# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2493

journey_inward_outwardDalam Ilmu Komunikasi dikenal istilah Komunikasi Intrapersonal (bukan Interpersonal). Saya pikir, ini adalah bidang yang kurang mendapat porsi untuk dieksplorasi dengan tetap mempertahankan apa yang khas, formal di situ. Apalagi ini berbatasan secara ketat dengan ilmu lain, yaitu Psikologi. Untuk itu bisa dikatakan Komunikasi Interpersonal adalah sebuah bidang kajian yang lokusnya ada pada grey area antara Ilmu Komunikasi dan Psikologi. Tapi bayangkan, siapa yang tidak butuh pengetahuan tentang ini ? Komunikasi apapun bentuknya, selalu didahului oleh Komunikasi Intrapersonal.

icPengertian Komunikasi Intrapersonal sendiri adalah komunikasi yang kita lakukan dengan diri sendiri. Tidak selalu berarti kita berbicara ke diri kita sendiri, tapi lebih berarti aktifitas yang pada dasarnya melibatkan ciri dialog antara kita dan diri kita sendiri, yang untuk sebagian besar barangkali lebih dilakukan di dalam hati saja. Bisa dibayangkan bentuk-bentuknya seperti berpikir, mengingat-ingat (retensi), merenung (refleksi), dan sebagainya. Baru-baru ini saya terinspirasi untuk menulis tentang apa yang mungkin cukup kritis bagi ‘keselamatan hidup’ dalam kaitan ini semua. Persisnya adalah tentang bagaimana kita terlepas dari situasi depresif yang mungkin seperti tidak terelakkan teralami. Fokusnya adalah pada rasionalitas kita mengatur orientasi kesadaran. Apakah ini masuk ke kajian Komunikasi Intrapersonal ? Hmmm, …

Saya tidak berusaha untuk menulis sesuatu yang rumit, filosofis di sini. Justru ini sangat praktis, meski tidak berarti sangat mudah juga untuk melakukannya. Tapi saya ingin mulai dulu dengan yang lain. Kemarin pada sebuah acara ilmiah di sebuah kampus, saya mendengar frase ‘daya psikologis’. Tidak dikedepankan definisinya, tapi dengan mudah saya bisa membayangkan maknanya. Apalagi ketika ada yang menyatakan bahwa itu artinya barangkali sama dengan ketahanan hidup. Tanpa membaca atau bertanya apapun tentang itu, pemahaman saya begini: ‘daya psikologis’ adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bisa mengelola kehidupan psikisnya sehingga ia mampu untuk lebih banyak menjatuhkan pilihan (dan melakukannya pilihan itu secara nyata) pada alternatif perilaku dan sikap yang konstruktif bagi perkembangan hidup yang positif. Orang yang memiliki daya psikologis rendah cenderung tidak survive, sementara jelas orang yang daya psikologis tinggi lebih memiliki daya tahan terhadap pengaruh-pengaruh buruk. Saya tidak akan bicara tentang apakah secara faktual si X atau si Y punya daya psikologis tinggi atau rendah. Tidak peduli tinggi atau rendah, saya ingin menulis tentang yang melampaui dikotomi itu, yang kalau bisa dilakukan dengan baik, saya kira akan menjadi salah satu mindware bagi keselamatan hidup. (bukan berarti saya juga selalu bisa melakukannya dengan baik).

dimensionDimulai dengan sebuah pertanyaan, apakah dalam sehari kita lebih banyak melakukan komunikasi intrapersonal atau interpersonal ? (kalau intra dengan diri sendiri, kalau inter tentu dengan orang lain – orang-orang di luar diri kita). Jawabannya jelas. Tidak mungkin setiap saat kita berbicara dengan orang lain sehingga kita bisa mengatakan bentuk itulah yang mendominasi komunikasi kita sehari-hari. Bila kita hitung, secara masuk akal tentu ada lebih banyak porsi waktu di mana kita lebih banyak seolah melakukan ‘dialog’ (atau monolog ?) dengan diri kita sendiri di dalam hati. Kalau begitu maka memang harus dikatakan Komunikasi Intrapersonal adalah precursor bagi bentuk komunikasi apapun lainnya. Bagaimana kita bisa mengolah gagasan apapun di dalam dan merumuskannya ke dalam pesan komunikasi untuk disampaikan ke luar diri kita adalah salah satu syarat bagi kesuksesan komunikasi apapun. Kalau kita biasanya melakukan itu secara insting saja, bagaimana kalau sekarang kita mulai menyadari bahwa itulah yang prosesnya terjadi dalam diri kita ? Khususnya adalah, bagaimana kalau betul-betul kita sadari sesadar-sadarnya bahwa pada suatu saat kita sedang lebih cenderung pada (atau berorientasi) ke dalam diri kita dan pada saat lain tidak seperti itu, yaitu ke luar diri kita.

