# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2725

Setelah dulu Friendster sempat begitu riuh rendah, akhirnya sekarang gantian facebookFacebook. Apakah saya memang benar, atau hanya kebetulan saja saya yang punya persepsi demikian? Pada beberapa mailing list saya bisa menemukan pembenaran tentang itu, tapi entah apakah memang benar secara statistik. Apakah terdapat peningkatan traffic akses ke situs Facebook dari Indonesia? Yang jelas sekarang kalau mengetikkan url Facebook, kita akan langsung ditransfer ke id-id.facebook.com. Barangkali dugaan tentang adanya peningkatan traffic itu benar, sampai dibuat domain sendiri (server tersendiri?).
Mungkinkah sekarang hanya demam saja? Demam sementara? Ada beberapa orang yang sekarang tidak menjawab email saya. Email malah dibalas dengan komentar di status. Ada satu orang malah saya kirimi SMS, menjawabnya malah via chatting di Facebook. Gimana ini? Kok sarana yang konvensional malah ditinggalkan?
Barangkali saya juga termasuk yang kena demam itu, meskipun sekarang saya menuliskan ini. Ya, sebagai bukti bahwa saya nggak mau gampang ikut arus? He, he. Yang jadi masalah adalah social networking ala Facebook ini menggunakan browser, alias web-based, yang lumayan berat di bandwidth. Kalau pengelola Facebook ingin agar layanannya lebih merakyat, saya pikir mereka harus memikirkan aplikasi semacam Yahoo Messenger: entah, mungkin itu namanya Facebook Messenger atau apa. Lalu karena sekarang sudah zamannya akses Internet via ponsel, mereka juga harus berinovasi untuk bisa menghadirkannya dengan interface yang didisain khusus untuk ponsel.
Bicara soal apa yang di-networking-kan, saya kok punya komentar sendiri, yang bikin saya menulis: “Facebookers are those who got stuck with the present. Facebooking is silent reflection, realizing that what we really have is nothing but the past and some imagined strangers“. (Saya bayangkan kata-kata itu sambil nyetir di jalan). Kok, ternyata  networking-nya lebih cenderung pada orang-orang lama, orang-orang yang dulu pernah ada dalam hidup dan lingkungan kita, temen sekolah, temen di pekerjaan sebelumnya, tetangga di perumahan dulu, … lalu selebihnya adalah imagined strangers. Ada orang-orang yang kita benar-benar tidak kenal, tapi ada juga strangers yang kita kenali, hanya mereka tidak kenal kita. Saya punya satu teman kuliah, yang setelah saya buka teman-temannya di Facebook adalah para public figures. Apakah teman saya itu benar-benar kenal dengan mereka? Saya lihat, malah tidak ada interaksi sama sekali antara dia dan para public figures itu.
Anyway, jadi memang benar di era Web 2.0 ini trend-nya adalah social networking. Soal apakah Facebook akan bertahan atau nanti tenggelam dan digantikan dengan yang baru, masih harus kita lihat sama-sama.

Bagikan pada media sosial :