# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 2545

asocial_by_gxlrygtSejak awal kemunculan teknologi bluetooth pada telpon genggam, ada akal-akalan untuk mengirimkan pesan pada sebuah perangkat yang bluetooth-nya dibiarkan dalam keadaan on. Saya pernah melakukan ini dulu dengan Nokia 6310 dan berkali-kali berhasil. Saya tahu berhasil karena perangkat yang saya jadikan target mengeluarkan bunyi notifikasi. Baru kemudian belakangan saya tahu itu adalah yang disebut dengan bluejacking, yang ternyata adalah bagian dari apa yang disebut bluesnarfing.

Hari-hari ini saya teringat lagi pada itu, bukan terkait bluetooh secara khusus, tapi pada gagasan yang mendasarinya. Kalau bluejacking barangkali terkesan iseng, saya justru mau membawanya ke arah yang serius: “bagaimana caranya kita melakukan kontak awal dengan seseorang sementara kita sebelumnya tidak mungkin tahu bahwa seseorang tertentu adalah yang kita perlukan ?” Oke, sekarang sudah ada facebook, twitter, foursquare atau banyak media sosial lainnya. Presensi orang pada media sosial itu memungkinkan identifikasi orang lain dengan relatif mudah; entah dengan deskripsi yang eksplisit, hyperlink ke tempat lain, atau fasilitas search yang memungkinkan klarifikasi tentang siapa dia, dalam rangka apa dia menampilkan dirinya, apa yang sedang dibicarakan, dan sebagainya. Masalahnya adalah, tidak semua variasi kemungkinan kiprah hidup kita bisa termudahkan dengan itu.

Maksud saya, hidup kita yang ditandai dengan interaksi sosial yang berbasis tatap muka itu tidak sempurna. Hari-hari ini kita bersama-sama menjadi saksi dalam sejarah bahwa media sosial adalah sebuah inovasi yang melengkapi hidup kita: yang nir-tatap-muka melengkapi yang tatap-muka. Dalam bahasa yang lebih teknis, komunikasi yang asinkronik (asynchronous) melengkapi yang sinkronik (synchronous). Tapi apakah media sosial yang ada sejauh ini adalah satu-satunya komplemen ? Saya berpikir tentang media asosial; frasa yang mungkin gegabah atau kurang cocok, tapi saya punya alasan untuk itu.

Sebagai contoh begini (ini terinspirasi dari pengalaman nyata). Misalnya saya mencari sebuah barang yang spesifik di sebuah pasar serba ada. Pasar itu begitu hiruk pikuk, luas, dan toko-tokonya banyak. Saya tidak tahu bagaimana harus mulai mencari kecuali dengan mencoba keluar masuk dari satu toko ke toko yang lainnya. Internet ? Bukannya saya tidak mencoba search di Internet. Barang yang saya cari dan search di Internet atau pada toko-toko online ternyata tidak persis seperti yang saya butuhkan. Sementara itu saya tidak bisa mengharapkan toko-toko yang ada di pasar serba ada ini punya website, menjajakan dagangannya lewat media sosial, atau muncul di keluaran search engine yang sudah saya oprek dengan parameter detil sekalipun.

Saya membayangkan, bagaimana kalau lewat smartphone, saya menuliskan barang yang saya cari. Lalu sambil saya berjalan-jalan di pasar tadi, smartphone saya memancarkan apa yang saya tuliskan. Barangkali lewat aplikasi yang sama, toko-toko atau orang-orang yang ada dalam proximity pancaran smartphone saya (ini entah via bluetooth, wifi, atau apa yang lain) melakukan social scanning. Kalau ternyata sebuah toko yang melakukan social scanning itu ternyata punya barang yang saya cari, toko itu bisa mengontak saya. Selanjutnya saya bisa datang ke toko yang bersangkutan.

Mungkin wujudnya yang kongkret adalah sebuah aplikasi yang secara khusus memfasilitasi orang-orang yang berkunjung ke mall, pasar, atau toko-toko elektronik dalam sebuah plaza. Tapi saya berpikir kemungkinannya bisa lebih luas dari itu. Bagaimana kalau yang dicari bukan barang, tapi jasa ? Bagaimana kalau yang dicari adalah seseorang tertentu ? Bagaimana kalau saya ingin memberi komentar pada sesuatu di lingkungan dekat saya sementara saya tidak kenal dengan orang-orang yang ada di sekitar saya ? Bagaimana kalau tidak jauh dari saya, saya tahu ada sesuatu yang berpotensi membahayakan tapi saya tidak bisa melakukan apapun dan ingin memberitahu orang lain di sekitar saya secara anonim ? Ada kemungkinan-kemungkinan lain selanjutnya.

Lalu mengapa Media Asosial ? Pada detik saya menulis ini, saya sendiri sudah terbersit untuk meng-counter diri sendiri :) Tapi maksud awalnya adalah, ketika saya memancarkan pesan dari smartphone saya itu tadi, saya sama sekali tidak dalam keadaan terhubung dengan orang lain. Hanya saya saja sendiri sebagai individu. Pada saat yang bersamaan, saya juga tidak berada dalam atau terekspos pada network of people seperti friends pada Facebook, misalnya. Jadi, ada sifat asosial pada pesan yang saya kirim. Saya bahkan tidak bisa selalu berharap pesan yang saya pancarkan akan berbalas. Tapi keasosialan itu bukan tujuan atau keadaan yang ingin dicapai. Justru, itu adalah precursor bagi sebuah interaksi sosial yang nyata.

Sebagai penutup, kalau bluejacking sekarang sudah bukan musimnya, sebenarnya sekarang ada kemungkinan kita mengirim pesan secara asosial. Semua orang punya smartphone dan sering mencari koneksi wifi. Kalau kita punya akses ke wireless router atau access point, kita bisa memanipulasi SSID-nya untuk mengirimkan pesan :) Seperti ini contohnya :

contoh

Tapi bukankah sekarang hampir setiap smartphone bisa melakukan tethering ? Jadi hampir semua orang bisa melakukan itu dari smartphone-nya.

Terlepas dari neologi frase saya yang gegabah itu atau contoh dangkal manipulasi SSID barusan, saya tetap berpikir bahwa harus ada jalan bagi picu sebuah komunikasi yang riil dalam konteks kita tidak kenal atau dikenal orang, dalam konteks kita malas atau kikuk untuk memecahkan gunung es sebuah potensi-percakapan. Kalau saja itu bisa ada, maka nampaknya hidup kita bisa lebih berwarna dengan alternatif-alternatif baru. Saya membayangkan itu ada dalam bentuk aplikasi smartphone :)

Bagikan pada media sosial :