Ada beberapa alasan bagus mengapa saya mengajak seperti itu. Pertama, tadi sudah saya ungkapkan, dalam satu hari dari kehidupan sadar kita, kita lebih banyak ‘berdialog’ dengan diri sendiri. Kedua, hidup sering tidak berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Bila ada masalah, diri kita jelas adalah yang pertama yang akan membahasnya, dan itu tentu mensyaratkan kita berorientasi ke dalam. Ketiga adalah soal orang-orang yang barangkali akan mengelak kalau dikatakan lebih sering membatin untuk apapun juga. Dalam kaitan ini seorang psikolog Belanda, Eysenck, membuat pembedaan kepribadian yang sudah kita sama-sama tahu itu: introvert dan ekstrovert. Saya ingin katakan, adalah bodoh jika orang yang mengaku ekstrovert tapi yang pertama-tama dia andalkan ketika menghadapi masalah adalah orang lain, bukan dirinya sendiri. Intinya, berorientasi ke dalam adalah sebuah ‘perilaku’ yang daya gravitasinya cukup besar dalam kehidupan kita.

Saya tidak tahu pasti (tapi kemungkinan besar ada) apakah Eysenck menguraikan tentang hal-hal yang akan membuat orang jadi lebih introvert atau lebih ekstrovert di luar dari apa yang diturunkan secara genetik. Lainnya, entah apakah pada Psikobiologi dikatakan, misalnya, pada orang yang sehat dan normal pun anomali bisa terjadi pada kelenjar hormon, bagian penghasil enzim tertentu, atau otak dengan komposisi kimia tertentu, yang akhirnya ikut bertanggungjawab pada tingkat sosiabilitas yang kita miliki (sosiabilitas = sejauh mana seseorang lebih memilih untuk sendiri atau bersama-sama dengan orang lain). Yang jelas, dari semua itu, inilah titik nadirnya: kesadaran kita yang aktual bisa menempatkan diri sebagai nakhoda, apakah harus lebih ke dalam atau lebih ke luar.

Mereka yang suka membaca jangan buru-buru menghubungkan kata ‘kesadaran’ di sini dengan yang lain. Seperti dengan Freud dalam konotasi kesadaran kita sudah terkooptasi dengan impuls-impuls seksual yang terrepresi. Atau dalam kaitannya dengan kebebasan dan Strukturalisme. Terlalu jauh. Yang saya maksud mungkin menyederhanakan, tapi menunjuk pada  apa yang pada saat kini dan di sini kita ketahui dengan sebaik-baiknya tentang diri sendiri, baik di dalam maupun di luarnya. Saya kembalikan poin saya di atas dengan sebuah penekanan, mari kita gunakan akal sehat kita, bahkan di saat status kesadaran kita paling buruk atau depresif, untuk lebih mengarahkannya ke luar.

zen2Saya ingat perkenalan saya pertama kali dengan apa yang disebut Zen, pada buku “Aku yang Mengelak” (lalu diterbitkan lagi (?) dengan judul ‘Filsafat yang Mengelak’). Yang membuat saya terkesan adalah adanya ungkapan kira-kira begini, “ketika kita tidur, kita barangkali sering lupa bahwa bantal ada benar-benar di bawah kepala kita, … ketika kita berjalan, seolah-olah kita menyeret-nyeret tubuh kita sendiri”. Pemahaman saya dalam konteks ini begini: ketika kita (terutama) sedang dirundung masalah, maka gravitasi ke dalam menjadi sangat besar. Kita mungkin nyaris tanpa kuasa untuk selalu terarah ke dalam diri kita: menganalisis masalahnya, mengingat yang dulu, mengantisipasi yang akan terjadi, menimbang-nimbang kemungkinan ini itu, dan sebagainya. Ketika itu terjadi, nampaknya indra kita yang sebenarnya berfungsi normal pun tidak akan bekerja dengan semestinya. Entah apakah yang sebenarnya terjadi adalah penurunan fungsi ? Mata memang bisa melihat segala yang ada di sekitar, tapi tidak benar-benar memperhatikannya. Telinga memang masih bisa mendengar, tapi bahkan kita tidak sadar jam dinding itu berbunyi tik, tik, tik.  Perabaan juga masih normal, tapi tidak bisa merasakan bagian tubuh tertentu yang sebenarnya terasa kurang nyaman. Pada Zen ini malah dibawa sampai jauh (saya harus baca lagi tentang ini !!). Katanya tubuh kita ini sebenarnya punya daya penyembuhan sendiri, sejauh ada tingkat “kebersatuan” tertentu dengan tubuh kita. (Sempat terpikir di sini, apakah misalnya ini semua menjadi gara-gara jeleknya kontrol dan produksi insulin karena kekurangpekaan pada tubuh sendiri yang membuat deteksi kita pada rasa lapar menjadi tidak akurat ?).

