# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 5639

narsistv Sebuah domain internet baru dengan nama www.narsis.tv diiklankan di TV sebagai tempat yang memungkinkan kita mengirim rekaman video yang, kalau memenuhi standard tertentu, bisa ditayangkan di TV. Bukan soal konsep website atau acara tv itu yang saya masalahkan, tapi penggunaan kata “narsis” itu mendadak jadi perhatian saya. Sekarang hampir tiap hari saya mendengar orang mengatakan itu, entah di TV atau dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan ada pula yang mengatakan saya itu narsis, hanya gara-gara saya memajang foto saya di sini (sebelumnya saya pikir saya dikatakan ‘marxis’). Apa sebenarnya pengertian narcis, narcisism, narcisme, …. ?

225px-Sigmund_Freud_LIFE Saya mempertanyakan itu tidak mengada-ngada. Soalnya hampir selalu istilah yang tadinya dari kalangan ilmiah lalu jadi populer, ada kecenderungan untuk jadi menyimpang maknanya. Saya sendiri tahu istilah itu pertama kali ketika dulu membaca buku  “Memperkenalkan Psikoanalisa” buku terjemahan Dr. Kees Bertens terbitan Gramedia, yang aslinya ditulis Siegmund Freud. Memang, saya pikir, narcis / narcisme adalah istilah yang muncul dalam konteks Psikoanalisa. Sementara, kesan yang ada dari pengertian populer itu bersifat sekurangnya “memalukan” atau “sama sekali jelek”, asumsi yang ada di dalamnya juga ditandai sebagian besar dengan penampilan diri sendiri, penonjolan wajah, pemajangan foto, … Kalau yang namanya narcisisme hanya seperti ini, apanya yang salah? Bukankah sekali waktu kita punya kebutuhan riil untuk menampilkan foto kita? Apakah salah, atau memalukan, atau tidak pada tempatnya kalau saya memajang foto saya sendiri di blog saya ini?

waterhouse_echo narcissus Freud menggunakan istilah ini dengan menunjuk pada sebuah legenda Yunani. Menurut Wikipedia, dikisahkan bahwa ada seorang anak muda tampan yang bernama Narcissus. Dia menolak ketika seorang perempuan cantik yang bernama Echo mencintainya. Echo lalu menghukumnya dengan membuat Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air. Secara denotatif, Freud menggunakan nama itu untuk menunjuk masalah yang timbul pada perkembangan manusia berkenaan dengan ego dan obyek-obyek eksternal. Beberapa orang lain menggunakan narcisism untuk menunjuk pada disorder / gangguan kejiwaan berupa orientasi yang berlebihan pada diri sendiri / egoisme, kurangnya empati, terlalu melebih-lebihkan kelebihan / keunikan diri sendiri, dan mengusahakan agar lingkungan memberikan dukungan pada apa yang ada pada dirinya itu. Akibatnya orang yang seperti ini bisa berkisar dari anti-sosial total hingga yang memiliki kesulitan berfungsi secara sosial, terutama akibat respon dari lingkungan / orang lain yang tidak selalu dapat suportif pada kecenderungan seperti itu. Ini adalah pengertian yang menunjuk pada sifat yang patologis. Tapi ternyata “orientasi ke diri sendiri” itu sejauh tidak eksesif juga bisa memiliki makna positif.

Tentang itu, sekurangnya sebuah situs mengatakan : Liking oneself is a precondition for liking others. Menyukai diri sendiri adalah sebuah pra kondisi untuk menyukai orang lain. Jadi, orientasi ke dalam diri sendiri dalam konteks ini bisa bermakna positif. Hanya yang eksesiflah yang negatif (apapun yang eksesif bisa dipastikan akan selalu negatif).

Kembali lagi ke pengertian populernya di Indonesia, saya pikir anak-anak ABG hanya kekurangan istilah untuk menunjuk pada excessive self-admiration itu. Menggunakan istilah narsis dalam kaitan itu tidak ada salahnya, hanya kalau yang ada di benak mereka hanya pengertian yang seperti itu, maka orang akan bisa menggunakannya untuk menunjuk hal-hal yang tidak tepat. Apalagi kalau orang hanya mengerti kata narsis sebatas pada kesukaan orang lain yang memajang foto dirinya di Internet, misalnya. (Padahal memajang foto diri di Internet sekurangnya perlu untuk membuktikan identitas kita, bahwa kita itu memang ada, dan bukan jadi-jadian; membuktikan keterlibatan kita pada kegiatan-kegiatan tertentu, bukti aktifitas profesional kita, dan sebagainya). Memang kita juga dapat menemui adanya orang (kebanyakan wanita) yang begitu banyak memajang foto dirinya tanpa konteks. Untuk ini ya tergantung niat orang itu. Mungkin saja dia berusaha menggaet produser, mungkin dia cari jodoh, bisa jadi dia sekedar menjadikan internet sebagai online album-nya, tapi bisa jadi juga dia 100% narcist. Artinya, motivasi pemajangan foto diri bisa bermacam-macam. Tidak bisa kita gebyah uyah sebagai … narsis!

Apapun itu, karena populernya kata ini, bisa dipastikan KUBI edisi baru harus memasukkan kata ini sebagai entri baru. Dari setiap kejadian, kehebohan, kepopuleran sesaat, selalu saja ada yang baru; istilah / kata baru. Tapi nampaknya orang juga mesti punya apresiasi tentang asal usul istilah / kata baru itu.

Bagikan pada media sosial :