# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 5994

Ini adalah sebuah parafrase dari apa yang pernah saya tulis di sebuah milis. Tiba-tiba saya merasa perlu menuliskan ini karena kemarin saya lewat di Jalan Gandapura dan melihat sebuah tiang listrik kuno, yang pasti adalah salah satu peninggalan dari jaman Belanda yang akan saya tuliskan ini. Sebenarnya saya ingin sekalian menampilkan foto-fotonya dengan hosting blog  ini (karena khawatir gambar / web itu mungkin nanti akan hilang), tapi saya takut ada masalah hak cipta. Jadi yang saya lakukan hanya me-link beberapa gambar itu saja di sini.
lt Kalau pusat telekomunikasi nasional itu ada di Bandung (?) (PT. Telkom) barangkali memang ada alasan historisnya. Bisa jadi kantor pusatnya ada di Jakarta, tapi ada sebagian kantor dan pengelolaan infrastrukturnya yang tetap berpusat di Bandung. Sebabnya adalah pernah ada suatu masa, Bandung menjadi bagian besar dari infrastruktur pemancar komunikasi yang terletak di Malabar.
Dari berbagai link, saya menemui bahwa ternyata pada jaman itu (1917 – 1929) mekanisme perangkat radio pemancar masih sangat jauh teknologinya dari yang ada sekarang. Pertama, ukurannya sangat besar. Kedua, untuk menghasilkan daya pancar yang besar dibutuhkan listrik yang amat sangat besar (perlu satu PLTA untuk satu pemancar!). Ketiga, bagian  transmitter dan receiver-nya terpisah. Yang terakhir itulah yang bagi saya menarik. Pemancar yang dinamai Radio Malabar itu, transmitter-nya terletak di daerah Gunung Puntang (di tempat itu juga dikenal nama Malabar). Sedangkan receiver-nya ada di daerah Rancaekek dan Padalarang.
Lebih lanjut, yang ada adalah angka-angka yang cukup mengejutkan. Untuk berkomunikasi dengan Belanda yang jaraknya dari Bandung adalah sekitar 12.000 Km, daya pancar yang digunakan adalah 2,4 juta Watts. Sementara perangkat pemancarnya membutuhkan 750 Volts dan daya 1000 Ampere. Bila dibandingkan dengan pemancar HF yang ada sekarang, untuk berkomunikasi ke luar negeri pada 40 meter kalau propagasi sedang bagus, barangkali daya pemancar yang 100 Watts sudah lebih dari cukup.
m4b1Rupanya komunikasi dengan Belanda waktu itu dianggap sangat penting. Sampai-sampai untuk mendukung keberadaan pemancar itu diperlukan sebuah laboratorium khusus dan beberapa support system lain yang didirikan di Bandung. Selain itu, Bandung juga menjadi tempat yang mensuplai listrik bagi pemancar di Malabar itu. Bayangkan, pemancarnya ada di Malabar, Gunung Puntang, tapi power supply-nya ada di Bandung, yaitu di Dago Pakar. Sebuah situs mengatakan bahwa pemancar di Malabar ini sebagai Worlds Most Powerful Arc Transmitter Ever. Gambar-gambar yang ada di situs itu benar-Icom IC-718 benar membuat saya jadi terbelalak, karena bila dibandingkan dengan HF transmitter yang saya punya (Icom IC-718) ukurannya sangat jauh. Bangunan pemancar Radio Malabar itu barangkali harus menempati beberapa hektar tanah, sementara pemancar yang saya punya bisa ditempatkan di atas meja. Gila!
Sayangnya, nyaris semua bukti sejarah ini sudah hancur. Kemarin yang saya lihat di jalan Gandapura, saya yakin, adalah sebuah tiang listrik dari jaman itu. Saya harus ke sana untuk memotretnya. Saya akan tambahkan foto tiang listrik itu pada entri blog ini nanti.

Bagikan pada media sosial :