# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 143379

mnc Mungkin yang baca ini ingin segera tahu, termurah itu berapa ? Langsung saja: 4 juta rupiah. Mungkin akan ada yang lebih kurang atau mahal sedikit, tapi tidak akan jauh dari angka itu. Lalu kenapa saya bilang ‘Laptop Normal’ ? Sebutan ‘normal’ itu dalam pengertian ukurannya, karena sekarang ini beredar yang ukurannya ‘tidak normal’, yaitu yang disebut Nettop itu. Sedikit cerita tentang ini bisa dibaca pada entri blog yang lain, yang judulnya ‘My Second Luck … ”.
OK. Fokus tulisan ini adalah pada review barangnya. Soal spesifikasi sudah saya bicarakan pada tulisan sebelum ini, atau bisa dilihat di sini. Lalu bagaimana kenyamanan, kinerja, kelengkapan, daya tahan baterai, dan kualitas lainnya ? Saya ringkaskan saja per poin berikut ini :

  1. Soal kenyamanan, sekilas  rasanya biasa saja, tapi  ada yang tidak  begitu mudah Saya jelaskan di sini, yaitu soal feel. Soal rasa, terutama kedua belah tangan saya yang mengetik dan telapaknya yang bersandar di sebelah kiri & kanan trackpad. Terus terang saja tidak senyaman seperti kalau saya mengetik pakai laptop Toshiba, Acer, atau Asus. Ini subyektif sekali, meski sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu saya. Tapi yang penting soal mengetik adalah, tombol di kiri pojok bawah itu pada laptop ini adalah Ctrl dan bukan Fn. Saya bilang penting karena siapapun yang sudah biasa kerja cepat dengan komputer, shorcut itu sudah bagian dari muscle memory (dan shorcut banyak yang menggunakan kombinasi tombol dengan Ctrl). Posisi Ctrl di situ adalah yang ternyaman untuk mengetik dan menjalankan shorcut dengan cepat.
    Hal lainnya adalah soal display. Tadinya saya pikir bisa pakai resolusi 1280 x 800 seperti yang dijabarkan di spesifikasi, tapi ternyata pada Windows 7 Enterprise yang saya pakai sekarang, maksimalnya adalah 1024 x 768. Akibatnya adalah tampilan agak sedikit memendek secara vertikal. Tapi ini tidak terjadi kalau pakai XP atau Vista. Soal ini yang salah adalah saya, soalnya laptop ini secara implisit mengasumsikan OS yang akan digunakan adalah XP atau Vista. Saya tahu persis soal ini karena pada BIOSnya ada pilihan OS yang akan digunakan. Barangkali sebenarnya Windows 7 juga bisa pada mode 1280 x 800, hanya sekarang ini mungkin driver yang ada belum memungkinkan untuk itu. Untuk sekarang ini, saya lebih mementingkan kegesitan daripada tampilan, maka yang saya gunakan pada laptop ini adalah Windows 7, meski pada partisi yang lain saya juga pasang XP dan Vista.
    Bagaimana pada XP ? Resolusi 1280 x 800 bisa dicapai, dan soal kegesitan jangan tanya lagi. It’s blazing fast! (apalagi sekarang RAM-nya sudah saya tambah jadi 2 Giga). Hanya sayangnya partisi XP belum bisa saya akses lagi karena masalah instalasi multi OS yang belum bisa saya atasi sampai sekarang.
    Temuan saya lainnya adalah, pada setting default, Vista tampak terang sekali display-nya. Kalau kita turunkan, anehnya suka balik lagi menjadi terang beberapa saat kemudian, dengan indikator brightness yang tiba-tiba muncul di layar. Sementara pada Windows 7 menurut saya ukuran terangnya lebih proporsional, dan tidak tiba-tiba berganti sendiri terangnya. Mungkin ini karena Windows 7 lebih enhanced dalam urusan penghematan daya.
    Saran saya, untuk laptop ini gunakan XP saja supaya cepat dan nyaman di tampilan. Itu kalau anda tidak harus menggunakan OS terbaru seperti saya.
  2. Soal kinerja, saya hanya berpikiran realistis. Bukan  karena laptop milik saya ini adalah pemberian orang, tapi karena pekerjaan saya dengan laptop ini sebagian besar adalah word processing dan akses Internet, maka meski prosesor-nya adalah Celeron (dual core), saya sudah merasa sangat cukup. Ok, barangkali performanya tidak segesit kalau OS yang digunakan adalah XP, tapi pada Windows 7 yang saya gunakan sekarang, tidak begitu terasa adanya lag. Semua normal saja. Sebelumnya memang sempat saya khawatir, sehingga saya putuskan untuk meng-upgrade memory-nya menjadi 2 Giga. Tapi barangkali 1 Giga saja sudah cukup kalau menggunakan XP dan dengan load prosesor yang tidak terlalu berat dengan pekerjaan yang kita lakukan. Slot memory-nya sendiri ada dua, dan maksimal memory-nya adalah 4 Giga. Yang aneh, meski saya pasang 2 keping memory dengan tipe yang sama, CPU-Z hanya menyatakannya sebagai single channel. Barangkali ini persoalan motherboard-nya yang tidak suport dual channel. (tentang ini bisa dilihat salah screen shot CPU-Z di bawah)
    Kalau memory bisa ditambah pada laptop, itu tidak aneh. Tapi yang baru buat saya adalah ternyata laptop ini bisa di-upgrade prosesor-nya. Saya baca ini somewhere, entah di situsnya Terra Computer atau situs resminya Axioo. Tapi buat apa melakukan itu? Orang yang melakukan ini menurut saya kalau tidak bodoh ya sekedar gatel karena punya banyak uang. Kalau ingin yang bertenaga lebih, mestinya sudah memutuskan dari awal untuk membeli yang prosesornya lebih tinggi, dan harga laptop itu pasti akan lebih dari 4 juta.
    Bicara soal kinerja, pada Vista dan Windows 7 ada yang namanya Windows Experience Index (WEI). Pada Vista, saya dapati WEI-nya adalah 3, dan ini sama persis dengan pada Windows 7. Akan tetapi detil-nya ternyata tidak sama. Tentu saja ini dengan latar pemahaman bahwa rentang WEI pada keduanya adalah berbeda. Pada Vista adalah dari 1.0 – 5.9, sementara pada Windows 7 adalah dari 1.0 – 7.9. 

