# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 4336

internet-speed-test Ini seharusnya sudah saya tulis beberapa minggu lalu. Alasan utama saya membeli modem GSM adalah karena koneksi dengan modem CDMA + Fleksi Unlimited sudah tidak dapat diandalkan lagi kualitasnya. Sebelum 31 Oktober, segalanya baik-baik saja, tapi begitu lewat tanggal batas promosi itu, bukan saja sangat lambat, tapi bahkan untuk konek pun susah sekali. Kebetulan saya sedang mengajukan sebuah proposal penelitian yang salah satu kebutuhannya adalah modem GSM. Karena sudah keburu butuh, maka meski dana penelitiannya belum turun, barang ini sudah saya ijon dengan uang sendiri dulu, …

Langkah pertama adalah jelas menentukan modem mana yang akan dibeli. Hanya begini saja sudah tidak gampang karena ada begitu banyak pilihan. Tapi saya menentukan kriteria dengan kecepatan maksimal yang bisa diperoleh dari modem itu. Saya dapat info bahwa kecepatan itu adalah 7,2 Mbps, maka saya mulai cari semua modem yang bisa secepat itu. Ya saya tahu itu adalah kecepatan teoretis, tapi sekurangnya kalau saya mendapatkannya saya bisa punya peluang untuk mencapai kecepatan itu kalau lagi beruntung. Itu pertama. Kedua, barangkali kalau ada fitur lain yang merupakan nilai plus dari modem itu, maka itu akan membantu mempersempit pilihan. Ketiga, tentu saja harga, dan last but not least, saya ingin modem itu tidak di lock untuk provider tertentu.

sierramodem Akhirnya pilihan saya jatuhkan pada modem Sierra Wireless Compass 885. Bentuknya sangat mirip flashdisk, ukurannya pun tidak beda jauh. Yang membuat saya menjatuhkan pilihan ke modem ini adalah karena pada modem ini bisa dimasukkan microSD card, sehingga bisa berfungsi sebagai flashdisk beneran juga. Selain itu, wujudnya yang sturdy meyakinkan saya. Ada kesan kokoh. Ya kemudian pencarian tinggal ke masalah harga. Dari satu toko ke toko yang lainnya hanya beda beberapa puluh ribu rupiah saja, tapi akhirnya saya jatuhkan pilihan ke yang menjual Rp 550 ribu.

indosat1 Berikutnya adalah memilih layanan Internetnya. Teman-teman saya di MUGI banyak yang menggunakan IM2, dan mereka rata-rata menyatakan puas. Tapi ketika itu saya belum tahu bahwa IM2 ternyata sudah berevolusi ke produk / paket yang mungkin kualitasnya masih sama, tapi tidak dalam hal harganya. Banyak orang tentu ingin internet yang unlimited, sehingga kita tidak perlu khawatir dengan pulsa yang ada. Demikian pula halnya saya. Tapi ketika saya menanyakan tentang ini ke teman-teman, ternyata dari segi harga paket unlimited dari IM2 telah mengalami perubahan. Dulu awalnya namanya hanya BROOM saja; starter pack-nya harganya 150 ribu, dan tiap bulan bayar flat sebesar 100 ribu. Lalu paket ini hilang (tidak dijual lagi atau entah apa) dan diganti dengan yang namanya BROOM XTRA; starter-pack-nya harganya 200 ribu, dan tiap bulan bayar flat sebesar 125 ribu. Inipun akhirnya menghilang juga, dan sekarang yang ada di pasaran adalah yang namanya BROOMBASTIS; starter-pack-nya 275 ribu, dan tiap bulannya flat 200 ribu!

kartuperdanaIM2 Menurut saya itu aneh sekali. Kenapa paket yang lebih baru jadi lebih mahal, sementara tidak ada tidak ada competitive advantage baru / alias sama sekali tidak ada kelebihannya dari yang lama ? Entah orang-orang di luar sana apakah sudah pada protes atau belum, tapi tafsiran mudah saya adalah: si provider (IM2) nampaknya sudah kewalahan dengan bandwidth management dengan banyaknya konsumen untuk paket BROOM, lalu mereka berupaya dengan memahalkan paketnya sedikit (BROOM XTRA) supaya menahan laju penambahan konsumen, ternyata peminat masih membludak. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat harganya jadi 2 kali lipat paket pertama. Kalau kita sudah tahu bahwa ternyata ada paket unlimited yang setengah harga lebih murah dari BROOMBASTIS, apakah kita tidak kesal mengadopsi paket itu ? Sistem pemaketan ini sungguh tidak menggunakan logika yang biasanya ada pada hubungan produsen-konsumen – ‘barang yang lebih baru dengan harga lebih mahal mestinya punya kelebihan baru dari yang lama’ – atau apakah kita mesti mengerti ini karena barangnya adalah berupa koneksi Internet, bukan barang fisik yang diproduksi secara massal, sehingga kita mesti maklum dengan sistem pemaketan seperti ini ?

Lesson learned: memang sudah punya modem jadi ingin cepat konek dan agak tidak sabar ketika kita memilih paket yang akan digunakan. Tapi nampaknya ada baiknya untuk mempelajari dulu struktur tarif dari layanan yang akan kita gunakan. Dari pengalaman saya, ternyata karena ada cukup banyak paket, sehingga cukup membingungkan juga. Jelas, di sini kalau tidak hati-hati, ada potensi besar kita salah memilih.

Saya akan sambung lagi dengan modemnya sendiri, dan paket IM2 yang sekarang sedang saya coba.

Bagikan pada media sosial :