# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 3493

Beberapa hari belakangan ini kalangan pendidikan tinggi dikagetkan lagi dengan adanya korban dalam kegiatan Ospek. Hal itu jelas sesuatu yang tidak diinginkan semua pihak. Saya langsung terpikir tentang sesuatu yang kalau Ospek masih mau dilanjutkan, ini bisa menjadi latar belakang konseptualnya. Saya sendiri berpikir, yang positifnya harus tetap dipertahankan.
ospekOspek itu sendiri singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Dilihat dari kepanjangan akronim itu, saya kira kegiatan ini seharusnya adalah kegiatan yang positif. Anak-anak lulusan SMA yang baru jadi mahasiswa harus mendapatkan pengenalan tentang dunia perguruan tinggi itu seperti apa. Tapi kenapa pada prosesnya kegiatan ini bisa sampai ada yang memakan korban jiwa?
Saya kira yang terjadi adalah, otoritas pendidikan Indonesia sudah mengidentifikasi adanya abuse itu, lalu kegiatan yang dulu namanya macam-macam itu (Mapram, salah satu yang saya ingat) namanya diganti. Penggantian nama jelas dengan konsep yang berbeda pula, tapi ternyata yang terjadi di lapangan para senior mahasiswa di dalam kampus tidak menangkap konsep itu. Entah tidak menangkap atau menolak, yang jelas yang terjadi adalah ada kecenderungan nama kegiatan sudah diganti, tapi bentuknya tetap sama saja.
Lalu apa hubungannya dengan Sindrom Helsinski? Saya melihat bahwa salah satu yang ingin dicapai dari kegiatan Ospek itu adalah adanya keakraban dan kekompakan di antara para pesertanya. Saya tidak tahu apakah Sindrom Helsinski adalah sebuah wacana / acuan yang ada pada atau disadari oleh para penyelenggara Ospek, tapi yang jelas kalau itu melibatkan kekerasan dan sampai mengakibatkan korban jiwa, itu artinya mereka benar-benar tidak punya wawasan, naif, … meskipun mereka mungkin akan mengklaim mati-matian bahwa mereka ingin menciptakan keakraban & kekompakan di antara para pesertanya. Di sini saya berpikir, wacana yang ada pada Sindrom Helsinski mestinya diketahui betul, dijadikan orientasi kegiatan secara kritis, dan yang penting prosesnya tidak jadi melibatkan kekerasan yang vulgar, apalagi sampai menelan korban jiwa. Itu semua adalah KALAU penerapan pseudo violence masih mau diterapkan di Ospek. Lebih penting lagi adalah, KALAU kegiatan semacam ini mau tetap diadakan.
Saya menggunakan istilah pseudo violence untuk menunjuk pada perilaku panitia Ospek seperti membentak, memberikan tugas / perintah yang aneh, datang pagi-pagi buta, disiplin yang ketat, dan sebagainya. Saya sendiri TIDAK SUKA pada yang aneh-aneh, tapi kalau sekedar membentak dan memberikan disiplin keras, itu masih OK.
Sindrom Helsinski (atau Sindrom Stokholm) adalah sebuah nama yang diberikan untuk menunjuk pada fenomena di mana orang yang mengalami kekerasan memberikan simpati pada orang yang memberikan perlakuan kekerasan itu. Selain itu di antara sesama korban akan menunjukkan kedekatan emosional yang tinggi. Ada beberapa link yang memberikan informasi cukup bagus tentang ini, sekurangnya :

  1. Wikipedia – http://en.wikipedia.org/wiki/Stockholm_Syndrome
  2. Sniggle.Net – http://www.sniggle.net/stock.php

To the point, KALAU Ospek mau tetap diadakan, maka pseudo violence mesti tetap ada, tapi itu harus dilakukan dengan wacana bahwa tujuannya adalah untuk menumbuhkan solidaritas, keakraban, dan kekompakan. (tapi pada kenyataannya apakah mungkin untuk menjamin tidak akan terjadi abuse?)
On the second thought, sekarang ini ada wacana HAM (Hak Asasi Manusia), yang mungkin akan membuat yang namanya pseudo violence tadi atau violence dalam bentuk apapun tidak dibolehkan. Saya setuju itu. Saya berpikir, apakah masih mungkin menumbuhkan solidaritas, keakraban, dan kekompakan itu tanpa alusi dan asosiasi apapun dengan violence ? Yang jelas, Sindrom Stokholm telah menjadi bukti bahwa situasi mencekam yang dialami bersama dalam waktu tertentu dapat menumbuhkan suasana solidaritas di antara orang-orang yang mengalaminya.
Apakah di sini pilihannya hitam putih? Saya sendiri berpendapat menumbuhkan solidaritas, keakraban, dan kekompakan adalah tetap merupakan tujuan bagus. Hanya masalah mencapainya itu, …. Secara teoretis barangkali pelajaran dari situasi perampokan di Helsinski tetap dapat memperkaya wawasan. Yang diperlukan barangkali adalah penerapannya secara kritis dan damai agar tujuan tadi dapat tercapai. (Ini lebih mudah dituliskan daripada dilaksanakan!!!!).

Bagikan pada media sosial :