                        Nilai Skor WEI pada Windows Vista Enterprise Service Pack 1 : 
    WEI V                                   Nilai Skor WEI pada Windows 7 Enterprise :
    WEI 7

  3. Berkaitan dengan  kelengkapan, pada  waktu  beli, yang  ada  pada paket penjualannya adalah: a). laptopnya; b). charger; c). CD software driver dan OS Linux; d). manual. Sementara dari tokonya ada bonus berupa: tas laptop berbentuk ransel, mouse optik, dan lembaran silikon pelindung keyboard. Charger-nya standard saja. CD software ada dua, satu untuk driver dan satu OS Linux. Instalasi driver terbilang mudah. Si interface-nya akan langsung mengenali OS apa yang kita gunakan sehingga pada waktu menjalankan pertama kali kita tidak usah memilih file mana yang harus di klik. Untuk Windows 7 yang saya gunakan ini, saya gunakan semua driver untuk Vista, dan ketika saya lakukan auto update sama sekali tidak ditemukan adanya update apapun. Demikian pula halnya dengan XP dan Vista.
    Yang disayangkan adalah paket penjualannya tidak menyertakan OS yang licensed. Padahal laptop / nettop lain sudah menawarkan ini. Untung saja kantor saya sudah melisensikan Windows, sehingga paketnya tanpa OS pun tidak masalah buat saya. Tapi apa yang bisa kita harapkan lagi dari sebuah laptop normal dengan harga termurah ini ? Soalnya kalau kita ingin ada bundle OS, sudah barang tentu harganya tidak akan bisa 4 juta.
  4. Bagaimana  dengan  daya  tahan  baterai ? Barangkali  karena pengaruh processor yang digunakan, laptop ini tidak begitu awet dayanya. Tapi menurut saya ini lumayan normal. Apakah kita berharap akan duduk berjam-jam bekerja dengan laptop tanpa colokan listrik sama sekali ? Tentu tidak. Berdasarkan pengalaman sejauh ini, baterai Neon MNC 815C bisa bertahan sekitar 2 jam lebih untuk mengetik normal, dan tanpa adanya background task yang lain. Pada Windows 7 (yang versi final-nya ini dikenal paling awet daya dibanding OS Microsoft yang lain), ada beberapa mode power: Balanced, Power Saver, dan High Performance. Yang saya katakan 2 jam lebih itu adalah pada mode Balanced. Pasti akan lebih lama lagi kalau digunakan dengan mode Power Saver. Adapun baterainya sendiri berjenis Li-Ion buatan Mitac dengan output 11,1 V dan kekuatan 4400mAh. Baterainya sendiri kata yang jual diberi garansi 2 tahun. Semoga saja itu benar.
    Ada yang menarik soal baterai. Pada iklan Axioo di majalah CHIP dikatakan bahwa apabila charging sudah selesai sampai 100 % maka charger tidak perlu dilepas, karena secara otomatis baterai akan tidak di-charge lagi. Aliran listrik dari charger akan langsung ke laptop, tidak akan mampir ke baterai. Ok, bagus saja kalau begitu, tapi saya tidak mau mengikuti saran itu. Dari sejak pertama saya gunakan, laptop ini selalu stand bye begitu saya pulang kantor sampai pagi. Kalau libur bahkan saya nyalakan terus seharian. Saya lakukan itu dengan laptop dalam keadaan nyambung ke listrik, tapi baterainya saya cabut. Dengan perlakuan seperti itu, sejauh ini keadaannya baik-baik saja.
