangkan, katakanlah semua orang menonton TV dan memperbincangkan hal-hal yang ditayangkan pada TV; maka orang-orang yang tidak punya TV akan mengalami disonan dan terdorong kuat untuk membeli TV. Sama halnya dengan hp dan Internet. Apa jadinya bila semakin banyak orang berinteraksi melalui Internet, dan ada orang-orang yang tidak ikut serta, sementara orang-orang ini masih dalam kedekatan sosial dengan mereka ? Sementara itu untuk memiliki seperangkat komputer lengkap dengan akses Internetnya mungkin masih pilihan yang mahal, memiliki hp dengan koneksi Internet adalah sebuah alternatif yang amat terjangkau yang tentu akan segera dijadikan pilihan agar tidak tertinggal dalam pergaulan.

qwertycp Kalau saya memberi judul catatan ini “Penetrasi HP Qwerty … “ itu tidak berarti saya menafikan hp-hp lain yang papan tuts-nya bukan qwerty namun punya kemampuan koneksi Internet. Saya tulis begitu karena karakteristik papan tuts itu telah menjadi salah satu tonggak booming-nya penjualan hp dengan fitur koneksi Internet. Tidak usah dijelaskan lagi bahwa itu semua berasal dari desain-nya Blackberry, tapi saya berpendapat bahwa hp-hp qwerty murah yang sebagian besar produksi Cina itu bukan sekedar epigon Blackberry. Secara umum, saya kira produksi massal hp qwerty itu telah turut mempercepat laju evolusi standard base dari perangkat komunikasi selular (suatu hari, hp yang hanya bisa untuk menelpon dan sms saja akan mati / tidak laku). Memang tidak semua hp qwerty memiliki fitur koneksi Internet, tapi bisa dikatakan sebagian besar memiliki fitur itu, disamping cenderung memiliki layar standard yang lebih lebar dari hp konvensional yang umumnya berdesain candy bar, sehingga lebih nyaman untuk bisa digunakan untuk browsing. Selain koneksi Internet, hp-hp qwerty juga telah memiliki variasi fitur-fitur multimedia yang sebelumnya hanya ada pada hp-hp dengan harga yang lebih mahal (kamera, video recorder, sound recorder, mp3 player, radio, bahkan TV).

Ok, barangkali sebagian dari kita akan ada yang mengatakan bahwa hp-hp qwerty buatan Cina itu adalah hanya Blackberry-wannabe, sekedar fasilitasi gengsi dari snobisme kelas menengah, hp dengan kompromi pada kualitas (karena memang ada yang benar-benar jelek), atau mungkin apa lagi yang lebih sinis, …. tapi itu semua tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa fitur konektifitasnya telah berjasa secara massal mengantarkan warga kelas menengah-bawah ke Internet. Poin saya di situ. Bukan semakin banyak orang jadi sering meng-update statusnya via Facebook, atau mengumbarkan situasinya via Twitter; tapi semakin banyak orang akhirnya terintrodusir ke Internet, meski ‘jalan masuknya’ barangkali agak khas dibandingkan dengan orang-orang yang melakukannya menggunakan komputer personal.

Semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengadopsi Internet dapat memiliki implikasi sosiologi dan komunikologi yang patut untuk direnungkan. Saya akan tuliskan di bagian kedua.

Bagikan pada media sosial :