# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2768

Ketika Katon Bagaskara bikin lagu yang judulnya “Terpurukku Di Sini”, saya ingat betul bahwa pada saat itu kata ‘terpuruk’ nyaris sama sekali tidak digunakan oleh orang Indonesia, termasuk pada media massa. Maka ketika terjadi reformasi Indonesia yang puncaknya adalah pada penurunan tahta Soeharto pada 1998, kata ‘terpuruk’ jadi begitu sering digunakan. Kalau dipikir-pikir, cukup aneh juga. Bayangkan, sebelum Katon melakukan itu, bagaimana orang Indonesia menggambarkan situasi keterpurukan?
flagBahasa seharusnya adalah sebuah sistem yang terbuka, namun terbukanya sistem itu bukan berarti segalanya bisa masuk. Ada isu-isu seperti identitas kebahasaan, politik bahasa, leksikalitas (lexicality) dan kolokuikalitas (colloquicality), dan sebagainya yang hendaknya harus diperhatikan agar eksistensi bahasa bisa terjaga. Bagaimana dengan bahasa Indonesia ?
Sejauh yang ada di tabloid / majalah komputer atau media cetak produk-produk elektronik, saya sudah cukup lama mengamati adanya penggunaan beberapa kata / istilah yang karena mulai terbiasa mungkin jadi terasa wajar, tapi sebenarnya dalam konteks perkembangan penggunaan bahasa Indonesia kontemporer, saya yakin ini adalah sebuah  fenomena  baru. Beberapa di antaranya adalah :

  1. Pabrikan
    Entah siapa yang memulai penggunaan istilah ini, yang jelas konotasi penggunaannya terasa seperti ragam bahasa informal / gaul. Contoh kalimat dengan kata ini misalnya : Pabrikan Taiwan ini akan meluncurkan sebuah prosesor baru yang diklaim sebagai prosesor hemat energi yang akan menyaingi produk dari Intel, yaitu Atom. Mengapa tidak digunakan saja “Pabrik yang berasal dari” ? Apakah KUBI punya entri untuk kata ini? Secara pribadi saya tidak suka dengan penggunaan kata ini. Kesan saya, orang yang mengucapkannya sekedar techno trigger happy yang mungkin tahu banyak perkembangan, tapi punya masalah dalam pergaulan, sehingga untuk mulai menarik perhatian orang maka ia gunakan kata-kata yang mungkin menurutnya bergaya.
  2. Besut
    Ini jelas-jelas berasal dari bahasa Jawa. Contoh kalimatnya (benar-benar saya contek dari sebuan tabloid komputer), misalnya: Sony Ericsson besut Walkman dengan Wifi dan Exchangable Cover. Apa sebenarnya arti ‘besut’? Ada banyak kata lain yang bisa menggantikan posisi ‘besut’ pada kalimat itu, misalnya, keluarkan, produksi, perkenalkan, pasarkan, … tapi mengapa yang dipilih ‘besut’ ? Apakah ada arti khusus pada ‘besut’ yang tidak ada pada kata-kata lainnya?
  3. Gelontor
    Ini juga berasal dari bahasa Jawa. Kesan saya, penulis yang menggunakan istilah ini seperti mau menimbulkan efek hiperbola tertentu, kalau tidak mau sekedar beda atau gaya. Contoh kalimatnya (saya contek persis) adalah, AMD berambisi menggelontor prosesor untuk notebook kategori baru yang akan mengambil tempat di antara komputer ultraportabel dan netbook. Sejauh yang saya tahu, kata ‘menggelontor’ artinya adalah menyiramkan air ke saluran yang mampet, sehingga sumber kemampetan itu terdorong oleh air yang disiramkan dan saluran air menjadi lancar kembali. Betapa jauhnya perbedaan arti yang saya punya dengan yang digunakan tabloid itu! … meski ketika membaca kalimatnya, saya bisa langsung memahami maksud penulisnya.
  4. Benam
    Pasti ada asal usul dari kata ini, tapi sejauh yang saya tahu kata ini sudah lama ada dalam bahasa Indonesia, dan artinya kurang lebih adalah “memasukkan ke dalam air” atau “menenggelamkan ke dalam air”. Selalu ada konteks air pada penggunaannya. Tapi coba lihat contoh kalimat yang menggunakan kata ini pada sebuah media cetak komputer / telpon seluler : Selain itu, fasilitas lain yang dibenamkan pada motherboard ini adalah dua buah slot PCI Express x1 dan tiga buah slot PCI. OK, memang kita akan tidak kesulitan untuk memahami maksud penulisnya, tapi apakah penggunaan kata ‘benam’ di sini merupakan kreatifitas, ekspansi makna kata, atau malah merusak bahasa ?
  5. Lego
    Kata ‘lego’ atau ‘dilego’ bagi saya berarti dijual secara ‘pasrah’ oleh pemiliknya. Sesuatu mungkin tidak laku dijual, lalu daripada tidak laku, maka barang itu ‘dilego’ saja. Tapi coba lihat bagaimana kata ini digunakan.  Sebuah tabloid menggunakan kata ini pada kalimat berikut : Netbook teranyar besutan HP ini siap dilego senilai US$ 499. Sudah jelas dinyatakan bahwa produknya adalah barang baru, kok malah dilego? Kenapa tidak digunakan saja misalnya, “dipasarkan dengan harga”, “dijual”, … Saya yakin penulisnya sudah membayangkan kata-kata yang wajar itu, tapi kenapa malah menggunakan yang tidak biasa?

Sekarang, bagaimana kalau kelima kata di atas kita coba gunakan dalam satu kalimat? Misalnya begini :
Pabrikan Taiwan dilansir telah membesut video card revolusioner yang digelontorkan untuk menghadapi persaingan di pasar mainstream yang cenderung membenamkan chip NVIDIA atau ATI, namun hingga kini tidak jelas berapa produk ini akan dilego kepada konsumen.
Kesannya ini adalah bombastisme tipikal media massa, yang sekali lagi, terdengar seperti lebih mementingkan kesan daripada pesannya.
Saya kira orang yang percaya diri akan cenderung sederhana dan to the point dalam berbahasa. Ada terbersit bahwa penggunaan kata-kata itu disengaja, yang bagi saya justru malah menunjukkan kekurangan diri si penulisnya.

Bagikan pada media sosial :