# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1607

Di salah satu tempat kerja saya ada satu hal yang sering membuat saya heran, yaitu bisik-bisik atau senda gurau tentang seseorang atau pimpinan selalu akhirnya bisa sampai ke telinga bos. Kadang satu sama lain sudah mencoba untuk tahu sama tahu untuk tidak menceritakan sesuatu ke orang lain, tapi ujung-ujungnya jadi menyebar juga; entah menyebar dengan terbuka, atau dengan diam-diam. Untuk menelusuri di mana sebenarnya letak kebocoran itu, agak sulit untuk melakukannya. Yang jelas, sekurangnya ada satu mulut yang nampaknya tidak bisa diajak kompromi.
Sampai hari ini saya masih merenungi sebuah kebijaksanaan aneh yang diterapkan pada saya di salah satu tempat kerja saya. Saya menduga ini pasti ada seseorang yang ngomong yang tidak-tidak. Dan baru-baru ini saya mendapatkan sebuah clue bahwa ternyata si mulut bocor itu membaca blog saya ini, lalu menyampaikannya ke orang lain. Saya masih terus menelusuri hal ini. Saya tidak langsung menuduh, tapi dari hari ke hari apa yang saya temukan semakin menguatkan kecurigaan saya.
Yang menjadi masalah adalah, ia menafsirkan tulisan saya dengan cara yang naif. Saya tidak pernah menulis tentang masalah pribadi saya dengan begitu terbuka hingga orang lain jadi tahu persis apa yang saya hadapi. Yang saya lakukan selalu adalah mengangkat masalah yang saya hadapi menjadi semacam isu yang umum, sehingga orang lain yang membacanya barangkali bisa mendapatkan manfaat dari analisis yang saya lakukan. Lagi pula, apa yang saya tulis merupakan ekspresi pribadi saya, dan saya sudah memasang DISCLAIMER pada blog saya ini; sesuatu yang saya sudah antisipasi dari sejak pertama kali saya menulis blog.
Hari ini saya mendapat bukti lagi yang menguatkan. Lalu saya jadi terinspirasi. Kalau suatu masalah yang saya hadapi tidak langsung berhubungan dengan dia (si pengadu), kenapa ia mesti menyampaikannya pada orang lain ?
pftfm1Langsung saya teringat pada sebuah buku, yang ketika kuliah dulu menjadi salah satu rujukan ketika membuat makalah tentang desas-desus. Buku itu termasuk buku antik, karena terbitan tahun 1943,  peninggalan ortu yang pernah dinas di militer. Judul bukunya adalah, “Psychology for the Fighting Man”. Buku ini adalah buku pegangan untuk anggota militer yang berperang. Salah satu bab-nya adalah tentang Rumor atau desas-desus.
Dikatakan di dalamnya bahwa desas-desus itu, “gives expression to something deep in the hearts of the victims – the fears, suspicions, forbidden hopes, or day-dreams which they hesitate to voice directly”. Yang dimaksud dengan victims di sini adalah orang yang menyebarkannya, bukan yang dituju oleh desas-desusnya. Apakah saya menyamakan perilaku mengadu dengan menyebarkan gosip ?
Saya kira keduanya hampir sama. Keduanya punya kecenderungan dalam hal meneruskan informasi ke orang lain meski tanpa ada perintah dari siapapun untuk melakukannya. Barangkali ada rasa puas dengan melakukan itu. Rasa puas yang mungkin merupakan subtitusi dari sesuatu yang lebih langsung. Misalnya kalau dia tidak bisa memukul seseorang, maka membicarakan kejelekan orang itu pada orang lain bisa lumayan menggantikan perilaku memukul itu. Tapi mungkin juga orang ini bisa cari muka. Dalam berbagai situasi, menjadi sumber informasi ternyata memberikan nilai tertentu pada seseorang. Dengan menceritakan sesuatu yang heboh, tidak biasa, gegap gempita, yang tidak disangka-sangka, … dia akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Dan, ketika ia melakukannya pada pimpinan / bos, barangkali dalam hatinya dia berharap dia akan mendapatkan kredit tertentu, yang barangkali sekedar psikologis semata. Barangkali si bos jadi lebih percaya dia, barangkali si bos akan lebih melindungi dia, dan sebagainya.
Apapun itu, kalau kita balikkan, kita jadi sedikit banyak tahu tentang kondisi psikologis orang yang punya naluri otomatis menyebarkan berita pada orang lain itu. Menurut saya, dia itu tentu socially insecure, tidak pede, atau berimajinasi bahwa posisinya mudah terancam untuk tidak lagi menguntungkan dia. Orangnya tidak terlalu aktif bekerja, dan oleh karenanya pikirannya sering dalam keadaan idle, sehingga membayangkan yang tidak-tidak. Atau bisa juga kita katakan orangnya terlalu peka, dan tidak berhitung bahwa segalanya bisa saja hanya relatif belaka. Pendek kata, orang ini sebenarnya dalam keadaan takut.
Yang saya lihat memang demikian. Orang ini suatu hari bisa saja tersingkirkan oleh mekanisme legalitas yang semakin diterapkan pemerintah. Penyebabnya adalah dia sudah cukup berumur dan sulit untuk bisa memenuhi persyaratan legalitas itu.
Ternyata, agar sesuatu terjadi, orang bisa melakukannya tidak hanya dengan tangan, tapi juga dengan mulut. Dan apa yang dilakukan mulut ternyata bisa lebih berbahaya daripada apa yang dilakukan tangan.

Bagikan pada media sosial :