# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 24389

sony Selalu harus ada korban dulu sebelum yang seperti ini ditulis, dan korban itu adalah: Saya. Saya bilang korban, karena saya sudah mengalami beberapa kali kecewa dan rugi soal ini. Oleh karena itu pengalaman ini saya tulis dengan harapan semoga tidak ada orang lain yang mungkin akan mengalami hal buruk yang pernah saya alami. Saya tidak mengasumsikan sudah mencoba semua, tapi saya pikir apa yang saya alami barangkali sudah cukup untuk dibagikan ke publik di Internet.

Tren untuk memiliki modem wireless meningkat pesat sejalan dengan merebaknya tawaran layanan Internet dari provider selular. Sebenarnya bukan hanya karena adanya tawaran, tapi secara nyata kebutuhan untuk akses Internet memang semakin dirasakan banyak orang. Kalau komputer / laptop / nettop sudah dimiliki, maka jelas, hal berikutnya yang harus dipikirkan adalah modem untuk koneksi Internet. Era model dial-up menggunakan telpon rumah barangkali sudah berakhir, karena tidak saja ribet dengan kabel, lambat, tidak portabel, dan mahal. Dengan tawaran koneksi Internet dari beberapa provider selular (dan ada juga yang non-selular), meningkatnya kualitas koneksi yang ditawarkan, serta ketersediaan modem wireless yang semakin turun harganya, maka membeli modem wireless adalah sebuah sebuah pilihan yang masuk akal. Tapi sayangnya, bagi beberapa orang, barangkali membeli modem ini bukan urusan yang mudah.

bts Sebelum saya mungkin akan mengesankan rumit dan sulit, saya akan tuliskan yang praktis dan mudahnya saja dulu. Kalau merasa awam, bawa saja laptop ke tempat beli modem. Anda bilang mau beli, lalu minta di setup-kan, dan lihat sendiri bagaimana cara menggunakannya. Beres. Barangkali ada masalah soal memilih layanan apa yang sebaiknya digunakan. Gampang saja, pilih saja layanan yang di tempat anda nanti akan menggunakannya, memiliki sinyal kuat. Bisa dengan menanyakan di mana lokasi BTS terdekat dari layanan yang digunakan dengan rumah anda. Kalau sudah jalan bagus, ya sudah. Jangan dioprek yang tidak-tidak, apalagi “membetulkan” sesuatu yang tidak rusak.

Tapi kalau anda mau teliti membeli dan barangkali mau sedikit antisipatif dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, maka ini beberapa hal yang bisa saya sarankan :

1. CDMA atau GSM

Secara umum, bagi saya dua ini dulu yang harus dipilih. Keputusan untuk memilih salah satunya akan menentukan jenis modem yang akan dibeli, meskipun saya pernah melihat ada satu modem yang bisa menangani dua-duanya sekaligus. Koneksi via CDMA itu rentan terhadap cuaca dan penetrasinya terhadap penghalang sinyal (tembok, misalnya) lebih buruk. Maksud saya, tentu saja koneksi via CDMA baru bagus kalau cuaca terang dan lokasi penggunaannya relatif berada di tempat yang terbuka. Hujan akan membuat koneksi via CDMA akan menurun drastis, misalnya dari EVDO turun jadi CDMA 1 atau sinyalnya hilang sama sekali, atau bila menggunakannya di dalam rumah yang terhalang banyak tembok, koneksi akan buruk.

Tentang modem GSM, siap-siaplah untuk menggunakan layanan yang biayanya lebih mahal, meski kualitas koneksi belum tentu lebih bagus juga dari CDMA. Tapi penetrasi sinyalnya menurut pengalaman saya, lebih baik dari CDMA, dan tidak begitu peka pada cuaca. Untuk yang akan menggunakan Internet secara mobile dengan laptop, saya kira modem GSM lebih layak untuk dipilih, ya karena alasan kekuatan penetrasi sinyalnya itu.