  5. Kualitas suara. Bicara  soal ini, ternyata  memang benar  kalau spesifikasinya memang optimal untuk XP atau Vista. Saya harus menulis begini karena pengalaman saya mem-playback musik di Windows 7 benar-benar beda dengan di kedua OS yang lain itu. Tidak ada masalah yang berarti pada XP atau Vista. Output suara mulus saja, meski kita sedang ngetik atau mengoperasikan mouse untuk keperluan apapun di desktop. Tapi pada Windows 7, ternyata aktifitas kita berpengaruh pada output suara. Ketika mengetik memang tidak terdengar ada gangguan, tapi ketika menggeser-geser mouse / scroll up down, pada speaker keluar suara gemerutuk / kresek-kresek. Buat yang senang bekerja sambil mendengarkan musik, ini tentu akan tidak nyaman. Suara itu sebenarnya tidak dominan sekali, tapi terutama ketika kita menjalankan atau mematikan program lain gemerutuk itu akan muncul sesaat, lalu hilang. Yang jelas, ini sangat tidak ideal bagi mereka yang melakukan pekerjaan merekam sambil melakukan pekerjaan lain. Sekali lagi, ini adalah pada OS Windows 7. Pada XP dan Vista saya sama sekali tidak menemukan gangguan ini. Apakah barangkali saya harus menunggu Windows 7 Service Pack 1 ? Pada device manager, sound device-nya hanya disebut sebagai High Definition Audio Device saja.
  6. Platform 64 bit. Pada  halaman  WEI, baik  di  Vista  atau  pun  di Windows 7 kita  bisa meng-klik : View and print detailed performance and system information. Dari informasi di situ kita bisa tahu apakah sebuah komputer bisa menjalankan OS 64 bit atau tidak. Ternyata Neon MNC 815C ini bisa untuk 64 bit. Tapi saya tidak jadi terus menginstalnya. Masalahnya terletak pada driver. Semua driver bisa terpasang dengan baik, kecuali driver untuk Wifi. Ketika itu saya coba instal Windows 7 Enterprise 64 bit, tapi driver wifi yang ada ternyata tidak bisa membuat namanya muncul di device manager. Jelas, kalau sudah begini Wifi tidak akan jalan. Sudah saya cari di Internet kalau-kalau ada versi 64 bitnya. Ternyata tidak / belum ada. Chip-nya adalah Realtek RTL 8187B. Nampaknya untuk ini saya tidak perlu mencoba lagi untuk XP 64 bit atau Vista 64 bit.

Sejauh ini kurang lebih itulah penilaian saya pada Axioo Neon MNC 815C. Jelas bukan yang terbaik, tapi nyata-nyata adalah the best bang for the buck. Kalau anda membeli laptop sekaligus berharap ada nilai gengsinya, maka Neon MNC 815C bukan untuk anda. Tapi kalau dengan budget yang terbatas anda ingin punya laptop untuk bekerja dan produktif, Neon MNC 815 bisa menjadi pilihan. Tapi sejauh yang saya tahu, pilihan itu mungkin tidak /belum ada. Soalnya sampai sekarang saya belum menemukan ‘laptop normal’ lain yang harganya bisa bersaing dengan keluaran Axioo ini.
Berikut ini adalah screen shot hasil pembacaan CPU-Z :
cpuz-1cpuz-2 cpuz-3 cpuz-4cpuz-5cpuz-6

Bagikan pada media sosial :