# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 13620

M.A.W.Brouwer Saya sama sekali belum pernah bertemu atau melihat orang ini. Bahkan melihat bayangannya berkelebat saja tidak pernah, tapi saya tidak bisa lupa, karena dialah salah seorang yang berperan dalam perkembangan intelektual saya. Pater Brouwer, itu nama panggilannya. Nama lengkapnya adalah Martinus Anton Wessel Brouwer, atau disingkat M.A.W. Brouwer. Beliau ini sudah meninggal, dan saya tidak punya kesempatan untuk bertemu atau berkenalan dengannya (padahal berada di kota yang sama: Bandung).
Awal mulanya, tentu saja karena saya membaca tulisan-tulisannya di harian Kompas. Waktu itu saya masih kelas 3 SMA, dan koran Kompas belum setebal seperti yang sekarang ini. Halaman 4 koran Kompas selalu saja berisi tulisan-tulisan yang sangat serius untuk ukuran saya ketika itu, tapi karena sering tidak ada lagi bacaan yang bisa dibaca, akhirnya saya baca juga halaman itu. Saya sering tidak mengerti apa yang saya baca, tapi suatu ketika tanpa sengaja saya menemukan tulisannya Pater Brouwer. Saya lupa waktu itu tentang apa yang saya baca. Yang jelas, itu bisa membuat saya tertawa. Sejak itu, saya selalu menantikan tulisannya. Kalau tidak salah tulisannya itu muncul seminggu dua kali, lalu pernah seminggu sekali, sampai akhirnya saya tidak bisa membacanya lagi karena keluarga saya memutuskan untuk berhenti berlangganan Kompas.
Brouwer Kecil2 Ketika masuk perguruan tinggi, saya mulai berkenalan dengan Filsafat. Itu adalah atas jasa dosen saya: Dr. R.C.W. Poespoprodjo, Lp.H, S.S., S.H. Ketika itu saya baca Kompas lagi, dan mungkin kebetulan, apa yang dibahas dikelas oleh Pak Poespo kadang nyambung dengan apa yang ditulis Pater Brouwer di koran. Waktu itu saya bersemangat sekali mempelajari Filsafat, dan meski belum ada Internet, nama-nama pemikir yang muncul baik pada kuliah Pak Poespo maupun tulisan Pater Brouwer jadi semacam pinpoint untuk pencarian saya di toko-toko buku. Sedikit-sedikit, saya mulai membeli / meminjam buku-bukunya Pater Brouwer. Saya tidak peduli meski semua itu sebenarnya ditujukan untuk bidang Ilmu Psikologi, tapi saya membacanya. Dua yang saya ingat adalah “Badan Manusia dalam Cahaya Psikologi Fenomenologis” (BMdCPF) dan “Psikologi Fenomenologi” (PF). Ketika membaca kedua buku itu, saking ‘nge-fans’-nya, saya menerapkan cara membaca yang pasti tidak akan pernah disarankan oleh siapapun, yaitu “main tabrak terus”. Maksudnya, meskipun yang dibaca tidak bisa dipahami, tapi saya membacanya terus. Ternyata dengan cara begini, saya jadi banyak salah mengerti, he, he … tapi yang namanya pengetahuan bukanlah sesuatu yang statis, apalagi kalau kita mau membaca terus. Sedikit demi sedikit, dengan referensi sana sini, banyak yang tadinya saya salah mengerti, lambat laun mendapatkan koreksinya. Tentu saja perenungan pribadi juga membantu dalam hal ini.
Sampai akhirnya saya punya Internet untuk pertama kalinya di sekitar akhir tahun 90-an. Ketika itu program chatting yang terkenal adalah ICQ. Saya sendiri lupa bagaimana awalnya, tapi salah satu yang ada di daftar ICQ saya adalah seseorang yang bernama Amir Sidharta. Ketika saya habis membaca bukunya Pater Brouwer tentang Virginia Woolf, saya jadi penasaran karena pengantar buku itu diberikan oleh Myra Sidharta. Lewat ICQ saya bertanya, apa hubungannya Amir Sidharta dan Myra Sidharta ? Ternyata Pak Amir ini adalah anaknya Bu Myra. Saya diberi alamat email-nya Bu Myra. Saya menulis hanya iseng saja, menanyakan kenapa tulisan-tulisannya Pater Brouwer di Kompas tidak dibukukan ? Kan masih banyak yang belum dibukukan. Ketika itu saya sudah punya tiga buku kumpulan tulisannya di Kompas. Jawaban persisnya bu Myra saya lupa, tapi intro-nya itu yang bikin saya terkesan dan ingat betul. Kurang lebih beliau bilang, “Normalnya saya tidak pernah menanggapi email dari orang yang tidak saya kenal, tapi kalau anda bicara tentang Pater Brouwer, saya membuat pengecualian”.
bukumyra Saya menulis ini karena ketika beberapa hari lalu saya bongkar-bongkar di rumah, saya menemukan sebuah buku terbitan Grasindo: “M.A.W. Brouwer – Antara Dua Tanah Air: Perjalanan Seorang Pastor” Buku ini ditulis oleh Myra Sidharta. Saya jadi baca-baca lagi. Saya langsung masuk ke Bab V: “Sebagai Dosen di Bandung”. Di situ terrekam betapa sebenarnya beliau ini dicintai oleh mahasiswa dan sejawatnya. Tapi anehnya, sebuah mailing list yang berisi alumnus & mahasiswa Psikologi Unpad, yaitu psikologiunpad@yahoogroups.com, rasanya kok tidak pernah membicarakan Pater Brouwer. Semoga saya salah, tapi awalnya milis itu pernah tidak membatasi keanggotaan, dan saya masuk ke dalamnya. Sampai akhirnya saya keluar, sama sekali tidak ada bahasan tentang almarhum.
Barangkali yang kedua, alasan saya menulis ini adalah ingin memasukkan foto beliau ke Internet. Sudah beberapa kali saya search dengan namanya, yang muncul hanya buku-bukunya. Tidak ada satu pun yang menampilkan fotonya, bahkan sebuah fan page di Facebook-pun tidak menyertakan fotonya. Saya scan foto-foto Pater Brouwer dari buku Bu Myra yang saya sebutkan barusan. Mestinya ada foto yang lebih bagus, tapi hanya itu yang saya punya.
I wish, I really wish I were his student.

Bagikan pada media sosial :