2. Penentuan Provider

Memilih provider yang akan digunakan sama sekali tidak mudah. Apa yang saya tulis ini barangkali akan tidak berlaku bagi orang lain. Yang akan saya tulis ini berdasarkan pengalaman saya saja. Kalau dilihat dari tarifnya, sekali lagi, koneksi Internet via CDMA secara umum lebih murah dibanding GSM. Yang paling murah sekarang ini adalah dari Flexi, tapi sejak masa promonya berakhir, banyak orang mengeluh pada kualitasnya. Lalu Smart. Sama juga. Di awal ketika masih banyak orang belum menggunakannya, kecepatannya sangat bagus, belakangan menurun, tapi pengalaman menunjukkan ternyata ini bisa bervariasi tergantung lokasi. Ada lokasi yang hanya mendapat CDMA 1,ada yang EVDO, ada yang EVDO 2. Yang terbaru adalah Aha dari Esia. Yang terakhir ini saya belum coba. Harga modem dan tarifnya lebih murah dari Smart. Sekarang ini masih dalam masa awal dan promosi, kecepatan masih bagus. Entah nanti.

provider Kalau GSM, pengalaman saya juga bervariasi. Kita mungkin mendapat citra bahwa Telkomsel itu bagus, pada kenyataannya Telkomsel Flash yang pra bayar kini mati tidak jelas. Setelah membeli kartu perdananya, saya hanya bisa menikmati seminggu, dan sesudahnya tidak bisa digunakan lagi. Tapi ketika dulu jalan, koneksinya amat sangat bagus. Sinyalnya kuat di mana-mana, barangkali nyaris sama dengan sinyal selular Telkomsel yang nyaris selalu penuh itu. Lalu XL. Sinyal cukup kuat, tapi kecepatan download tidak sekuat Flash, padahal BTS XL hanya beberapa ratus meter dari rumah saya, BTS Telkomsel lebih jauh. Kemudian IM2, yang berturut-turut mengeluarkan paket-paket populer seperti Broom, Broom Extra, Broombastic, … dan terakhir Paket Merdeka. Buat saya, IM2 punya koneksi yang stabil, tapi mahal. Paket terbaru, Paket Merdeka, memang murah kartu perdananya, tapi kuotanya kecil (150 Mega saja). Semakin besar kuota, semakin besar juga bayaran bulanannya. Memang dikatakan unlimited, tapi kalau sudah lewat kuotanya, kecepatan akan drop, dan drop-nya itu bisa sangat signifikan. Terakhir yang saya coba adalah 3. Barangkali di antara jajaran layanan Internet via GSM, ini yang paling murah, tapi ya koneksinya juga tidak begitu bagus. Sinyal 3 lemah sekali. Ketika saya tulis ini malah koneksi ada, tapi tidak bisa browsing sama sekali.

Saya sengaja tidak mencantumkan harga di sini, karena itu fluktuatif. Lebih baik langsung saja lihat ke situs resmi mereka.

Penentuan provider yang akan digunakan barangkali bisa pertama-tama menggunakan patokan: apakah sinyal provider di tempat anda menggunakan Internet itu bagus ? Bisa tanya-tanya ke orang lain, bisa anda beli dulu sim card selular yang pada umumnya murah itu, … coba pada hp. Lihat apakah sinyalnya kuat atau tidak.

3. Locked atau Unlocked

Kalau anda menemukan modem yang dijual murah bersama dengan kartu perdana Internet, anda harus langsung curiga. Itu modem locked atau unlocked ? Maksudnya apakah modem itu sudah dikunci untuk hanya bisa digunakan dengan provider tertentu atau tidak ? Kalau suatu ketika anda memutuskan untuk ganti provider, maka kartu baru tidak akan bisa digunakan pada modem yang locked. Pada umumnya harga modem yang locked memang lebih murah, tapi tentu saja tidak fleksibel. Kalau anda memutuskan akan menjadi pengguna setia sebuah layanan Internet, silahkan saja beli modem yang begini.

4. Kecepatan Maksimal Modem

speed Ini jadi faktor yang menentukan harga. Pada saat saya menuliskan ini, saya hampir bisa bilang bahwa kalau harga modem di atas 500 ribu barangkali modem itu kecepatan maksimalnya adalah 7,2 Mbps. Kalau di bawah 500, itu 3,6 Mbps. Ini sangat relatif, karena kemarin saya malah melihat modem versi black market yang bisa 21 Mbps dan harganya hanya 400 ribuan. Soal harga saya tidak akan bahas, tapi poinnya di sini adalah modem punya kecepatan maksimal untuk koneksi Internet yang bisa ditangani. Tapi jangan langsung berharap bahwa kalau kita punya modem 7,2 Mbps maka kita akan langsung mendapatkan koneksi secapat itu. Bagi saya, 7,2 Mbps itu maksudnya adalah kapasitas bandwidth maksimal yang bisa ditangani modem (apa bahasa mudahnya untuk ini ?), sedangkan berapa kecepatan Internet-nya secara aktual itu soal lain.

