# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 10524

19-qwerty-phonesSaya ingin mengulangi lagi mengapa Internetisasi Publik dapat dimulai secara intens melalui handphone (hp). Memang betul hp yang internet-capable tidak harus yang berbentuk qwerty, tapi desain hp qwerty pada umumnya telah sekaligus membuat ukuran layarnya lebih besar dari rata-rata hp non-qwerty, sehingga memungkinkan penggunaan yang lebih nyaman untuk keperluan melihat-lihat konten Internet. Oleh karena itu hampir semua HP qwerty adalah jenis yang Internet-capable, meski harus ditambahkan bahwa kualitasnya sangat bervariasi, mulai dari yang buatan lokal atau Cina hingga ke merek-merek yang telah mapan. Berkaitan dengan itu, karena akses Internet melalui komputer konvensional mensyaratkan perangkat-perangkat yang relatif (lebih) mahal, kompleks, dan tidak portabel maka bisa dibayangkan bahwa ada cukup banyak orang yang adopsi pertamanya pada Internet dimulai dari hp. Ini ditegaskan dengan semakin banyaknya tawaran layanan akses Internet murah dari beberapa provider selular, dan meningkatnya popularitas layanan-layanan jejaring / media sosial. Katakankah, dalam suatu rentang social circle tertentu, apa yang akan terjadi kalau semua / banyak orang sudah menggunakan sebuah medium / layanan tertentu dan saling berinteraksi dengannya, sementara ada sebagian yang tidak ? Tren itu jelas-jelas telah menciptakan sebuah disonansi kognitif yang besar, yang mendorong orang-orang lain untuk akhirnya mengadopsi Internet juga.

locInternetisasi publik adalah satu hal. Setelah itu terjadi, yang harus dibicarakan kemudian adalah apa yang menjadi dampak selanjutnya dari adopsi tersebut. Saya berpikir, sisi kehidupan yang segera tersentuh oleh ini adalah aspek sosial dan komunikasi manusia. Kalau dulu saya pernah tidak dianggap ketika membicarakan Internet dalam kaitannya dengan Ilmu Komunikasi, evolusi yang kini terjadi telah membawa keadaan di mana fenomena penggunaan Internet telah marak, dan dunia Ilmu Komunikasi tidak bisa lagi menutup mata pada hal itu. Apa yang harus kita cermati pada evolusi sosial dan komunikasi sebagai akibat dari Internetisasi publik tadi ? Salah satunya yang cukup penting dan aktual adalah, yang bisa kita mulai dari semakin digunakannya sarana penanda lokasi; yang entah merupakan sebuah layanan utama dari sebuah media sosial, atau yang menjadi salah satu fiturnya. Yang pertama adalah seperti dari Foursquare, Waze, atau Koprol. Yang kedua, kita tahu itu ada pada Facebook Places. Mungkin masih ada layanan-layanan sejenis yang lain.

Inti dari yang sedang saya renungkan adalah, apakah semua layanan berbasis web itu sebenarnya mengajak kita untuk menginisiasi interaksi sosial melalui Internet ? Kalau iya, apakah itu realistis ? Pertanyaan ini berasumsi bahwa apa yang tadinya virtual, karena terjadi komunikasi dalam ranah yang virtual itu, maka berubah menjadi sosial, dan seterusnya memicu komunikasi lebih lanjut. Ini barangkali terlalu spesifik, tapi contoh skenarionya kurang lebih seperti ini. Saya datang ke sebuah lokasi yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Karena bingung, saya buka Foursquare, dan saya lihat ada orang lain yang ternyata sudah pernah ke tempat ini. Saya dan orang itu belum “terhubungkan”, tapi saya bisa mengontaknya. Kebetulan dia mencantumkan nomor hp nya. Lalu saya kontak dia untuk bertanya-tanya. Apakah yang seperti ini mungkin terjadi ? Dalam konteks seperti itu jelas saya lebih memilih menelpon daripada mengirim email atau pesan lain, misalnya, … karena orang tidak bisa selalu diharapkan untuk online setiap saat (sayangnya, sekarang ini belum ada indikator apakah orang yang pernah berada di sebuah lokasi itu sekarang sedang online).

