# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 570

lxleApapun di komputer, kalau tidak sering digunakan maka akan lupa. Ini terutama berlaku untuk Saya di Linux. Kepentingan Saya di Linux hanya sesekali saja, yaitu ketika server kantor ada gangguan. Akan tetapi justru pada saat itu Saya sering kelimpungan karena lupa pada apa yang pernah saya praktikkan sebelumnya, termasuk pada apa yang pernah saya temukan melalui Google. Untuk itu saya memutuskan utk memasang Linux (secara dualboot) pada semua desktop dan laptop saya, baik di kantor maupun di rumah. Pertanyaannya, distro apa yang sebaiknya digunakan ?

Untuk sementara waktu saya coba Centos 6.8, lalu versi 7. Itu adalah distro yang sekaligus saya jadikan OS untuk beberapa server di kantor. Semua baik-baik saya, tapi look & feel-nya kurang OK. Lalu saya coba Ubuntu. Itu juga baik-baik saja, tapi entah kenapa saya merasa kurang sreg. Lainnya, saya coba Elementary, yang tampilannya mirip MacOS. Bagus memang, tapi instalasi utk dualboot bermasalah, baterai laptop jadi boros, dan ada akses terus menerus ke harddisk. Terakhir adalah Knoppix, yang menurut saya nyaris sempurna. Semua ada dan bisa dioperasikan di flashdisk. Namun sayangnya, itu mungkin memang lebih dikhususkan sebagai Live OS. Ketika saya coba instal di harddisk, pengaturannya tidak friendly, saya lupa lagi, tapi yang jelas sekali pun saya tidak berhasil menginstalnya. Sampai akhirnya saya menemukan LXLE.

Saya akui saya menemukannya karena membaca review orang lain. Apa yang dikatakan review itu rupanya betul. Sejak pertama saya melihat tampilannya, saya langsung merasa betah. Sepertinya ada upaya yang disadari betul dari pembuatnya untuk membuat pengguna dari berbagai latar belakang menjadi mudah menyesuaikan diri. Katanya, pada versi 14-an, ada pillihan untuk membuat tampilan desktop seperti Windows, MacOS, dan lainnya lagi. Tapi yang saya gunakan adalah langsung ke versi 16.04.1. Pilihan desktop alternatif seperti itu tidak ada. Desktopnya disebut LXDE dan itu OK saja buat saya.

lxledesktop

Meski desktopnya jauh berbeda dengan Windows, tapi saya langsung merasa betah. Beberapa penataan menunya mirip di Windows, seperti ketika akan membuka file, ada pilihan “open with”. Tapi yang rada istimewa buat saya adalah, proses instalasinya mudah. Bahkan ada pillihan, to install LXLE alongside with Windows 10. Dengan itu saya tidak perlu pusing mengeset partisi dan pengaturan lain di Linux yang saya belum mengerti. Itu penting buat saya karena niat saya adalah ingin memasangnya dualboot dengan Windows.

Yang saya lakukan ketika menginstalnya adalah, pada komputer pertama kali ada Windows dulu (pada kasus saya Windows 10). Lalu dengan Disk Management saya shrink partisinya ke ukuran tertentu dan saya biarkan tidak terformat. Berikutnya saya boot komputer dengan flashdisk yang sudah berisi LXLE yang sebelumnya saya buat dengan Rufus. Setelah boot dan masuk ke LXLE secara live, baru saya instal dari situ. Entah kenapa, kalau saya instal di awal, alias sebelum masuk OS-nya, saya selalu mengalami kegagalan. Tepat ketika masuk ke bagian partisi, ada pilihan untuk menginstal alongside with Windows 10. Langsung saja pilih itu, dan ketika selesai lalu reboot, akan tampil menu Grub dengan menu LXLE paling atas dan Windows 10 paling bawah.

Saking nyamannya dengan LXLE, saya jadi lupa tujuan semula untuk memasang dualboot dengan Windows 10, yaitu ingin membiasakan diri di lingkungan Linux, terutama dengan perintah-perintah terminalnya itu. Yang terjadi dengan LXLE adalah, saya bisa saja tidak membuka terminal sekalipun. Untuk update sudah ada script-nya yang dipasang dalam bentuk menu. Tinggal klik itu saja dan update jalan sendiri sampai beres. Untuk memasang software baru bisa gunakan Lubuntu Software Center, yang tinggal klik-klik saja. Iya betul LXLE memang (varian) Linux, tapi sudah dibuat sedemikian rupa untuk mudah digunakan pada pekerjaan-pekerjaan kantor atau pekerjaan-pekerjaan kasual lainnya (browsing, cek / kirim email, media sosial, memutar musik / video, dan sebagainya).

Saya singkatkan positif dan negatifnya dari distro ini :

Positif :

  • lebih user-friendly bagi pengguna Windows
  • bisa dipasang dualboot dengan Windows 10, ada pilihan pada saat instalasi
  • baterai laptop lebih irit
  • lebih sensitif menerima SSID pada perangkat yang sama dibandingkan dengan Windows
  • bisa update OS tanpa harus masuk ke terminal
  • ada 100 wallpaper dan bagus-bagus

Negatif :

  • masuk sebagai guest mengakibatkan crash
  • double click pada icon aplikasi tidak ada tandanya bahwa itu sudah tereksekusi
  • Spacing pada menu drop down agak rapat, ergonominya kurang bagus, navigasi dengan mouse harus hati-hati
  • ketika masuk dari menu grub dan memilih Windows, layar jadi out of sync, tapi kalau dibiarkan lama akan masuk juga ke Windows dengan benar.

Sejauh ini itulah poin-poin positif dan negatif yang saya temukan. LXLE sangat cocok buat mereka yang baru beralih ke Linux, atau mereka yang mencari alternatif Windows.

Bagikan pada media sosial :