# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 13345

antologi digital cyberpuitika1EDITED2Tahun 2002, saya menginisiasi dan menjadi project manager untuk sebuah kerja bersama yang melibatkan sejumlah orang dari komunitas sastra di Internet. Proyek itu diberi nama: Cyberpuitika. Gagasan awal dari proyek itu adalah sebuah kesadaran ketika komunikasi yang digunakan komunitas itu adalah melalui komputer / Internet yang notabene merupakan medium yang sangat memungkinkan ekspresi untuk lebih dari sekedar kata-kata belaka. Teks sudah biasa. Bukankah ekspresi juga bisa dibangun pada sebuah karya yang sekaligus melibatkan unsur teks, suara, gambar, bahkan gambar bergerak ? Sebuah pertanyaan penting mengemuka ketika itu, “apakah yang disebut sastra itu domainnya hanya ada pada media yang tercetak ?”. Lalu, “Ketika media komunikasi dan ekspresi telah berevolusi menjadi tidak sekedar tercetak, apakah sesuatu yang memiliki kualitas sastra bisa dihadirkan di situ ?” Cyberpuitika adalah sebuah eksperimen, rintisan, dan usaha awal untuk meretas jalan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Hasilnya adalah sebuah antologi puisi yang dikemas dalam sebuah CD. Puisi-puisinya ditulis pada Microsoft Power Point (saya juga memasukkan puisi saya). Tampilan dan animasi lainnya pada presentasi puisi di Powerpoint diserahkan kepada penyair yang ikut serta. Namun uniknya adalah, proses kreasi dari puisi-puisinya didasarkan pada apresiasi terhadap gambar dan musik. Gambar yang dilibatkan adalah dari lukisan Jeihan, Herry Dim, Popo Iskandar; fotografi karya Erik Prasetya dan Rasdian Vadian. Musik yang menjadi bahan puisi adalah karya Iwan Hassan, Dotty Nugroho, Sapto Raharjo, dan grup musik Krakatau. Secara singkat proses kreatifnya begini: Seorang penyair mengamati sebuah gambar atau mendengarkan musik yang telah disediakan. Hasil pengamatan dan pendengaran itu menjadi inspirasi bagi sebuah puisi. Puisi itu lalu ditulis menggunakan Microsoft Powerpoint, yang dengan segala fitur presentasi dan animasinya akan memungkinkan sebuah puisi bisa dinikmati secara berbeda dibandingkan dengan cara puisi konvensional di atas kertas.

Tidak terasa kini sudah 10 tahun sejak itu. Bila kita search di Google menggunakan ‘Cyberpuitika’, ada cukup banyak hit. Saya kaget melihat semua itu. Ada yang menjadikannya sebagai objek kajian skripsi, analisis di artikel, diskusi, didaftarkan ke repository tertentu, hingga polemik. Total hitnya adalah 1500. Akan tetapi kalau kita search misalnya dengan “Cyberpuitika” dan “Tomita Prakoso”, kaget juga saya karena hasilnya hanya 5 hit, dua di antaranya adalah dari tulisan blog saya sendiri. :)) Tapi pada kenyataannya, hari ini saya menuliskan ini dengan tanpa rasa khawatir sedikitpun akan adanya klaim bahwa saya dulu tidak ikut hiruk pikuk. Siapa yang akan melakukan itu ?

Sebagai sebuah konsep untuk mengeksplorasi kemungkinan ekspresi pada media yang nirkertas, saya kira relevansi dan variasinya masih belum usang. Akan tetapi makna sepuluh tahun saya kira lebih dari itu. Lanskap yang mengitari ekosistem hidup kita terkait penggunaan komputer dan Internet telah begitu berubah, yang membuat saya berpikir jangan-jangan ini bukan hanya untuk sastra, tapi juga dapat mengarah ke Seni dalam pengertian yang lebih luas, bahkan mungkin sebuah bentuk ekspresi Seni baru. Yang terpenting dari yang saya maksud dengan perubahan itu adalah :

1. Meningkatnya adopsi Internet

Ketika Indonesia dinyatakan sebagai pengguna Facebook atau Twitter yang terbanyak nomor sekian di dunia, tidakkah itu berarti sesuatu ? Masa ketika akses Internet hanya dimiliki orang-orang tertentu telah berlalu. Kemungkinan kontak dan komunikasi telah terbuka menjadi sedemikian lebar bagi siapapun. Implikasinya adalah mulai dari isu-isu kemapanan; dominasi figur; pengaruh gaya ekspresi; hubungan antara seniman, hasil karya, dan apresiator; hingga kritik; tidak bisa lagi dibandingkan dengan era sebelumnya.

2. Internet semakin menjadi “ruang publik”

Secara spesifik, terutama pada Facebook dan Twitter, Internet telah semakin menjadi ruang di mana begitu banyak orang terhubung satu sama lain. Meskipun gagasan eksperimental six degrees of separation barangkali tidak sepenuhnya terwujudkan oleh dua media sosial itu, namun sekurangnya :

a. teman-teman X berpotensi menjadi teman-teman Y yang sebelumnya bahkan tidak mungkin berasosiasi dengan cara apapun,

b. sebuah status (yang dapat berupa teks, gambar, maupun video) dapat dikomentari oleh orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak dikenal oleh si pengirim status.

c. dari waktu ke waktu seseorang mencari / menambah teman atau memberi approve pada permintaan pertemanan.

Dinamika permutasi dari ketiganya menghasilkan sebuah “ruang” yang mungkin tidak memiliki kualifikasi yang sama dengan apa yang ada dalam pengertian “ruang publik”, tapi kenyataannya “ruang” itu dapat dapat “diisi”, dimaknai, dan pada akhirnya membuat perbedaan. Implikasinya, bukankah ini amat potensial menjadi basis audience apresiasi sebuah karya seni ?