pinApapun itu, kalau semuanya terjadi dalam konteks yang virtual, saya kira bisa saja terjadi. Tapi kalau masalahnya adalah yang tadinya virtual lalu “menyeberang” ke dimensi lain, yaitu sosial, saya kira itu tidak akan begitu mudah terjadi, atau harus dikatakan bisa saja terjadi, tapi dengan kerentanan-kerentanan yang tidak semua orang siap menanggungnya. Bagaimana kalau peluang ini digunakan oleh orang yang berniat jahat ? Jangankan itu, sekarang saja beberapa pihak merasa “diketahuinya posisi di mana sekarang berada” adalah sebuah informasi yang sangat potensial mengganggu privacy. Sebuah situs menulis : “Angkatan Udara Amerika Serikat memperingatkan para prajuritnya untuk berhati-hati dalam menggunakan Facebook dan situs-situs jejaring sosial populer lainnya, karena beberapa fitur di situs-situs tersebut dapat menunjukkan kepada musuh lokasi dari pasukan AS di zona perang.” Artinya, tidak selamanya keberadaan kita diketahui orang akan menguntungkan.

Saya merasa beberapa situs media sosial bukannya tidak menyadari itu. Nampaknya mereka lalu berusaha untuk mengalihkan kekhawatiran itu dengan kompensasi macam-macam. Misalnya Foursquare, dengan memberi macam-macam badge, sesuai dengan reputasi check-in kita, atau melalui kerja sama dengan lokasi tertentu memberikan diskon, bahkan uang belanja, pada orang yang check-in. Saya kira masih terlalu awal untuk mengatakan ini itu tentang semuanya, termasuk juga untuk optimis atau pesimis. Kita lihat saja perkembangan semua ini. Yang jelas, kembali lagi, ketika dimensi virtual “masuk” ke dimensi sosial, urusannya belum tentu selalu akan ok ok saja. (Hey, apakah saya paranoid ?)

Dalam kaitan itu sebuah upaya lebih jauh dalam rangka inisiasi interaksi sosial dari yang virtual, telah digagas oleh seseorang yang ada di balik Facebook selain Mark Zuckenberg, yaitu Chris Hughes. Proyeknya di namakan Jumo. Berbeda dengan media sosial lain yang bediri sendiri, Jumo seperti ingin memiliki level integrasi tertentu dengan Facebook (untuk mendaftar, sebelumnya kita harus punya akun Facebook). Hughes jumonampaknya ingin Internet lebih dari sekedar medium inisiator interaksi sosial, tapi bahkan aktifitas kerja sama sosial, yang ia istilahkan dengan “mengubah dunia”. Gagasannya bagi saya sangat menarik, dan cukup masuk akal. Kita akan harus menunggu sampai gagasan itu terwujud menjadi kenyataan. Yang saya alami, Jumo masih terbatas menghubungkan kita pada organisasi-organisasi di Amerika. Di Indonesia, saya dapati (baru) ada Yayasan Lontar dan Maranatha Social Service Camp, dan beberapa lainnya yang saya tidak kenal. Saya membayangkan ini kalau diperluas lagi barangkali memang bisa benar-benar “mengubah dunia”, diawali melalui virtual collaboration lalu diarahkan ke dunia nyata, atau apapun juga yang sifatnya lebih menghasilkan sesuatu yang nyata, membuat rekayasa-rekayasa sosial baru, perubahan keadaan sosial, dan sebagainya. Hanya sayang, karena masih beta, proses sign up ternyata membuat kita hanya bolak balik di Create Your Profile terus. Gagasan mengkonstruksi pola interaksi yang menghubungkan dunia virtual ke sosial sungguh-sungguh merupakan eksperimen yang amat menarik!

Sekarang, apa artinya bila semua ini dilakukan dari sebuah perangkat yang sedemikian portabel, terjangkau, dan sangat besar kemungkinannya menjadi sarana first entrance bagi publik yang awam ke media Internet ? Sedangkan layanan-layanan web yang dapat diakses melalui perangkat tersebut memiliki visi bahwa yang virtual dengan satu dan lain cara akan terhubungkan dengan yang sosial, bahkan dalam evolusinya untuk secara massal terintegrasi dalam agenda hidup sehari-hari ? Kehidupan sosial kita diambang sebuah perubahan besar, saya kira. Apa dan ke mana pun perubahan itu, semoga selalu ke arah yang lebih baik.

Bagikan pada media sosial :