# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 7498

social-meda-project-management Salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh bahasa Indonesia adalah ia berada di tengah kancah perubahan sosial budaya yang sedemikian cepat, yang menghadirkan nuansa-nuansa baru dalam ekspresi yang sebelumnya sama sekali tidak ada. Bukan hanya ekspresi yang barangkali lebih berkenaan dengan konteks percakapan, tapi juga sangat banyak benda / barang dan konsep yang genealoginya tidak berasal dari lingkungan asli Indonesia. Akibatnya, ini tidak saja mungkin menimbulkan masalah dalam translasi secara denotatif, tapi juga bagaimana penggunaannya oleh orang kebanyakan.
Di manapun juga tidak mungkin diusahakan sebuah definisi yang pasti tentang suatu istilah, lalu diharapkan semua orang akan mengacu pada definisi itu. Yang jelas orang selalu akan membuat aproksimasi bahwa istilah yang digunakannya sudah sedekat mungkin dari gagasan dasarnya. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan bahasa lain dan penuturnya, tapi pada bahasa Indonesia, bahasa di mana saya adalah penutur aslinya, … saya sering merasakan terlalu banyak orang mengambil begitu saja istilah / konsep dari bahasa lain untuk kemudian digunakan (dengan berbagai variasinya) dalam kegiatan berbahasa Indonesia, sementara sebenarnya terdapat perbedaan antara pengertian aslinya. Perbedaan itu bisa mulai dari gradasi intensitas makna, kontras yang menimbulkan disonansi, hingga kekeliruan total.
Saya bisa menyebutkan beberapa kasus penggunaan istilah semacam itu, tapi yang baru saja menjadi perhatian saya adalah frase “manajemen kekeluargaan”. Menurut saya frase itu absurd, contradictio in terminis. Maksudnya, ada kontradiksi di dalamnya. Manajemen, pada awalnya dinyatakan sebagai seni melaksanakan dan mengatur. Tapi kini dalam bentuknya yang modern, bagi saya adalah sebuah upaya rasional. Sejauh itu berkaitan dengan hubungan antarmanusia, maka hubungan itu dijalankan dengan prinsip-prinsip yang akan mengarahkan interaksinya sehingga bisa mencapai tujuan dengan cara yang efektif dan efisien. Sedangkan kekeluargaan ? Yang langsung terlintas adalah adanya praktik-praktik semacam kompromi, toleransi, nepotisme, … yang jelas-jelas bukan merupakan upaya rasional untuk mengatur atau mengelola sesuatu.
Ada sebuah uraian yang diklaim sebagai manajemen kekeluargaan dalam budaya Jawa. Uraian itu terkesan umum sekali, dan tampak lebih merupakan falsafah atau orientasi sikap pribadi daripada prinsip-prinsip yang merupakan panduan untuk mengeksekusi pekerjaan. Sebenarnya apakah dalam Manajemen sebagai Ilmu (Science), ada konsep ‘manajemen kekeluargaan’ ? Saya curiga sebenarnya itu tidak ada. Sekurangnya ada dua kemungkinan tentang ini :

  1. Orang sebenarnya mau bereaksi pada konsep manajemen yang ada, yang mungkin terlalu kaku, yang terlalu berorientasi pada hasil, dan tidak pada proses, terutama proses yang melibatkan hubungan interpersonal.
  2. Orang sebenarnya mau membuat excuse untuk sebuah perilaku yang jelas-jelas merupakan tindakan indisiplin atau bertentangan dengan etos efisiensi dan efektifitas.

Saya melihat sebenarnya ada kecenderungan orang mau mengatakan ‘sesuatu’ tapi istilah yang digunakannya tidak tepat, atau malah merusak konseptualisasi yang sudah ada. Seseorang secara linguistik mungkin punya bayangan tentang the signified tapi dia tidak tahu bahwa the signifier yang dia gunakan sebenarnya tidak pas. Saya kira Manajemen (‘Manajemen’ saja, tanpa ‘kekeluargaan’) modern akan sangat cacat kalau dalam implementasinya ternyata hanya linier saja berfokus pada hasil. Segala sesuatu harus komprehensif dengan mencakup berbagai aspeknya. Kita berbicara manajemen dalam konteks manusia sebagai pelakunya, bukan android atau 100% robot.
Maka dari itu saya pribadi berpendapat, frase ‘manajemen kekeluargaan’ adalah sesuatu yang tidak perlu.

Bagikan pada media sosial :