# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1159

Ketika acara Glocall 2008 kemarin saya membuat sebuah daftar yang mencatat alamat email orang-orang yang saya temui. Daftar itu saya isi sendiri atau saya tawarkan ke orang yang saya jumpai agar di isi nama dan alamat email. Jumlahnya ada sekitar 30-an. Sengaja, semuanya adalah orang Indonesia. Maksudnya adalah supaya setelah event itu berakhir, komunikasi masih bisa jalan, dan yang penting adalah dengan daftar itu saya bisa buat komunitas, melalui mailing list, atau apa saja.
Begitu saya sampai Bandung, saya langsung bikin milis, lalu saya undang orang-orang yang ada di daftar itu. Saya pikir saya harus sabar karena setelah event di Jakarta itu, event yang sama akan diadakan di Jogja, hanya selang beberapa hari. Tapi sekarang sudah dua minggu lebih, dan ternyata yang menjawab email saya hanya 3 orang. Bahkan termasuk orang-orang dari Higher Learning itu tidak ada satupun yang membalas email saya. Saya tidak kecewa, tapi jadi merenungi diri sendiri: ternyata saya kurang sadar bahwa selama ini saya sudah berlimpah mewah dengan koneksi Internet. Sejalan dengan itu etos dan komitmen saya ternyata sudah jauh.
Dengan nulis begitu, saya bukannya mau menyombongkan diri, tapi dengan terpaksa akhirnya saya harus mengakui bahwa masih harus ada jalan yang panjang bagi orang-orang Indonesia untuk berevolusi, baik dari segi ketersediaan dan kualitas koneksi Internet, maupun kesadaran bahwa medium ini adalah penting dan berpotensi untuk membuat perbedaan yang konstruktif. Ini pasti akan terdengar sangat klise bagi sebagian orang, meskipun kini kalau dilihat secara umum pasti statistik orang Indonesia yang menggunakan Internet semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Lalu bagaimana dengan CALL (Computer-Assisted Language Learning) ? Nampaknya memang orang Indonesia belum siap. Soalnya orang-orang yang bertanggungjawab pada proses pendidikan bahasanya saja belum minded ke komputer / Internet, bagaimana mau diteruskan ke anak-anak didik?
Ada beberapa pemikiran saya tentang ini, begini :

  1. Katakanlah asumsinya di perguruan tinggi, maka pembelajaran tentang komputer dan hal-hal yang mendasar lainnya tentang Internet harus diberikan di semester pertama. Ini supaya guru / dosen / pengajar bahasa di semester berikutnya tidak perlu lagi bicara soal layanan internet dan how-tos yang lain. Yang dia harus pikirkan hanyalah konten, skenario interaksi, dan bagaimana supaya semua prosesnya efektif untuk terjadinya pemahaman, internalisasi, apresiasi, hingga peningkatan skill.
  2. Kalau koneksi Internet susah / lambat, tidak perlu mengeluh. CALL bukanlah justifikasi bagi keberadaan koneksi Internet! Bukankah sebenarnya CALL masih mungkin dilakukan tanpa Internet ? Misalnya dengan distribusi file percakapan untuk memperbaiki fluency, speech, … yang bisa diplayback via mp3 player atau komputer tanpa koneksi Internet; animasi soal tenses, video pembelajaran conversation, yang bisa didistribusikan via CD, dsb.
  3. Kalau pun harus menggunakan Internet, sebisa mungkin harus dihindari aplikasi yang boros bandwidth. Ya apalagi soal ini kalau bukan segalanya yang menggunakan browser ? Barangkali harus dipikirkan aplikasi Internet untuk CALL apa saja yang layak digunakan dalam situasi low-bandwidth. Email misalnya, milis, …..
  4. Adanya promosi yang terus menerus tentang wacana lebih-efektifnya proses pembelajaran bahasa asing menggunakan CALL daripada yang konvensional. Ini sangat perlu mengingat inisiator CALL di berbagai tempat pasti akan mengalami respon yang tidak favorable; adanya defense bahwa yang konvensional saja sudah cukup, juga adanya berbagai kilah yang pada dasarnya perasaan takut tersisih, tersaingi oleh metode baru, termasuk juga adanya kekhawatiran bahwa dana yang dikeluarkan tidak akan paid-off dengan hasilnya pada anak-anak didik.
  5. Inisiator CALL haruslah orang yang Internet minded. Barangkali tidak cukup kalau dia adalah orang yang sekedar terbuka pada gagasan-gagasan baru. Dia harus ngecek emai tiap hari. Punya blog. Menggunakan layanan-layanan Internet yang populer. Mengandalkan Internet untuk komunikasi dengan orang-orang yang akan punya dampak sosial nyata dalam hidupnya. Barangkali bahkan dia mesti punya skenario cadangan kalau koneksi Internetnya down. Orang yang begini bisa jadi adalah seorang geek, atau malah Internet-addicted. Tapi sejauh dia masih punya orientasi kuat ke tanggungjawab profesinya, ya ok-ok saja. Kalau tidak begini, bagaimana CALL mau jalan ?
  6. Para inisiator CALL harus membentuk komunitas. Itulah yang sedang saya usahakan sekarang, meski saya sekarang jadi rada pesimis.

Karena ini semua, Saya jadi bisa agak maklum kalau si Mark Pergrum hanya ngasih intro tentang Web 2.0. Lalu si Penny Coutas hanya ngomong soal blog. Eh, siapa tahu di benak para hadirin pada waktu itu sebenarnya semuanya adalah hal yang benar-benar baru. Sedangkan buat saya, itu sudah makanan sehari-hari.
Jadi, gimana selanjutnya ? Ya wait and see saja. Barangkali Saya sendiri dulu yang harus mulai di tempat Saya.

Bagikan pada media sosial :