OK, untuk meringkaskannya, ini adalah sebuah daftar yang mungkin dilakukan dalam rangka “lebih mengarahkan orientasi kesadaran kita ke luar” : (semuanya harus ditafsirkan sendiri secara kongkrit)

  1. berada pada situasi yang memungkinkan kita mendapatkan pengalih perhatian secara visual,
  2. memperhatikan barang-barang di depan kita dan secara nyata melakukan penghubungan antara barang yang satu dan yang lain,
  3. diam sejenak dan benar-benar mendengarkan suara-suara yang biasanya mungkin diabaikan begitu saja,
  4. mendengarkan musik yang benar-benar disukai melalui earphone,
  5. menonton filem dan membuat situasinya kita tidak dapat mengelak dari efek audio visual yang ada (setting yang sempurna tentu saja di bioskop !),
  6. melakukan kegiatan fisik yang melelahkan,
  7. tidak berada sendirian total – meski tidak sendirian itu sering merupakan ‘kemewahan’ bagi sementara orang,
  8. memperhatikan bagian-bagian tubuh sendiri dan mengamati kemungkinan adanya gangguan atau yang tidak normal (pada wanita nampaknya ini lebih naluriah untuk (selalu) dilakukan daripada pada laki-laki (?)),
  9. menjadi ‘wasit’ bagi diri sendiri ketika sadar tahu-tahu kita teralihkan ke dalam lagi – begitu itu terjadi harus ada komitmen kuat untuk segera beralih melakukan alternatif 1 hingga 8.

Daftar ini hanya contoh (dan mungkin terkesan banal sekali), barangkali bisa dibuat lebih banyak lagi. Intinya, melalui pengaktifan kembali (atau lebih tepatnya, meningkatkan kepekaan) fungsi indra secara normal kita mencoba untuk lebih mengarahkan orientasi kesadaran kita ke luar.  Ini kelihatannya sederhana. Pada kenyataannya, tidak jarang ada kekuatan-kekuatan yang lebih membuat kita lebih memilih berkubang pada genangan kegalauan.

Dan genangan itu bisa membesar menjadi laut. Laut yang berombak. Situasi jadi terbalik: seolah kita bukan lagi jadi penguasa bagi perasaan dan pikiran kita sendiri. Ada yang bilang “kalau kita tidak dapat mengendalikan emosi, maka emosi lah yang akan mengendalikan kita”. Itu benar sekali, dan juga berlaku untuk istilah apapun lainnya yang ada di dalam : pikiran, perasaan, persepsi, ingatan, mimpi, obsesi, ….

Untuk satu dan lain hal, ini adalah catatan tentang diri saya sendiri. Juga untuk kesekian kalinya bukti bahwa rasionalitas dan pengetahuan tentang yang abstrak berpotensi menyelamatkan diri. Ini bukan tentang kepemilikan benda, bukan pula tentang ketrampilan mengolah atau menipulasi benda, apalagi apapun yang mungkin bisa menjadi penanda peringkat sosial kita  (saya kadang ketus pada yang positivistik, naif), tapi pada saatnya bisa benar-benar membuat perbedaan penting.

Kalau hidup adalah laut yang ombak kegalauannya bergolak, sebelum tutup dan tenggelam, kita tak sudi jadi nakhoda yang melarikan diri, sementara kapal karam.

Bagikan pada media sosial :