3. Meluasnya Pengertian Literasi

Ini adalah asumsi di balik nomor 1 dan 2. Selama ini literasi pada berbagai kamus cenderung diterjemahkan menjadi kemampuan membaca dan menulis saja. Berbagai literatur dengan latar belakang sifat Internet menyebut perlunya literasi baru yang diistilahkan dengan berbagai sebutan, seperti diungkapkan oleh Chinnery (2008): Ada yang menyebut multiliteracies (New London Group, 1996), multimedia literacies (Lemke, 2006), electronic literacies (Warschauer, 1999), global literacies (Hawisher & Selfe, 2000), atau metaliteracies (Lotherington, 2004). Semuanya menunjuk pada hal yang kurang lebih sama: kemampuan memanipulasi bahan-bahan yang menjadi unsur dari apa yang disebut multimedia, baik secara daring maupun luring.

Dari waktu ke waktu semakin banyak orang menguasai kemampuan ini, bahkan merupakan fenomena yang wajar sebagai bagian dari repertoar permaknaan aktifitasnya menggunakan Internet sehari-hari.

Implikasinya, jalan bagi aktualisasi seni dengan menggunakan media yang memanfaat literasi baru itu tidaklah akan sesulit seperti difusi inovasi yang digambarkan Roger (1962). Maksud saya, untuk berkarya seni dalam konteks ini, seseorang tidak perlu terlalu belajar dulu apa itu Windows, apa itu Powerpoint, browsing, media player, image viewer, image editor, bahkan Facebook, Twitter, Youtube, … (apakah saya mengasumsikan terlalu banyak hal ?). Soalnya, itu semua sudah menjadi bagian dari, istilah saya tadi, “repertoar permaknaan” aktifitas penggunaan Internet sehari-hari.

4. Segala yang Makin Cepat & Murah

Mungkin ini terdengar banal, tapi siapapun yang memberikan kontribusi pada Cyberpuitika akan ingat bahwa pada masa itu belum ada Facebook atau Twitter. Akses Internet sebagian besar menggunakan dial-up, dan pada masa itu browsing adalah sebuah kegiatan yang mahal. Tidak semua orang pula memiliki laptop, dvd-rw, scanner, bahkan masih banyak yang belum memiliki telpon selular ketika itu. Sekarang ? (saya tidak perlu menuliskannya)

5. Kepemilikan perangkat portabel yang mampu mengakses Internet

Dari sejak awalnya komputer memang alat apapun yang mengandung chip prosesor. Oleh karena itu bila kita mendefinisikan komputer sebagai perangkat yang terdiri dari monitor, CPU, keyboard, dan mouse saja, kini itu menjadi sangat usang. Telpon selular adalah komputer, dan kini semua orang memiliki telpon selular, lalu telpon selular pun berkemampuan mengakses Internet pula.

Atas semua perubahan yang menghadirkan konteks baru itu Cyberpuitika menjadi terasa seperti sangat kuno. Segera terlintas untuk membuat, katakanlah, Cyberpuitika versi 2.0. Tapi sejauhmana perlunya itu ? Apakah demi romantisme masa lalu ? Kalau pun itu harus ada, tentu sebaiknya dengan penerapan hasil pembelajaran dari apa yang pernah dulu dilakukan, dan yang paling penting adalah, tidak cukup dengan sebuah latar yang menjadi pembenaran, tapi konsep seni yang jelas tentang apa yang akan dikedepankan sebagai sebuah produk sastra yang merayakan literasi baru itu. Kalau tidak harus ada, maka Cyberpuitika sebaiknya dijadikan wacana saja dalam Sejarah Sastra Indonesia: bahwa yang puitik itu bisa seperti itu. Oleh karenanya, siapa saja bisa membuatnya, komunitas mana saja, dan tidak harus menggunakan nama Cyberpuitika.

Akan halnya dengan perluasan ini semua dari Sastra menjadi Seni, sebenarnya sama dengan bidang apapun juga yang dengan kehadiran Internet lalu menemukan facet baru yang barangkali tidak persis, tapi masih membawa ciri-cirinya dari yang konvensional. Katakanlah, seni lukis. Bukankah kita bisa membayangkan sebuah galeri virtual ? Sekarang alat-alatnya bisa bukan kuas dan kanvas, tapi stylus dan tablet gambar, misalnya. Fotografi, sudah lama ada Flickr dan Picasa. Barangkali ada banyak lainnya yang bahkan saya sendiri belum tahu. (Saya curiga menduga barangkali akun-akun di deviantart.com mengandung banyak contoh dan improvisasi tentang ini). Tapi harus buru-buru saya tambahkan, tidak semua bentuk seni yang konvensional lantas bisa punya facet-nya di Internet. Pada kenyataannya malah ada bentuk baru, misalnya apa yang disebut mash-up. Intinya adalah produksi karya baru dengan menggunakan hasil karya yang sebelumnya ada. Ini bisa dilakukan pada gambar, musik, dan video.

Sebelum terlalu panjang dan tidak berkesudahan, …. Konon tonggak besar yang menandai peralihan prasejarah ke sejarah manusia adalah ketika manusia menciptakan alat tulis dan mampu mengungkapkan gagasan secara verbal. Sejarah tulis-menulis manusia pada medium yang tercetak, entah itu di batu kali, relief candi, daun lontar, atau kertas lembar barangkali sudah ratusan atau mungkin ribuan tahun. Barangkali memang perlu waktu selama itu juga sebelum akhirnya ekspresi seni bisa banyak memanfaatkan literasi baru :( Nanti pada saat itu, kita semua yang mungkin membicarakan ini telah menjadi debu.

Bagikan pada media sosial :