Yang jadi masalah adalah, kecepatan aktual koneksi Internet wireless di Indonesia tidak (belum) ada yang sama dengan kapasitas maksimal modem yang digunakan. Katakanlah kita punya modem yang kapasitas maksimalnya 21 Mbps. Apakah akan ada layanan Internet wireless yang sudah memberikan kecepatan setinggi itu? Jangankan 21 Mbps, kalau ada provider yang kecepatan download Internetnya bisa full 3,6 Mbps saja sudah merupakan surga bagi semua pengguna Internet di Indonesia.

Soal yang 21 Mbps, masih jadi barang baru di pasaran sekarang ini. Yang ramai adalah antara 3,6 dan 7,2. Hati-hati, ada modem yang sebenarnya 3,6 tapi diiklankan sebagai 7,2. Contohnya adalah Vodafone K3565. Tanya dulu sebelum beli, browse dulu sebelum menentukan pilihan. Tapi ya kembali lagi, kalau pun kita punya modem 3,6 Mbps, apakah nanti koneksi Internet yang kita dapatkan akal bisa full segitu ? Suatu saat nanti di Indonesia mungkin akan seperti itu, tapi sekarang bisa dipastikan tidak.

5. Driver / Software: Internal atau Eksternal

Setiap modem harus terhubung ke komputer menggunakan software / driver tertentu. Variasinya sekarang ini ada dua: ada modem yang driver / software-nya diberikan dalam bentuk CD (contoh: Venus VT-18), lalu ada yang sudah built-in di dalam modemnya (contoh: ZTE AC 2726). Yang terakhir itu berarti, ketika kita colokkan modem untuk pertama kalinya ke komputer, si modem akan menawarkan untuk menginstal driver / software yang dibutuhkan. Tapi ternyata ada variasi ketiga, yaitu yang driver dan software-nya built-in di dalam modem, tapi ada juga alternatifnya di dalam CD. Yang ini saya alami di modem Sierra Wireless Compass 885.

Mana yang lebih bagus ? Barangkali bukan soal bagusnya, tapi kepraktisannya. Jelas lebih praktis yang sudah built-in. Kalau kita akan menggunakannya di komputer lain, kita tidak perlu membawa serta CD segala macam.

6. Slot MicroSD

Beberapa modem menawarkan ini. Jadi, pada modem terdapat tempat di mana kita bisa meletakkan microSD. Dengan demikian, modem bisa jadi sekaligus seperti flash disk. Bagi saya, ini memang ada untungnya, tapi kegunaannya relatif. Saya sendiri jarang menggunakannya. Apakah ini benar-benar diperlukan ? Kalau ada dua modem yang sama kualitas koneksinya, tapi yang satu tidak punya slot microSD dan karenanya jadi lebih murah, maka saya pilih yang ini. Sekali lagi ini relatif, tergantung kebutuhan individual juga.

7. Jack Antene

antene Selain slot microSD, fitur lain yang kadang ada di modem wireless adalah keberadaan tempat colokan untuk antena eksternal. Saya sendiri baru sekali melihat ada orang menggunakan antena eksternal untuk modem wireless, tapi suatu ketika barangkali antena ini bakal banyak dijual, seperti di sini. Ya kalau modem yang kita beli punya fasilitas ini, tentu kedepannya kita bisa punya peluang untuk menggunakannya dengan antena eksternal untuk kualitas sinyal yang lebih baik.

8. Dukungan OS

xpvista7 Apakah sekarang ini kita bisa gunakan asumsi bahwa modem yang ada di pasaran bisa kompatibel dengan semua operating system (OS) ? Ya saya tidak akan bicara OS di bawah XP, tapi di seputar XP, Vista, dan 7. Vista dan 7 barangkali relatif bisa disejajarkan. Jadi keduanya langsung berhadapan dengan XP.

