# Jumlah yang Melihat Tulisan Ini : 1750

koinuntukprita Ini adalah tulisan yang saya kirim ke Radio Nederland sebagai komentar dari salah satu berita yang dimuat di situsnya. Berita itu persisnya ada di sini. Ketika saya membacanya, kebetulan saya temukan adanya pengumuman tentang lomba menulis komentar berita.
Saya sendiri kebetulan termasuk yang concern pada masalah yang dihadapi oleh Prita Mulyasari. Saya bilang: “akhir dari kasus Prita ini nanti akan menjadi gambaran tentang bagaimana masa depan kebebasan berekspresi di Indonesia via Internet.” Sebagai salah seorang yang aktif menggunakan Internet sejak lama, rasanya saya tidak berlebihan mengatakan itu. ika Saya pun sudah mengantarkan uang receh yang kebetulan suka dikumpulkan anak saya, dari uang sisa-sisa kembalian yang sering ada di kantong pakaian kalau saya pulang kantor. Lokasinya waktu itu adalah di sebuah toko buku kecil di Jalan Aceh: Tobucil.

Berikut ini adalah tulisan saya itu :
Dari sejak pertama kali Saya mendengar kasus ini, segera muncul perasaan aneh dalam diri Saya. Hanya karena menulis email bisa masuk penjara? Mengirim / menerima email sudah menjadi bagian keseharian Saya sejak tahun 1996. Sejak itu Saya merasakan bahwa aspirasi kebebasan, semangat egalitarianisme, dan suasana demokratis bisa benar-benar tersalurkan dan terrealisasi. Adanya kasus ini membuat Saya jadi merenung. Apakah sebenarnya tinggal waktu saja sebelum Saya (dan banyak orang lain) mengalami kasus yang sama seperti yang dialami Prita?
Di Indonesia sudah cukup banyak orang yang mengadopsi email sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Pada kasus Prita, Saya sebenarnya mempertanyakan, apakah orang-orang Omni International itu adalah pengguna email? Seberapa jauh apresiasi mereka tentang apa itu email? atau seberapa aktif mereka menggunakan email? Di Indonesia, email untuk kalangan tertentu sudah bukan ‘barang aneh’, tapi Saya masih yakin benar bahwa untuk sebagian besar orang Indonesia, email adalah sebuah inovasi baru. Saya punya duga-duga, apakah email yang dikirimkan Prita itu awalnya dibayangkan sebagai telah tersebar ke seluruh dunia? Padahal, Prita awalnya hanya mengirimkan ke 20 orang teman-temannya dan beberapa mailing list. Saya pikir, justru langkah Rumah Sakit Omni mengajukan ini sebagai kasus hukum malah membuat apa yang tadinya hanya beredar pada lingkup terbatas jadi diketahui oleh begitu banyak orang, bahkan oleh publik di seluruh dunia.
Di sisi lain Saya berpendapat, dituntutnya Prita kembali setelah kasusnya ditutup sebenarnya sangat kontraproduktif untuk citra Rumah Sakit Omni sendiri. Sebagai sebuah rumah sakit yang mestinya memiliki misi kemanusiaan, penuntutan kembali itu memiliki indikasi kebersikukuhan institusi. Apakah tidak disadari bahwa institusi se kelas Rumah Sakit Omni (apalagi namanya menggunakan kata ‘Internasional’) melawan seorang Prita Mulyasari yang hanya rakyat biasa itu berimbang? Pertanyaan ini barangkali kurang relevan pada konteks tuntutan pertama, tapi ketika kasusnya selesai dan diajukan tuntutan baru, ada kesan bahwa rumah sakit somehow tidak mau kalah. Tidak mau kalah pada seorang rakyat kecil. Kalaupun memang ada alasan kuat secara yuridis untuk menuntut lagi, apakah misi kemanusiaan sebuah institusi rumah sakit mesti dikesampingkan meskipun kasus ini menyangkut rakyat kecil? Saya melihat kebersikukuhan ini semakin menjadi-jadi dengan diajukannya tuntutan sebesar 200-an juta itu kepada Prita. Apakah tuntutan uang sebanyak itu masuk akal? Apakah Prita dinilai mampu untuk membayar uang sebesar itu?
Saya juga bertanya-tanya dalam hati, apakah penuntutan kembali Prita itu adalah sebuah langkah institusional yang disepakati semua pihak di kalangan internal rumah sakit? Apakah semua perawat, dokter, atau tenaga medis lainnya di sana benar-benar sepakat untuk terus menuntut Prita? Saya kira tidak. Oleh karena itu Saya menengarai bahwa bisa jadi pada kasus ini ada skenario lain. Apakah sebenarnya kasus Prita adalah sebuah pertanda akan dilancarkannya semacam shock therapy bagi kalangan pengguna Internet Indonesia yang benar-benar sulit dijangkau oleh kekuasaan? Dalam kaitan ini, sejarah telah mencatat bahwa turunnya mantan Presiden Soeharto tahun 1998 juga diwarnai oleh koordinasi publik melalui mailing list untuk melakukan penggalangan dan aksi turun ke jalan. Semoga ini tidak benar, tapi Saya tidak kuasa untuk tidak berpikir demikian.
Akhirnya Saya berpendapat, akhir dari kasus Prita ini nanti akan menjadi gambaran tentang bagaimana masa depan kebebasan berekspresi di Indonesia via Internet.

Bagikan pada media sosial :