# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2856

Ini bukan yang pertama kali saya alami. Isi satu harddisk amblas semuanya karena sebab yang sungguh tidak diketahui. Aneh, waktu itu kalau tidak salah, saya hanya membetulkan antena TV tuner di CPU, lalu komputer restart sendiri, dan boom! …. harddisk tidak terdeteksi, rusak sama sekali, dan semua data di dalamnya hilang.
Tiga hari lalu, saya ke kantor untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda, yaitu membikin ghost untuk sebuah komputer. Karena Norton Ghost membutuhkan Net Framework 1.1, maka saya harus cari itu di bagian download-nya Microsoft. Saya lalu nyalakan sebuah komputer yang memang khusus untuk Internet dan download. Aneh, kenapa mendeteksi harddisk-nya lama sekali. Saya langsung curiga, jangan-jangan harddisk-nya tidak bisa terdeteksi oleh BIOS. Dan ternyata benar!
Sekarang ini saya search sana sini, tanya sana sini, soal apa yang bisa dilakukan lagi kalau keadaannya sudah begini. Dalam hati saya sudah hopeless, tapi siapa tahu? Ada yang menyarankan untuk meng-kanibal harddisk itu, diambil plat-nya, lalu dipindahkan ke harddisk lain. Saya belum pernah melakukan itu. Lagian, kalau saya melakukannya, pasti akan menghilangkan stiker garansi. Memang harddisk ini masih dalam masa garansi, yang artinya, kalau saya kembalikan lagi ke tokonya, nampaknya akan diganti dengan yang baru. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah isi harddisk itu, bukan harddisk-nya.

Sejak saya tahu soal itu, hingga hari ini saya merenung terus, pelajaran apa yang bisa diambil dari hilangnya data? Saya kira ada beberapa hal :

  1. Backup. Ini sudah common sense sekali. Saya juga sudah tahu itu, juga semua orang, tapi terlalu banyak orang melalaikannya, termasuk saya!
  2. Burn data statis di CD / DVD. Harddisk Saya yang rusak itu sebagian besar isinya data statik, alias file-file yang ketika komputer jalan tidak langsung digunakan. Isinya hanya repository dari hasil download di situs licensed download-nya Microsoft. Emang Saya bisa download lagi, tapi ukuran totalnya mungkin sudah puluhan giga. Barangkali akan butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembalikannya. Kalau datanya bersifat statis, lebih baik burn saja ke CD / DVD. Saya sudah lakukan itu, tapi belum semuanya.
  3. Matikan listrik dari komputer secara total. Komputer saya itu kalau di-shut-down, bagian dalamnya masih nyala. Ada LED 7 segmen yang memberi info soal status motherboard. LED itu tetap nyala, berarti masih ada aliran listrik. Siapa tahu dalam keadaan seperti itu si harddisk bisa kena kejutan listrik karena tegangan naik atau ketika listrik mati dan nyala lagi? Ini juga common sense, tapi saya lalai melakukannya. Soalnya di ruangan saya ada enam komputer yang tiap hari harus saya utak atik. Masa tiap pulang kerja harus dicabut dulu semua kabelnya, lalu besoknya dipasang lagi? Males! Tapi mungkin memang cara yang teraman harus begitu.
  4. Kalau tidak perlu, tidak usah pakai harddisk terlalu besar. Buat apa mesti pake 500Gb? Ya dalam kasus saya, saya memang perlu sebesar itu karena untuk menampung hasil download yang begitu banyak dan besar. Tapi jadi kepikiran lagi. Apa sebenarnya tidak lebih baik saya pake 160Gb saja misalnya, lalu kalau sudah hampir penuh, burn saja ke CD / DVD ? Kalau harddisk terlalu besar dan kita lalai melakukan backup, maka ada kecenderungan kita numpuk data di situ, sekali harddisk-nya bermasalah, maka hilangnya akan sangat besar dan banyak. Saya kira hal yang sama berlaku juga untuk flash disk. Buat apa punya 2 Gigabyte, kalau isinya hanya file-file Word, Excel … Barangkali 512 Megabyte saja sudah lebih dari cukup untuk itu.

Dengan dosa kita bisa sedikit lebih dewasa. Dengan musibah semoga kita bisa lebih bijaksana. Data nampaknya tidak bisa kembali lagi, tapi kali ini saya memastikan saya benar-benar belajar dari pengalaman!

Bagikan pada media sosial :