Bagi saya, selalu ada risiko ketidakompatibelan. Kalaupun mungkin jalan, barangkali driver / firmware yang digunakan belum matang / masih mengandung bugs. Contohnya, dua modem Sierra Wireless Compass 885 yang saya miliki, sudah di-update firmware dan driver-nya, yang konon membuat jadi bisa di Windows 7. Pada kenyataannya, modem itu sering tidak terdetek di Windows 7, tapi jalan sempurna di Windows XP.

Poin saya di sini adalah, perhatikan dukungan modem pada sistem operasi yang anda gunakan. Sebagian besar asumsi OS nya adalah XP. Kalau anda gunakan Vista atau 7, hati-hati.

9. Panas Modem

Ini barangkali luput dari perhatian banyak orang, dan memang mungkin wajar, karena tidak semua penjual modem mau mendemokan barangnya langsung. Ini relatif tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan modem dengan komputer desktop, meski mungkin usia modem bisa saja berkurang karena terus menerus kena panas. Tapi kalau anda pengguna laptop, dan ternyata modemnya mudah panas, maka itu buruk bagi baterai laptop anda. Kalau cepat panas, ya artinya modem itu sangat intensif menyedot energi listrik. Bisa dipastikan penggunaannya akan membuat baterai laptop cepat habis.

Kalau mungkin, ketika kita membeli modem, kita lihat demonya beberapa saat dari si penjual. Lalu kita pegang modemnya, apakah panas ? Hangat saja atau panas sekali ? Sialnya, tidak selalu kita bisa punya kesempatan seperti ini.

10. Kelengkapan Paket Penjualan

Arus barang black market (bm) tidak pernah surut dalam dunia komputer. Itu karena barang-barang bm murah akibat tidak kena pajak. Banyak modem yang diimpor atau distok oleh toko dalam bentuk batangan, lalu dibungkus sendiri oleh tokonya. Biasanya barang yang begini murah, meski belum tentu murahan. Kalau anda membeli modem yang seperti ini, pastikan kelengkapannya. Terutama ya soal driver / software. Jangan langsung percaya bahwa driver / software-nya sudah built-in. Coba dulu, baru beli.

Terakhir saya lihat Compass 885 itu dibungkus asal-asalan, tidak ada cd-nya pula. Demikian pula dengan beberapa dari Haier dan Huawei.

11. Garansi

Terkait paket penjualan itu, adalah garansi. Berdasarkan pengalaman pada barang-barang komputer lain, saya bisa menyimpulkan bahwa bila suatu barang punya masa garansi lama, maka barang itu adalah barang yang bagus, barang yang benar-benar siap dipertanggungjawabkan oleh si penjualnya. Tapi kalau singkat, … 1 bulan misalnya, kita harus hati-hati dengan barang itu. Tapi mau pilih mana ? Barang murah dengan garansi singkat, atau lebih mahal tapi garansi lama ? Ini problematik kalau kita punya duit pas-pasan. Ya beli saja yang murah, segera coba / gunakan, manfaatkan tenggang waktu support yang diberikan toko, kalau perlu online 24 jam terus-menerus, kalau memang bagus … hati-hati menggunakannya, dan awas … jangan mencoba “memperbaiki” sesuatu yang tidak rusak!

12. Support dari Produsen

Last but not least adalah support dari produsen modem. Secara riil maksud saya di sini adalah dukungan via website / internet dari pabrik pembuat modem. Kalau barangnya bagus, dari pabrik ternama, biasanya support itu ada dalam bentuk update driver / software. Kalau ini ada dan berkelanjutan, maka masalah ketidakompatibelan pada OS yang berbeda bisa kemungkinan diatasi. Cacat pada driver barangkali akan ada perbaikannya. Kebanyakan modem buatan Cina tidak punya support begini. Website-nya ada, tapi update driver / software-nya jarang, atau tidak ada sama sekali. Pengalaman saya dengan ini, pada Sierra Wireless Compass 885 misalnya, update yang didapat dari situs pabriknya bisa membuat modem itu jadi punya fitur GPS.

Duabelas hal itu sekurangnya bisa membantu ketika memilih dan memutuskan. Semuanya dari pengalaman pribadi saya di Bandung. Kenapa saya mesti tambahkan “di Bandung” ? Karena di kota lain, bisa jadi kondisinya berbeda, terutama dalam kaitannya dengan kualitas sinyal dan koneksi Internetnya. Semoga bermanfaat.

Bagikan pada media sosial :